Soal
sholat, bagi bapak dan ibuk, adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar. Bahkan,
ibuk pernah mengatakan kalau menantu idamannya adalah Lanceng Madura
saja. Saat saya tanya kenapa, ibuk menjawab: Karena mereka itu santun dan rajin
sholat. Tapi itu dulu, kini pandangan ibuk tentang menantu idaman semakin maju,
seturut semakin beragamnya teman-teman saya. Ternyata, pemuda Jawa itu juga
banyak yang santun dan rajin sholat ya, kata ibuk saat banyak teman-teman saya
berkunjung menjenguk pasca saya operasi tulang kaki kanan.
Selepas
berdomisili di Solo, kami kembali lagi ke Malang. Karena Terminal semakin sepi,
ibuk usul kepada bapak bagaimana kalau berdagang lagi sebagaimana dulu, saat
masih memiliki Halimah saja. Bapak setuju. Dan mulailah bapak memutar pikiran untuk
mendapatkan modal awal berdagang. Terkabullah ikhtiar itu meski dengan jalan
berhutang kepada saudara sejumlah sepuluh juta.
Bapak-ibuk
mulai kulakan, mencari tempat untuk menggelar dagangannya; sayur, buah-buahan,
cabai, tomat, bawang-merah, bawang putih, dan masih banyak lagi. Namanya orang
baru, seringkali bapak dan ibuk dihardik orang, harus berpindah dan menata
ulang dagangan karena sering diusir.
Mahgrib
datang, bapak masih membantu ibuk menata buah. Suara adzan semakin keras saja
saat ibuk mengingatkan bapak untuk melaksanakan sholat terlebih dulu. “Jangan
menukar sholat dengan Allahmu, Pak,” kata ibuk mengingatkan. Bapak mengangguk.
Setelah sepakat untuk bergantian pergi ke Musholla, bapak menjulurkan uang pada
ibuk. “Ah, jangan. Bawa Samean saja. Aku kan lagi repot menata, nanti
terlena lagi,” ibuk menolak. Bapak masih gamang, masak ke Musholla bawa uang.
Setelah dipikir lagi, akan mengundang bahaya preman kalau menaruh uang pada
perempuan sendirian. Pergilah bapak ke Musholla di surup yang merah itu.
Musholla pasar tradisional Gadang Malang.
Semunculnya
bapak, ibuk sudah selesai menata. Sebelum berganti pergi ke Musholla, ibuk
meminta bapak untuk membayar sayurnya pada beberapa tengkulak. Tapi bapak diam
membisu, wajahnya pucat. Ibuk menegur lagi apakah bapak mendengar? Bapak hanya
mengangguk lesu. “Yasudah, cepat dibayar ya. Aku sholat dulu.” Wajah bapak
seperti akan menangis. Ibuk disergap kekhawatiran, “Bapak, ada apa?”
Pelan-pelan bapak mengangkat mukanya, dengan mata yang ragu menatap ibuk, kalimat
itu keluar dari suaranya yang juga lemah, “Buk, uangnya hilang…”
“Innalillah…”
teriak ibuk sambil menutup mulut. Deras air mata tak bisa dibendung dari
matanya. Betapa banyak dagangan yang belum dibayarnya. Malam itu, bapak dan
ibuk, kembali pulang sambil menangis. Menangis sungguh.
Padahal,
malam itu pula, saya menelpon bapak, saya ceritakan bahwa saya sedang terkena
apes, Uang saya di lemari baju, hilang. Satu-satunya uang, satu lembar
limapuluhan ribu. Tidak saya ceritakan kepada bapak bahwa saya tahu teman mana
yang mengambil. Bapak dengan tegas menjawab bahwa besok akan segera bapak
kirim. Ibuk pun tidak seperti biasanya, turut berpesan agar saya tidak gelisah,
besok biar bapak langsung kirim.
Keren
sekali kan bapak-ibuk saya? Mereka sembunyikan luka agar putrinya tetap tenang
belajar di Jogja sana. Sementara, apa yang saya lakukan di Jogja??
0 komentar:
Posting Komentar