Telah kesekian kali baik lisan maupun tulisan saya menceritakan kegelisahan saya pribadi membaca fenomena tari di UIN Suka. Ada perasaan ganjil bagi saya pribadi yang justru melihat geliat tari di UIN semasa itu tidak muncul dari fakultas berbasis seni-budaya. Saya memiliki pandangan bahwa yang seharusnya menjadi kiblat seni-budaya di kampus ini adalah Fakultas yang berbasis seni budaya. Di UIN Suka, fakultas tersebut adalah Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FAIB). FAIB tidak cukup hanya memiliki Sanggar Nuun. Tanpa mengurangi rasa bangga kepada Sanggar Nuun yang memiliki banyak domain proses seni budaya, FAIB butuh ruang khusus untuk seni tari. Dan ruang itu semestinya menjadi kiblat ruang seni tari di UIN Suka.
Sejarah ADC
Gayung bersambut. Adik angkatan saya, Hilman Taufiq Abdillah
yang waktu itu baru saja terpilih sebagai ketua BEM F (yang sekarang DEMA F)
dan sedikit banyak memahami cara pandang saya, meminta saya untuk mewujudkan
sebagaimana yang saya cita-citakan terhadap FAIB tercinta. Entah tahu dari mana
anak ini akan ghiroh saya ini. Saya lupa, apakah saya pernah sharing
santai dengannya tentang ini, atau dia melihat aktifitas tari saya kala itu,
atau apa sesungguhnya yang dilihatnya dari saya hingga mempercayai mengajak
saya untuk mulai mengabdikan diri bersamanya kepada Fakultas.
Begitulah. Setelah saya mendapat surat dan resmi diangkat sebagai Koordinator Divisi Seni Tari , saya menyampaikan kepada Hilman langkah-langkah yang akan mulai saya ambil. Saya bersama Hilman berembug, merumuskan langkah-langkah. Jadilah malam itu saya dengan Hilman mengunjungi salah-satu Basecamp Ikatan Mahasiswa Indramayu. Bertemu teman saya, senior di komunitas itu, saya dikenalkan dengan anggotanya yang kuliah di Jurusan Seni Tari ISI. Kani namanya. Setelah mengobrol seputar tari dan biaya yang harus kami keluarkan untuk melatih teman-teman FAIB yangberminat di seni tari, saya berpamitan. Selepas itu, mulailah saya bertemu teman-teman penari, mencari satu pelatih lagi, dan membuat jadual latihan.
Angkatan pertama ada sebelas mahasiswi yang berminat. Tari
Bajidor Kahot;3 penari, Tari Topeng; 3penari , dan Tari Kreasi Ingsun; 5
penari. Dua tari pertama di bawah asuhan Kani. Dan tari ketiga di bawah asuhan
Usanna Tayuman, alumni Teater Eska.
Setiap jadual latihan, setiap itu pula saya berjalan dari
kost menuju kampus untuk mendampingi mereka, yang nyaris selalu sampai larut
malam. Mengobrol dengan pelatih terkait progresitas teman-teman. Ibarat ibu,
mereka adalah para bayi saya yang harus saya rawat benar-benar sembari terus
mencari dan menemukan kelebihan, bakat, kecendrungan, karakter, arah pandangan,
sekaligus kekurangan, dan kelemahannya. Hal itu menjadi penting bagi saya.
Karena saya memiliki pandangan dan keyakinan bahwa menjadi penari adalah
tentang segala apa yang ada dan yang terbentuk dari pribadi setiap orang.
ADC—yang pada waktu itu belum memliki nama—perduli pada pembentukan gerak
sekaligus jiwa para penarinya. Karena ADC benar-benar ingin mengasah dan melahirkan
seorang penari yang benar-benar dapat disebut sebagai “penari”. Yang menarikan suatu hal lewat gerak tubuh:
tangan; kepala; pinggul; kaki; mata; hidung; bibir; telinga; bahkan kedipan
mata;, dan gerak jiwa yang paling dalam.
![]() |
| ADC in Kalijaga Menari |
Nilai-Nilai ADC
Ruang Seni Tari di bawah naungan BEM F yang lalu memberi
namanya ADC (akronim dari Adab Dance Community) memiliki nilai-nilainya
tersendiri. Hal ini sebagai barometer atau titik tolak ADC untuk
senantiasa memegang teguh dan berdiri
kuat di atasnya. Ibarat rumah yang pasti memiliki pondasi agar kuat, kokoh, dan
tidak mudah tumbang, begitulah nilai-nilai ADC berfungsi. Nilai-nilai ADC
adalah pondasi untuk rumah ADC yang senantiasa berwarna dan ramai dengan proses
yang senantiasa hidup dan dinamis.
Adapun Nilai-nilai ADC yang pernah saya sampaikan saat
workshop untuk anggota baru adalah:
1. 1. Basis
Kekeluargaan
Seperti saya sebutkan di atas, bahwa
nilai-nilai ADC adalah pondasi, maka ADC sendiri adalah rumah. Tidak ada satu
orang saja yang memiliki ADC, sebaliknya semua anggota adalah pemilik ADC.
Semua anggota ADC adalah keluarga. Apa saja yang wajib dan berhak dimiliki
anggota keluarga?
a. Kesolidan
b. Keterbukaan
c. Komunikasi yang baik
d. Kepedulian
e. Saling berbagi
f.
Kebersamaan
g. Rasa memiliki, dll.
2. 2. Kemandirian
Dari awal ADC memiliki pandangan jauh
sekaligus harapan konkret bahwa kemandirian adalah asas yang paking dasar
dimiliki ADC sekaligus setiap penarinya. Kemandirian apa saja?
Bagi penari ADC adalah modal awal menjadi
penari memiliki kemandirian dalam skill make-up, memahami dan mengkreasi
kostum, menemukan skill menari dalam jiwanya, mengasahnya bersama penari yang
lain, dll.
Bagi ADC sendiri, kemandirian secara finansial
sangat disadari akan mendorong rasa kepemilikan, rasa tanggungjawab bersama,
dan rasa untuk maju dan menjadi professional secara bersama-sama. Adapun dana
dari DEMA F untuk ADC bukanlah hal primer yang diharapkan ADC. Namun, sejak
awal DEMA F telah menyadari bahwa memberi dana kepada ADC adalah “kewajiban”.
Betapa ADC telah membawa nama harum DEMA FAIB tidak hanya lokal kampus, namun
ADC telah membuktikan kemampuannya di muka nasional.
Kemandirian ADC tidak hanya berhenti di sini.
Seiring berjalannya waktu, ADC dituntut menggali dan menemukan
kemandirian-kemandirian selanjutnya.
1. 3. Duduk bareng dan
pembacaan
Menjadi tradisi ADC adalah sering duduk bareng, melakukan pembacaan, mengobrol tentang apa yang akan disampaikan lewat gerak tarian. ADC pantang menarikan suatu hal yang tidak dipahami oleh penarinya sendiri. ADC percaya dan yakin bahwa tarian adalah komunikasi dan bahwa setiap tarian memiliki "ruhnya" masing-masing. Penari tanpa mengetahui makna tarian adalah bohong. Adalah kosong. Dan ADC menjauhi itu.
3. 4. Menjaga Nama Baik FAIB UIN Suka
Ada cerita di ISI yang sangat saya ingat.
Saat itu, saya bersama pengurus BEM yang lain mendampingi teman-teman penari
ADC yang tampil di studio tari Jurusan Seni Tari ISI. Kami menampilkan tari
topeng. Kostum tari topeng murni kami adaptasi lagi, dengan tutup kepala untuk
menutupi rambut dan leher. Hal itu mendapat sambutan positif dari para dosen
Seni Tari. Mereka takjub karena UIN yang terkenal sebagai kampusnya orang
kritis dan tukang demo, dapat membuktikan tumbuhnya Seni Tari. Label Islam
tidak membatasi untuk melestraikan tradisi Nusantara. Dan di jeda acara seminar
tari bersama Didik Nini Thowok, seorang dosen menghampiri saya dan
mengapresiasi tentang adaptasi tersebut. Kesan yang saya tangkap, UIN memiliki
khas tersendiri saat tadi tampil bersama para kelompok penari dari berbagai
kampus dan komunitas tari di Yogyakarta.
Nah, di sinilah yang ingin saya katakan
pada teman-teman semua. Apa bedanya penari ADC dengan penari lain. ADC ingin
menunjukkan kekhasannya. ADC di bawah payung FAIB Universitas “Islam” Negeri.
Kita tahu, aurat dan jilbab dalam
fiqih pun masih dalam perdebatan. Di luar sebagai penari ADC hal tersebut menjadi
hak masing-masing. Namun, toleransi, mari kita praktikkan saat kita sedang di
bawah payung ADC. Agar kelak, ADC tetap bisa dinikmati dan digeluti oleh para
penerus.
Semoga teman-teman paham.
Demikian tulisan sangat sederhana ini saya buat. Hanya semacam pengantar . Mudah-mudahan
dapat membantu.
Malang, 19 Mei 2016


0 komentar:
Posting Komentar