Kamis, 19 Mei 2016

DUAPULUHLIMA: SEPULUH JUTA DI SAKU CELANA BAPAK


Soal sholat, bagi bapak dan ibuk, adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar. Bahkan, ibuk pernah mengatakan kalau menantu idamannya adalah Lanceng Madura saja. Saat saya tanya kenapa, ibuk menjawab: Karena mereka itu santun dan rajin sholat. Tapi itu dulu, kini pandangan ibuk tentang menantu idaman semakin maju, seturut semakin beragamnya teman-teman saya. Ternyata, pemuda Jawa itu juga banyak yang santun dan rajin sholat ya, kata ibuk saat banyak teman-teman saya berkunjung menjenguk pasca saya operasi tulang kaki kanan.

Selepas berdomisili di Solo, kami kembali lagi ke Malang. Karena Terminal semakin sepi, ibuk usul kepada bapak bagaimana kalau berdagang lagi sebagaimana dulu, saat masih memiliki Halimah saja. Bapak setuju. Dan mulailah bapak memutar pikiran untuk mendapatkan modal awal berdagang. Terkabullah ikhtiar itu meski dengan jalan berhutang kepada saudara sejumlah sepuluh juta.

Bapak-ibuk mulai kulakan, mencari tempat untuk menggelar dagangannya; sayur, buah-buahan, cabai, tomat, bawang-merah, bawang putih, dan masih banyak lagi. Namanya orang baru, seringkali bapak dan ibuk dihardik orang, harus berpindah dan menata ulang dagangan karena sering diusir.

Mahgrib datang, bapak masih membantu ibuk menata buah. Suara adzan semakin keras saja saat ibuk mengingatkan bapak untuk melaksanakan sholat terlebih dulu. “Jangan menukar sholat dengan Allahmu, Pak,” kata ibuk mengingatkan. Bapak mengangguk. Setelah sepakat untuk bergantian pergi ke Musholla, bapak menjulurkan uang pada ibuk. “Ah, jangan. Bawa Samean saja. Aku kan lagi repot menata, nanti terlena lagi,” ibuk menolak. Bapak masih gamang, masak ke Musholla bawa uang. Setelah dipikir lagi, akan mengundang bahaya preman kalau menaruh uang pada perempuan sendirian. Pergilah bapak ke Musholla di surup yang merah itu. Musholla pasar tradisional Gadang Malang.

Semunculnya bapak, ibuk sudah selesai menata. Sebelum berganti pergi ke Musholla, ibuk meminta bapak untuk membayar sayurnya pada beberapa tengkulak. Tapi bapak diam membisu, wajahnya pucat. Ibuk menegur lagi apakah bapak mendengar? Bapak hanya mengangguk lesu. “Yasudah, cepat dibayar ya. Aku sholat dulu.” Wajah bapak seperti akan menangis. Ibuk disergap kekhawatiran, “Bapak, ada apa?” Pelan-pelan bapak mengangkat mukanya, dengan mata yang ragu menatap ibuk, kalimat itu keluar dari suaranya yang juga lemah, “Buk, uangnya hilang…”

“Innalillah…” teriak ibuk sambil menutup mulut. Deras air mata tak bisa dibendung dari matanya. Betapa banyak dagangan yang belum dibayarnya. Malam itu, bapak dan ibuk, kembali pulang sambil menangis. Menangis sungguh.

Padahal, malam itu pula, saya menelpon bapak, saya ceritakan bahwa saya sedang terkena apes, Uang saya di lemari baju, hilang. Satu-satunya uang, satu lembar limapuluhan ribu. Tidak saya ceritakan kepada bapak bahwa saya tahu teman mana yang mengambil. Bapak dengan tegas menjawab bahwa besok akan segera bapak kirim. Ibuk pun tidak seperti biasanya, turut berpesan agar saya tidak gelisah, besok biar bapak langsung kirim.

Keren sekali kan bapak-ibuk saya? Mereka sembunyikan luka agar putrinya tetap tenang belajar di Jogja sana. Sementara, apa yang saya lakukan di Jogja??   





0 komentar:

Posting Komentar