Kamis, 19 Mei 2016

DUAPULUHEMPAT: BAPAK TENGGELAM KARENA MENYELAMATKAN BUKU


Masih di bulan ini, saat suatu malam saya bermimpi buku-buku saya tenggelam ditelan lautan. Lalu ibuk menatap saya, menandakan akan terjun ke tengah lautan untuk mengambilnya. Saya menggeleng keras-keras ingin mengatakan, bahwa nyawa ibuk dan bapak lebih penting dari sekedar buku-buku saya. Tapi ibuk memiliki keyakinan, buku-buku itu penting bagi saya. Dan sekejab, berlarilah ibuk ke tengah lautan, mencebur dan meneggelamkan dirinya. Saya sudah berteriak-teriak mengejar ibuk. Namun tidak hanya ibuk, di belakngnya, bapak turut terjun. Saat bapak terjun itulah, desiran pada jantung saya sangat terasa. Menjelma isyarah.

Saya menangis di bibir pantai saat buku-buku saya muncul ke permukaan, namun wajah ibuk-bapak tidak kunjung terlihat. Saya tetap tergugu saat wajah ibuk muncul demikian biru. Saya tarik ibuk bersamaan dengan adik perempuannya, Bek Sam. Lalu ibuk menangis sambil menunjuk ke tengah lautan dan terus memanggil bapak. Kesedihan saya semakin dalam, ketakutan saya terasa nyata….
Dua hari setelah mimpi melelahkan itu, ibuk menelfon. Menceritakan keadaan bapak. Sejurus saya mengingat mimpi di malam itu… Begitu dalam beban yang sedang dipikul bapak, Gusti. Tapi bukankah itu cara-Mu merawat kemesraan dengan bapak saya, bukan?

Rupanya, bapak dan ibuk saya begitu spesial bagi-Mu? Terimakasih, Tuhan. Terimakasih!







0 komentar:

Posting Komentar