![]() |
| Diving di Umbul Ponggok Klaten Jawa Tengah 07/05/2016 |
"Kata Tuhan dalam kitab suci, adalah tiga makhluk ciptaannya yang paling tua dalam kehidupan ini yaitu Arsy; singgasana-Nya, Lauh Mahfudz; Buku rahasia kejadian, dan air. Dan Tuhan juga berkata bahwa singgasana-Nya berada di atas air."
Sabtu, tanggal 07 Mei 2016 saya bangun dengan perasaan bungah. Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga. Hari itu saya akan mencoba alat scuba, snorkling, dan melakukan diving untuk yang pertama kalinya dalam hidup. Dan kenangan ini nantinya akan mengerat dalam memori kenangan saya bersama Srikandi Diver Community, para perempuan penyelam. Yup, saya yang tidak bisa berenang ini akan nekat menyelam bersama para perempuan lain yang mungkin bagi mereka, menyelam itu sudah bagaikan cemilan.hihi
Bersama Kamalia Rizqi Awalina, koordinator SDC, saya bertolak dari Wanitatama ke Sentra Selam Jogja. Sesampainya di sana dan sebelum memastikan peralatan telah lengkap lalu menaikkannya ke dalam mobil, kami sembilan perempuan ini (bukan walisongo lo ya hehe) menyempatkan untuk sarapan terlebih dulu. Hem... sarapan gule ayam yang lezat.Sarapan itu penting untuk mengisi kalori tubuh sebagai energi sebelum nyemplung byurrr ke dalam air :D.
![]() |
| Sarapan Sebelum Menjadi Ikan Duyung :) |
Saya kaget sesampainya di TKP. Modal saya searching tentang panorama Umbul Ponggok yang hijau, alami, sepertinya di tengah-tengah desa yang sepi dan adem, ternyata berada pas di samping Jalan Raya. "Oh My God, lautan cendol beneran," kaget Heppy menirukan istilah Putri di mobil tadi untuk menyebut umbul yang penuh ramai dengan para anak manusia mengapung dan berenang ke sana ke mari. hahaha. Yah wajar, hari itu week end panjang sih. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat kami. Kami tetap antusias dan semangat untuk snorkling dan diving. Apalagai saya, kepenasaran tinggi sudah mencapai ubun-ubun.
Setelah pemanasan, sesi pengenalan alat snorkling dan cara pemakaiannya, Kem mengajari saya tahap-tahap awal berenang. Good, kata Kem kepada saya karena dapat menyerap trik dengan cepat. Juga tak perlu waktu lama untuk mengambang dan berenang di sisi-sisi umbul yang airnya jernih dan dingiiiin sekali.
Kem menyemangati saya untuk mencoba langsung snorkling. Melihat panorama umbul di balik masker dan bernafas dengan mulut lewat snorkel. Baiklah. Dengan menggunakan masker, snorkel, dan fin (kaki katak) saya mulai menikmati panorama bawah air. Aduhai! Saya melihat air sungguh jernih. Pasir dan batu-batu di kedalaman tiga meter sana juga tampak seperti darat lautan. Pertama kali melihat ikan-ikan berenang santai tanpa merasa terganggu dengan kehadiran manusia. Ikan-ikan air tawar dari segala macam jenis dan warna, tenang berenang ke sana-ke mari.Ikan-ikan kecil berwarna biru yang gesit berlarian. Juga yang bergerombolan.
Saya alihkan fokus melihat lumut-lumut di pinggir umbul secara detil. Dari balik masker dan dengan bernafas lewat snorkel, mata saya menangkap ikan-ikan yang sangat amat kecil di antara selipan lumut. Lumut-lumut yang hijau segar memberi kebutuhan makanan ikan-ikan kecil itu. Allah.... saat itu saya menyebut-Mu, Tuhan.
Setelah istirahat sebentar dengan minum teh hangat dan gorengan, saya bersiap-siap untuk menyelam dengan menggunakan alat Scuba. Ada dua penyelam berpengalaman yang akan memandu saya dan beberapa teman lagi yang belum berpengalaman menyelam. Sebelum langsung turun ke bawah, dua pendamping selam yaitu mas Danang dan mbak Dinar (kalau gak salah, agak lupa namanya hehe) memperkenalkan satu persatu alat scuba itu, fungsinya, juga cara pemakaiannya.Ada tabung scuba: berisi oksigen yang akan kita hirup di bawah air, alat pemberat: agar tubuh kita dapat turun sampai ke dasar, regulator: menghubungkan mulut dan tabung oksigen untuk bernafas, BCD: semacam rompi yang dapat mengatur tekanan agar kita dapat naik ke permukaan atau turun ke dasar, dan masih ada detil-detil kecil lagi yang saya lupa. hehe. Biar ada keinginan untuk privat water hihi. Aamiin semoga kelak berkesempatan.
Kem sempat bingung mencari saya yang sedang ke kamar mandi. Air umbul yang dingiiiin sekali membuat saya pengen pipis. Agar bisa menikmati diving, saya harus melepaskan hajat itu dulu. Tidak seperti tiga teman yang lain yang memakai alat scuba di luar umbul, saya diinstryksikan untuk memasangnya di dalam air. Setelah memasang fin di luar kolam umbul, saya nyebur dan memakai peralata scuba di dalam.
Setelah memakai masker, saya mencoba bernafas lewat regulator. Saya sempat keluar ke permukaan dua kali setelah dibawa mas Danang ke dasar air sebentar untuk memastikan semua peralatan sudah oke dan memastikan saya sudah merasa nyaman. Di dasar itu, kami berkomunikasi dengan sandi-sandi yang tadi telah diajarkan. Dengan mengacungkan jempol ke atas saya meminta kepada mas Danang untuk kembali ke permukaan. Masih dalam bahasa sandi atau bahasa tangan, saya katakan kepada mas Danang kalau ada sedikit masalah. Masker saya bocor, dan air masuk ke dalam. Ternyata masker yang saya pakai terlalu besar untuk ukuran muka saya yang imut sekali. Itu terjadi dua kali. hahaha. Sampai akhirnya saya dicarikan masker paling kecil.hihi
Lebih dari snorkel, di dasar air saya melihat, berdekatan, dan berenang bersama ikan-ikan. Saya terkaget-kaget, betapa ikan-ikan itu indah, cantik. Mereka berenang begitu anggun dan tenang. Saya jadi berfikir, ah barangkali manusia dalam menjalani hidupnya perlu berjalan sebagaimana ikan yang tenang dan khusyuk.
Karena ini yang pertama, (ditambah sebenarnya saya sedang dalam kondisi sakit GERD, semacam komplikasi di pencernaan--mulai dari tenggorokan, lambung, ginjal, dan usus, tapi tetap ngeyel first diving. Tak mau menepis kesempatan yang dihadiahi Tuhan. Toh dua hari setelah itu saya akan pulang ke rumah. istirahat total selama tiga bulan.hihi) tenggorokan saya merasa tercekik. Iya, mungkin karena faktor pengalaman pertama dan utamanya kondisi fisik, saya memberi kode kepada mas Danang untuk naik ke permukaan saja. Itu saya lakukan setelah saya sudah mencapai mata air. Yang penting sudah sampai sana, saya tidak boleh memaksakan lagi tubuh yang tidak fit. Saya mengantisipasi hal yang tidak saya inginkan. Dan tentu saja, yang terpenting adalah, saya tidak mau menggoreskan kenangan buram pada pengalaman pertama menyelam saya. hehehe
Selain itu, rasa kurang saya dan rasa tidak puas saya, sengaja saya bentuk. Agar perasaan ini membawa saya lagi untuk menyelam ke dasar air entah di mana dan kapan. Takdir Tuhan, siapa yang tahu, bukan?
Banyak nilai-nilai yang saya temukan di dasar air, dan satu hal yang saya ingat betul: bahwa bernafas dengan hidung adalah satu hal yang sering manusia anggap sepele, ternyata adalah anugerah agung yang diberikan oleh-Nya. Betapa Tuhan sangat mencintai manusia! Yah, betapa...



0 komentar:
Posting Komentar