Bagi
saya, kesan bapak dan bus adalah dua kesan yang tidak bisa dipisahkan terlalu
jauh. Bagi saya (lagi), bus bukan sekedar akibat bapak mendapatkan lokasi untuk
menghidupi keluarganya saja. Lebih dari itu, bus, lengkap dengan terminal dan
berbagai posisi di sekitarnya, adalah hal yang sangat dekat dengan bapak,
adalah nuansa yang hampir seumur hidup bapak begitu akrab dengannya. Sehingga,
setiap melihat bus, atau saat masuk dan berada di tengah suasana terminal, saya
akan tiba-tiba mengingat bapak, perjuangannya, sekaligus merindunya. Apalagi,
apabila terminal itu adalah terminal Arjosari Malang, dimana dari sanalah
keringat bapak terperas, lalu upahnya yang didapat bapak akan dibelikan beras
oleh ibuk dan juga disisihkan untuk saya yang sedang menimba ilmu semenjak di
SD, Pesantren, sampai kuliah. Lalu, beras itu saya makan dan mendarah daging
bersamaan keringat bapak. Atau, uang yang dikirimkan kepada saya itu, akan saya
belikan makanan untuk saya masukkan ke dalam lambung dan bertenagalah saya. Dan
tenaga saya itu, saya gunakan untuk beraktifitas. Atau lagi, semasih di
Pesantren, saya belikanlah uang itu kitab-kitab dimana bersamanyalah saya
belajar, tumbuh-berkembang menjadi pribadi yang lebih mengerti.
Ah,
jadi mblewer kemana-mana. Hahaha. Sebenarnya ini yang ingin saya ceritakan kali
ini. Bahkan, dalam menasihati anaknya terkait urusan lelaki, bapak menggunakan
setting terminal dalam cerita-cerita bijaknya. Begini:
Saya
agak lupa, entah kejadian ini di akhir tahun 2014 atau disaat kepulangan
pertama di tahun 2015. Ceritanya, bapak mendengar bahwa anaknya ini, sudah
berani menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki. Rupanya, bapak saya
gundah. Ah, saya jadi merasa sedikit bersalah kepada beliau, membuat beliau
resah. Memang, saya masih belum berani bercerita kepada bapak tentang lelaki
baik yang kepadanya saya membuka hati. Tentang lelaki baik, yang bagi saya
banyak miripnya dengan bapak, idola saya, lelaki faforit saya. Saya masih belum
berani bercerita kepada bapak, tentang lelaki yang keras kepalanya persis
dengannya saat melawan petugas keamanan stasiun karena dilarang mengantar saya
sampai ke dalam. Masih belum…
Bapak
tidak pernah menggurui saya. Bapak terlalu bijak untuk melakukan itu. Bapak
selalu membungkus nasihatnya melewati kisah-kisah atau pengalaman nyatanya. Dan
kali ini, bapak bercerita, sambil menunggu Travel yang akan menghantarkan saya
sampai ke Jogja:
“Malam
kapan, bapak lihat perempuan persis seperti kamu. Kecil dan manis. Mbaknya
duduk di bangku terminal dan matanya sembab. Lalu bapak mendekatinya, karena
dia miriiiiip sekali sama kamu. Bapak jadi teringat kamu. Bapak tanya mbaknya
mau kemana? Ternyata mbaknya itu mahasiswa dan katanya mau pulang. Bapak
tanyakan lagi kok kayaknya menangis, kenapa? Ingat ibu, jawab mbaknya. Ingat
ibu apa nangis karena pacar… Lalu mbaknya diam, dan tersedu-sedu menangis.
Aduh, bapak jadi semakin teringat kamu. Nduk, bapak punya anak perempuan persis
seperti kamu, dan sedang kuliah di Jogja. Apa bapak boleh memberi saran
kepadamu?. Mbaknya memandang bapak, lalu mengangguk pasti. Bapak berbicara
padanya pelan-pelan supaya tidak tersinggung. Begini bapak bicara sama mbaknya
yang mirip sama kamu itu: Nduk, kuliah atau mencari ilmu, dengan pacaran itu
ada waktunya masing-masing. Pacaran itu pasti ada waktunya. Kalau menurut bapak
sih, ya nanti kalau kuliahnya selesai. Kenapa? Ya supaya tujuan mencari ilmunya
itu tercapai. Bisa fokus. Kalau disambi pacaran, nanti khawatir mengganggu
belajarnya. Karena berbagai sebab. Misalnya, pikiran kita yang harusnya bisa
kita gunakan maksimal untuk belajar jadi terpecah karena pacar. Belum lagi
kalau nanti ada masalah, ya takut belajarnya saja keteteran… apalagi kalau
sudah sampai nangis kayak gini. Ini sudah merasuk masalah hati, Nduk… sudah
berat. Lagian, tujuan utamanya kan memang mencari ilmu kan?”
Kalimat
bapak yang terakhir makjleb ke hati saya. Saya langsung menunduk. Hati saya merasai….
Bapak masih melanjutkan cerita yang lain. Settingnya tentu saja masih Terminal:
“Ini ceritanya
bapak pas mau pulang. Waktu itu, bapak keluar dari Terminal menuju tempat
menunggu mikrolet (angkutan umum kota Malang). Ya sudah sepi dan petang. Tapi
diujung sana, tidak jauh dari tempat bapak berdiri menunggu mikrolet, bapak
lihat ada seorang perempuan yang teriak-teriak sambil nangis. Wah, bapak kaget
dan tidak tega. Bapak dekati perempuan itu. Eh, ternyata perempuan itu tidak
sendirian, dia sedang marah-marah sama seorang lelaki. Tapi masnya itu cuma
diem saja pas dipukul-pukul sama mbaknya. Permisi, ada apa ini? Bapak bertanya
hati-hati. Singkatnya, mereka terbuka kepada bapak. Mas-masnya yang dari tadi
hanya diam seperti frustasi itu meluapkan segala bebannya kepada bapak. Ternyata mbak-mbaknya itu pacarnya, dan
sekarang sudah hamil. Mbaknya marah-marah karena masnya minta supaya digugurin
saja. Dengan hati-hati bapak memberinya saran-saran. Akhirnya, mbaknya berhenti
menangis dan masnya bisa berfikir jernih,siap untuk menghadap orangtua mbaknya.
Bapak masih sempat melihat mereka berjalan beriringan saat akan pulang.”
Makclegep hati
saya.
“Ya,
walaupun hamil di luar nikah itu adalah salah dan dosa, membunuh jabang bayi
itu malah salah-kaprah. Mereka harus berani jujur kepada orangtua,” kalimat
terakhir bapak menutup ceritanya.
Rambu-rambu
semacam telah dititipkan lewat isyarah oleh bapak, bahkan hal paling terburuk
sekali pun. Meski bapak sering mengatakan dengan jujur bahwa beliau memandang
saya sudah sangat dewasa dan matang, bisa membedakan mana yang baik dan buruk. “Lawong
keilmuanku sudah tidak ada apa-apanya dibanding kamu, Nduk. Mondok petung taun,
terus kuliah mbarang. Bapak kan wes yo gak nyampek…”
Kau
bisa membayangkan belurnya perasaan saya waktu itu, Kawan?
0 komentar:
Posting Komentar