Selasa, 17 Mei 2016

EMPATBELAS: BAPAK TIDAK MENGANTAR


Sebagaimana pernah saya ceritakan, bahwa bapak tidak pernah tidak menjemput saya di Stasiun jikalau saya pulang ke Malang, bahkan sekedar menunggui saya di depan gapura gang rumah saya, gang gapura JL. Kolonel Sugiono Mergosono, semisal saya pulang via bus. Pernah, bapak menunggui saya di depan gang (masih ingat cerita saya “Digendong Bapak” kan? Anda bisa membayangkan, bapak saya naik ke atas, menuju gang gapura setelah menempuh puluhan tangga dari bawah) semenjak subuh. “Bapakmu sampek lali gak moco  surat pendek seng sembayang subuh,” cerita ibuk sesampainya saya di rumah, “gara-gara pas nelfon jam telu mau, ngerti Samean wes ndek Bungurasih,” lanjut ibuk. Saya ngakak. Bapak cuma diam. Saya membayangkan, satu jam lebih bapak duduk sendirian di depan gapura sambil terus memperhatikan setiap mikrolet jurusan AMG (Arjosari-Mergosono-Gadang) yang berhenti di depan gang. Kalau-kalau, putri semata wayangnya inilah yang keluar dari sana. Saya juga mengingat, betapa sigapnya bapak saya mengambil barang-barang dari tangan saya--saat saya belum benar-benar turun dari mikrolet--, sampai saya bingung saat akan meraih tangannya untuk sungkem.

Begitu juga saat saya akan berangkat. Diantarnya saya sampai stasiun, atau jika saya memilih ngebis, akan diantarnya saya sampai Terminal Joyoboyo yang lebih tenar dengan Terminal Bungurasih Surabaya, tempat dimana busnya akan menghantarkan saya sampai ke Jogja. Namun hal ini tidak terjadi saat saya akan balik ke Jogja pada saat kepulangan pertama saya di tahun 2015 kemarin. Saat itu, hampir setiap pagi, bapak sering mengeluh tentang sepinya pekerjaan, baik di Pasar Besi Comboran maupun di Terminal Arjosari (namun bapak tetap rajin dan istiqomah berangkat kerja di pagi da sore hari). Bapak juga sering menyebut-nyebut nama Jokowi, Mentri Ekonomi, lengkap dengan opininya terkait kenaikan BBM yang mencekik rakyat kecil, lalu menghisap darah mereka pelan-pelan hingga sekarat. Saya paham. Saya paham benar. Sesungguhnya, bapak ingin mengatakan, isi dompetnya benar-benar tipis, sedang tanggungjawabnya pada istri dan anak-anaknya tidak kenal pasang-surut, senantiasa dipikulnya di pundaknya. Di saat seperti itulah terkadang saya merasa belum bisa melakukan apa-apa untuk keluarga. Saya masih egois dengan kesenangan dan asa pribadi saya sendiri. Malam saat esok harinya saya akan balik ke Jogja, saya menunggui bapak dari kerjanya. Saya matur, bapak tidak perlu nyangoni saya. Saya sudah punya simpanan. Meski sebenarnya, jumlah uang di dompet saya hanya cukup untuk sekali perjalanan menuju Jogja. Itu pun via bus, yang relative lebih murah daripada kereta. Bagaimana untuk makan nanti di Jogja? Ah, itu gampang! Urusan belakang. Wes tau, wes keseringan. Haha.

Esoknya, saya telah bersiap. Saya sudah mandi. Melihat bapak yang tidak seperti biasanya, perasaan saya sudah tidak enak. Saya sudah ingin menangis di dalam hati. Biasanya, bapak telah bersiap lebih dulu dan akan segera menyuruh saya mandi. Saya berganti baju. Bapak saya lihat duduk di kursi, tidak setegap bagaimana biasanya beliau duduk. Masih dengan kaos pendek dan sarung kotak-kotaknya. Saya semakin ingin menangis, tapi tentu saja saya tekan, dan itu menyesakkan, Kawan! Lalu dari kamar, saya melangkah pelan menuju ruang tamu, dimana bapak duduk tidak seperti biasanya. Bapak memandang saya. “Wes kate budal?” tanyanya. Saya menyahut dengan bahasa jawa krama. Bapak mengangguk-ngangguk tanpa beranjak dari tempat duduknya. Lalu saya mendekat, akan meraih tangannya. Mendadak bapak beranjak, langkahnya akan ke kamar, mengarah ke belakang pintu, tempat beliau biasa menaruh uang. “Ampun, Pak. Ampun cekap,” cegah saya. Bapak terhenti, bertanya apakah benar saya punya cukup sangu. Saya menjawab tegas sambil mengangguk keras-keras, mengesankan sungguh-sungguh. Lalu bapak menjulurkan tangannya. Saya sungkem dan langsung mengangkat tas. Melangkahkan kaki melewati pintu dengan perasaan berkecamuk. Sungguh, untuk pertama kalinya bapak berpura-pura tidak khawatir dengan keberangkatan saya. Untuk pertama kalinya bapak tidak mandi, lalu menyuruh saya mandi, memeriksa barang-barang saya khawatir ada yang ketinggalan, lalu mengantar saya sampai Bungurasih, naik ke bis mencarikan saya tempat duduk, membelikan saya air, menitipkan saya pada kondektur, supir dan penumpang di samping saya (yang sebenarnya membuat saya risih dan malu dengan sikap beliau). Tapi pagi ini, bapak berpura-pura cuek. Setiap kaki saya menekan tangga menuju gapura, setiap itu pula saya menekan sesak di dada. Perasaan ini, bukan karena takut berangkat sendiri, saya sudah biasa mbolang kemana-mana sendirian, perasaan ini lebih pada perasaan membayangkan betapa sakit dan sedihnya bapak harus berpura-pura tidak khawatir. Merasakan betapa perasaan bapak lebih tercabik-cabik dari perasaan saya saat ini. Saya yakin sekali, bapak tidak tega. Bapak tidak akan sanggup membiarkan putrinya berangkat tanpa dilepasnya setelah memastikan dan melihat sendiri putrinya duduk di salah-satu gerbong kereta atau salah-satu jok bus. Saya yakin bapak akan berubah pikiran. Saya yakin!


Saya telah sampai di atas, di depan gapura sambil berkali-kali menelan ludah agar bongkahan yang menyesakkan dada ini tidak keluar. Tetiba, HP saya berdering, bapak menelpon: Sudah dimana? Tunggu dulu di sana, bapak antar. Suara bapak terburu-buru, cepat. Di sinilah, bongkahan menyesakkan di dada itu akhirnya tidak bisa diajak berkompromi lagi. Saya jauhkan HP dari muka saya sebentar, sejenak menghirup udara, menetralisir suara saya yang tiba-tiba serak tertahan. Jangan sampai bapak mendengar. Cepat-cepat saya menguasai diri dan menjawab telpon bapak: Sampun teng mikrolet, Pak. Sampun tebeh niki… jelas saya berbohong. Berbohong untuk pertama kalinya kepada bapak. Suatu hal yang sesungguhnya tidak pernah bisa saya lakukan. “Oh, yasudah, hati-hati,” jawab bapak pendek, nada suaranya berubah lemah. Saya memejamkan mata sejenak, berterimakasih pada Tuhan atas moment indah ini. Moment, yang tak semua anak manusia diberi kesempatan merasainya… 

0 komentar:

Posting Komentar