Saya
tidak bisa tidur. Sababnya, karena buncah bahagia yang sedang tenang melayang
di dalam hati. Malam itu, terjadi pada hari kesepuluh pada bulan keduabelas di
tahun 2015 kemarin. Ceritanya, pada sore sebelum malam menghampiri saya dengan
kado bahagianya, ada obrolan istimewa antara anak perempuan dan bapaknya. Anak
perempuan itu tentu saja saya dan bapak tercinta.
Sore
itu, Kota Malang bernuansa puitis, karena gerimis ritmis nan romantis tengah
berlangsung. Di ruang tamu, saya yang mengenakan baju warna kuning lembut
sedang njeketut di depan laptop. Tetiba, dari arah kamarnya, bapak agak
berteriak, “Bagaimana kabar teman dekatmu?” Sontak saya mengangkat kepala, mata
sayapun dengan cepat sekali beralih dari layar laptop ke sosok bapak di depan
pintu kamarnya yang sedang melipat sarung sambil berdiri. Barangkali, saking
terkejutnya, mulut sayapun sedikit menganga. Saya lihat bapak tersenyum lembut,
berjalan ke arah saya dan duduk di sofa, berjarak satu meter dari tempat saya
yang sedang duduk terkejut dengan mulut agak terbuka. Bapak mengulang lagi
pertanyaannya dengan memasang wajah humornya, dan saya langsung ngakak. Ngakak
bebas sebagaimana saya sedang di Jogja, hal yang tidak pernah saya lakukan di
depan bapak sebelumnya.
“Bagaimana? Teman dekat….” Saya masih diam karena malu.
“Bagaimana dia… teman dekat… ya pacarlah ya…”
Saya
ngakak lagi dan bapak menyambutnya dengan senyum yang bermakna positif. Saya
merasa bapak serius menanyaknnya. Saya jawab singkat keadaan teman dekat saya
yang dimaksud bapak. Bapak bertanya lagi kenapa dia belum main ke rumah. Saya
menjawabnya lagi. Saya ceritakan, berkali-kali dia sudah meminta pertimbangan
untuk main ke Malang bertemu bapak dan ibuk, tapi saya belum berani. Bapak
menjawab jangan begitu, suruh main saja secepatnya. Saya mengangguk pelan,
masih malu. Hahaha
Pertanyaan
bapak ternyata belum selesai. Dengan tidak langsung, dimintanya saya
menceritakan perihal teman dekat saya itu. Sayapun mulai bercerita tentang
seorang lelaki, yang semoga kelak bisa membantu bapak melindungi saya, anak
perempuannya. Ihirrrr sambil nyumpel muka dengan serbet :D
Setelah
saya menyebut nama lengkapnya dan asalnya, bapak bertanya dimana tepatnya itu.
Sedikit saya menjelaskan, bapak yang dunianya adalah seputar bus dan terminal,
langsung bisa meraba. Saya lanjutkan cerita saya: “Dia anak laki-laki terakhir
seperti Luqman. Jadi, saat dia sedang tumbuh dan perlu biaya pendidikan,
orangtuanya sudah sepuh sehingga semenjak SMA dia sudah memiliki kesadaran dan
berjuang untuk mendapatkan beasiswa agar tetap bisa bersekolah. Selepas sekolah
yang disambinya dengan mengaji kalong ke Pesantren dekat rumahnya, dia pindah
ke Lamongan untuk nyantri di Pesantren Drajad. Lalu pindah ke Pesantren Hasyim
Asy’ari Jogja, Pesantren penulis yang diampu oleh Kiai Zainal. Di sana, sambil
belajar menulis dan mendampingi masyarakat, dia bekerja di Loper Koran, karena
salah-satu peraturan dari Pesantren Penulis ini adalah tidak boleh mendapat
kiriman. Ya baginya memang tidak ada masalah, karena sudah sejak SMA dia
berdiri di kaki sendiri.” Saya lihat bapak mengangguk kecil. Saya melanjutkan,
“Sambil berjualan koran, sambil menulis juga. Setelah lama membiayai kuliah
dengan hasil menulis di Koran yang ditekuninya, dia menjadi editor di
salah-satu penerbit di Jogja sekitar dua atau tiga tahun….” Sampai jelang
mahrib saya bercerita kepada bapak. Untuk pertama kalinya, saya mengobrol
dewasa dengan bapak. Tiba-tiba, untuk pertama kalinya juga, saya merasa
menjelma sebagai perempuan dewasa. Ah…. Tidakkkk Rasanya uisiiiin banget.
Saking malunya, setelah cerita pengen rasanya menutup wajah saya dengan baskom
yang gede. hahaha
0 komentar:
Posting Komentar