Masih
di bulan ini, saat suatu malam saya bermimpi buku-buku saya tenggelam ditelan
lautan. Lalu ibuk menatap saya, menandakan akan terjun ke tengah lautan untuk
mengambilnya. Saya menggeleng keras-keras ingin mengatakan, bahwa nyawa ibuk
dan bapak lebih penting dari sekedar buku-buku saya. Tapi ibuk memiliki
keyakinan, buku-buku itu penting bagi saya. Dan sekejab, berlarilah ibuk ke
tengah lautan, mencebur dan meneggelamkan dirinya. Saya sudah berteriak-teriak
mengejar ibuk. Namun tidak hanya ibuk, di belakngnya, bapak turut terjun. Saat
bapak terjun itulah, desiran pada jantung saya sangat terasa. Menjelma isyarah.
Saya
menangis di bibir pantai saat buku-buku saya muncul ke permukaan, namun wajah
ibuk-bapak tidak kunjung terlihat. Saya tetap tergugu saat wajah ibuk muncul
demikian biru. Saya tarik ibuk bersamaan dengan adik perempuannya, Bek Sam. Lalu
ibuk menangis sambil menunjuk ke tengah lautan dan terus memanggil bapak.
Kesedihan saya semakin dalam, ketakutan saya terasa nyata….
Dua
hari setelah mimpi melelahkan itu, ibuk menelfon. Menceritakan keadaan bapak.
Sejurus saya mengingat mimpi di malam itu… Begitu dalam beban yang sedang
dipikul bapak, Gusti. Tapi bukankah itu cara-Mu merawat kemesraan dengan bapak
saya, bukan?
Rupanya,
bapak dan ibuk saya begitu spesial bagi-Mu? Terimakasih, Tuhan. Terimakasih!
0 komentar:
Posting Komentar