Selasa, 24 Mei 2016

DUAPULUHDELAPAN: BAPAK DAN KAOS KAKI


Saat melihat si bungsu Luqman kebingungan mencari seragamnya yang tidak ketemu di antara tumpukan bajunya, dia berlari ke dapur. Di tengah kebingungannya mencari seragam karena sudah siang, dengan sedikit berteriak, dia bertanya kepada ibuk. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Eng ing eng… Alih-alih mendapatkan petunjuk atau bantuan mencari seragamnya yang entah ketlingsut di mana, si bungsu yang sedang kebingungan itu mendapatkan semburan api. Hahaha saya yang melihatnya kontan tertawa ngakak. Sedang bapak sudah senyum-senyum sambil beranjak ke kamar tempat lemari baju si bungsu.

Sejurus, saya memasuki lorong waktu, kembali ke belakang waktu. Saat itu saya masih gadis kecil yang sedang mengenakan seragam merah putih. Dengan rok merah pendek dan baju putih pendek tanpa jilbab. Saya bingung mencari kaos kaki putih yang tidak ada di tempat biasanya. Tangan kecil saya mengangkat lipatan baju-baju dengan cepat. Tidak ketemu. Saya ulangi berkali-kali. Tidak ketemu juga. Saya sudah mau menangis. Lalu, meski saya tahu apa akibatnya jika bertanya pada ibuk, saya tetap gagah berani (alias memberanikan diri haha) pergi ke dapur dan bertanya kepada ibuk. Tapi apa yang saya dapat? Wah tentu saja semburan api, padahal waktu itu belum musim Avatar dan Negara apinya wkwk. Sambil melotot, lengkap dengan bunyi glontang-glanting dari sutil dan penggorengannya, ibuk berteriak, “Begitu ya! Teruskan menjadi anak perempuan yang gak rapi dan gak bertanggungjawab pada miliknya sendiri! Kalau terus begitu kamu akan tahu sengsaranya menjadi perempuan...” Cut. Masih panjang lagi sebenarnya, Kawan.

Saya membalikkan badan dengan lemas. Kembali ke depan lemari di kamar. Sudah ada bapak senyum-senyum sambil telaten mengangkati satu per satu baju di lemari. Tidak ada. Bapak berlari ke samping rumah, menuju tempat jemuran. Saya mengikuti di belakangnya. Bapak menggeser jemuran satu-satu dengan telaten. Itu dia! Bapak tersenyum melihat kaos kaki putih saya mecungul di depan mukanya.

Senin pagi itu saya sekolah dengan mengenakan kaos kaki putih seperti teman-teman lainnya 



0 komentar:

Posting Komentar