Selasa, 17 Mei 2016

ENAMBELAS: BAPAK DAN PELUKANNYA


Semenjak liburan pesantren yang pertama bagi saya, tiba-tiba saja saya mempunyai rasa malu yang dahsyat saat di rumah. Berarti itu mulai kelas satu Tsanawiyah di semester pertama. Saya yang semasa SD lebih banyak bergaul dengan teman laki-laki, berubah tigaratusenampuluh derajat. Tiba-tiba saya malu sama semua tetangga dan teman-teman saya di rumah khususnya yang laki-laki. Mulai dari teman sepermainan sebelum saya budal nyantri, teman-teman alumni kelas, paklek, pakde, saudara-saudara sepupu yang laki-laki, bahkan bapak saya sendiri. Terkecuali hanya adik-adik lelaki saya. Namun pada kedua adik lelaki saya itu, perilaku saya jadi pasif. Sebelumnya, tentu saja saya bermain dengan mereka. Mereka bisa bermain dakonan dengan saya, petak umpet, lomba memanjat pohon jikalau sedang liburan ke Madura, bahkan mereka selalu saya ajak bermain “tarung-tarungan” hahaha. Gagah kan saya? Tapi ini sungguh tidak baik ditiru ya, Adik-adik…

Nah, begitulah rasa malu saya tiba-tiba bergelayut sampai kedalaman diri saya. Kepada bapak, malunya minta ampun. Rupanya bapak melihat semua itu pada diri anak perempuannya. Maka, kalau saya sungkem dan dicium pipi kanan dan kiri oleh ibuk, bapak hanya akan menjulurkan tangannya saja. Saat melihat dikeloni ibuk saja saya malu banget, bapak memilih mengobrol saja dengan saya seputar aktifitas dan pelajaran saya di Pesantren. Paling banter, bapak hanya membelai-belai kepala saya untuk meluapkan rasa rindunya, mumpung saya di rumah yang banyak menghabiskan waktu di Pesantren. Begitulah, hubungan bapak dan putrinya yang agak kaku, canggung, namun bukan menjadi penghambat bagi bapak untuk menyalurkan kasih dan sayangnya kepada saya. Bapak saya cerdik sekaligus bijak. Ya!
Sampai saat saya sudah mengenal Jogja, bapak menyambut senang perubahan saya dalam mengatasi rasa malu. Namun, karena belum terbiasa, terkadang bapak masih sedikit kaku. Sampai suatu kali, saya mendengar sendiri via telpon, bapak bilang kepada saya satu kata saja yang membuat saya melayang tinggi. Bapak bilang “kangen” dengan terang-terangan. Lengkap dengan kabar pengiriman uang ke no rekening untuk saya agar segera pulang ke Madura karena pada saat itu bapak sedang di Madura. Saya mencoba meraba-raba ada apa gerangan yang terjadi dengan bapak saya di Madura? Adakah yang menyakiti hatinya?. Tanpa berpikir panjang, saya mengiyakan permintaan bapak untuk saya segera pulang. Saya ingat betul rekaman kejadian itu: Bapak sedang bersila di Langgar rumah. Sesudah sungkem kepada ibuk dan dicium pipi kanan dan kiri, saya menghambur ke arah bapak untuk sungkem. Namun apa yang terjadi…. Sungkem saya terpending karena bapak langsung memeluk saya erat, membelai kepala saya, mencium pipi saya yang kanan, mencium pipi saya yang kiri, lalu memeluk lagi, membelai kepala lagi. Saya pasrah dalam keterkejutan, sekaligus senang dan berbagai pertanyaan menggantung. Setelah bapak puas menyalurkan kerinduannya kepada anak perempuannya ini, saya langsung menangkap kedua tangannya untuk sungkem, sekaligus pengalihan suasana hati saya supaya sesuatu yang teronggok mencekik di tenggorokan ini tidak tumpah di pangkuannya.

Setelah peristiwa itulah, saya yang merasa risih kalau dikeloni sekalipun itu ibuk saya sendiri, jadi terbiasa tiduran di tengah, di apit bapak dan ibuk yang sama-sama mengeloni saya. Saya, anak perempuannya yang sudah besar dan dewasa. Saat seperti itulah ibuk suka bercerita tentang perjuangannya di pasar yang panasnya memanggang. Saat seperti itulah bapak menceritakan keadaan di rumah Malang. Dan saya? Saya juga cerita. Menceritakan suatu hal yang bapak-ibuk akan senang mendengarnya; tentang prestasi-prestasi saya di Jogja. Itu saja. Saya tidak menceritakan semuanya, perjuangan berdarah selama di Jogja. Karena hal itu akan mengganggu ketenangan mereka berdua tentang saya. Saat saya keceplosan sedang memotong-motong buah yang akan saya jual di kantin Fakultas saja, bapak menelfon berkali-kali dan saya tangkap nada sedihnya, juga suara tangis ibuk di samping bapak…




0 komentar:

Posting Komentar