Senin, 16 Mei 2016

DUABELAS: BAPAK DAN PETA JAWA TIMUR


Tidak mau tidur! Itu ekspresi ngambek saya semasa kecil jikalau sampai malam PR saya belum usai. Ini biasa terjadi di dua matapelajaran: Bahasa Jawa dan Menggambar. Saya lemah sekali dalam dua bidang ini. Pada matapelajaran Bahasa Jawa, mayoritas jawaban harus merujuk pada buku Pepak Bahasa Jawa. Duh, saking lemahnya ekonomi keluarga saya, untuk membeli buku itu saja kami tak mampu. Mengandalkan kemampuan bahasa Jawa keseharian, tentu saja sangat lemah, wong orangtua saya dua-duanya adalah Madura tdotdok, Men!.

Segar sekali dalam ingatan saya, suatu malam, sambil berpayung, ibuk mengantarkan saya ke rumah Mbak Na’im. Kata orang, Mbah Na’im --yang waktu itu sudah sepuh dan masih ada sampai sekarang--adalah dalang hebat. Dengan lampu yang agak temaram, saya mendengarkan cerita mbah Na’im di bawah kakinya, dengan telinga yang lebih saya kuatkan. Kamu tahu kan, bagaimana orang sepuh kalau ngendiko. Model belajarnya seperti ini: ibu dengan suara dilantangkan—dengan maksud tujuan mbah Na’im bisa mireng—menjelaskan kalau saya sedang ada PR wewayangan. Disuruhnya saya membaca soal satu per satu, lalu mbah Na’im akan menjawabnya panjang dengan nggeremeng. Nah, di sinilah anak SD seperti saya sudah dituntut pandai menyimpulkan jawaban dari cerita yang panjangnya na’udzubillah. Maklum, Dalang.

Cerita yang lain: Suatu malam, bapak mengaku kaget mendapati saya membukakan pintu untuknya, bukan malah ibuk sebagaimana biasa. Sementara ibuk, sudah tidur semenjak tadi, karena kedua adik lelaki saya merengek terus minta dikeloni. Mestinya, anak perempuannya ini sudah tidur tiga jam yang lalu: jam 20.00. Tanpa bertanya kenapa, sebenarnya bapak sudah tahu karena buku gambar, pensil, dan Atlas saya berceceran di atas meja. Saya sudah mau mewek, saat bapak bertanya kok belum tidur? Tanpa melepas jaket dan topi kerjanya, dengan sabar bapak langsung memeriksa buku gambar saya yang penuh oret-oretan. “ngGambar iki?” tanya bapak sambil menunjuk peta Jawa Timur. Saya mengangguk dengan masih mewek dan ngantuk berat. Seketika bapak melepas topinya, meraih pensil, memandang-mandang peta, lalu mulai mencorat-coret. Meski hati saya agak lega, terbersit kesanksian kepada bapak, karena beliau pernah bercerita, SD saja cuma sampai kelas dua. Tidak ada pengalaman menggambar dalam sejarah kehidupannya. Satu jam, saya mendekat. Melihat hasil gambaran bapak. Lumayan, batin saya. Tanpa menoleh ke arah saya, bapak, yang seharian capek bekerja, sangat tekun menggambar peta Jawa Timur di atas buku gambar saya. Semalaman saya dan bapak duduk bersampingan: Bapak menggambar, saya terkantuk-kantuk. “Wes, turu ae ndek kamar,” kata bapak, saya menolak, sambil merem-merem.

Pagi: Saya terkejut ingin menangis melihat bapak tidur dan ngorok keras. “Mesti gambarnya belum selesai!” jerit saya dalam hati, nesu. Saya melompat ke arah meja, dan saya temui, di atas buku gambar saya, peta Jawa Timur cantik sekali! 

Pandangan saya berpindah ke wajah bapak yang sedang terlelap, diiringi orkestra dari tenggorokannya. Bapak mengorok panjang dan keras. Sayang, dulu, saya belum tahu caranya, meski sekadar mengatakan, “Terimakasih, Bapak!”


0 komentar:

Posting Komentar