Senin, 16 Mei 2016

SEPULUH: BAPAK DAN ANEKDOT DI RUANG OPERASI


Tahun 2012 kalau tidak salah ingat, saya mengalami kecelakaan tunggal. Kecelakaan paling tidak kece di abad ini. Saya, dan motor matic yang saya kendarai, menabrak pagar Kampus APMD yang pas berada di belakang selter trans, dimana saya sering mengambil start dari sana jikalau ada jadual ke Matapena.

Kecelakaan yang membuat tulang kaki kanan saya patah itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit terdekat, Happy Land, oleh seorang bapak becak yang subuh itu sudah siap mencari nafkah untuk keluarganya.  Karena saya orangnya gaul dan banyak teman, Happy Land hari itu penuh. Haha. Saya dengar dua orang suster saling nggeremeng, “ Siapa sih sebenernya mbak ini, kok dari tadi penuh terus penjenguknya. Ngalah-ngalahi pejabat saja.” Hahaha. Sorenya, saya dirujuk ke Rumah Sakit Koestati Solo oleh keluarga yang memang berdomisili di Solo, untuk menjalani operasi.

Masuk ruang UGD, saya sudah disambut rentetan guyonan atau anekdot oleh Tuhan. Ah, rupanya Dia cemburu karena selama lepas dari Pesantren, saya terlalu sibuk dengan Jogja dan segala aktifitasnya. Banyak sekali rentetan anekdot, bahkan sampai saya rampung dioperasi. Nah, lebih lengkapnya, akan saya ceritakan di Blog, dan kali ini khusus saya ceritakan anekdot bapak di ruang operasi.
Ceritanya begini:

Pagi, sebelum jam tujuh, tubuh saya yang sudah kesakitan semenjak kemarin paginya, telah siap dengan kostum operasi. Dari kamar opname, bersama dua petuga RS, keluarga, ibuk, dan bapak, tubuh saya yang tergolek lemas di atas ranjang dorong dipindah ke Ruang Operasi. Saya merasai benar, tangan bapak memegangi ranjang saya dengan kuat saat saya dipindah, seperti menghantar anak manusia yang sudah siap bertemu ajal. Haha. Saya juga mendengar ibuk ndemimil membaca sholawat. Entah mengapa, di momen konflik, bapak akan menjadi orang paling kuat sementara ibuk menjadi orang paling lemah yang hanya bisa menangis. Sebaliknya, di moment klimaks, ibuk akan menjelma sosok yang tegar, kuat, dan sekaligus kokoh, sementara bapak, tiba-tiba menjadi orang yang paling berputus asa. Seperti sehari sebelum saya dioperasi, bapak menasihati ibuk agar tidak terus-terusan menangis, ibuk malah menjawab dengan sewot, “Jangan bilang gitu, kamu tadi juga nangis. Aku lihat!” seketika bapak diam, berhenti menasihati, dan saya meringis, terbahak sambil menahan nyeri….

Sudah sampai di depan ruang operasi, diumumkan kalau keluarga hanya bisa menghantar sampai di sini. Saya sempat melihat, satu-dua keluarga yang lain melepas ranjang masing-masing sambil sesenggukan menangis. Giliran ranjang saya akan didorong oleh petugas, tidak bisa, berat dan tersendat. Ternyata tangan bapak saya masih memegangi kuat. Petugas menegor. Bapak meminta untuk diperbolehkan mengantar sampai dalam. Petugas menjawab tidak boleh. Bapak melakukan lobi-lobi. Tetap tidak boleh. Bapak menghiba, dengan alasan-alasan yang tak terbantahkan, apalagi dua petugas itu masih muda, yang akan merasa dalam posisi anak mendengar alasan-alasan bapak. Hati saya ngekek-ngekek, sambil menahan nyeri tak tertahan: Orang Madura dilawan!Bapak berhasil masuk.

Ternyata oh ternyata, bukan ruang operasi yang saya temui, melainkan kamar antrian operasi dimana para pesakitan lain telah berjejer bak ikan pindang di Pasar Pagi. Tergeletak lemah tanpa daya. Satu-satunya hal yang paling saya khawatirkan saat itu adalah perasaan bapak. Untuk kali ini pun, tidak mungkin bapak rela meninggalkan anaknya ini sendirian, berjejeran seperti pasien lainnya. Dan insting saya benar. Lagi, bapak melakukan kompromi dengan petugas. Dan untuk kesekian kalinya, dua petugas lelaki muda itu kalah telak. wkwkwk

Lima menit, sepuluh menit, bapak masih menunggui saya di bawah kaki, sambil sesekali bilang. “Halimah, bapak masih di sini.” Kali ini saya menangis, bukan karena tak kuat nyeri seperti kemarin, tapi sesak di ulu hati menanggung kasih-sayang bapak yang meluap-luap. “Loro ta?” tanya bapak. Saya hanya mengangguk, sedang air mata sudah meleleh-leleh.

Ruangan hening. Semua pasien hanya diam. Mungkin sibuk dengan rasa sakit masing-masing.
Seorang perawat perempuan datang, mendekati bapak dan mengatakan sesuatu. Kali ini bapak hanya mengangguk, lalu menatapku, menyentuh kaki kiriku dan berlalu ke balik gorden hijau. Dan hilang. Perawat berlalu. Ah, kini aku telah benar-benar sendiri sebagaimana pasien yang lain, batinku diselimuti keheningan yang mencekam. Suara hak sepatu perawat yang bertalu dengan lantai RS telah berhenti. Saat itu, tiba-tiba gorden hijau tersingkap, dan wajah bapak muncul kembali. Saya tersenyum, tapi hati saya memekik memanggil: BAPAK. Sambil berfikir, kalau ini lucu sekali hahaha!


Begitulah, setiap perawat datang, bapak akan tenggelam di balik gorden. Selama mengantri, hati saya merasa tenang, karena di balik gorden hijau itu, ada bapak menunggui. Di sini terkadang saya sedih dan berat untuk bersuami. Khawatir lelaki itu melukai hati bapak. Sedzarroh pun, saya tak rela. Dan barangkali akan membenci suamiku. Oh!!

0 komentar:

Posting Komentar