Miturut
cerita
orang di Desa, masa muda bapak saya adalah masa muda yang gemilang. Karena
tipikal pemuda yang gigih dan tekun bekerja, bapak telah memiliki mobil di masa
mudanya. Satu-satunya mobil yang dimiliki oleh seorang pemuda desa itu di
zamannya. Ibuk saya, pada zaman itu adalah satu-satunya perempuan yang mampu
membeli bedak dan hand body lotion. Ya, ibuk saya adalah anak seorang
juragan besi yang sering pulang-pergi Madura-Solo dengan mobil pribadi. Saya
taksir-taksir, kegigihan bapak bekerja dan membeli mobil adalah untuk menaikkan
gengsi pada orangtua gadis yang dicintainya.
“Begitulah
masa muda bapak. Saat pemuda lain disibukkan dengan tanah di sawah, bapak sudah
bisa melancong ke Malaysia,” cerita bapak suatu ketika. Bapak melanjutkan,
“Barangkali karena sudah kaya di masa muda, bapakmu ini sudah tidak bisa kaya
di masa tua. Terutama masa-masa pengantin baru dan masa kamu selagi bayi.”
Lalu
ibuk berganti mengambil alih, menceritakan masa-masa sulit di awal berurbanisasi
dari Madura ke Malang. Dan masa itu adalah masa saya selagi bayi. Ibuk
menceritakan, jam tiga dini hari, sambil menggendong saya yang tidur di
gendongan, ibuk berlari-lari mengejar truck pengangkut dagangan dari desa. Ibuk
berebut dagangan dengan para calon penjual lainnya. Halimah si bayi mungil itu pun
ikut terhuyung-huyung dalam buaian.
Bapak
menyebut nama seorang perempuan, yang seringkali menggendong saya di Pasar saat
bapak dan ibuk sedang repot mengurusi dagangan. “Kamu itu, kecilnya hidup di
jalanan, di pinggir-pinggir pasar. Sedari kecil, kamu itu sudah kami ajak
sengsara,” ibuk mengambil alih lagi, “Kamu kami tidurkan di atas jagung, kadang
kacang, kadang juga ubi-ubian. Kalau hujan, kamu itu ditutupi plastik,” lanjut
ibuk sambil memotong-motong sayuran. Tidak ada kesedihan di wajahnya saat
mengulang perjuangan itu, barangkali karena terlampau banyak ujian Tuhan yang
menghampirinya. Sedang bapak, hanya tersenyum kecil melihat saya mendapati
kenyataan masa kecil yang memprihatinkan. Maklum, saya tumbuh di tengah kota,
terurus dengan benar, rajin dan disiplin. Saya semakin memahami, mengapa masa
kecil saya berbeda dengan teman-teman lain dimana kami sama-sama tumbuh di
tengah kota. Saya paham, semenjak kecil, bapak-ibuk telah membekali saya
berbagai skill menghadapi kehidupan. Segala skill. Skill domestik, skill
publik, kesadaran bermasyarakat yang heterogen, dan terutama kesadaran sebagai
seorang muslimah terlebih sebagai perempuan Timur yang beradat-istiadat.
“Oh
ya, sewaktu kamu mulai bisa merangkak, kamu hampir di tabrak truk yang baru
saja datang dari desa. Truk pengangkut segala jenis sayuran,” kata ibuk lagi, dan
dengan raut wajah biasa juga. Hahaha. Padahal, saya sudah syok,
mengimajinasikan seorang bayi yang kehidupannya dilalui di tengah hiruk-pikuk
pasar, di tengah malam yang dingin menggigit, tidak kenal panas, tidak kenal
hujan. Lalu pada suatu malam bayi itu merangkak dan hampir ditabrak truck. Ya
Tuhan, semoga bayi itu, kelak dapat membayar semua perjuangan bapak-ibuknya.
Aamiin… Ud’uunii Astajib Lakum[]
0 komentar:
Posting Komentar