Berapa
hari kemarin, seorang teman lelaki seperti tidak habis pikir mengetahui saya
mendaftar sebuah program semacam program pengabdian untuk bangsa, spesifiknya
di bidang pendidikan. “Serius, Cuk? Ngomong dikek neng bapakmu, mbok menowo
bapakmu wes kepingin menimang cucu,” cerocosnya. Saya menanggapinya datar, “Kowe
kok tiba-tiba kayak tante-tante??” Dia ngakak lalu menjawab, “Aku
kan mengikuti serial tulisanmu tentang bapakmu, Cuk.” Hem… apresiasi sangat
tinggi dari seorang teman yang menjadi pembaca setia oret-oretan tak bermakna
saya. Namun, dia barangkali terlewat meresapi hubungan mesra saya dengan bapak
di balik setiap kalimat saya pada tiap paragrafnya. Bapak, selalu mengawal
saya. Apapun itu. San saya, selalu berkabar kepada bapak, apapun itu. Ya
kecuali yang sempat saya ceritakan di judul yang kemarin. Jadi, Teman saya yang
baik, sebelum saya melangkah pada suatu tujuan saya, meski itu berdasarkan
pertimbangan dan keputusan saya pribadi, saya tidak luput untuk meminta saran
kepada bapak. Lalu bapak akan menjawab, bahwa bapak sudah tidak sampai kepada
pemikiranmu. Tugas bapak sekarang adalah merestui dan selalu berdoa semoga tiap
langkahmu diridhoi oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.
Sudah
sekitar dua tahun lalu, saat saya sedang mengerjakan skrispi yang semuanya
harus saya tulis menggunakan bahasa Arab kriting-kriting itu, bapak sering
menelpon dan temanya selalu menceritakan gang rumah saya yang selalu ramai
dengan tawa dan tangis anak-anak. Anak-anak teman saya, anak-anak adik
sepermainan saya, dan anak-anak anaknya teman bapak saya. Sering… seperti itu.
Bapak begitu detil menceritakan kelucuan-kelucuan anak-anak itu satu persatu.
Mulai dari ada yang suka memanggilnya Abi, Pakde Duro (karena bapak termasuk
orang Madura di gang rumah), sampai ada yang suka mijitin dan menarik brewoknya
bapak. Lalu bapak akan pura-pura kesakitan, dan anak kecil itu akan tertawa,
senang. Begitu lagi, sampai si anak merasa capai. Anak perempuan mana yang
tidak tersentil hatinya, Kawan, mendengar bapaknya cerita seperti itu? Owalah
bapak, saya pun sebagai perempuan yang sudah dewasa, di bagian terdalam,
kadang-kadang juga sudah ingin mendengar ramai suara bayi yang itu lahir dari
rahim saya sendiri. Namun semua ada waktunya. Dan waktu setiap orang adalah
berbeda-beda.
Pulang
kemarin, saya telah berbagi pandangan saya tentang ini kepada bapak, khususnya
pilihan saya tersebut berdasarkan pertimbangan pada keluarga, pada bapak dan
ibuk. Sampai suatu kali setelah saya menyampaikan itu kepada bapak, tidak
sengaja saya mendengar bapak mengatakan suatu hal kepada temannya yang pagi itu
main ke rumah, “Ternyata, lebih dari yang saya kira. Halimah, anak perempuan
saya itu, pikirannya sangat dalam dan dewasa. Dan hatinya, lembut sekali.” Saya
buru-buru masuk kamar mandi, menangis. Lalu, setelah saya menyiram muka bekas
tangisan, saya hantarkan dua cangkir kopi ke ruang tamu, memasang senyum di
wajah. Teman bapak saya, memandang saya lalu mengangguk-ngangguk. Bapak saya menyungging senyum, seperti
bangga. Padahal, anak perempuannya ini belum bisa melakukan apa-apa untuk
bapaknya[]
0 komentar:
Posting Komentar