Selasa, 17 Mei 2016

DELAPANBELAS: BAPAK DAN KAMAR MANDI PONDOK PUTRI


Sebelum ini, kamar mandi pondok saya seperti kolam. Lebarnya kurang lebih 5-7 meter, sedangkan kedalamnnya yang saya dengar dan saksikan sendiri adalah kurang lebih 15 meter. Tahun 2008 kalau tidak salah, saat saya memegang amanah sebagai Wakil Ketua Pondok sekaligus TU Keuangan Madrasah Diniyah, saya mengalami insiden besar. Saya tercebur dalam kolam selama kurang lebih 10 menit, dan saya tidak bisa berenang.

Ceritanya begini: Dua hari sebelum insiden itu terjadi, saya mendengar seorang santri di Pondoknya istri pengasuh utama meninggal karena tercebur di kolam. Siangnya, saat saya mengambil wudlu di kamar mandi pengurus, saya mendengar suara anak kecil minta tolong. Sontak saya menarik kerudung, keluar kamar mandi dan langsung menuju sumber suara, kamar mandi putri yang seperti kolam itu. Kamar mandi sangat sepi, tidak ada satu santripun yang berada di sana kecuali seorang santri kecil yang duduk di Madrasah Ibtidaiyah, yang sekarang sedang saya temukan tengah timbul-tenggelam di dalam kolam sambil sesekali berteriak minta tolong. Karena dorongan naluri, saya sudah hampir melompat, berniat menolongnya. Namun beruntung, sejurus saya langsung ingat kalau saya tidak bisa berenang hahaha. Mondar-mandirlah saya dalam kepanikan mencari apa saja yang bisa saya gunakan untuk membantu Musrifah, yang ternyata anak murid saya di kelas Shifir. Beruntung saya cepat menemukan kayu yang lekas saya ulurkan kepada Musrifah, santri kecil yang rajin ini. Owalah, Nduk… mugo iki pertanda samean ate dadi arek sukses dan penuh barokah yo… Entah mengapa, setiap ada cerita atau kejadian santri tercebur kolam, ada semacam keyakinan pada diri saya pribadi, kalau santri itu dapat barokah banyak dari guru-guru dan Pesantren. Tandanya anak akan sukses suatu saat nanti. Aamiin… Sebelumnya, saya juga sudah pernah tercebur. Persis ditempat dimana Musrifah timbul-tenggelam…

Dua hari selanjutnya, pas di hari Jum’at, kepala saya dikencingi kucing saat tidur. Teman-teman di kamar pengurus sudah rame pada subuh yang masih perawan itu. Saya memilih diam, supaya kucing yang sedang nyaman di pertengahan kencingnya itu tidak terganggu. Saat itu, saya membayangkan diri saya sendiri, jika di pertengahan pipis ada yang mengganggu dan membuat tidak nyaman karena belum menuntaskannya. Namun, sekaligus ada perasaan tak nyaman yang tiba-tiba bersarang dalam diri saya. Begitulah, atas bantuan kencing kucing, karpet kamar pengurus pagi itu kami gotong berenam ke kamar mandi.

Di pertengahan mencuci, tiba-tiba mbak Tatik, yang waktu itu menjadi Ketua Pondok, menantang saya berani tidak mencebur ke sana, katanya sambil melirik kolam yang airnya sedang penuh. Alih-alih menjawab, saya balik menantangnya, niat saya bercanda. Eh! Diluar dugaan kelima teman yang lain, termasuk saya dia menggeret pucuk karpet ke tengah. Tentu saja pemandangan selanjutnya yang kami lihat adalah adegan Ketua Pondok yang kelelep dengan karpetnya. Lah saya, yang dua hari lalu batal melompat karena ingat tidak bisa berenang, kali ini dikalahkan dengan naluri. Naluri menolong, dan alpa dengan keterbatasan skill berenang. Saya menjulurkan tangan panjang-panjang. Karena beban yang akan saya bantu lebih berat, tubuh saya yang kecil dalam balutan telesan langsung terlempar ke tengah agak samping. Pas, di tempat kemarin Musrifah timbul-tenggelam. Funda, alias Naila, Sekretaris I yang berasal dari Pontianak, tidak diragukan lagi kemampuannya menari-nari di dalam air. Dengan gagah dan tangkas, ia melompat berniat menolong kami berdua. Tapi entah apa yang terjadi padanya, seperti kami berdua, dia malah timbul-tenggelam. Meminum air banyak-banyak meniru saya. Hahaha. Di dalam air yang berwarna hijau itu, kami sundul-sundulan, tarik-menarik tangan, injak-injakan kepala, dan berbagai atraksi ganas lainnya. (Beginilah potret kiamat kecil, sudah tidak saling peduli, kecuali keselamatan diri masing-masing. Gimana kiamat sesunggunya ya? Hahaha). Entah bagaimana ceritanya, mbak Tatik sudah tidak ada, nampaknya ada yg membantunya dan berhasil menepi. Saya ingat, masih sempat menjejak kepala Funda untuk naik ke atas. Lamat-lamat, banyak orang di atas berteriak-teriak, ada yang bengong, ada yang hampir menangis dan entah, karena tidak lama saya tenggelam lagi. Pada titik itulah, saya merasa telah kehabisan daya. Di dalam air, saya perhatikan sekeliling begitu hening. Di bawah kaki saya tepat, adalah tempat yang kabarnya kerajaan jin bersarang. Dalam keadaan yang semakin melemah, saya melihat air hijau, lumut, ikan-ikan berenang dalam hening. Tiba-tiba wajah bapak-ibuk melintas silih berganti dengan wajah adik-adik. Terakhir, saya menyadari satu dzat saja yang darinya dan padanya kediriian ini. Dalam batin, saya mengumandangkan kalimat Innaalillaahi Wainnaailayhi Rooji’uun….
Saya bermpimpi ada yang menarik saya. Lalu saya tidak ingat. Ternyata dia adalah Thohriyah, yang kelak menjadi Ketua Pondok satu periode setelah saya yang bisa diterima oleh masyarakat santri. Kabar ini saya dengar dari adik duapupu yang juga nyantri di sana, PP. Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang. Ah, rupanya itu petanda dari Tuhan. Semiotika-Nya.

Lantas, apa kaitannya dengan bapak saya? Begini: Bapak saya sangat terpukul dengan kejadian tersebut, hingga saya langsung dibawa pulang untuk sementara waktu. Di saat ada pertemua Wali Santri, kesempatan ini digunakan oleh bapak untuk menyampaikan usulannya terkait Kamar Mandi dan keselamatan para santri lainnya. Ternyata, gayung bersambut, Wali Santri setuju. Dengan bahu-membahu, Wali Santri menyumbang apa saja yang mereka mampu. Jadilah semenjak itu Kamar Mandi Pondok Putri sebagaimana kamar mandi pada umumnya, berbilik-bilik…


Beruntung, saya sudah sempat kecebur duluan sebelum direnovasi hahaha

0 komentar:

Posting Komentar