Selasa, 17 Mei 2016

TIGABELAS: BAPAK MINTA DITELPON


Menjadi anak wedok yang mandiri secara finansial di kota seperti Jogja ini, angel-angel sulit (loh! opo bedone yo? Haha). Apalagi jikalau hanya mengandalkan honor menulis, kenyataannya itu… seperti menunggu hujan Jogja di musim hujan saat ini. Tidak bisa ditebak, jarang sekali, tapi kalau sekali deras ya deras banget sih hehe. Beruntung saya biasa hidup penuh keterbatasan, bahkan semenjak kecil. Disaat teman-teman saya diberi uang saku tiga kali sehari(uang saku sekolah, les, dan TPA), bonus uang jajan sepulang sekolah, Alhamdulillah saya hanya sekali sehari (membahagiakan sekali kan?? *karo nangis). Karena ingin membeli es krim yang istiqomah lewat depan rumah sepulang sekolah, juga upaya mengimbangi teman-teman yang mulutnya nyemimil terus saat les dan TPA, saya dituntut pandai memenej uang saku --sekali sehari—itu. Kadang, agar uang saku saya yang mepet abis itu bisa saya sisihkan secuil persennya, istirahat sekolah saya pulang, untuk menggotong tempe goreng dari rumah (eksklusif banget kan masa kecil saya? Iya… eksklusif.. seperti gerbong kereta bisnis yang hanya segelintir orang saja yang bisa menikmatinya. Hu’um... orang-orang pilihan..). Ya.. beruntunglah rumah saya dekat dengan sekolah. Nah, pendeknya, saya ingin mengatakan beruntung sekali kondisi hidup saya mampu membentuk saya menjadi perempuan yang pandai memenej keterbatasan. Halah lebai!! Wong mayoritas teman-teman lelaki saya di Jogja ini ya banyak yang seperti itu, terutama teman-teman pergerakan. Malah lebih parah: sehari makan di Burjo, sebulan kedepannya puasa!

Saat di Pesantren, saya terdidik menjalani kehidupan dengan tirakat. Bukan, bukan karena saya tidak mendapat kiriman dari bapak-ibuk. Masa saya di Pesantren, ekonomi keluarga malah sedang maju-majunya. Tapi saya sudah tidak terbiasa hidup mewah, keadaan ini ditunjang oleh figur guru-guru saya di pesantren --yang saya kagumi-- adalah sosok-sosok sederhana. Lakunya istimewa, sampai ada yang menurut saya sudah mencapai makom ma’rifat. Apalagi Almarhum Ust. Isma’il Muadz, wah rasanya saya mencinta beliau sampai tekewer-kewer. Sedikit saya polah, secara batiniah beliau memberi signal, dan saya akan disindir habis-habisan lewat isyarah-isyarahnya di Kelas. Allaahummaghfirlahu. Ampun sedih karena saya sekarang ndablek nggeh, Ustadz… insyaallah saya akan kembali pulang…

Saya tidak pernah menelfon bapak untuk mengatakan “uang saya habis”. Bapak paham sekali watak saya yang ini, sehingga beliau akan gelisah kalau lama tidak menengok saya ke Pesantren. Berkali-kali bapak mengingatkan supaya saya menelpon ke rumah jikalau uang sudah mau habis. Tentu saja saya mengiyakan dengan halus dan santun, dan (tentu saja juga) saya tetap tidak pernah menelpon. Sampai saat saya berpindah hidup di Jogja, bapak lebih sering menelpon. Mula-mula setiap hari, lama-lama seminggu lima kali, dan minimal seminggu dua sampai tiga kali. Saya memang anak tak tahu diri soal telpon-menelpon. Jarang sekali saya menelpon rumah. Tapi, kalau lama bapak tidak menelpon, saya akan segera menelpon, karena kekhawatiran yang membuncah. Bapak saya sudah sakit-sakitan (tapi tetap semangat bekerja). Pernah suatu kali, di akhir tahun 2015 kemarin, ada dua minggu bapak tidak menelpon. Sedang saya, sepeser pun tidak memegang uang untuk membeli pulsa dan menelpon bapak. Sampai di satu pagi yang buta, HP saya menjerit. Saat nama bapak terlihat di layar, jenggirat, saya mengangkatnya. Pertama kali yang saya dengar dari suara bapak yang serak karena ternyata sakit adalah: Kalau bapak lama gak nelpon, Samean nelfon yo…. “Nggeh, Pak…” jawab saya sambil menekan dada saya yang memberat sehingga kerongkongan saya pun terasa tercekek, karena menahan tangis yang jangan sampai keluar. Bapak akan sedih jika tahu saya menangis. Sekali pun, bapak tidak pernah melihat saya menangis! Juga, jangan sampai bapak tahu, saya tidak menelponnya karena tidak mempunyai uang. Saya lebih suka, saya dianggap lalai kepada orangtua karena kesibukan yang padat. Jangan sampai bapak tahu. Jangan sampai!

Nah, sekarang, kamu yang sedang membaca ini, jangan sampai menyangka apalagi merasa sedih mengira saya sedang tidak punya uang. Honor penelitian saya sudah cair. Saya sedang banyak uang. Habis ini mau membeli sepatu supaya bisa masuk kampus UGM untuk sebuah tes. Doain ya…







0 komentar:

Posting Komentar