Semenjak
liburan pesantren yang pertama bagi saya, tiba-tiba saja saya mempunyai rasa
malu yang dahsyat saat di rumah. Berarti itu mulai kelas satu Tsanawiyah di
semester pertama. Saya yang semasa SD lebih banyak bergaul dengan teman
laki-laki, berubah tigaratusenampuluh derajat. Tiba-tiba saya malu sama semua
tetangga dan teman-teman saya di rumah khususnya yang laki-laki. Mulai dari
teman sepermainan sebelum saya budal nyantri, teman-teman alumni kelas,
paklek, pakde, saudara-saudara sepupu yang laki-laki, bahkan bapak saya
sendiri. Terkecuali hanya adik-adik lelaki saya. Namun pada kedua adik lelaki
saya itu, perilaku saya jadi pasif. Sebelumnya, tentu saja saya bermain dengan
mereka. Mereka bisa bermain dakonan dengan saya, petak umpet, lomba memanjat
pohon jikalau sedang liburan ke Madura, bahkan mereka selalu saya ajak bermain
“tarung-tarungan” hahaha. Gagah kan saya? Tapi ini sungguh tidak baik ditiru
ya, Adik-adik…
Nah,
begitulah rasa malu saya tiba-tiba bergelayut sampai kedalaman diri saya.
Kepada bapak, malunya minta ampun. Rupanya bapak melihat semua itu pada diri
anak perempuannya. Maka, kalau saya sungkem dan dicium pipi kanan dan kiri oleh
ibuk, bapak hanya akan menjulurkan tangannya saja. Saat melihat dikeloni
ibuk saja saya malu banget, bapak memilih mengobrol saja dengan saya seputar
aktifitas dan pelajaran saya di Pesantren. Paling banter, bapak hanya
membelai-belai kepala saya untuk meluapkan rasa rindunya, mumpung saya di rumah
yang banyak menghabiskan waktu di Pesantren. Begitulah, hubungan bapak dan
putrinya yang agak kaku, canggung, namun bukan menjadi penghambat bagi bapak
untuk menyalurkan kasih dan sayangnya kepada saya. Bapak saya cerdik sekaligus bijak.
Ya!
Sampai
saat saya sudah mengenal Jogja, bapak menyambut senang perubahan saya dalam
mengatasi rasa malu. Namun, karena belum terbiasa, terkadang bapak masih
sedikit kaku. Sampai suatu kali, saya mendengar sendiri via telpon, bapak
bilang kepada saya satu kata saja yang membuat saya melayang tinggi. Bapak
bilang “kangen” dengan terang-terangan. Lengkap dengan kabar pengiriman uang ke
no rekening untuk saya agar segera pulang ke Madura karena pada saat itu bapak
sedang di Madura. Saya mencoba meraba-raba ada apa gerangan yang terjadi dengan
bapak saya di Madura? Adakah yang menyakiti hatinya?. Tanpa berpikir panjang,
saya mengiyakan permintaan bapak untuk saya segera pulang. Saya ingat betul
rekaman kejadian itu: Bapak sedang bersila di Langgar rumah. Sesudah sungkem
kepada ibuk dan dicium pipi kanan dan kiri, saya menghambur ke arah bapak untuk
sungkem. Namun apa yang terjadi…. Sungkem saya terpending karena bapak langsung
memeluk saya erat, membelai kepala saya, mencium pipi saya yang kanan, mencium
pipi saya yang kiri, lalu memeluk lagi, membelai kepala lagi. Saya pasrah dalam
keterkejutan, sekaligus senang dan berbagai pertanyaan menggantung. Setelah
bapak puas menyalurkan kerinduannya kepada anak perempuannya ini, saya langsung
menangkap kedua tangannya untuk sungkem, sekaligus pengalihan suasana hati saya
supaya sesuatu yang teronggok mencekik di tenggorokan ini tidak tumpah di
pangkuannya.
Setelah
peristiwa itulah, saya yang merasa risih kalau dikeloni sekalipun itu ibuk saya
sendiri, jadi terbiasa tiduran di tengah, di apit bapak dan ibuk yang sama-sama
mengeloni saya. Saya, anak perempuannya yang sudah besar dan dewasa.
Saat seperti itulah ibuk suka bercerita tentang perjuangannya di pasar yang
panasnya memanggang. Saat seperti itulah bapak menceritakan keadaan di rumah
Malang. Dan saya? Saya juga cerita. Menceritakan suatu hal yang bapak-ibuk akan
senang mendengarnya; tentang prestasi-prestasi saya di Jogja. Itu saja. Saya
tidak menceritakan semuanya, perjuangan berdarah selama di Jogja. Karena hal
itu akan mengganggu ketenangan mereka berdua tentang saya. Saat saya keceplosan
sedang memotong-motong buah yang akan saya jual di kantin Fakultas saja, bapak
menelfon berkali-kali dan saya tangkap nada sedihnya, juga suara tangis ibuk di
samping bapak…
0 komentar:
Posting Komentar