Rabu, 18 Mei 2016

DUAPULUHDUA: BAPAKKU CEMBURU


Dengan sangat terpaksa, dan karena menghormati beberapa dosen terdekat seperti Pak Khoiron, Pak Khanif, Pak Wahid, Bu Aning, dan terkhusus dosen faforit, Ibu Yulia Nasrul Lathifi, saya memutuskan untuk segera menyelesaikan kuliah. Tanggal 09 Agustus 2015 kemarin, akhirnya saya berwisuda. Mengetahui itu, jauh hari bapak sudah seperti menyiapkan bakal kunjungannya ke Jogja. Terlihat sekali rasa bahagia lewat gestur dan wajahnya. Setiap tetangga yang lewat depan rumah, bergantian dikabarinya. Saat pulang ke Madura, di tiap pagi, bapak akan mengulang kabar menggembirakannya itu pada setiap orang yang sengaja mampir ke rumah. Bapak juga sudah memikirkan akan meminjam baju kepada menantu keponakannya, mengingat-ngingat kaos kaki dan sepatu yang dulu pernah dikenakannya, menghitung-hitung sangu dengan pasti, juga berdiplomasi saat meminjam mobil adik iparnya karena banyak saudara yang ingin ikut, dan tentu bapak tambah merasa bangga dan haru. Begitu pun dengan ibuk, beliau  meminta pendapat saudara-saudara atau ipar perempuannya, bilakah perlu untuk menyewa jasa rias? Saya hanya tersenyum melihat itu semua. Ternyata, hal yang tidak penting bagi saya, menjadi hal yang istimewa bagi kedua orang tersayang. Makanya saya sepakat dengan teman-teman yang mempunyai anggapan sama tentang wisuda: Tidak Penting, Tapi Wajib! Hah…legalah saya meski sebentar saja.

Bersamaan dengan kebahagiaan yang sedang bersemayam di hati bapak dan ibuk, sesungguhnya saya sedang menyimpan rasa cemas dan waswas. Barangkali, saya bukan satu-satunya perempuan dengan hubungan serius pada seorang lelaki yang merasakan hal semacam itu jelang wisuda. Saya sudah terbiasa mengonsep berbagai acara bahkan semenjak umur belasan saat di Pesantren. Namun mengonsep pertemuan pertama bapak dan calon menantunya, lelaki pilihan saya, otak ini tiba-tiba tanpa fungsi, macet. Saya benar-benar memeras pikiran, tapi tiada suatu jalan saya temukan. Akhirnya, saya pasrah. Apa kata hari H sajalah…

Dan datanglah, Kawan, hari yang membahagiakan bagi bapak-ibuk, tapi hari semacam bersianida bagi saya. Kesan pertama, bapak tidak memberi respon positif. Calon menantunya tak gentar, dia berjuang mendampinginya dan terus bersikap ramah dan hambel. Zero, respon masih sama. Sampai jelang siang saat geng saya yang mayoritas laki-laki ramai mengerumuni saya, sikap humor bapak mulai muncul kepada mereka, tapi tidak kepadanya, calon menantunya. Saya pun belum bisa bernafas lega melihat semua itu. Sampai mobil rombongan kami melaju, menghantarkan saya kembali ke kost, tiada tanda-tanda perubahan. Saya pasrah.

Kepada karib perempuan yang telah lebih dahulu mengalami moment seperti itu, saya berkisah. Dan dia memberikan gambaran-gambaran pengalamannya.

Pulang Desember 2015 kemarin, tiba-tiba adik lanang pertama saya nyeletuk, “Mbak, pacare Samean arek Bojonegoro yo?” Saya bersejingkat, mengejarnya. Dia tertawa seperti mempermainkan kepenasaran saya. Dengan gayanya yang seolah memiliki kartu AS, dia bersuara pelan, teratur, dan sok penting, “Sakmulene teko Jogja, bapak…” agak lama dia meneruskan membuat saya gemes, “cerito karo sakduluran, nang wong okeh,” langsung disambut tawanya lagi, bersamaan dengan perasaan antah barantah yang menyenangkan di kedalaman paling dalam perasaan saya. Sejurus saya mengingat cerita karib perempuan kala itu, “Karena aku anak perempuan kedua, papahku sudah berpengalaman dengan kakak perempuanku yang pertama. Jadi aku aman. Hahaha. Tapi, saat pengalaman kakakku, karena yang pertama bagi papahku, calon menantu pertamanya itu kurang beruntung menyambut ekspresi dari papahku yang seperti ekspresi bapakmu itu.” Lalu dia ngakak lagi, sedang aku, kurang paham maksud ceritanya. Mengetahui itu, dia cuma geleng-geleng sambil berkata pelan tapi tanak sampai ke hati saya, “Bapakmu, mengalami semacam sindrom menantu pertama. Perasaan tidak rela ada lelaki lain di hati anak perempuannya. Bapakmu, CEMBURU!” Kontan langit terasa ambruk di atas saya. Perasaan bersalah yang teramat, menyelimuti saya seketika itu. Sosok bapak dan wajahnya yang khas mengapung terus di depan mata. Saya menyesal dan menepuk jidat, KENAPA SAYA TIDAK BERMAIN CANTIK!

Bapak, setelah Tuhan, selamanya, aku milikmu… tidak yang lain.







0 komentar:

Posting Komentar