Dengan
sangat terpaksa, dan karena menghormati beberapa dosen terdekat seperti Pak
Khoiron, Pak Khanif, Pak Wahid, Bu Aning, dan terkhusus dosen faforit, Ibu
Yulia Nasrul Lathifi, saya memutuskan untuk segera menyelesaikan kuliah.
Tanggal 09 Agustus 2015 kemarin, akhirnya saya berwisuda. Mengetahui itu, jauh
hari bapak sudah seperti menyiapkan bakal kunjungannya ke Jogja. Terlihat
sekali rasa bahagia lewat gestur dan wajahnya. Setiap tetangga yang lewat depan
rumah, bergantian dikabarinya. Saat pulang ke Madura, di tiap pagi, bapak akan
mengulang kabar menggembirakannya itu pada setiap orang yang sengaja mampir ke
rumah. Bapak juga sudah memikirkan akan meminjam baju kepada menantu
keponakannya, mengingat-ngingat kaos kaki dan sepatu yang dulu pernah
dikenakannya, menghitung-hitung sangu dengan pasti, juga berdiplomasi saat
meminjam mobil adik iparnya karena banyak saudara yang ingin ikut, dan tentu
bapak tambah merasa bangga dan haru. Begitu pun dengan ibuk, beliau meminta pendapat saudara-saudara atau ipar
perempuannya, bilakah perlu untuk menyewa jasa rias? Saya hanya tersenyum
melihat itu semua. Ternyata, hal yang tidak penting bagi saya, menjadi hal yang
istimewa bagi kedua orang tersayang. Makanya saya sepakat dengan teman-teman
yang mempunyai anggapan sama tentang wisuda: Tidak Penting, Tapi Wajib!
Hah…legalah saya meski sebentar saja.
Bersamaan
dengan kebahagiaan yang sedang bersemayam di hati bapak dan ibuk, sesungguhnya
saya sedang menyimpan rasa cemas dan waswas. Barangkali, saya bukan
satu-satunya perempuan dengan hubungan serius pada seorang lelaki yang
merasakan hal semacam itu jelang wisuda. Saya sudah terbiasa mengonsep berbagai
acara bahkan semenjak umur belasan saat di Pesantren. Namun mengonsep pertemuan
pertama bapak dan calon menantunya, lelaki pilihan saya, otak ini tiba-tiba
tanpa fungsi, macet. Saya benar-benar memeras pikiran, tapi tiada suatu jalan
saya temukan. Akhirnya, saya pasrah. Apa kata hari H sajalah…
Dan
datanglah, Kawan, hari yang membahagiakan bagi bapak-ibuk, tapi hari semacam
bersianida bagi saya. Kesan pertama, bapak tidak memberi respon positif. Calon
menantunya tak gentar, dia berjuang mendampinginya dan terus bersikap ramah dan
hambel. Zero, respon masih sama. Sampai jelang siang saat geng saya yang
mayoritas laki-laki ramai mengerumuni saya, sikap humor bapak mulai muncul
kepada mereka, tapi tidak kepadanya, calon menantunya. Saya pun belum bisa
bernafas lega melihat semua itu. Sampai mobil rombongan kami melaju,
menghantarkan saya kembali ke kost, tiada tanda-tanda perubahan. Saya pasrah.
Kepada
karib perempuan yang telah lebih dahulu mengalami moment seperti itu, saya
berkisah. Dan dia memberikan gambaran-gambaran pengalamannya.
Pulang
Desember 2015 kemarin, tiba-tiba adik lanang pertama saya nyeletuk, “Mbak,
pacare Samean arek Bojonegoro yo?” Saya bersejingkat, mengejarnya. Dia
tertawa seperti mempermainkan kepenasaran saya. Dengan gayanya yang seolah
memiliki kartu AS, dia bersuara pelan, teratur, dan sok penting, “Sakmulene
teko Jogja, bapak…” agak lama dia meneruskan membuat saya gemes, “cerito
karo sakduluran, nang wong okeh,” langsung disambut tawanya lagi, bersamaan
dengan perasaan antah barantah yang menyenangkan di kedalaman paling dalam
perasaan saya. Sejurus saya mengingat cerita karib perempuan kala itu, “Karena
aku anak perempuan kedua, papahku sudah berpengalaman dengan kakak perempuanku
yang pertama. Jadi aku aman. Hahaha. Tapi, saat pengalaman kakakku, karena yang
pertama bagi papahku, calon menantu pertamanya itu kurang beruntung menyambut
ekspresi dari papahku yang seperti ekspresi bapakmu itu.” Lalu dia ngakak lagi,
sedang aku,
kurang paham maksud ceritanya. Mengetahui itu, dia cuma geleng-geleng sambil
berkata pelan tapi tanak sampai ke hati saya, “Bapakmu, mengalami semacam
sindrom menantu pertama. Perasaan tidak rela ada lelaki lain di hati anak
perempuannya. Bapakmu, CEMBURU!” Kontan langit terasa ambruk di atas saya.
Perasaan bersalah yang teramat, menyelimuti saya seketika itu. Sosok bapak dan
wajahnya yang khas mengapung terus di depan mata. Saya menyesal dan menepuk
jidat, KENAPA SAYA TIDAK BERMAIN CANTIK!
0 komentar:
Posting Komentar