Sebelum
ini, kamar mandi pondok saya seperti kolam. Lebarnya kurang lebih 5-7 meter,
sedangkan kedalamnnya yang saya dengar dan saksikan sendiri adalah kurang lebih
15 meter. Tahun 2008 kalau tidak salah, saat saya memegang amanah sebagai Wakil
Ketua Pondok sekaligus TU Keuangan Madrasah Diniyah, saya mengalami insiden
besar. Saya tercebur dalam kolam selama kurang lebih 10 menit, dan saya tidak
bisa berenang.
Ceritanya
begini: Dua hari sebelum insiden itu terjadi, saya mendengar seorang santri di
Pondoknya istri pengasuh utama meninggal karena tercebur di kolam. Siangnya,
saat saya mengambil wudlu di kamar mandi pengurus, saya mendengar suara anak
kecil minta tolong. Sontak saya menarik kerudung, keluar kamar mandi dan
langsung menuju sumber suara, kamar mandi putri yang seperti kolam itu. Kamar
mandi sangat sepi, tidak ada satu santripun yang berada di sana kecuali seorang
santri kecil yang duduk di Madrasah Ibtidaiyah, yang sekarang sedang saya
temukan tengah timbul-tenggelam di dalam kolam sambil sesekali berteriak minta
tolong. Karena dorongan naluri, saya sudah hampir melompat, berniat
menolongnya. Namun beruntung, sejurus saya langsung ingat kalau saya tidak bisa
berenang hahaha. Mondar-mandirlah saya dalam kepanikan mencari apa saja yang
bisa saya gunakan untuk membantu Musrifah, yang ternyata anak murid saya di
kelas Shifir. Beruntung saya cepat menemukan kayu yang lekas saya ulurkan
kepada Musrifah, santri kecil yang rajin ini. Owalah, Nduk… mugo iki
pertanda samean ate dadi arek sukses dan penuh barokah yo… Entah mengapa,
setiap ada cerita atau kejadian santri tercebur kolam, ada semacam keyakinan
pada diri saya pribadi, kalau santri itu dapat barokah banyak dari guru-guru
dan Pesantren. Tandanya anak akan sukses suatu saat nanti. Aamiin… Sebelumnya,
saya juga sudah pernah tercebur. Persis ditempat dimana Musrifah
timbul-tenggelam…
Dua
hari selanjutnya, pas di hari Jum’at, kepala saya dikencingi kucing saat tidur.
Teman-teman di kamar pengurus sudah rame pada subuh yang masih perawan itu.
Saya memilih diam, supaya kucing yang sedang nyaman di pertengahan kencingnya
itu tidak terganggu. Saat itu, saya membayangkan diri saya sendiri, jika di
pertengahan pipis ada yang mengganggu dan membuat tidak nyaman karena belum
menuntaskannya. Namun, sekaligus ada perasaan tak nyaman yang tiba-tiba
bersarang dalam diri saya. Begitulah, atas bantuan kencing kucing, karpet kamar
pengurus pagi itu kami gotong berenam ke kamar mandi.
Di
pertengahan mencuci, tiba-tiba mbak Tatik, yang waktu itu menjadi Ketua Pondok,
menantang saya berani tidak mencebur ke sana, katanya sambil melirik kolam yang
airnya sedang penuh. Alih-alih menjawab, saya balik menantangnya, niat saya
bercanda. Eh! Diluar dugaan kelima teman yang lain, termasuk saya dia menggeret
pucuk karpet ke tengah. Tentu saja pemandangan selanjutnya yang kami lihat
adalah adegan Ketua Pondok yang kelelep dengan karpetnya. Lah saya, yang
dua hari lalu batal melompat karena ingat tidak bisa berenang, kali ini
dikalahkan dengan naluri. Naluri menolong, dan alpa dengan keterbatasan skill
berenang. Saya menjulurkan tangan panjang-panjang. Karena beban yang akan saya
bantu lebih berat, tubuh saya yang kecil dalam balutan telesan langsung
terlempar ke tengah agak samping. Pas, di tempat kemarin Musrifah
timbul-tenggelam. Funda, alias Naila, Sekretaris I yang berasal dari Pontianak,
tidak diragukan lagi kemampuannya menari-nari di dalam air. Dengan gagah dan
tangkas, ia melompat berniat menolong kami berdua. Tapi entah apa yang terjadi
padanya, seperti kami berdua, dia malah timbul-tenggelam. Meminum air
banyak-banyak meniru saya. Hahaha. Di dalam air yang berwarna hijau itu, kami
sundul-sundulan, tarik-menarik tangan, injak-injakan kepala, dan berbagai
atraksi ganas lainnya. (Beginilah potret kiamat kecil, sudah tidak saling peduli,
kecuali keselamatan diri masing-masing. Gimana kiamat sesunggunya ya? Hahaha).
Entah bagaimana ceritanya, mbak Tatik sudah tidak ada, nampaknya ada yg
membantunya dan berhasil menepi. Saya ingat, masih sempat menjejak kepala Funda
untuk naik ke atas. Lamat-lamat, banyak orang di atas berteriak-teriak, ada
yang bengong, ada yang hampir menangis dan entah, karena tidak lama saya
tenggelam lagi. Pada titik itulah, saya merasa telah kehabisan daya. Di dalam
air, saya perhatikan sekeliling begitu hening. Di bawah kaki saya tepat, adalah
tempat yang kabarnya kerajaan jin bersarang. Dalam keadaan yang semakin
melemah, saya melihat air hijau, lumut, ikan-ikan berenang dalam hening.
Tiba-tiba wajah bapak-ibuk melintas silih berganti dengan wajah adik-adik. Terakhir,
saya menyadari satu dzat saja yang darinya dan padanya kediriian ini. Dalam
batin, saya mengumandangkan kalimat Innaalillaahi Wainnaailayhi Rooji’uun….
Saya
bermpimpi ada yang menarik saya. Lalu saya tidak ingat. Ternyata dia adalah
Thohriyah, yang kelak menjadi Ketua Pondok satu periode setelah saya yang bisa
diterima oleh masyarakat santri. Kabar ini saya dengar dari adik duapupu yang
juga nyantri di sana, PP. Raudlatul Ulum I Ganjaran Gondanglegi Malang. Ah,
rupanya itu petanda dari Tuhan. Semiotika-Nya.
Lantas,
apa kaitannya dengan bapak saya? Begini: Bapak saya sangat terpukul dengan
kejadian tersebut, hingga saya langsung dibawa pulang untuk sementara waktu. Di
saat ada pertemua Wali Santri, kesempatan ini digunakan oleh bapak untuk
menyampaikan usulannya terkait Kamar Mandi dan keselamatan para santri lainnya.
Ternyata, gayung bersambut, Wali Santri setuju. Dengan bahu-membahu, Wali
Santri menyumbang apa saja yang mereka mampu. Jadilah semenjak itu Kamar Mandi
Pondok Putri sebagaimana kamar mandi pada umumnya, berbilik-bilik…
Beruntung,
saya sudah sempat kecebur duluan sebelum direnovasi hahaha
0 komentar:
Posting Komentar