Selasa, 24 Mei 2016

DUAPULUHTUJUH: MENGAWINKAN BAPAK DAN IBUK


Barangkali memang benar kata orangtua dulu, bahwa perbedaan perangai suami-istri menjadi penyeimbang keharmonisan dalam rumah tangga. Saya melihat itu dalam keluarga saya. Ibuk saya emosional, bapak saya rasional; ibuk saya ekspresif, bapak saya penuh pertimbangan; ibuk saya sentimentil, bapak saya humoris; saat ibuk saya bersikap tegas kepada anak-anak, bapak mendekati dan bilang: pelan-pelan; ibuk saya keras kepala, bapak saya mau mendengarkan pendapat orang lain; ibuk saya cenderung temperamental, dan bapak telaten melayani; ibuk saya terang-terangan dalam mengatakan sayang, bapak saya sangat tersirat.

Keduanya berpengaruh positif dalam pembentukan karakter saya. Dalam memutuskan sesuatu misalnya, saya pertimbangkan dengan rasional dan sungguh-sungguh sekaligus menakar-nakarnya dengan pertimbangan hati.

Untuk emosi, ibuk lebih mendominasi pada diri saya. Dari emosi yang diturunkan ibuk saya itulah saya sering menekur dan bercakap-cakap dengan diri sendiri, mendengarkan suara alam lalu mencoret-coretkannya menjadi kata-kata. Menjelma puisi dan cerita pendek. Sejak kecil pun, saya telah menari, baik di SD maupun di acara akhir tahun TPA, dan banyak para guru juga ustadz yang mengatakan bahwa saya sangat luwes. Barangkali karena saya tidak menghapal gerakan seperti teman-teman yang lain, tapi memang dasarnya saya sangat suka mendengarkan musik apalagi bunyi-bunyian seperti gending. Bagian tubuh saya, seperti pinggul, kepala, dan tangan bergerak begitu saja selaras dengan tarikan gending. Dan yang terpenting, saya tidak hanya mendengar bunyi-bunyian itu dari luar, tapi juga muncul dari dalam. Dalam diri saya. Diri saya sendiri.

Sementara bapak, sangat mendominasi dalam pola berpikir rasional saya. Bapak itu pemikir, analis. Cara berpikirnya runtut, dalam, dan komprehensif. Terkadang juga integratif dan interkonektif (haha biar nyaingin Prof. Amin Abdullah). Dan ini sangat membantu saya berjalan di atas kehidupan ini. Misalnya, saat saya menjadi pengurus Departemen Keamanan Pesantren dalam memecahkan sebuah kasus. Dan sampai sekarang, jika saya sedang menulis artikel, makalah, narasi, ataupun karya ilmiah lainnya kemampuan itu sangat bermanfaat. Nah, saat menulis novel, sifat turunan dari bapak-ibuk saya kawinkan. haha




0 komentar:

Posting Komentar