Barangkali
memang benar kata orangtua dulu, bahwa perbedaan perangai suami-istri menjadi
penyeimbang keharmonisan dalam rumah tangga. Saya melihat itu dalam keluarga
saya. Ibuk saya emosional, bapak saya rasional; ibuk saya ekspresif, bapak saya
penuh pertimbangan; ibuk saya sentimentil, bapak saya humoris; saat ibuk saya
bersikap tegas kepada anak-anak, bapak mendekati dan bilang: pelan-pelan; ibuk
saya keras kepala, bapak saya mau mendengarkan pendapat orang lain; ibuk saya
cenderung temperamental, dan bapak telaten melayani; ibuk saya terang-terangan
dalam mengatakan sayang, bapak saya sangat tersirat.
Keduanya
berpengaruh positif dalam pembentukan karakter saya. Dalam memutuskan sesuatu
misalnya, saya pertimbangkan dengan rasional dan sungguh-sungguh sekaligus
menakar-nakarnya dengan pertimbangan hati.
Untuk
emosi, ibuk lebih mendominasi pada diri saya. Dari emosi yang diturunkan ibuk
saya itulah saya sering menekur dan bercakap-cakap dengan diri sendiri,
mendengarkan suara alam lalu mencoret-coretkannya menjadi kata-kata. Menjelma puisi
dan cerita pendek. Sejak kecil pun, saya telah menari, baik di SD maupun di
acara akhir tahun TPA, dan banyak para guru juga ustadz yang mengatakan bahwa
saya sangat luwes. Barangkali karena saya tidak menghapal gerakan seperti
teman-teman yang lain, tapi memang dasarnya saya sangat suka mendengarkan musik
apalagi bunyi-bunyian seperti gending. Bagian tubuh saya, seperti pinggul,
kepala, dan tangan bergerak begitu saja selaras dengan tarikan gending. Dan
yang terpenting, saya tidak hanya mendengar bunyi-bunyian itu dari luar, tapi
juga muncul dari dalam. Dalam diri saya. Diri saya sendiri.
Sementara
bapak, sangat mendominasi dalam pola berpikir rasional saya. Bapak itu pemikir,
analis. Cara berpikirnya runtut, dalam, dan komprehensif. Terkadang juga integratif
dan interkonektif (haha biar nyaingin Prof. Amin Abdullah). Dan ini sangat
membantu saya berjalan di atas kehidupan ini. Misalnya, saat saya menjadi pengurus
Departemen Keamanan Pesantren dalam memecahkan sebuah kasus. Dan sampai
sekarang, jika saya sedang menulis artikel, makalah, narasi, ataupun karya
ilmiah lainnya kemampuan itu sangat bermanfaat. Nah, saat menulis novel, sifat
turunan dari bapak-ibuk saya kawinkan. haha
0 komentar:
Posting Komentar