Rabu, 18 Mei 2016

DUAPULUHSATU: BAPAK INGIN MENIMANG CUCU


Berapa hari kemarin, seorang teman lelaki seperti tidak habis pikir mengetahui saya mendaftar sebuah program semacam program pengabdian untuk bangsa, spesifiknya di bidang pendidikan. “Serius, Cuk? Ngomong dikek neng bapakmu, mbok menowo bapakmu wes kepingin menimang cucu,” cerocosnya. Saya menanggapinya datar, “Kowe kok tiba-tiba kayak tante-tante??” Dia ngakak lalu menjawab, “Aku kan mengikuti serial tulisanmu tentang bapakmu, Cuk.” Hem… apresiasi sangat tinggi dari seorang teman yang menjadi pembaca setia oret-oretan tak bermakna saya. Namun, dia barangkali terlewat meresapi hubungan mesra saya dengan bapak di balik setiap kalimat saya pada tiap paragrafnya. Bapak, selalu mengawal saya. Apapun itu. San saya, selalu berkabar kepada bapak, apapun itu. Ya kecuali yang sempat saya ceritakan di judul yang kemarin. Jadi, Teman saya yang baik, sebelum saya melangkah pada suatu tujuan saya, meski itu berdasarkan pertimbangan dan keputusan saya pribadi, saya tidak luput untuk meminta saran kepada bapak. Lalu bapak akan menjawab, bahwa bapak sudah tidak sampai kepada pemikiranmu. Tugas bapak sekarang adalah merestui dan selalu berdoa semoga tiap langkahmu diridhoi oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.

Sudah sekitar dua tahun lalu, saat saya sedang mengerjakan skrispi yang semuanya harus saya tulis menggunakan bahasa Arab kriting-kriting itu, bapak sering menelpon dan temanya selalu menceritakan gang rumah saya yang selalu ramai dengan tawa dan tangis anak-anak. Anak-anak teman saya, anak-anak adik sepermainan saya, dan anak-anak anaknya teman bapak saya. Sering… seperti itu. Bapak begitu detil menceritakan kelucuan-kelucuan anak-anak itu satu persatu. Mulai dari ada yang suka memanggilnya Abi, Pakde Duro (karena bapak termasuk orang Madura di gang rumah), sampai ada yang suka mijitin dan menarik brewoknya bapak. Lalu bapak akan pura-pura kesakitan, dan anak kecil itu akan tertawa, senang. Begitu lagi, sampai si anak merasa capai. Anak perempuan mana yang tidak tersentil hatinya, Kawan, mendengar bapaknya cerita seperti itu? Owalah bapak, saya pun sebagai perempuan yang sudah dewasa, di bagian terdalam, kadang-kadang juga sudah ingin mendengar ramai suara bayi yang itu lahir dari rahim saya sendiri. Namun semua ada waktunya. Dan waktu setiap orang adalah berbeda-beda.


Pulang kemarin, saya telah berbagi pandangan saya tentang ini kepada bapak, khususnya pilihan saya tersebut berdasarkan pertimbangan pada keluarga, pada bapak dan ibuk. Sampai suatu kali setelah saya menyampaikan itu kepada bapak, tidak sengaja saya mendengar bapak mengatakan suatu hal kepada temannya yang pagi itu main ke rumah, “Ternyata, lebih dari yang saya kira. Halimah, anak perempuan saya itu, pikirannya sangat dalam dan dewasa. Dan hatinya, lembut sekali.” Saya buru-buru masuk kamar mandi, menangis. Lalu, setelah saya menyiram muka bekas tangisan, saya hantarkan dua cangkir kopi ke ruang tamu, memasang senyum di wajah. Teman bapak saya, memandang saya lalu mengangguk-ngangguk.  Bapak saya menyungging senyum, seperti bangga. Padahal, anak perempuannya ini belum bisa melakukan apa-apa untuk bapaknya[]


0 komentar:

Posting Komentar