Rabu, 18 Mei 2016

DUAPULUH: BAPAK DAN BUS



Bagi saya, kesan bapak dan bus adalah dua kesan yang tidak bisa dipisahkan terlalu jauh. Bagi saya (lagi), bus bukan sekedar akibat bapak mendapatkan lokasi untuk menghidupi keluarganya saja. Lebih dari itu, bus, lengkap dengan terminal dan berbagai posisi di sekitarnya, adalah hal yang sangat dekat dengan bapak, adalah nuansa yang hampir seumur hidup bapak begitu akrab dengannya. Sehingga, setiap melihat bus, atau saat masuk dan berada di tengah suasana terminal, saya akan tiba-tiba mengingat bapak, perjuangannya, sekaligus merindunya. Apalagi, apabila terminal itu adalah terminal Arjosari Malang, dimana dari sanalah keringat bapak terperas, lalu upahnya yang didapat bapak akan dibelikan beras oleh ibuk dan juga disisihkan untuk saya yang sedang menimba ilmu semenjak di SD, Pesantren, sampai kuliah. Lalu, beras itu saya makan dan mendarah daging bersamaan keringat bapak. Atau, uang yang dikirimkan kepada saya itu, akan saya belikan makanan untuk saya masukkan ke dalam lambung dan bertenagalah saya. Dan tenaga saya itu, saya gunakan untuk beraktifitas. Atau lagi, semasih di Pesantren, saya belikanlah uang itu kitab-kitab dimana bersamanyalah saya belajar, tumbuh-berkembang menjadi pribadi yang lebih mengerti.

Ah, jadi mblewer kemana-mana. Hahaha. Sebenarnya ini yang ingin saya ceritakan kali ini. Bahkan, dalam menasihati anaknya terkait urusan lelaki, bapak menggunakan setting terminal dalam cerita-cerita bijaknya. Begini:

Saya agak lupa, entah kejadian ini di akhir tahun 2014 atau disaat kepulangan pertama di tahun 2015. Ceritanya, bapak mendengar bahwa anaknya ini, sudah berani menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki. Rupanya, bapak saya gundah. Ah, saya jadi merasa sedikit bersalah kepada beliau, membuat beliau resah. Memang, saya masih belum berani bercerita kepada bapak tentang lelaki baik yang kepadanya saya membuka hati. Tentang lelaki baik, yang bagi saya banyak miripnya dengan bapak, idola saya, lelaki faforit saya. Saya masih belum berani bercerita kepada bapak, tentang lelaki yang keras kepalanya persis dengannya saat melawan petugas keamanan stasiun karena dilarang mengantar saya sampai ke dalam. Masih belum…

Bapak tidak pernah menggurui saya. Bapak terlalu bijak untuk melakukan itu. Bapak selalu membungkus nasihatnya melewati kisah-kisah atau pengalaman nyatanya. Dan kali ini, bapak bercerita, sambil menunggu Travel yang akan menghantarkan saya sampai ke Jogja:

“Malam kapan, bapak lihat perempuan persis seperti kamu. Kecil dan manis. Mbaknya duduk di bangku terminal dan matanya sembab. Lalu bapak mendekatinya, karena dia miriiiiip sekali sama kamu. Bapak jadi teringat kamu. Bapak tanya mbaknya mau kemana? Ternyata mbaknya itu mahasiswa dan katanya mau pulang. Bapak tanyakan lagi kok kayaknya menangis, kenapa? Ingat ibu, jawab mbaknya. Ingat ibu apa nangis karena pacar… Lalu mbaknya diam, dan tersedu-sedu menangis. Aduh, bapak jadi semakin teringat kamu. Nduk, bapak punya anak perempuan persis seperti kamu, dan sedang kuliah di Jogja. Apa bapak boleh memberi saran kepadamu?. Mbaknya memandang bapak, lalu mengangguk pasti. Bapak berbicara padanya pelan-pelan supaya tidak tersinggung. Begini bapak bicara sama mbaknya yang mirip sama kamu itu: Nduk, kuliah atau mencari ilmu, dengan pacaran itu ada waktunya masing-masing. Pacaran itu pasti ada waktunya. Kalau menurut bapak sih, ya nanti kalau kuliahnya selesai. Kenapa? Ya supaya tujuan mencari ilmunya itu tercapai. Bisa fokus. Kalau disambi pacaran, nanti khawatir mengganggu belajarnya. Karena berbagai sebab. Misalnya, pikiran kita yang harusnya bisa kita gunakan maksimal untuk belajar jadi terpecah karena pacar. Belum lagi kalau nanti ada masalah, ya takut belajarnya saja keteteran… apalagi kalau sudah sampai nangis kayak gini. Ini sudah merasuk masalah hati, Nduk… sudah berat. Lagian, tujuan utamanya kan memang mencari ilmu kan?”

Kalimat bapak yang terakhir makjleb ke hati saya. Saya langsung menunduk. Hati saya merasai…. Bapak masih melanjutkan cerita yang lain. Settingnya tentu saja masih Terminal:

“Ini ceritanya bapak pas mau pulang. Waktu itu, bapak keluar dari Terminal menuju tempat menunggu mikrolet (angkutan umum kota Malang). Ya sudah sepi dan petang. Tapi diujung sana, tidak jauh dari tempat bapak berdiri menunggu mikrolet, bapak lihat ada seorang perempuan yang teriak-teriak sambil nangis. Wah, bapak kaget dan tidak tega. Bapak dekati perempuan itu. Eh, ternyata perempuan itu tidak sendirian, dia sedang marah-marah sama seorang lelaki. Tapi masnya itu cuma diem saja pas dipukul-pukul sama mbaknya. Permisi, ada apa ini? Bapak bertanya hati-hati. Singkatnya, mereka terbuka kepada bapak. Mas-masnya yang dari tadi hanya diam seperti frustasi itu meluapkan segala bebannya kepada bapak.  Ternyata mbak-mbaknya itu pacarnya, dan sekarang sudah hamil. Mbaknya marah-marah karena masnya minta supaya digugurin saja. Dengan hati-hati bapak memberinya saran-saran. Akhirnya, mbaknya berhenti menangis dan masnya bisa berfikir jernih,siap untuk menghadap orangtua mbaknya. Bapak masih sempat melihat mereka berjalan beriringan saat akan pulang.”
Makclegep hati saya.

“Ya, walaupun hamil di luar nikah itu adalah salah dan dosa, membunuh jabang bayi itu malah salah-kaprah. Mereka harus berani jujur kepada orangtua,” kalimat terakhir bapak menutup ceritanya.

Rambu-rambu semacam telah dititipkan lewat isyarah oleh bapak, bahkan hal paling terburuk sekali pun. Meski bapak sering mengatakan dengan jujur bahwa beliau memandang saya sudah sangat dewasa dan matang, bisa membedakan mana yang baik dan buruk. “Lawong keilmuanku sudah tidak ada apa-apanya dibanding kamu, Nduk. Mondok petung taun, terus kuliah mbarang. Bapak kan wes yo gak nyampek…”

Kau bisa membayangkan belurnya perasaan saya waktu itu, Kawan?


0 komentar:

Posting Komentar