Menjadi
anak wedok yang
mandiri secara finansial di kota seperti Jogja ini, angel-angel sulit (loh! opo
bedone yo? Haha). Apalagi jikalau hanya mengandalkan honor menulis,
kenyataannya itu… seperti menunggu hujan Jogja di musim hujan saat ini. Tidak
bisa ditebak, jarang sekali, tapi kalau sekali deras ya deras banget sih hehe.
Beruntung saya biasa hidup penuh keterbatasan, bahkan semenjak kecil. Disaat
teman-teman saya diberi uang saku tiga kali sehari(uang saku sekolah, les, dan
TPA), bonus uang jajan sepulang sekolah, Alhamdulillah saya hanya sekali sehari
(membahagiakan sekali kan?? *karo nangis). Karena ingin membeli es krim
yang istiqomah lewat depan rumah sepulang sekolah, juga upaya mengimbangi
teman-teman yang mulutnya nyemimil terus saat les dan TPA, saya dituntut
pandai memenej uang saku --sekali sehari—itu. Kadang, agar uang saku saya yang
mepet abis itu bisa saya sisihkan secuil persennya, istirahat sekolah saya
pulang, untuk menggotong tempe goreng dari rumah (eksklusif banget kan masa
kecil saya? Iya… eksklusif.. seperti gerbong kereta bisnis yang hanya
segelintir orang saja yang bisa menikmatinya. Hu’um... orang-orang pilihan..).
Ya.. beruntunglah rumah saya dekat dengan sekolah. Nah, pendeknya, saya ingin
mengatakan beruntung sekali kondisi hidup saya mampu membentuk saya menjadi
perempuan yang pandai memenej keterbatasan. Halah lebai!! Wong mayoritas
teman-teman lelaki saya di Jogja ini ya banyak yang seperti itu, terutama
teman-teman pergerakan. Malah lebih parah: sehari makan di Burjo, sebulan
kedepannya puasa!
Saat
di Pesantren, saya terdidik menjalani kehidupan dengan tirakat. Bukan, bukan
karena saya tidak mendapat kiriman dari bapak-ibuk. Masa saya di Pesantren,
ekonomi keluarga malah sedang maju-majunya. Tapi saya sudah tidak terbiasa
hidup mewah, keadaan ini ditunjang oleh figur guru-guru saya di pesantren
--yang saya kagumi-- adalah sosok-sosok sederhana. Lakunya istimewa, sampai ada
yang menurut saya sudah mencapai makom ma’rifat. Apalagi Almarhum Ust. Isma’il
Muadz, wah rasanya saya mencinta beliau sampai tekewer-kewer. Sedikit saya
polah, secara batiniah beliau memberi signal, dan saya akan disindir
habis-habisan lewat isyarah-isyarahnya di Kelas. Allaahummaghfirlahu. Ampun
sedih karena saya sekarang ndablek nggeh, Ustadz… insyaallah saya akan
kembali pulang…
Saya
tidak pernah menelfon bapak untuk mengatakan “uang saya habis”. Bapak paham
sekali watak saya yang ini, sehingga beliau akan gelisah kalau lama tidak
menengok saya ke Pesantren. Berkali-kali bapak mengingatkan supaya saya
menelpon ke rumah jikalau uang sudah mau habis. Tentu saja saya mengiyakan
dengan halus dan santun, dan (tentu saja juga) saya tetap tidak pernah
menelpon. Sampai saat saya berpindah hidup di Jogja, bapak lebih sering
menelpon. Mula-mula setiap hari, lama-lama seminggu lima kali, dan minimal
seminggu dua sampai tiga kali. Saya memang anak tak tahu diri soal
telpon-menelpon. Jarang sekali saya menelpon rumah. Tapi, kalau lama bapak
tidak menelpon, saya akan segera menelpon, karena kekhawatiran yang membuncah.
Bapak saya sudah sakit-sakitan (tapi tetap semangat bekerja). Pernah suatu
kali, di akhir tahun 2015 kemarin, ada dua minggu bapak tidak menelpon. Sedang
saya, sepeser pun tidak memegang uang untuk membeli pulsa dan menelpon bapak.
Sampai di satu pagi yang buta, HP saya menjerit. Saat nama bapak terlihat di
layar, jenggirat, saya mengangkatnya. Pertama kali yang saya dengar dari suara
bapak yang serak karena ternyata sakit adalah: Kalau bapak lama gak nelpon, Samean
nelfon yo…. “Nggeh, Pak…” jawab saya sambil menekan dada saya yang
memberat sehingga kerongkongan saya pun terasa tercekek, karena menahan tangis
yang jangan sampai keluar. Bapak akan sedih jika tahu saya menangis. Sekali
pun, bapak tidak pernah melihat saya menangis! Juga, jangan sampai bapak tahu,
saya tidak menelponnya karena tidak mempunyai uang. Saya lebih suka, saya
dianggap lalai kepada orangtua karena kesibukan yang padat. Jangan sampai bapak
tahu. Jangan sampai!
Nah,
sekarang, kamu yang sedang membaca ini, jangan sampai menyangka apalagi merasa
sedih mengira saya sedang tidak punya uang. Honor penelitian saya sudah cair.
Saya sedang banyak uang. Habis ini mau membeli sepatu supaya bisa masuk kampus
UGM untuk sebuah tes. Doain ya…
0 komentar:
Posting Komentar