Sebagaimana
pernah saya ceritakan, bahwa bapak tidak pernah tidak menjemput saya di Stasiun
jikalau saya pulang ke Malang, bahkan sekedar menunggui saya di depan gapura
gang rumah saya, gang gapura JL. Kolonel Sugiono Mergosono, semisal saya pulang
via bus. Pernah, bapak menunggui saya di depan gang (masih ingat cerita saya
“Digendong Bapak” kan? Anda bisa membayangkan, bapak saya naik ke atas, menuju
gang gapura setelah menempuh puluhan tangga dari bawah) semenjak subuh. “Bapakmu
sampek lali gak moco surat pendek seng
sembayang subuh,” cerita ibuk sesampainya saya di rumah, “gara-gara pas
nelfon jam telu mau, ngerti Samean wes ndek Bungurasih,” lanjut ibuk. Saya
ngakak. Bapak cuma diam. Saya membayangkan, satu jam lebih bapak duduk
sendirian di depan gapura sambil terus memperhatikan setiap mikrolet jurusan
AMG (Arjosari-Mergosono-Gadang) yang berhenti di depan gang. Kalau-kalau, putri
semata wayangnya inilah yang keluar dari sana. Saya juga mengingat, betapa
sigapnya bapak saya mengambil barang-barang dari tangan saya--saat saya belum
benar-benar turun dari mikrolet--, sampai saya bingung saat akan meraih
tangannya untuk sungkem.
Begitu
juga saat saya akan berangkat. Diantarnya saya sampai stasiun, atau jika saya
memilih ngebis, akan diantarnya saya sampai Terminal Joyoboyo yang lebih tenar
dengan Terminal Bungurasih Surabaya, tempat dimana busnya akan menghantarkan
saya sampai ke Jogja. Namun hal ini tidak terjadi saat saya akan balik ke Jogja
pada saat kepulangan pertama saya di tahun 2015 kemarin. Saat itu, hampir
setiap pagi, bapak sering mengeluh tentang sepinya pekerjaan, baik di Pasar
Besi Comboran maupun di Terminal Arjosari (namun bapak tetap rajin dan
istiqomah berangkat kerja di pagi da sore hari). Bapak juga sering
menyebut-nyebut nama Jokowi, Mentri Ekonomi, lengkap dengan opininya terkait
kenaikan BBM yang mencekik rakyat kecil, lalu menghisap darah mereka
pelan-pelan hingga sekarat. Saya paham. Saya paham benar. Sesungguhnya, bapak
ingin mengatakan, isi dompetnya benar-benar tipis, sedang tanggungjawabnya pada
istri dan anak-anaknya tidak kenal pasang-surut, senantiasa dipikulnya di
pundaknya. Di saat seperti itulah terkadang saya merasa belum bisa melakukan
apa-apa untuk keluarga. Saya masih egois dengan kesenangan dan asa pribadi saya
sendiri. Malam saat esok harinya saya akan balik ke Jogja, saya menunggui bapak
dari kerjanya. Saya matur, bapak tidak perlu nyangoni saya. Saya
sudah punya simpanan. Meski sebenarnya, jumlah uang di dompet saya hanya cukup
untuk sekali perjalanan menuju Jogja. Itu pun via bus, yang relative lebih
murah daripada kereta. Bagaimana untuk makan nanti di Jogja? Ah, itu gampang!
Urusan belakang. Wes tau, wes keseringan. Haha.
Esoknya,
saya telah bersiap. Saya sudah mandi. Melihat bapak yang tidak seperti
biasanya, perasaan saya sudah tidak enak. Saya sudah ingin menangis di dalam
hati. Biasanya, bapak telah bersiap lebih dulu dan akan segera menyuruh saya
mandi. Saya berganti baju. Bapak saya lihat duduk di kursi, tidak setegap
bagaimana biasanya beliau duduk. Masih dengan kaos pendek dan sarung
kotak-kotaknya. Saya semakin ingin menangis, tapi tentu saja saya tekan, dan
itu menyesakkan, Kawan! Lalu dari kamar, saya melangkah pelan menuju ruang
tamu, dimana bapak duduk tidak seperti biasanya. Bapak memandang saya. “Wes
kate budal?” tanyanya. Saya menyahut dengan bahasa jawa krama. Bapak
mengangguk-ngangguk tanpa beranjak dari tempat duduknya. Lalu saya mendekat,
akan meraih tangannya. Mendadak bapak beranjak, langkahnya akan ke kamar,
mengarah ke belakang pintu, tempat beliau biasa menaruh uang. “Ampun, Pak.
Ampun cekap,” cegah saya.
Bapak terhenti, bertanya apakah benar saya punya cukup sangu. Saya menjawab
tegas sambil mengangguk keras-keras, mengesankan sungguh-sungguh. Lalu bapak
menjulurkan tangannya. Saya sungkem dan langsung mengangkat tas. Melangkahkan
kaki melewati pintu dengan perasaan berkecamuk. Sungguh, untuk pertama kalinya
bapak berpura-pura tidak khawatir dengan keberangkatan saya. Untuk pertama
kalinya bapak tidak mandi, lalu menyuruh saya mandi, memeriksa barang-barang
saya khawatir ada yang ketinggalan, lalu mengantar saya sampai Bungurasih, naik
ke bis mencarikan saya tempat duduk, membelikan saya air, menitipkan saya pada
kondektur, supir dan penumpang di samping saya (yang sebenarnya membuat saya
risih dan malu dengan sikap beliau). Tapi pagi ini, bapak berpura-pura cuek.
Setiap kaki saya menekan tangga menuju gapura, setiap itu pula saya menekan
sesak di dada. Perasaan ini, bukan karena takut berangkat sendiri, saya sudah
biasa mbolang kemana-mana sendirian, perasaan ini lebih pada perasaan
membayangkan betapa sakit dan sedihnya bapak harus berpura-pura tidak khawatir.
Merasakan betapa perasaan bapak lebih tercabik-cabik dari perasaan saya saat
ini. Saya yakin sekali, bapak tidak tega. Bapak tidak akan sanggup membiarkan
putrinya berangkat tanpa dilepasnya setelah memastikan dan melihat sendiri
putrinya duduk di salah-satu gerbong kereta atau salah-satu jok bus. Saya yakin
bapak akan berubah pikiran. Saya yakin!
Saya
telah sampai di atas, di depan gapura sambil berkali-kali menelan ludah agar
bongkahan yang menyesakkan dada ini tidak keluar. Tetiba, HP saya berdering,
bapak menelpon: Sudah dimana? Tunggu dulu di sana, bapak antar. Suara bapak
terburu-buru, cepat. Di sinilah, bongkahan menyesakkan di dada itu akhirnya
tidak bisa diajak berkompromi lagi. Saya jauhkan HP dari muka saya sebentar,
sejenak menghirup udara, menetralisir suara saya yang tiba-tiba serak tertahan.
Jangan sampai bapak mendengar. Cepat-cepat saya menguasai diri dan menjawab
telpon bapak: Sampun teng mikrolet, Pak. Sampun tebeh niki… jelas saya
berbohong. Berbohong untuk pertama kalinya kepada bapak. Suatu hal yang
sesungguhnya tidak pernah bisa saya lakukan. “Oh, yasudah, hati-hati,” jawab
bapak pendek, nada suaranya berubah lemah. Saya memejamkan mata sejenak,
berterimakasih pada Tuhan atas moment indah ini. Moment, yang tak semua anak
manusia diberi kesempatan merasainya…
0 komentar:
Posting Komentar