Selasa, 17 Mei 2016

TUJUHBELAS: BAPAK DAN TIGA TANGISANNYAv

Bapakku adalah lelaki saleh. Saleh secara spiritual sekaligus sosial. Bapak rajin mengaji sekaligus ramah dan suka membuat tetangga senang dengan humornya. Bilamana bulan Ramadhan datang, bapak tidak bisa tarawih berjama’ah di Masjid karena bekerja. Setiap hari bapak saya bekerja untuk keluarganya. Mulai dari pagi hari sampai dengan menjelang sore di Pasar Besi Comboran. Dilanjut mulai sore hari sampai tengah malam datang menggigit di Terminal Arjosari. Dan bekerja, bagi bapak adalah wajib dibandingkan dengan tarawih yang sunnah. Namun, tanpa menghiraukan kelelahan dan kantuk yang memberat di matanya, bapak istiqomah mendirikan tarawih sendiri (terkadang ibuk berjama’ah. Sengaja tidak tarawih di Masjid untuk menemani bapak) di rumah berpayungkan malam sepi. Dilanjut mengaji sampai waktu sahur datang. Bapak akan membangunkan anak-anaknya dengan senang hati. Entah, saya pribadi senang sekali kalau yang membangunkan untuk sahur adalah bapak. Jikalau ibuk masih tidur, bapak akan cekatan menyiapkansahur untuk kami. Ya… meskipun kalau bapak yang masak sambelnya sering gosong sih….

Begitulah gambaran bapak saya yang patuh pada Tuhannyaa via ibadah mahdhoh meskipun hal itu sunnah. Hingga tidak heran saat suatu kali ibuk bercerita kepada saya begini: Ibuk kaget, habis buka tadi bapakmu nangis sesenggukan di atas sajadah selepasnya maghriban. Benar-benar nangis. Aku sampai ikut menangis, jangan-jangan karena ada kesalahan padaku yang tidak bisa diterimanya.

Waktu itu kami sedang mengalami masa krisis ekonomi yang teramat dan harus berpindah ke Solo, tinggal di sebelah gudang besinya paklek, adik lelaki ibuk. Ibuk melanjutkan: Aku tambah menangis pilu saat aku tahu dari pengakuan bapakmu kalau dia menangis karena membatalkan puasa sesiangnya.

Masih ada kenelangsaan di wajah ibuk sebagai pencerita. Saya tahu, secara fiqih, apa yang dilakukan bapak itu hukumnya ma’fu, membatalkan puasa karena kerja yang teramat berat. Selama di Solo, bapak menjadi buruh besi. Saya tahu pekerjaan buruh besi sangat berat. Mulai dari mengangkut besi ke truck, lalu menurunkannya sesampainya di Gudang, dan memasukkannya ke dalam Gudang. Belum lagi kalau ada besi yang mesti dipotong-potong, ditekuk-tekuk, dan seterusnya. Sedangkan kondisi para buruh, mayoritas telah melalaikan sholat fardlu, boro-boro puasa di tengah pekerjaannya yang teramat berat dan membakar itu. Namun tidak dengan bapak saya. Mengetahui kondisi buruh seperti itu, bapak semakin rajin melaksanakan sholat, tujuannya  adalah uswah. Namun siang itu, siang dimana malamnya bapak saya (yang tersayang) menangis tergugu di atas sajadah, penyelasan dalam kepada Allahnya, bapak yang manusia biasa itu tidak kuat. Fisiknya memberontak, mendemonstrasi atas keterbatasannya sebagai manusia yang dho’if, dan apa kuasa bapak selain memberikan haknya?

Tangisan bapak itu selalu terngiang dalam relung batin saya. Saya yang pernah nyantri selama tujuh tahun ini, merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan bapak. Saya mengingat tiga kali tangisan bapak: tangisan kepada sibungsu yang sakit dan seolah tak ada harapan hidup, tangisan saat saya mengalami patah tulang kaki, dan tangisan agungnya. Tangisan pengaduan-pengakuan seorang buruh kepada Tuhannya….

Ya, Allah… tempat mana lagi yang pantas untuk bapak saya nanti, selain Surgamu?? #doaseoranganakatasorangtuanyakepadaTuhannya.

0 komentar:

Posting Komentar