Jumat, 08 Mei 2015

RUMAHKU, TEMPAT MELAHIRKAN NOVEL DAN BAYI MUNGILKU

                                         
“Apa yang akan kamu kerjakan setelah menikah nanti?” tanya seorang teman perempuan yang sedang menikmati secangkir coklat panas malam itu di salah-satu sudut kafe Yogyakarta. Tentu saja saya terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba dan tidak saya sangka. Alih-alih menjawab, saya mengangkat kedua alis dan mengembalikan pertanyaan padanya, “menurutmu?” Lalu obrolan kami mengalir malam itu. Teman saya menebak bahwa setelah menikah pun, saya akan jarang berada di rumah. Dalam pandangannya, saya akan aktif di luar, menjadi DPR atau jabatan-jabatan bergengsi lainnya. “Yah, minimal, aktif di LSM perempuanlah,” lanjutnya sambil meletakkan cangkir putihnya di meja. Saya terbahak mendengar prediksinya atas kehidupan dan aktifitas saya setelah menikah.

Saya tahu mengapa arah pandangan teman perempuan saya seperti itu. Dia memang tahu betul, kehidupan saya saat menjadi mahasiswa di tahun-tahun pertama. Saya adalah perempuan yang sangat aktif baik kegiatan intra maupun ekstra kampus. Mulai dari kegiatan UKM mahasiswa, organisasi ekstra, komunitas perempuan, sampai bergabung dengan salah-satu Komunitas kepenulisan dan pelatihan Yogyakarta. Namun, dia tidak tahu betul apa sesungguhnya yang paling membuat saya senang, membuat saya mendekati hidup dan menikmatinya. Teman saya tidak tahu bahwa bagi saya, berlama-lama di rumah adalah hal paling merdeka. Dan apa yang lebih berarti yang telah disuguhkan oleh kehidupan selain kemerdekaan?

Bekerja maupun beraktifitas di rumah bagi saya adalah lapangan kerja yang sesungguhnya. Bekerja di rumah dalam pandangan saya, mayoritas adalah pekerjaan-pekerjaan tidak di bawah sistem. Dengan bekerja di rumah, saya bisa berperan ganda. Saya adalah pemilik saham sekaligus saya adalah direktur, konseptor, manajer, dan praktisi. Keistimewan Bekerja di rumah bukan itu saja, saya memiliki kemerdekaan menentukan waktu, kapan waktu saya bekerja dan kapan waktu saya beristirahat. Dengan begitu, alih-alih merasa tertekan, saya akan enjoy dan menikmati apa pekerjaan saya, apa yang sedang saya lakukan.

Teman perempuan saya belum tahu bahwa setelah menikah, saya ingin berlama-lama di rumah. Saya ingin menulis. Ya, menulis di rumah. Saya akan memulai sukses dari rumah saya sendiri. Sebagai orang yang merdeka di rumah sendiri, saya bisa mengatur waktu kapan akan membaca dan kapan akan menuangkan ide besar dan unik saya lewat tulisan. Sesekali sambil mengunjungi mawar-mawar saya di depan rumah, atau sayur-sayuran di pekarangan rumah. Ya, selain  membaca dan menulis, saya masih bisa menyalurkan hobi yang lain seperti bercocok tanam. Mengapa tidak, bukankah saya adalah pemegang saham, direktur, konseptor dan menejer itu sendiri? Dan yang terpenting bukankah saya tidak bekerja di bawah sistem? Melainkan di rumah sendiri, di  surga sendiri, yang dari sanalah kata-kata saya yang bukan apa-apa akan menjadi yang luar biasa? Saya membayangkan menulis novel yang kesekian di teras rumah saat mengandung. Saya juga membayangkan  saat di luar novel saya telah lahir dari rahim penerbit, di rumah bayi mungil saya juga lahir dari rahim ini. Suami mana yang tidak senang? Dan perempuan mana yang tidak merasa bangga? Akhirnya, kami adalah keluarga yang benar-benar sukses dari rumah. 

Semoga semuanya tidak sekedar angan dan mimpi, namun benar-benar terjelma nyata. Tentu saja, selain doa dan usaha, membaca buku "Sukses Bekerja Dari Rumah" merupakan di antara hal penting untuk mewujudkan impian ini.
Mulut teman perempuan saya agak ternganga mendengarkan rencana aktifitas saya setelah menikah. “Beraktifitas dan bekerja di rumah memang asyik,” katanya, dan saya terkekeh malam itu. Malam di salah-satu sudut kafe kota romantis ini.

Salam!
Yogyakarta, 08 Mei 2015

0 komentar:

Posting Komentar