Selasa, 24 Mei 2016

NGAISAH


"Wahai, Ngaisah..." 

 
“Aku perlu membuat koreonya,” kataku riang memandangnya.

“Iya, koreonya perpaduan gerakan primitif dan sufi,” katamu dengan wajah cerah dan santai merespon tingkahku.

Aku tertegun. “Mengapa?” kataku ingin tahu dan tiba-tiba sedikit marah, namun kusembunyikan betul.

Kamu tersenyum, “karena aku primitif dan kamu sufi.”

Aku benar-benar marah. Tapi tetap kusembunyikan. “Mengapa begitu?” aku serius bertanya.
Senyummu masih menyungging. Lalu kamu menyatakan argumenmu dengan serius. Matamu tajam meyakinkanku. Aku terdiam, masih menyembunyikan marah. Tiga detik kita saling terdiam, dengan tatapan seperti saling meminta pengakuan.

“Dari dulu, jika dibonceng lelaki, Sampean selalu memegang jok belakang,” senyum dan matamu mengejek. Dan tawa kita pecah bersamaan. Memecah malam Jogja dari teras kayu yang mirip pendopo mini. Satu-satunya miniatur pendopo di kafe itu. Jadilah kita berdua duduk paling tinggi dan begitu mencolok ketimbang para pengunjung lainnya yang duduk di bangku-bangku kayu kecil dengan meja kayu panjang dan bundar. Lalu lirikan mata kita sama bertabrakan, sebelum sama-sama kita lempar pada pemandangan sawah di depan kita. Sawah yang lebat dengan padi. Warna hijaunya tampak segar di bawah langit malam Jogja. Segar sebagaimana tawa kita.

Telah lama aku tahu, Ngaisyah --lagu yang sering dibawakan korp kita kemana-mana, saat kita semua masih sama-sama muda dengan gairah aktifis yang menyala-nyala—  adalah lagu yang lahir dari gejolak perasaanmu kepadaku. Kamu mengatakannya tidak lama setelah kita berkomitmen menjalani hidup bersama.

Liriknya memang kamu banget. Mencerminkan lelaki yang teguh dan setia, bersamaan rasa minder yang agak berlebihan menurutku. Kamu ngakak tak berkesudahan saat suatu kali aku mengatakan itu.

Namun sekian lama kita bersama, terbuka dalam segala hal, dan saling mendukung dalam menghadapi kehidupan yang lucu ini, malam ini kamu baru mengatakannya. Baru malam ini kamu mengatakan musik lirik Ngaisyah (yang sesungguhnya Halimah, namun segera kamu hapus dan kamu ganti karena perasaan malu dan minder terhadap teman-teman kita) itu bukan dangdut, tapi musik genre kesukaanmu. Jazz, katamu.

Lalu aku merengek ingin mendengarkan versi aslinya. Dan baru malam itu, kamu menyanyi dengan serius di depanku. Dan aku tak henti-henti menatapmu. Mendengarmu menyanyikan karya yang lahir dari  gejolak perasaanmu kepadaku. Gejolak yang kamu sembunyikan begitu rapih dari dulu.

Sekian menit itu begitu khusyuk bagiku. Begitu puitis, tapi tidak melankolis. Tapi kamu merusaknya dengan tawa celeleanmu. Tawa yang bersambung di penghabisan nyanyianmu.

“Asem,” umpatku lembut.

Kamu semakin ngekek.

Aku cemberut dalam balutan senyum.

Masih dengan gaya santaimu, kamu berkata serius lagi, “Tidak ada yang tahu versi asli ini kecuali Sampean. Bahkan Hari yang sering banget nyanyi ini.”

Aku sok pura-pura gak percaya.

“Karena dinyanyikan rame-rame, aku rubah versi dangdut,” kamu tersenyum padaku.

“Agar lebih merakyat, asyik, dan rame. Juga biar sedikit bisa joged-joged.”

Kita kembali ngakak bersamaan. Dan aku mengingat, masa-masa itu. Masa-masa kita menjadi mahasiswa baru. Masa-masa aktifis tulen. Masa-masa menggelandang. Masa-masa berdiskusi sampai pagi. Masa-masa sok ngintelek. Masa-masa saling jaim akut. Masa-masa belajar saling ngintrik (kalau ini sampai sekarang haha), masa-masa bermalam di pantai dan menyanyi sambil menari gila-gilaan mengelilingi api unggun. Masa-masa aku memandangmu murni sebagai teman. Sebagai keluarga korp. Hahahaha! Hach!


Ngaisah, lagu kebangsaan itu… seperti kata seorang senior 


0 komentar:

Posting Komentar