Senin, 16 Mei 2016

SEBELAS: HALIMAH TIDAK BOLEH MENANGIS


Semasa kecil, saya terbilang anak yang rajin. Rajin membantu ibuk di rumah, rajin dan bertanggungjawab pada sekolah, juga kegiatan-kegiatan di luar sekolah. Bangun tidur,--sebelum beranjak mengambil wudlu, sholat jama’ah, dan mengaji Iqro’ di depan bapak dengan metode klasik ala-ala Madura--saya rajin menata bantal-guling, melipat selimut, dan merapikan tempat tidur terlebih dahulu. Sepulang sekolah, saya tidak membolehkan diri saya sendiri sebelum usai mengerjakan PR. Les dan TPA adalah kegiatan rutin di luar sekolah. Waktu bermain kadang terpending karena ada latihan menari. Jam delapan malam sudah harus tidur. Pendeknya, kehidupan masa kecil saya tertib dan disiplin semenjak mulai bangun tidur sampai hendak tidur lagi.

Barangkali karena itu, saat masa liburan datang, dan bapak-ibuk mengajak berlibur ke Madura, riang benar hati saya. Jiwa saya merasa bebas. Di Madura, saya akan bermain dengan keponakan ibuk yang rata-rata lelaki. Mulai dari menjajagi bentangan sawah dengan menangkapi berbagai jenis binatangnya, memanjat segala macam pepohonan dan tidak akan turun sampai angin besar datang menghembas kami yang menempel dan berpegangan erat pada cabang ujung pohon. Saat ujung pohon bergoyang keras karena hempasan angin sawah yang kuat hingga seakan-akan ujung pohon akan putus dan membawa kami besertanya, berteriaklah kami keras-keras lalu tertawa lepas bersama-sama. Kami akan mengulanginya berkali-kali sampai puas. Haha. Saya juga ikut pergi ke sungai, mandi di bawah air terjun yang masih deras (sekarang sudah tidak deras), menjaring ikan, berenang, dan kadang juga berkelahi dengan lelaki. Saya tidak pernah menangis meskipun kalah berkelahi. Bahkan pernah, lelaki lawan saya berkelahi menangis dan mengadukan pada kakak lelakinya. Entahlah, oon sekali saya dulu, saya merasa tidak gentar, bahkan sudah siap menghadapi kakaknya itu. wkwkwk

Suatu kali, di Malang, saat saya pulang dari bermain sambil menangis, dan tentunya ingin dimanja, ibuk malah menyengaja tidak menggubris, dan bapak menunjukkan roman tidak sukanya menyambut kedatangan saya pulang bermain dalam keadaan menangis. Dengan tegas bapak mengatakan: Anaknya orang Madura itu tidak boleh gembeng. Kenapa menangis? Kalau kamu salah ya harus diterima dengan legowo dan minta ma’af, tapi kalau kamu tidak salah, pantanglah menangis. Jelaskan kalau kamu tidak salah. Anaknya orang Madura kok gembeng!.

Kalimat bapak yang terakhir mendengung-dengung di kepala. Saya yang sedang sesenggukan menangis seketika bangkit, melewati ibuk yang sedang repot, melintasi bapak yang semenjak tadi berdiri di belakang saya yang menangis, berlari menuju lapangan, tempat di mana tadi saya bermain lompat tali. Saya datangi teman saya yang menjadi sabab saya menangis. Saya ajak mengobrol versi anak kecil(haha.lucu kalau diingat), dengan sisa uraian air mata yang sudah saya usap dengan kerah baju, haha. Namun teman saya sepertinya tidak mengerti apa yang saya jelaskan, ya maklum, penjelasan anak kecil dengan sisa kedongkolan di hatinya. Wkwkwk. Tapi kami masih cekcok, lalu terjadilah suatu hal yang konfrontatif dari saya. Saya, anak perempuan yang dididik solihah yang anti berkata kotor di tengah-tengah ke hidupan Arek Ngalam yang senantiasa misuh-misuh. Yup, betul, untuk pertama kali dan terakhir kalinya (sebelum kenal Jogja tentunya hehe), saya meneriakkan kata suci khas Arek Ngalam itu di muka teman kecil saya yang sedang menjadi rival. Kekekek! Sungguh ini sejarah.

Rupanya momen ini telah membentuk kedalaman saya. Sangat bermanfa’at saat saya, perempuan mungil bertubuh imut-imut ini didaulat menjadi Keamanan Pesantren. Kamu, iya.. kamu yang pernah nyantri, tau dong betapa nggilaninya diamanahi Divisi satu ini. Setiap langkah, seolah tiada benarnya dalam pandangan masyarakat santri, pengurus, terkadang juga pengasuh. Eng ing eng…hehehe. Saya memandang hal itu sangat wajar, dan memang harus! Jika tidak begitu, para polisi pesantren itu akan lena. Dan saya, telah siap dengan situasi itu. Tidak sebagaimana umumnya teman-teman keamanan yang pasti dan bahkan ada yg terbilang sering menangis (wah… membuka aib keamanan.wkwk biar loe loe pade jadi tahu) saya tidak pernah terganggu apalagi menangis. Alih-alih berlama-lama dalam situasi itu, saya akan cepat mendeteksi permasalahannya, lalu mendatangi atau memanggil orangnya, dan membicarakannya dengan baik-baik. Yah, karena kata bapak, Halimah tidak boleh menangis!





0 komentar:

Posting Komentar