“Apa
yang akan kamu kerjakan setelah menikah nanti?” tanya seorang teman perempuan
yang sedang menikmati secangkir coklat panas malam itu di salah-satu sudut kafe
Yogyakarta. Tentu saja saya terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba dan
tidak saya sangka. Alih-alih menjawab, saya mengangkat kedua alis dan
mengembalikan pertanyaan padanya, “menurutmu?” Lalu obrolan kami mengalir malam
itu. Teman saya menebak bahwa setelah menikah pun, saya akan jarang berada di
rumah. Dalam pandangannya, saya akan aktif di luar, menjadi DPR atau
jabatan-jabatan bergengsi lainnya. “Yah, minimal, aktif di LSM perempuanlah,” lanjutnya
sambil meletakkan cangkir putihnya di meja. Saya terbahak mendengar prediksinya
atas kehidupan dan aktifitas saya setelah menikah.
Saya
tahu mengapa arah pandangan teman perempuan saya seperti itu. Dia memang tahu
betul, kehidupan saya saat menjadi mahasiswa di tahun-tahun pertama. Saya
adalah perempuan yang sangat aktif baik kegiatan intra maupun ekstra kampus.
Mulai dari kegiatan UKM mahasiswa, organisasi ekstra, komunitas perempuan,
sampai bergabung dengan salah-satu Komunitas kepenulisan dan pelatihan Yogyakarta.
Namun, dia tidak tahu betul apa sesungguhnya yang paling membuat saya senang,
membuat saya mendekati hidup dan menikmatinya. Teman saya tidak tahu bahwa bagi
saya, berlama-lama di rumah adalah hal paling merdeka. Dan apa yang lebih
berarti yang telah disuguhkan oleh kehidupan selain kemerdekaan?
Bekerja
maupun beraktifitas di rumah bagi saya adalah lapangan kerja yang sesungguhnya.
Bekerja di rumah dalam pandangan saya, mayoritas adalah pekerjaan-pekerjaan
tidak di bawah sistem. Dengan bekerja di rumah, saya bisa berperan ganda. Saya
adalah pemilik saham sekaligus saya adalah direktur, konseptor, manajer, dan
praktisi. Keistimewan Bekerja di rumah bukan itu saja, saya memiliki
kemerdekaan menentukan waktu, kapan waktu saya bekerja dan kapan waktu saya
beristirahat. Dengan begitu, alih-alih merasa tertekan, saya akan enjoy dan
menikmati apa pekerjaan saya, apa yang sedang saya lakukan.
Teman
perempuan saya belum tahu bahwa setelah menikah, saya ingin berlama-lama di
rumah. Saya ingin menulis. Ya, menulis di rumah. Saya akan memulai sukses dari
rumah saya sendiri. Sebagai orang yang merdeka di rumah sendiri, saya bisa mengatur
waktu kapan akan membaca dan kapan akan menuangkan ide besar dan unik saya
lewat tulisan. Sesekali sambil mengunjungi mawar-mawar saya di depan rumah,
atau sayur-sayuran di pekarangan rumah. Ya, selain membaca dan menulis, saya masih bisa
menyalurkan hobi yang lain seperti bercocok tanam. Mengapa tidak, bukankah saya
adalah pemegang saham, direktur, konseptor dan menejer itu sendiri? Dan yang
terpenting bukankah saya tidak bekerja di bawah sistem? Melainkan di rumah
sendiri, di surga sendiri, yang dari
sanalah kata-kata saya yang bukan apa-apa akan menjadi yang luar biasa? Saya membayangkan menulis novel yang kesekian
di teras rumah saat mengandung. Saya juga membayangkan saat di luar novel saya telah lahir dari rahim
penerbit, di rumah bayi mungil saya juga lahir dari rahim ini. Suami mana yang
tidak senang? Dan perempuan mana yang tidak merasa bangga? Akhirnya, kami
adalah keluarga yang benar-benar sukses dari rumah.
Semoga semuanya tidak sekedar angan dan mimpi, namun benar-benar terjelma nyata. Tentu saja, selain doa dan usaha, membaca buku "Sukses Bekerja Dari Rumah" merupakan di antara hal penting untuk mewujudkan impian ini.
Semoga semuanya tidak sekedar angan dan mimpi, namun benar-benar terjelma nyata. Tentu saja, selain doa dan usaha, membaca buku "Sukses Bekerja Dari Rumah" merupakan di antara hal penting untuk mewujudkan impian ini.
Mulut
teman perempuan saya agak ternganga mendengarkan rencana aktifitas saya setelah
menikah. “Beraktifitas dan bekerja di rumah memang asyik,” katanya, dan saya
terkekeh malam itu. Malam di salah-satu sudut kafe kota romantis ini.
Salam!
Yogyakarta, 08 Mei 2015
Yogyakarta, 08 Mei 2015

0 komentar:
Posting Komentar