Kamis, 19 Mei 2016

DUAPULUHTIGA: MENGOBROL INTIM DENGAN BAPAK


Saya tidak bisa tidur. Sababnya, karena buncah bahagia yang sedang tenang melayang di dalam hati. Malam itu, terjadi pada hari kesepuluh pada bulan keduabelas di tahun 2015 kemarin. Ceritanya, pada sore sebelum malam menghampiri saya dengan kado bahagianya, ada obrolan istimewa antara anak perempuan dan bapaknya. Anak perempuan itu tentu saja saya dan bapak tercinta.
Sore itu, Kota Malang bernuansa puitis, karena gerimis ritmis nan romantis tengah berlangsung. Di ruang tamu, saya yang mengenakan baju warna kuning lembut sedang njeketut di depan laptop. Tetiba, dari arah kamarnya, bapak agak berteriak, “Bagaimana kabar teman dekatmu?” Sontak saya mengangkat kepala, mata sayapun dengan cepat sekali beralih dari layar laptop ke sosok bapak di depan pintu kamarnya yang sedang melipat sarung sambil berdiri. Barangkali, saking terkejutnya, mulut sayapun sedikit menganga. Saya lihat bapak tersenyum lembut, berjalan ke arah saya dan duduk di sofa, berjarak satu meter dari tempat saya yang sedang duduk terkejut dengan mulut agak terbuka. Bapak mengulang lagi pertanyaannya dengan memasang wajah humornya, dan saya langsung ngakak. Ngakak bebas sebagaimana saya sedang di Jogja, hal yang tidak pernah saya lakukan di depan bapak sebelumnya. 

“Bagaimana? Teman dekat….” Saya masih diam karena malu. “Bagaimana dia… teman dekat… ya pacarlah ya…”

Saya ngakak lagi dan bapak menyambutnya dengan senyum yang bermakna positif. Saya merasa bapak serius menanyaknnya. Saya jawab singkat keadaan teman dekat saya yang dimaksud bapak. Bapak bertanya lagi kenapa dia belum main ke rumah. Saya menjawabnya lagi. Saya ceritakan, berkali-kali dia sudah meminta pertimbangan untuk main ke Malang bertemu bapak dan ibuk, tapi saya belum berani. Bapak menjawab jangan begitu, suruh main saja secepatnya. Saya mengangguk pelan, masih malu. Hahaha

Pertanyaan bapak ternyata belum selesai. Dengan tidak langsung, dimintanya saya menceritakan perihal teman dekat saya itu. Sayapun mulai bercerita tentang seorang lelaki, yang semoga kelak bisa membantu bapak melindungi saya, anak perempuannya. Ihirrrr sambil nyumpel muka dengan serbet :D

Setelah saya menyebut nama lengkapnya dan asalnya, bapak bertanya dimana tepatnya itu. Sedikit saya menjelaskan, bapak yang dunianya adalah seputar bus dan terminal, langsung bisa meraba. Saya lanjutkan cerita saya: “Dia anak laki-laki terakhir seperti Luqman. Jadi, saat dia sedang tumbuh dan perlu biaya pendidikan, orangtuanya sudah sepuh sehingga semenjak SMA dia sudah memiliki kesadaran dan berjuang untuk mendapatkan beasiswa agar tetap bisa bersekolah. Selepas sekolah yang disambinya dengan mengaji kalong ke Pesantren dekat rumahnya, dia pindah ke Lamongan untuk nyantri di Pesantren Drajad. Lalu pindah ke Pesantren Hasyim Asy’ari Jogja, Pesantren penulis yang diampu oleh Kiai Zainal. Di sana, sambil belajar menulis dan mendampingi masyarakat, dia bekerja di Loper Koran, karena salah-satu peraturan dari Pesantren Penulis ini adalah tidak boleh mendapat kiriman. Ya baginya memang tidak ada masalah, karena sudah sejak SMA dia berdiri di kaki sendiri.” Saya lihat bapak mengangguk kecil. Saya melanjutkan, “Sambil berjualan koran, sambil menulis juga. Setelah lama membiayai kuliah dengan hasil menulis di Koran yang ditekuninya, dia menjadi editor di salah-satu penerbit di Jogja sekitar dua atau tiga tahun….” Sampai jelang mahrib saya bercerita kepada bapak. Untuk pertama kalinya, saya mengobrol dewasa dengan bapak. Tiba-tiba, untuk pertama kalinya juga, saya merasa menjelma sebagai perempuan dewasa. Ah…. Tidakkkk Rasanya uisiiiin banget. Saking malunya, setelah cerita pengen rasanya menutup wajah saya dengan baskom yang gede. hahaha


















0 komentar:

Posting Komentar