Selasa, 16 Agustus 2016

Menaklukkan Sadulang Kecil, Lalu Tersihir!

Hari Keenam: Kamis, 23 Juni 2016

(II)

Ia adalah senja, senja yang datang begitu menggetarkan dada. Ia muncul sebagai kuning telor yang bulat sempurna. Lalu menghidupkan warna jingga, merah, dan merah jambon! Merah jambon! Aku bergetar….

Saat kami akan berbalik ke rumah, aku berpikir mengapa tidak sekalian kami pergi ke ujung pulau yang lain, ujung paling selatan. Kami meninggalkan Tajungan melewati bagian paling barat pulau sambil menikmati pesisir pantai. Berjalan beberapa meter, kami memotong jalan dengan masuk ke perkampungan. Pagi sudah hidup. Penduduk memulai akifitas hariannya.

Aku baru menyadari ternyata pulau Sadulang Kecil ini memang kecil, sebagaimana namanya. Kami yang berjalan santai dari ujung pulau paling utara ke ujung pulau paling selatan hanya menghabiskan waktu tidak sampai satu jam. Jika Tajungan berupa pantai yang langsung bersambung dengan hutan mangrove di bagian timurnya, ujung selatan ini lebih mirip hutan. Banyak pohon dan tanaman liar tumbuh. Di bagian kiri-kanan dan ujungnya adalah rawa-rawa. Rawa-rawa pohon bakau yang pendek-pendek  tapi tampak berusia sangat tua bila dilihat dari ketebalan batang dan akarnya yang panjang menjalar-jalar.

Di bagian paling ujung, aku menemukan batang pohon dengan diameter cukup luas tanpa dahan dan daun-daun. Pohon alami ini terkesan seperti pohon yang selesai diukir oleh seorang pemahat professional. Terkesan mahal, mewah, sekaligus mistis. Aku sempat duduk dengan meniru gaya perempuan penguasa rawa-rawa dan meminta Eeng untuk memotretkannya.

Sungguh tempat indah yang sangat alami, mistis, sekaligus riskan jika tiba-tiba muncul ular, atau hewan buas lainnya. Eeng menunjukkanku monyet-monyet yang berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Air berkecipak menyentuh jari-jari kaki kami. Lagi-lagi aku teringat film Anaconda, lalu begidik dan mengajak Eeng berbalik saja.

Kami pulang melewati bagian barat pulau . Sepanjang kiri kami adalah tanaman pohon bakau. Eeng mengatakan sambil menunjuk bahwa bakau-bakau kecil di sana adalah tunas yang ditanamnya bersama teman-temannya. Tugas sekolah katanya. Lalu ia menunjukkan kepadaku bagaimana cara menanamnya. Sangat mudah. Tinggal memetik dahan bakau, lalu menancapkannya ke tanah yang berada di bawah air.

Ibu-ibu sudah ramai mengantri air di seberang rumah saat kami sampai di rumah sekitar jam tujuh pagi. Drum-drum biru sudah berjejer banyak sekali. Rumah masih sepi. Aku dan Eeng  berlari kecil ke belakang. Kami menemukan ibu sedang berenang di belakang bersama Lingling dan Amrullah, sepupu Jun yang masing-masing masih berumur 3 dan 4 tahun.

Pertama kali aku menemukan ibu berdiri di tengah laut, dia dengan sarung coklat sedadanya menghadap ke arah laut lepas sambil menggendong Lingling yang kulitnya coklat elegan. Pemandangan itu begitu eksotis dalam kesanku. Ibu, sebagai perempuan yang tinggi-sintal dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam, berpadu dengan birunya air laut dengan gelombang kecil-kecil sementara mentari datang belumlah sempurna.

Lalu Eeng berteriak iri. Ia ingin juga berenang. Setelah ibu bilang terserah, Eeng melompat dengan girangnya. Gadis 15 tahun yang ceria, ialah Eeng.

Sore datang lebih cepat. Aku menemukan kekasih di belakang rumah sebelum bedug mahgrib datang. Aku menemukannya saat aku berdiri di atas tembok karang. Setelah memperhatikan air laut yang beriak pelan di bawah kapal uwwak yang berwana putih dan biru. Kekasih itu mengejutkan jiwaku.

Ia adalah senja, senja yang datang begitu menggetarkan dada. Ia muncul sebagai kuning telor yang bulat sempurna. Lalu menghidupkan warna jingga, merah, dan merah jambon! Merah jambon! Aku bergetar….

Semua keindahan itu berlatarkan langit yang bersemu biru. Aduhai, membuatku tertegun kaku. Di saat itulah, kekasih itu mendekatiku. Pelan, warna merahnya yang bara menyentuh air laut.  Merambat kepadaku, membuat air laut yang tenang berubah lautan merah. Lalu Jun berteriak agar aku segera masuk untuk berbuka. Aku tersadar. Dan kekasihku itu, berhenti merambat di atas air. Hanya sampai lautan di sanalah, sebelum bendera pembatas berdiri di atas air, kekasihku itu bergeming. Membiarkan air laut bersama dirinya tenggelam dalam warna merah. Merah yang sempurna!

Malang, 16 Agustus 2016
  


0 komentar:

Posting Komentar