Kamis, 19 Mei 2016

ADAB DANCE COMMUNITY: SEJARAH DAN NILAI-NILAI


Telah kesekian kali baik lisan maupun tulisan saya menceritakan kegelisahan saya pribadi membaca fenomena tari di UIN Suka. Ada perasaan ganjil bagi saya pribadi yang justru melihat geliat tari di UIN semasa itu tidak muncul dari fakultas berbasis seni-budaya. Saya memiliki pandangan bahwa yang seharusnya menjadi kiblat seni-budaya di kampus ini adalah Fakultas yang berbasis seni budaya. Di UIN Suka, fakultas tersebut adalah Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FAIB). FAIB tidak cukup hanya memiliki Sanggar Nuun. Tanpa mengurangi rasa bangga kepada Sanggar Nuun yang memiliki banyak domain proses seni budaya, FAIB butuh ruang khusus untuk seni tari. Dan ruang itu semestinya menjadi kiblat ruang seni tari di UIN Suka.
Sejarah ADC

Gayung bersambut. Adik angkatan saya, Hilman Taufiq Abdillah yang waktu itu baru saja terpilih sebagai ketua BEM F (yang sekarang DEMA F) dan sedikit banyak memahami cara pandang saya, meminta saya untuk mewujudkan sebagaimana yang saya cita-citakan terhadap FAIB tercinta. Entah tahu dari mana anak ini akan ghiroh saya ini. Saya lupa, apakah saya pernah sharing santai dengannya tentang ini, atau dia melihat aktifitas tari saya kala itu, atau apa sesungguhnya yang dilihatnya dari saya hingga mempercayai mengajak saya untuk mulai mengabdikan diri bersamanya kepada Fakultas.

Begitulah. Setelah saya mendapat surat dan resmi diangkat sebagai Koordinator Divisi Seni Tari , saya menyampaikan kepada Hilman langkah-langkah yang akan mulai saya ambil. Saya bersama Hilman berembug, merumuskan langkah-langkah. Jadilah malam itu saya dengan Hilman mengunjungi salah-satu  Basecamp Ikatan Mahasiswa Indramayu. Bertemu teman saya, senior di komunitas itu, saya dikenalkan dengan anggotanya yang kuliah di Jurusan Seni Tari ISI. Kani namanya. Setelah mengobrol seputar tari dan biaya yang harus kami keluarkan untuk melatih teman-teman FAIB yangberminat di seni tari, saya berpamitan. Selepas itu, mulailah saya bertemu teman-teman penari, mencari satu pelatih lagi, dan membuat jadual latihan.

Angkatan pertama ada sebelas mahasiswi yang berminat. Tari Bajidor Kahot;3 penari, Tari Topeng; 3penari , dan Tari Kreasi Ingsun; 5 penari. Dua tari pertama di bawah asuhan Kani. Dan tari ketiga di bawah asuhan Usanna Tayuman, alumni Teater Eska.  

Setiap jadual latihan, setiap itu pula saya berjalan dari kost menuju kampus untuk mendampingi mereka, yang nyaris selalu sampai larut malam. Mengobrol dengan pelatih terkait progresitas teman-teman. Ibarat ibu, mereka adalah para bayi saya yang harus saya rawat benar-benar sembari terus mencari dan menemukan kelebihan, bakat, kecendrungan, karakter, arah pandangan, sekaligus kekurangan, dan kelemahannya. Hal itu menjadi penting bagi saya. Karena saya memiliki pandangan dan keyakinan bahwa menjadi penari adalah tentang segala apa yang ada dan yang terbentuk dari pribadi setiap orang. ADC—yang pada waktu itu belum memliki nama—perduli pada pembentukan gerak sekaligus jiwa para penarinya. Karena ADC benar-benar ingin mengasah dan melahirkan seorang penari yang benar-benar dapat disebut sebagai “penari”.  Yang menarikan suatu hal lewat gerak tubuh: tangan; kepala; pinggul; kaki; mata; hidung; bibir; telinga; bahkan kedipan mata;, dan gerak jiwa yang paling dalam.

ADC in Kalijaga Menari

Nilai-Nilai ADC

Ruang Seni Tari di bawah naungan BEM F yang lalu memberi namanya ADC (akronim dari Adab Dance Community) memiliki nilai-nilainya tersendiri. Hal ini sebagai barometer atau titik tolak ADC untuk senantiasa  memegang teguh dan berdiri kuat di atasnya. Ibarat rumah yang pasti memiliki pondasi agar kuat, kokoh, dan tidak mudah tumbang, begitulah nilai-nilai ADC berfungsi. Nilai-nilai ADC adalah pondasi untuk rumah ADC yang senantiasa berwarna dan ramai dengan proses yang senantiasa hidup dan dinamis.

Adapun Nilai-nilai ADC yang pernah saya sampaikan saat workshop untuk anggota baru adalah:

1.     1.  Basis Kekeluargaan

Seperti saya sebutkan di atas, bahwa nilai-nilai ADC adalah pondasi, maka ADC sendiri adalah rumah. Tidak ada satu orang saja yang memiliki ADC, sebaliknya semua anggota adalah pemilik ADC. Semua anggota ADC adalah keluarga. Apa saja yang wajib dan berhak dimiliki anggota keluarga?
a.      Kesolidan
b.      Keterbukaan
c.       Komunikasi yang baik
d.      Kepedulian
e.      Saling berbagi
f.        Kebersamaan
g.      Rasa memiliki, dll.

2.     2.  Kemandirian

Dari awal ADC memiliki pandangan jauh sekaligus harapan konkret bahwa kemandirian adalah asas yang paking dasar dimiliki ADC sekaligus setiap penarinya. Kemandirian apa saja?

Bagi penari ADC adalah modal awal menjadi penari memiliki kemandirian dalam skill make-up, memahami dan mengkreasi kostum, menemukan skill menari dalam jiwanya, mengasahnya bersama penari yang lain, dll.

Bagi ADC sendiri, kemandirian secara finansial sangat disadari akan mendorong rasa kepemilikan, rasa tanggungjawab bersama, dan rasa untuk maju dan menjadi professional secara bersama-sama. Adapun dana dari DEMA F untuk ADC bukanlah hal primer yang diharapkan ADC. Namun, sejak awal DEMA F telah menyadari bahwa memberi dana kepada ADC adalah “kewajiban”. Betapa ADC telah membawa nama harum DEMA FAIB tidak hanya lokal kampus, namun ADC telah membuktikan kemampuannya di muka nasional.

Kemandirian ADC tidak hanya berhenti di sini. Seiring berjalannya waktu, ADC dituntut menggali dan menemukan kemandirian-kemandirian selanjutnya.

1.      3.  Duduk bareng dan pembacaan

Menjadi tradisi ADC adalah sering duduk bareng, melakukan pembacaan, mengobrol tentang apa yang akan disampaikan lewat gerak tarian. ADC pantang menarikan suatu hal yang tidak dipahami oleh penarinya sendiri. ADC percaya dan yakin bahwa tarian adalah komunikasi dan bahwa setiap tarian memiliki "ruhnya" masing-masing. Penari tanpa mengetahui makna tarian adalah bohong. Adalah kosong. Dan ADC menjauhi itu.

3.      4. Menjaga Nama Baik FAIB UIN Suka

Ada cerita di ISI yang sangat saya ingat. Saat itu, saya bersama pengurus BEM yang lain mendampingi teman-teman penari ADC yang tampil di studio tari Jurusan Seni Tari ISI. Kami menampilkan tari topeng. Kostum tari topeng murni kami adaptasi lagi, dengan tutup kepala untuk menutupi rambut dan leher. Hal itu mendapat sambutan positif dari para dosen Seni Tari. Mereka takjub karena UIN yang terkenal sebagai kampusnya orang kritis dan tukang demo, dapat membuktikan tumbuhnya Seni Tari. Label Islam tidak membatasi untuk melestraikan tradisi Nusantara. Dan di jeda acara seminar tari bersama Didik Nini Thowok, seorang dosen menghampiri saya dan mengapresiasi tentang adaptasi tersebut. Kesan yang saya tangkap, UIN memiliki khas tersendiri saat tadi tampil bersama para kelompok penari dari berbagai kampus dan komunitas tari di Yogyakarta.

Nah, di sinilah yang ingin saya katakan pada teman-teman semua. Apa bedanya penari ADC dengan penari lain. ADC ingin menunjukkan kekhasannya. ADC di bawah payung FAIB Universitas “Islam” Negeri.

Kita tahu, aurat dan jilbab dalam fiqih pun masih dalam perdebatan. Di luar sebagai penari ADC hal tersebut menjadi hak masing-masing. Namun, toleransi, mari kita praktikkan saat kita sedang di bawah payung ADC. Agar kelak, ADC tetap bisa dinikmati dan digeluti oleh para penerus.

Semoga teman-teman paham.

Demikian tulisan sangat sederhana ini saya buat. Hanya semacam pengantar . Mudah-mudahan dapat membantu.

Malang, 19 Mei 2016 



0 komentar:

Posting Komentar