"Wahai, Ngaisah..."
“Aku perlu membuat koreonya,” kataku riang memandangnya.
“Iya, koreonya perpaduan gerakan primitif dan sufi,” katamu
dengan wajah cerah dan santai merespon tingkahku.
Aku tertegun. “Mengapa?” kataku ingin tahu dan tiba-tiba
sedikit marah, namun kusembunyikan betul.
Kamu tersenyum, “karena aku primitif dan kamu sufi.”
Aku benar-benar marah. Tapi tetap kusembunyikan. “Mengapa
begitu?” aku serius bertanya.
Senyummu masih menyungging. Lalu kamu menyatakan argumenmu
dengan serius. Matamu tajam meyakinkanku. Aku terdiam, masih menyembunyikan
marah. Tiga detik kita saling terdiam, dengan tatapan seperti saling meminta
pengakuan.
“Dari dulu, jika dibonceng lelaki, Sampean selalu memegang
jok belakang,” senyum dan matamu mengejek. Dan tawa kita pecah bersamaan.
Memecah malam Jogja dari teras kayu yang mirip pendopo mini. Satu-satunya miniatur
pendopo di kafe itu. Jadilah kita berdua duduk paling tinggi dan begitu
mencolok ketimbang para pengunjung lainnya yang duduk di bangku-bangku kayu
kecil dengan meja kayu panjang dan bundar. Lalu lirikan mata kita sama
bertabrakan, sebelum sama-sama kita lempar pada pemandangan sawah di depan
kita. Sawah yang lebat dengan padi. Warna hijaunya tampak segar di bawah langit
malam Jogja. Segar sebagaimana tawa kita.
Telah lama aku tahu, Ngaisyah --lagu yang sering dibawakan
korp kita kemana-mana, saat kita semua masih sama-sama muda dengan gairah
aktifis yang menyala-nyala— adalah lagu
yang lahir dari gejolak perasaanmu kepadaku. Kamu mengatakannya tidak lama
setelah kita berkomitmen menjalani hidup bersama.
Liriknya memang kamu banget. Mencerminkan lelaki yang teguh
dan setia, bersamaan rasa minder yang agak berlebihan menurutku. Kamu ngakak
tak berkesudahan saat suatu kali aku mengatakan itu.
Namun sekian lama kita bersama, terbuka dalam segala hal,
dan saling mendukung dalam menghadapi kehidupan yang lucu ini, malam ini kamu
baru mengatakannya. Baru malam ini kamu mengatakan musik lirik Ngaisyah (yang
sesungguhnya Halimah, namun segera kamu hapus dan kamu ganti karena perasaan
malu dan minder terhadap teman-teman kita) itu bukan dangdut, tapi musik genre
kesukaanmu. Jazz, katamu.
Lalu aku merengek ingin mendengarkan versi aslinya. Dan baru
malam itu, kamu menyanyi dengan serius di depanku. Dan aku tak henti-henti menatapmu.
Mendengarmu menyanyikan karya yang lahir dari
gejolak perasaanmu kepadaku. Gejolak yang kamu sembunyikan begitu rapih dari dulu.
Sekian menit itu begitu khusyuk bagiku. Begitu puitis, tapi
tidak melankolis. Tapi kamu merusaknya dengan tawa celeleanmu. Tawa yang
bersambung di penghabisan nyanyianmu.
“Asem,” umpatku lembut.
Kamu semakin ngekek.
Aku cemberut dalam balutan senyum.
Masih dengan gaya santaimu, kamu berkata serius lagi, “Tidak
ada yang tahu versi asli ini kecuali Sampean. Bahkan Hari yang sering banget
nyanyi ini.”
Aku sok pura-pura gak percaya.
“Karena dinyanyikan rame-rame, aku rubah versi dangdut,”
kamu tersenyum padaku.
“Agar lebih merakyat, asyik, dan rame. Juga biar sedikit
bisa joged-joged.”
Kita kembali ngakak bersamaan. Dan aku mengingat, masa-masa
itu. Masa-masa kita menjadi mahasiswa baru. Masa-masa aktifis tulen. Masa-masa
menggelandang. Masa-masa berdiskusi sampai pagi. Masa-masa sok ngintelek.
Masa-masa saling jaim akut. Masa-masa belajar saling ngintrik (kalau ini sampai
sekarang haha), masa-masa bermalam di pantai dan menyanyi sambil menari
gila-gilaan mengelilingi api unggun. Masa-masa aku memandangmu murni sebagai
teman. Sebagai keluarga korp. Hahahaha! Hach!
Ngaisah, lagu kebangsaan itu… seperti kata seorang senior
0 komentar:
Posting Komentar