Minggu, 17 Mei 2015

BOLO-BOLO

Ini tentang kisah teman perempuan saya yang bersinar terang seperti bintang tapi mengalami penyakit tahunan, jomblowati. Hehe. Sebut saja namanya Alamanda. Di kampus, dia perempuan yang aktif, baik akademis maupun non akademis. Di kelas misalnya, dia selalu menghasilkan makalah-makalah yang berbobot. Ditambah cara mempresentasikannya yang komunikatif dan tepat sasaran. Saat bukan bagiannya berbicara di depan, dia tetap menjadi peserta aktif. Dia termasuk dari segelintir perempuan yang berani berdebat dengan teman lelaki sekalipun, disamping mayoritas teman-teman perempuan di kelas lebih memilih mengalah atau barangkali sudah minder duluan. Alamanda berani beradu argumen dengan siapapun asalkan argumentasinya kuat dan memiliki refrensi yang jelas.

Gambar tidak ada kaitannya dengan konteks tulisan :)
Saya termasuk yang tahu bahwa banyak teman-teman cowok di kelas menyukainya. Apalagi beberapa gelintir teman-teman cowok yang pandai dan terlihat superior di kelas. Saya akrab dengan Alamanda, sehingga saya tahu berbagai cara teman-teman laki-laki yang berusaha mendekatinya. Dari yang hanya bisa mencintai dengan diam-diam, tersenyum dan sekedar menganggukkan kepala jikalau berpapasan, mencegat di tangga untuk mengajak nonton, sampai memberi bunga di taman saat banyak orang dengan gaya pangeran-pangeran jaman dulu atau ala Romeo-an. Tapi Alamanda datar saja, mungkin sesekali menolak dengan cara terbaik dan terhalus yang dia bisa. Tapi semuanya tidak menyurutkan para deretan pemuja rahasia itu untuk merebut hatinya. Sampai di sini, saya tidak mengerti mengapa Alamanda bersikap seperti itu. Malah saya yang terkadang tergiur saat cowok berparas tampan sedang mendekatinya. Bahkan merasa menyesal sendiri saat tahu cowok yang ditolak Alamanda secara halus adalah cowok yang dalam satu semester bisa bergonta-ganti motor sampai tiga kali. Huhu Alamanda, jika aku menjadi kamu. Sudah dari semester satu aku tidak mau menyandang status apes ini. Jomblo.

Begitupula saat di luar kampus. Misalnya di organisasi ekstra kampus, Alamanda juga banyak digandrungi para cowok. Lain denngan dunia kampus, saat setiap pasangan cenderung saling mengambil jarak, di organisasi setiap pasangan seakan ingin mengatakan kepada dunia, “Halo, inilah pasanganku. Pasanganmu mana?”. Apalagi saat tugas organisasi ada di luar forum. Hampir semuanya telah duduk di jok motor bersama pasangan masing-masing. Saling menempel dan pamer kemesraan. Saya merana sekali. Tapi Alamanda, wajahnya biasa saja. Seperti tidak ada beban, keirian, atau keinginan di sana. Haduh Alamanda… kamu ini manusia apa malaikat yang tidak punya hasrat seperti itu sih. Tapi akhirnya saya diam saja di samping Alamanda, menunggu jok belakang siapa yang kosong, atau siapa yang akan mengajak kami bonceng di jok belakang. Sampai akhirnya, Hasan si ganteng iu mendekati kami dengan senyumnya yang membuatnya tambah manis dan mmbuat jantungku deg-degan. “Alamanda, ayo cepat naik,” alamakk! Hati ini hancur. Sesaat saya lupa pada Alamnda sang bintang yang jomblo ini. Hancur sudah harapan. “Minta tolong bonceng Lili ya,” jawab Alamanda sambil melenggang santai dan meloncat di jok belakang salah seorang teman perempuan. Di sinilah saya semakin sangsi kalau Alamanda adalah seorang manusia. Tapi terlepas dari semuanya, malam itu saya berhasil dibonceng malaikat tampan di atas motor gedenya.

Akhirnya imajinasi buyar byarrrr. Saya lihat kembali bahwa model cerita writing contestnya adalah komedi. Dan menuru saya, tulisan di atas gak ada komedi-komedinya. Hehe. Apa setiap penulis dikaruniai satu gaya menulis saja ya? Ah, enggak paling ya. Saya aja yang males untuk mencoba.hehe. Baiklah, akhirnya tulisan gatot ini begini saja. Setidaknya sudah olahraga otak hahaha mencoba membesar-besarkan hati. Ah.. jadi inget kangmas. Halah, apa lagi ini! Kok malah jadi meloncat gak nggenah. Bye…. Semangat hidup, Nduk… semangat… berpelukan dan berbaik-baik sangka pada kehidupan untuk masa depan cerah. Aamiin….  Aku pada-Mu, Gusti….. lop yu pull…



0 komentar:

Posting Komentar