Selasa, 17 Mei 2016

LIMABELAS: BAPAK, LELAKI YANG PADANYA AKU SELALU BERKABAR


“Biar ada yang memperhatikan dan juga selalu ada yang menanyakan kabar,” dalih seorang teman perempuan saat saya tanya motivasinya berpacaran. Ada dua hal yang akhirnya saya tangkap dari motivasi seperti ini. Pertama, kemungkinan besar dia adalah anak yang tidak mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya sehingga jiwa kasihnya menjadi kering kerontang. Kedua, dia adalah anak yang perhatian kedua orangtuanya tidak dirasakannya sebagai perhatian sehingga jiwanya yang gersang ini begitu merindu-rindukan perhatian dari arah lain. Ah, andaisaja motivasi berpacaran semua perempuan di jagad raya ini adalah satu-satunya sebagaimana motivasi berpacarannya teman saya itu, maka bisa saya pastikan bahwa seumur hidup, selagi bapak-ibuk saya senantiasa bernafas di muka bumi ini, saya akan abadi menjadi seorang jomblo dan perawan tuwa. Hahaha na’udzubillah….

Orangtua saya, melewati bapak, sebagaimana pernah saya ceritakan di judul sebelumnya, selalu mengawal saya via telpon. Apalagi jikalau saya sedang dalam posisi perjalanan, maka hampir dua jam sekali bapak akan istiqomah menanyakan posisi saya sudah berada dimana. Terus menerus sampai saya berkabar bahwa saya telah sampai tempat tujuan. Di situ bapak akan tenang. Sebelum tidur pun, tidak jarang, bapak akan menanyakan, “Bagaimana kegiatan hari ini?, “sudah makan?”, “cepat istirahat.” Nah kan, kamu-kamu yang pernah pacaran, bukankah bentuk perhatian kepada pacar –apalagi jika terhambat jarak jauh—memang seputar itu-itu kan? Hayolah ngaku saja…. So, begitulah, sampai umur saya duapuluhempat tahun saya tidak merasa butuh sama yang namanya ‘pacaran’, saat saya rasakan mayoritas motivasi teman-teman perempuan berpacaran adalah sebagaimana motivasi teman saya yang pertama. Yah, semacam apatislah. Sampai suatu kali datanglah pangeran sederhana ke hadapan saya, menyuguhkan suatu hal yang bagi saya itu sungguh agung, bernilai, dan bersahaja namun realistis. Ceile….

Tetap saja, bagi saya, perhatian sang pangeran tidak dapat melebihi posisi perhatian bapak saya. Perhatian bapak saya adalah segalanya. Tidak ada yang menggantikan posisinya sampai kapan pun. Bahkan, saat nanti saya sudah menyandang status sebagai seorang istri, saya mematrikan diri untuk mengawal bapak dan keluarga terlebih dulu, sebagaimana yang bapak saya lakukan untuk saya, anaknya yang teramat sayang padanya. Jika sekarang bapak mengawal dengan segala cinta dan kasihnya, esok, Bapak… anakmu ini akan mengawalmu terlebih dulu. Tidak usah sungkan pada menantumu. Dia tidak akan pernah menggantikanmu. Tidak akan. Dan dia, harus tahu itu bahkan mulai sekarang…. 

CINTAKU TERPAHAT SEMPURNA UNTUKMU


0 komentar:

Posting Komentar