Semasa
kecil, saya terbilang anak yang rajin. Rajin membantu ibuk di rumah, rajin dan
bertanggungjawab pada sekolah, juga kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Bangun
tidur,--sebelum beranjak mengambil wudlu, sholat jama’ah, dan mengaji Iqro’ di
depan bapak dengan metode klasik ala-ala Madura--saya rajin menata
bantal-guling, melipat selimut, dan merapikan tempat tidur terlebih dahulu.
Sepulang sekolah, saya tidak membolehkan diri saya sendiri sebelum usai
mengerjakan PR. Les dan TPA adalah kegiatan rutin di luar sekolah. Waktu
bermain kadang terpending karena ada latihan menari. Jam delapan malam sudah
harus tidur. Pendeknya, kehidupan masa kecil saya tertib dan disiplin semenjak
mulai bangun tidur sampai hendak tidur lagi.
Barangkali
karena itu, saat masa liburan datang, dan bapak-ibuk mengajak berlibur ke
Madura, riang benar hati saya. Jiwa saya merasa bebas. Di Madura, saya akan
bermain dengan keponakan ibuk yang rata-rata lelaki. Mulai dari menjajagi
bentangan sawah dengan menangkapi berbagai jenis binatangnya, memanjat segala
macam pepohonan dan tidak akan turun sampai angin besar datang menghembas kami
yang menempel dan berpegangan erat pada cabang ujung pohon. Saat ujung pohon
bergoyang keras karena hempasan angin sawah yang kuat hingga seakan-akan ujung
pohon akan putus dan membawa kami besertanya, berteriaklah kami keras-keras
lalu tertawa lepas bersama-sama. Kami akan mengulanginya berkali-kali sampai
puas. Haha. Saya juga ikut pergi ke sungai, mandi di bawah air terjun yang
masih deras (sekarang sudah tidak deras), menjaring ikan, berenang, dan kadang
juga berkelahi dengan lelaki. Saya tidak pernah menangis meskipun kalah
berkelahi. Bahkan pernah, lelaki lawan saya berkelahi menangis dan mengadukan
pada kakak lelakinya. Entahlah, oon sekali saya dulu, saya merasa tidak gentar,
bahkan sudah siap menghadapi kakaknya itu. wkwkwk
Suatu
kali, di Malang, saat saya pulang dari bermain sambil menangis, dan tentunya
ingin dimanja, ibuk malah menyengaja tidak menggubris, dan bapak menunjukkan
roman tidak sukanya menyambut kedatangan saya pulang bermain dalam keadaan
menangis. Dengan tegas bapak mengatakan: Anaknya orang Madura itu tidak boleh gembeng.
Kenapa menangis? Kalau kamu salah ya harus diterima dengan legowo dan
minta ma’af, tapi kalau kamu tidak salah, pantanglah menangis. Jelaskan kalau
kamu tidak salah. Anaknya orang Madura kok gembeng!.
Kalimat
bapak yang terakhir mendengung-dengung di kepala. Saya yang sedang sesenggukan
menangis seketika bangkit, melewati ibuk yang sedang repot, melintasi bapak
yang semenjak tadi berdiri di belakang saya yang menangis, berlari menuju
lapangan, tempat di mana tadi saya bermain lompat tali. Saya datangi teman saya
yang menjadi sabab saya menangis. Saya ajak mengobrol versi anak
kecil(haha.lucu kalau diingat), dengan sisa uraian air mata yang sudah saya
usap dengan kerah baju, haha. Namun teman saya sepertinya tidak mengerti apa
yang saya jelaskan, ya maklum, penjelasan anak kecil dengan sisa kedongkolan di
hatinya. Wkwkwk. Tapi kami masih cekcok, lalu terjadilah suatu hal yang
konfrontatif dari saya. Saya, anak perempuan yang dididik solihah yang anti
berkata kotor di tengah-tengah ke hidupan Arek Ngalam yang senantiasa
misuh-misuh. Yup, betul, untuk pertama kali dan terakhir kalinya (sebelum kenal
Jogja tentunya hehe), saya meneriakkan kata suci khas Arek Ngalam itu di muka
teman kecil saya yang sedang menjadi rival. Kekekek! Sungguh ini sejarah.
Rupanya
momen ini telah membentuk kedalaman saya. Sangat bermanfa’at saat saya,
perempuan mungil bertubuh imut-imut ini didaulat menjadi Keamanan Pesantren.
Kamu, iya.. kamu yang pernah nyantri, tau dong betapa nggilaninya
diamanahi Divisi satu ini. Setiap langkah, seolah tiada benarnya dalam
pandangan masyarakat santri, pengurus, terkadang juga pengasuh. Eng ing
eng…hehehe. Saya memandang hal itu sangat wajar, dan memang harus! Jika tidak
begitu, para polisi pesantren itu akan lena. Dan saya, telah siap dengan
situasi itu. Tidak sebagaimana umumnya teman-teman keamanan yang pasti dan
bahkan ada yg terbilang sering menangis (wah… membuka aib keamanan.wkwk biar
loe loe pade jadi tahu) saya tidak pernah terganggu apalagi menangis. Alih-alih
berlama-lama dalam situasi itu, saya akan cepat mendeteksi permasalahannya,
lalu mendatangi atau memanggil orangnya, dan membicarakannya dengan baik-baik.
Yah, karena kata bapak, Halimah tidak boleh menangis!
0 komentar:
Posting Komentar