“Biar
ada yang memperhatikan dan juga selalu ada yang menanyakan kabar,” dalih
seorang teman perempuan saat saya tanya motivasinya berpacaran. Ada dua hal
yang akhirnya saya tangkap dari motivasi seperti ini. Pertama, kemungkinan
besar dia adalah anak yang tidak mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya
sehingga jiwa kasihnya menjadi kering kerontang. Kedua, dia adalah anak yang
perhatian kedua orangtuanya tidak dirasakannya sebagai perhatian sehingga
jiwanya yang gersang ini begitu merindu-rindukan perhatian dari arah lain. Ah,
andaisaja motivasi berpacaran semua perempuan di jagad raya ini adalah
satu-satunya sebagaimana motivasi berpacarannya teman saya itu, maka bisa saya
pastikan bahwa seumur hidup, selagi bapak-ibuk saya senantiasa bernafas di muka
bumi ini, saya akan abadi menjadi seorang jomblo dan perawan tuwa. Hahaha na’udzubillah….
Orangtua saya, melewati bapak, sebagaimana
pernah saya ceritakan di judul sebelumnya, selalu mengawal saya via telpon.
Apalagi jikalau saya sedang dalam posisi perjalanan, maka hampir dua jam sekali
bapak akan istiqomah menanyakan posisi saya sudah berada dimana. Terus menerus
sampai saya berkabar bahwa saya telah sampai tempat tujuan. Di situ bapak akan
tenang. Sebelum tidur pun, tidak jarang, bapak akan menanyakan, “Bagaimana
kegiatan hari ini?, “sudah makan?”, “cepat istirahat.” Nah kan, kamu-kamu yang
pernah pacaran, bukankah bentuk perhatian kepada pacar –apalagi jika terhambat
jarak jauh—memang seputar itu-itu kan? Hayolah ngaku saja…. So, begitulah,
sampai umur saya duapuluhempat tahun saya tidak merasa butuh sama yang namanya
‘pacaran’, saat saya rasakan mayoritas motivasi teman-teman perempuan
berpacaran adalah sebagaimana motivasi teman saya yang pertama. Yah, semacam
apatislah. Sampai suatu kali datanglah pangeran sederhana ke hadapan saya,
menyuguhkan suatu hal yang bagi saya itu sungguh agung, bernilai, dan bersahaja
namun realistis. Ceile….
Tetap
saja, bagi saya, perhatian sang pangeran tidak dapat melebihi posisi perhatian
bapak saya. Perhatian bapak saya adalah segalanya. Tidak ada yang menggantikan
posisinya sampai kapan pun. Bahkan, saat nanti saya sudah menyandang status
sebagai seorang istri, saya mematrikan diri untuk mengawal bapak dan keluarga
terlebih dulu, sebagaimana yang bapak saya lakukan untuk saya, anaknya yang
teramat sayang padanya. Jika sekarang bapak mengawal dengan segala cinta dan
kasihnya, esok, Bapak… anakmu ini akan mengawalmu terlebih dulu. Tidak usah
sungkan pada menantumu. Dia tidak akan pernah menggantikanmu. Tidak akan. Dan
dia, harus tahu itu bahkan mulai sekarang….
CINTAKU TERPAHAT SEMPURNA UNTUKMU
0 komentar:
Posting Komentar