Hari Keenam: Kamis, 23 Juni 2016
(II)
Ia adalah senja, senja yang datang begitu menggetarkan dada. Ia muncul sebagai kuning telor yang bulat sempurna. Lalu menghidupkan warna jingga, merah, dan merah jambon! Merah jambon! Aku bergetar….
Saat kami akan berbalik ke rumah, aku berpikir mengapa
tidak sekalian kami pergi ke ujung pulau yang lain, ujung paling selatan. Kami
meninggalkan Tajungan melewati bagian paling barat pulau sambil menikmati
pesisir pantai. Berjalan beberapa meter, kami memotong jalan dengan masuk ke
perkampungan. Pagi sudah hidup. Penduduk memulai akifitas hariannya.
Aku baru menyadari ternyata pulau Sadulang Kecil ini
memang kecil, sebagaimana namanya. Kami yang berjalan santai dari ujung pulau paling utara ke ujung
pulau paling selatan hanya menghabiskan waktu tidak sampai satu jam. Jika
Tajungan berupa pantai yang langsung bersambung dengan hutan mangrove di bagian
timurnya, ujung selatan ini lebih mirip hutan. Banyak pohon dan tanaman liar
tumbuh. Di bagian kiri-kanan dan ujungnya adalah rawa-rawa. Rawa-rawa pohon
bakau yang pendek-pendek tapi tampak berusia
sangat tua bila dilihat dari ketebalan batang dan akarnya yang panjang
menjalar-jalar.
Di bagian paling ujung, aku menemukan batang pohon dengan
diameter cukup luas tanpa dahan dan daun-daun. Pohon alami ini terkesan seperti
pohon yang selesai diukir oleh seorang pemahat professional. Terkesan mahal,
mewah, sekaligus mistis. Aku sempat duduk dengan meniru gaya perempuan penguasa
rawa-rawa dan meminta Eeng untuk memotretkannya.
Sungguh tempat indah yang sangat alami, mistis, sekaligus
riskan jika tiba-tiba muncul ular, atau hewan buas lainnya. Eeng menunjukkanku
monyet-monyet yang berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Air berkecipak
menyentuh jari-jari kaki kami. Lagi-lagi aku teringat film Anaconda, lalu
begidik dan mengajak Eeng berbalik saja.
Kami pulang melewati bagian barat pulau . Sepanjang kiri
kami adalah tanaman pohon bakau. Eeng mengatakan sambil menunjuk bahwa
bakau-bakau kecil di sana adalah tunas yang ditanamnya bersama teman-temannya.
Tugas sekolah katanya. Lalu ia menunjukkan kepadaku bagaimana cara menanamnya.
Sangat mudah. Tinggal memetik dahan bakau, lalu menancapkannya ke tanah yang
berada di bawah air.
Ibu-ibu sudah ramai mengantri air di seberang rumah saat
kami sampai di rumah sekitar jam tujuh pagi. Drum-drum biru sudah berjejer
banyak sekali. Rumah masih sepi. Aku dan Eeng
berlari kecil ke belakang. Kami menemukan ibu sedang berenang di
belakang bersama Lingling dan Amrullah, sepupu Jun yang masing-masing masih
berumur 3 dan 4 tahun.
Pertama kali aku menemukan ibu berdiri di tengah laut, dia dengan sarung coklat sedadanya menghadap ke arah laut lepas sambil
menggendong Lingling yang kulitnya coklat elegan. Pemandangan itu begitu eksotis dalam kesanku.
Ibu, sebagai perempuan yang tinggi-sintal dengan rambut panjangnya yang
berwarna hitam, berpadu dengan birunya air laut dengan gelombang kecil-kecil
sementara mentari datang belumlah sempurna.
Lalu Eeng berteriak iri. Ia ingin juga berenang. Setelah
ibu bilang terserah, Eeng melompat dengan girangnya. Gadis 15 tahun yang ceria,
ialah Eeng.
Sore datang lebih
cepat. Aku menemukan kekasih di belakang rumah sebelum bedug mahgrib datang.
Aku menemukannya saat aku berdiri di atas tembok karang. Setelah memperhatikan
air laut yang beriak pelan di bawah kapal uwwak yang berwana putih dan biru.
Kekasih itu mengejutkan jiwaku.
Ia adalah senja,
senja yang datang begitu menggetarkan dada. Ia muncul sebagai kuning telor yang
bulat sempurna. Lalu menghidupkan warna jingga, merah, dan merah jambon! Merah
jambon! Aku bergetar….
Semua keindahan
itu berlatarkan langit yang bersemu biru. Aduhai, membuatku tertegun kaku. Di
saat itulah, kekasih itu mendekatiku. Pelan, warna merahnya yang bara menyentuh
air laut. Merambat kepadaku, membuat air
laut yang tenang berubah lautan merah. Lalu Jun berteriak agar aku segera masuk
untuk berbuka. Aku tersadar. Dan kekasihku itu, berhenti merambat di atas air.
Hanya sampai lautan di sanalah, sebelum bendera pembatas berdiri di atas air,
kekasihku itu bergeming. Membiarkan air laut bersama dirinya tenggelam dalam
warna merah. Merah yang sempurna!
Malang, 16 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar