Tidak
mau tidur! Itu ekspresi ngambek saya semasa kecil jikalau sampai malam PR saya
belum usai. Ini biasa terjadi di dua matapelajaran: Bahasa Jawa dan Menggambar.
Saya lemah sekali dalam dua bidang ini. Pada matapelajaran Bahasa Jawa, mayoritas
jawaban harus merujuk pada buku Pepak Bahasa Jawa. Duh, saking lemahnya ekonomi
keluarga saya, untuk membeli buku itu saja kami tak mampu. Mengandalkan
kemampuan bahasa Jawa keseharian, tentu saja sangat lemah, wong orangtua saya
dua-duanya adalah Madura tdotdok, Men!.
Segar
sekali dalam ingatan saya, suatu malam, sambil berpayung, ibuk mengantarkan
saya ke rumah Mbak Na’im. Kata orang, Mbah Na’im --yang waktu itu sudah sepuh
dan masih ada sampai sekarang--adalah dalang hebat. Dengan lampu yang agak temaram,
saya mendengarkan cerita mbah Na’im di bawah kakinya, dengan telinga yang lebih
saya kuatkan. Kamu tahu kan, bagaimana orang sepuh kalau ngendiko. Model
belajarnya seperti ini: ibu dengan suara dilantangkan—dengan maksud tujuan mbah
Na’im bisa mireng—menjelaskan kalau saya sedang ada PR wewayangan.
Disuruhnya saya membaca soal satu per satu, lalu mbah Na’im akan menjawabnya
panjang dengan nggeremeng. Nah, di sinilah anak SD seperti saya sudah
dituntut pandai menyimpulkan jawaban dari cerita yang panjangnya na’udzubillah.
Maklum, Dalang.
Cerita
yang lain: Suatu malam, bapak mengaku kaget mendapati saya membukakan pintu
untuknya, bukan malah ibuk sebagaimana biasa. Sementara ibuk, sudah tidur semenjak
tadi, karena kedua adik lelaki saya merengek terus minta dikeloni.
Mestinya, anak perempuannya ini sudah tidur tiga jam yang lalu: jam 20.00.
Tanpa bertanya kenapa, sebenarnya bapak sudah tahu karena buku gambar, pensil,
dan Atlas saya berceceran di atas meja. Saya sudah mau mewek, saat bapak
bertanya kok belum tidur? Tanpa melepas jaket dan topi kerjanya, dengan sabar
bapak langsung memeriksa buku gambar saya yang penuh oret-oretan. “ngGambar
iki?” tanya bapak sambil menunjuk peta Jawa Timur. Saya mengangguk dengan
masih mewek dan ngantuk berat. Seketika bapak melepas topinya, meraih pensil,
memandang-mandang peta, lalu mulai mencorat-coret. Meski hati saya agak lega,
terbersit kesanksian kepada bapak, karena beliau pernah bercerita, SD saja cuma
sampai kelas dua. Tidak ada pengalaman menggambar dalam sejarah kehidupannya.
Satu jam, saya mendekat. Melihat hasil gambaran bapak. Lumayan, batin saya.
Tanpa menoleh ke arah saya, bapak, yang seharian capek bekerja, sangat tekun
menggambar peta Jawa Timur di atas buku gambar saya. Semalaman saya dan bapak
duduk bersampingan: Bapak menggambar, saya terkantuk-kantuk. “Wes, turu ae
ndek kamar,” kata bapak, saya menolak, sambil merem-merem.
Pagi:
Saya terkejut ingin menangis melihat bapak tidur dan ngorok keras. “Mesti
gambarnya belum selesai!” jerit saya dalam hati, nesu. Saya melompat ke
arah meja, dan saya temui, di atas buku gambar saya, peta Jawa Timur cantik
sekali!
Pandangan saya berpindah ke wajah bapak yang sedang terlelap, diiringi orkestra dari tenggorokannya. Bapak mengorok panjang dan keras. Sayang, dulu, saya belum tahu caranya, meski sekadar mengatakan, “Terimakasih, Bapak!”
0 komentar:
Posting Komentar