Bapakku
adalah lelaki saleh. Saleh secara spiritual sekaligus sosial. Bapak rajin
mengaji sekaligus ramah dan suka membuat tetangga senang dengan humornya.
Bilamana bulan Ramadhan datang, bapak tidak bisa tarawih berjama’ah di Masjid
karena bekerja. Setiap hari bapak saya bekerja untuk keluarganya. Mulai dari
pagi hari sampai dengan menjelang sore di Pasar Besi Comboran. Dilanjut mulai
sore hari sampai tengah malam datang menggigit di Terminal Arjosari. Dan
bekerja, bagi bapak adalah wajib dibandingkan dengan tarawih yang sunnah.
Namun, tanpa menghiraukan kelelahan dan kantuk yang memberat di matanya, bapak
istiqomah mendirikan tarawih sendiri (terkadang ibuk berjama’ah. Sengaja tidak
tarawih di Masjid untuk menemani bapak) di rumah berpayungkan malam sepi.
Dilanjut mengaji sampai waktu sahur datang. Bapak akan membangunkan
anak-anaknya dengan senang hati. Entah, saya pribadi senang sekali kalau yang
membangunkan untuk sahur adalah bapak. Jikalau ibuk masih tidur, bapak akan
cekatan menyiapkansahur untuk kami. Ya… meskipun kalau bapak yang masak
sambelnya sering gosong sih….
Begitulah
gambaran bapak saya yang patuh pada Tuhannyaa via ibadah mahdhoh meskipun hal
itu sunnah. Hingga tidak heran saat suatu kali ibuk bercerita kepada saya
begini: Ibuk kaget, habis buka tadi bapakmu nangis sesenggukan di atas sajadah
selepasnya maghriban. Benar-benar nangis. Aku sampai ikut menangis,
jangan-jangan karena ada kesalahan padaku yang tidak bisa diterimanya.
Waktu
itu kami sedang mengalami masa krisis ekonomi yang teramat dan harus berpindah
ke Solo, tinggal di sebelah gudang besinya paklek, adik lelaki ibuk. Ibuk
melanjutkan: Aku tambah menangis pilu saat aku tahu dari pengakuan bapakmu
kalau dia menangis karena membatalkan puasa sesiangnya.
Masih
ada kenelangsaan di wajah ibuk sebagai pencerita. Saya tahu, secara fiqih, apa
yang dilakukan bapak itu hukumnya ma’fu, membatalkan puasa karena kerja yang
teramat berat. Selama di Solo, bapak menjadi buruh besi. Saya tahu pekerjaan
buruh besi sangat berat. Mulai dari mengangkut besi ke truck, lalu
menurunkannya sesampainya di Gudang, dan memasukkannya ke dalam Gudang. Belum
lagi kalau ada besi yang mesti dipotong-potong, ditekuk-tekuk, dan seterusnya.
Sedangkan kondisi para buruh, mayoritas telah melalaikan sholat fardlu,
boro-boro puasa di tengah pekerjaannya yang teramat berat dan membakar itu.
Namun tidak dengan bapak saya. Mengetahui kondisi buruh seperti itu, bapak
semakin rajin melaksanakan sholat, tujuannya
adalah uswah. Namun siang itu, siang dimana malamnya bapak saya (yang
tersayang) menangis tergugu di atas sajadah, penyelasan dalam kepada Allahnya,
bapak yang manusia biasa itu tidak kuat. Fisiknya memberontak, mendemonstrasi
atas keterbatasannya sebagai manusia yang dho’if, dan apa kuasa bapak selain
memberikan haknya?
Tangisan
bapak itu selalu terngiang dalam relung batin saya. Saya yang pernah nyantri
selama tujuh tahun ini, merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan bapak. Saya
mengingat tiga kali tangisan bapak: tangisan kepada sibungsu yang sakit dan
seolah tak ada harapan hidup, tangisan saat saya mengalami patah tulang kaki,
dan tangisan agungnya. Tangisan pengaduan-pengakuan seorang buruh kepada
Tuhannya….
0 komentar:
Posting Komentar