Dari
bapak, saya belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak memelihara iri
hati, juga selalu sahaja, alias tidak sombong. Semenjak saya kecil, kalau
pulang ke Madura, bapak sebagai menantu selalu baik sekali pada ibu mertuanya,
mbah ummik, juga kakak dan adik-adik iparnya yang memang selalu mudik pada
hari-hari besar. Setiap kami pulang, saya lihat mbah ummik bisa lumayan
bersantai dan istirahat. Pagi dan sore, bapak selalu rajin pergi mengarit ke
sawah untuk memberi makan sapi dan kambing, tanpa peduli sesungguhnya sapi itu
milik siapa. Bapak juga akan menjemput bawaan mbah ummik ke sawah saat senja
hari supaya mbah ummik bisa pulang dengan melenggang saja. Bapak juga membantu
menyapu halaman rumah yang bagi saya bagaikan lapangan sepak bola. Luas dan
penuh debu. Sekali kamu menyapukan sapu korek ke tanah, otomatis debu akan
menari-nari di udara dan membuat tubuh kita seketika penuh asesoris hahahaha.
Itu juga yang saya lakukan setiap pagi jika pulang ke Madura semenjak kecil.
Kata bapak dan ibuk sebelum berangkat ke Madura, kami, anak-anaknya harus rajin
bekerja saat di Madura, supaya mbah ummik senang punya cucu-cucu yang rajin.
Ibuk menambahkan, kami, anak-anaknya tidak boleh iri hati kepada sepupu-sepupu
misalnya yang bekerja hanyalah kami. Kami hanya mengangguk, dan setiap pagi,
saya dan dua adik lelaki saya menyapu lapangan itu dengan kedua tangan kecil
saya. Tidak jarang, dua adik lelaki saya yang waktu itu tangannya sangat kecil,
berhenti di pertengahan karena capek. Hingga saya, kakak tertuanya ini, yang
sesungguhnya dulu juga masih kecil, mendapatkan bonus menyelesaikan pekerjaan
berat itu sendirian. Mungkin tidak berat bagi anak Madura lainnya karena mereka
sudah terbiasa. Tapi kami? Kami yang tumbuh di kota yang pekerjaan rumahnya
hanyalah apa…
Itu
dulu, saat ekonomi keluarga kami ajeg, dimana saat mbah ummik akan belanja ke
pasar, bapak melewati ibuk, selalu urunan untuk keperluan belanja. Lalu bapak
akan kembali bekerja, tanpa menaruh iri hati melihat saudara-saudara yang lain
lebih sering duduk-duduk manis.
Sekarang,
saat ekonomi keluarga semakin oleng, bapak semakin rajin bekerja. Bapak merasa
sungkan hati karena jarang urunan uang belanja pada mbah ummik. Sesungguhnya,
saat ibuk menelfon meminta bapak segera pulang ke Madura, bapak sedikit malas. Karena jikalau ke Madura, itu
berarti dia harus puasa bekerja hingga pemasukan tersendat. Jikalau pemasukan
tersendat, itu artinya, hutang ke bank akan telat membayar, mengirim adik yang
di Pesantren juga telat, belum lagi mengirim saya jikalau bapak tahu saya
sedang tidak ada masukan sama sekali. Namun karena panggilan kemanusiaan,
pribadinya yang sabar, bapak berangkat juga ke Madura. Membenahi genteng,
membantu mbah ummik yang sedang panen, membackup makanan sapi dan kambing,
membenahi pompa air yang sekaligus harus mengeluarkan uangnya, yang
sesungguhnya itu adalah tabungan dari hasilnya yang tidak seberapa untuk
mengirim anak-anaknya dan juga menyicil hutang-hutang keluarga. Tapi dia adalah
bapak, yang tidak perhitungan pada tenaganya yang terkuras, pada keuangannya
yang mepet dan harus dikeluarkan untuk keperluan orang banyak. Dia adalah
bapak, yang selalu rajin bekerja, tidak iri hati, dan selalu baik kepada orang
lain, bahkan mereka yang mungkin pernah menyakitinya secara sikap apalagi hanya
ucapan. Dialah lelaki sabar terdunia. Dialah bapakku!
Bapakku
yang kemarin sedang sibuk mengogrok kamar mandi yang tersumbat (setelah
menyelesaikan deretan pekerjaan lainnya), dan saat keluar, di teras rumah,
semua sedang sarapan dengan lahap. Bapakku yang sabar, hanya bisa menelan ludah
dan setumpuk tanda tanya pada ibuk yang juga sedang repot di Dapur…
0 komentar:
Posting Komentar