Tahun
2012 kalau tidak salah ingat, saya mengalami kecelakaan tunggal. Kecelakaan
paling tidak kece di abad ini. Saya, dan motor matic yang saya kendarai,
menabrak pagar Kampus APMD yang pas berada di belakang selter trans, dimana
saya sering mengambil start dari sana jikalau ada jadual ke Matapena.
Kecelakaan
yang membuat tulang kaki kanan saya patah itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit
terdekat, Happy Land, oleh seorang bapak becak yang subuh itu sudah siap
mencari nafkah untuk keluarganya. Karena
saya orangnya gaul dan banyak teman, Happy Land hari itu penuh. Haha. Saya
dengar dua orang suster saling nggeremeng, “ Siapa sih sebenernya mbak
ini, kok dari tadi penuh terus penjenguknya. Ngalah-ngalahi pejabat saja.”
Hahaha. Sorenya, saya dirujuk ke Rumah Sakit Koestati Solo oleh keluarga yang
memang berdomisili di Solo, untuk menjalani operasi.
Masuk
ruang UGD, saya sudah disambut rentetan guyonan atau anekdot oleh Tuhan. Ah,
rupanya Dia cemburu karena selama lepas dari Pesantren, saya terlalu sibuk
dengan Jogja dan segala aktifitasnya. Banyak sekali rentetan anekdot, bahkan
sampai saya rampung dioperasi. Nah, lebih lengkapnya, akan saya ceritakan di
Blog, dan kali ini khusus saya ceritakan anekdot bapak di ruang operasi.
Ceritanya
begini:
Pagi,
sebelum jam tujuh, tubuh saya yang sudah kesakitan semenjak kemarin paginya,
telah siap dengan kostum operasi. Dari kamar opname, bersama dua petuga RS,
keluarga, ibuk, dan bapak, tubuh saya yang tergolek lemas di atas ranjang
dorong dipindah ke Ruang Operasi. Saya merasai benar, tangan bapak memegangi
ranjang saya dengan kuat saat saya dipindah, seperti menghantar anak manusia
yang sudah siap bertemu ajal. Haha. Saya juga mendengar ibuk ndemimil membaca
sholawat. Entah mengapa, di momen konflik, bapak akan menjadi orang paling kuat
sementara ibuk menjadi orang paling lemah yang hanya bisa menangis. Sebaliknya,
di moment klimaks, ibuk akan menjelma sosok yang tegar, kuat, dan sekaligus
kokoh, sementara bapak, tiba-tiba menjadi orang yang paling berputus asa.
Seperti sehari sebelum saya dioperasi, bapak menasihati ibuk agar tidak
terus-terusan menangis, ibuk malah menjawab dengan sewot, “Jangan bilang gitu,
kamu tadi juga nangis. Aku lihat!” seketika bapak diam, berhenti menasihati,
dan saya meringis, terbahak sambil menahan nyeri….
Sudah
sampai di depan ruang operasi, diumumkan kalau keluarga hanya bisa menghantar
sampai di sini. Saya sempat melihat, satu-dua keluarga yang lain melepas
ranjang masing-masing sambil sesenggukan menangis. Giliran ranjang saya akan
didorong oleh petugas, tidak bisa, berat dan tersendat. Ternyata tangan bapak
saya masih memegangi kuat. Petugas menegor. Bapak meminta untuk diperbolehkan
mengantar sampai dalam. Petugas menjawab tidak boleh. Bapak melakukan lobi-lobi.
Tetap tidak boleh. Bapak menghiba, dengan alasan-alasan yang tak terbantahkan,
apalagi dua petugas itu masih muda, yang akan merasa dalam posisi anak
mendengar alasan-alasan bapak. Hati saya ngekek-ngekek, sambil menahan nyeri
tak tertahan: Orang Madura dilawan!Bapak berhasil masuk.
Ternyata
oh ternyata, bukan ruang operasi yang saya temui, melainkan kamar antrian
operasi dimana para pesakitan lain telah berjejer bak ikan pindang di Pasar
Pagi. Tergeletak lemah tanpa daya. Satu-satunya hal yang paling saya
khawatirkan saat itu adalah perasaan bapak. Untuk kali ini pun, tidak mungkin
bapak rela meninggalkan anaknya ini sendirian, berjejeran seperti pasien
lainnya. Dan insting saya benar. Lagi, bapak melakukan kompromi dengan petugas.
Dan untuk kesekian kalinya, dua petugas lelaki muda itu kalah telak. wkwkwk
Lima
menit, sepuluh menit, bapak masih menunggui saya di bawah kaki, sambil sesekali
bilang. “Halimah, bapak masih di sini.” Kali ini saya menangis, bukan karena
tak kuat nyeri seperti kemarin, tapi sesak di ulu hati menanggung kasih-sayang
bapak yang meluap-luap. “Loro ta?” tanya bapak. Saya hanya mengangguk,
sedang air mata sudah meleleh-leleh.
Ruangan
hening. Semua pasien hanya diam. Mungkin sibuk dengan rasa sakit masing-masing.
Seorang
perawat perempuan datang, mendekati bapak dan mengatakan sesuatu. Kali ini
bapak hanya mengangguk, lalu menatapku, menyentuh kaki kiriku dan berlalu ke
balik gorden hijau. Dan hilang. Perawat berlalu. Ah, kini aku telah benar-benar
sendiri sebagaimana pasien yang lain, batinku diselimuti keheningan yang
mencekam. Suara hak sepatu perawat yang bertalu dengan lantai RS telah
berhenti. Saat itu, tiba-tiba gorden hijau tersingkap, dan wajah bapak muncul
kembali. Saya tersenyum, tapi hati saya memekik memanggil: BAPAK. Sambil
berfikir, kalau ini lucu sekali hahaha!
Begitulah,
setiap perawat datang, bapak akan tenggelam di balik gorden. Selama mengantri,
hati saya merasa tenang, karena di balik gorden hijau itu, ada bapak menunggui.
Di sini terkadang saya sedih dan berat untuk bersuami. Khawatir lelaki itu
melukai hati bapak. Sedzarroh pun, saya tak rela. Dan barangkali akan membenci
suamiku. Oh!!
0 komentar:
Posting Komentar