Kamis, 23 April 2015

Mengesampingkan Ego Untuk Meruntuhkan Ego

 Tulisan ini diiukutsertakan dalam acara #peacestoryblogcontest


Cerita ini bukan cerita tentang perbedaan agama, kepercayaan, atau suku. Cerita ini hanya tentang perbedaan pendapat kecil dan sepele saja namun memiliki pengaruh besar bagi hidup saya. Ini tentang perbedaan pendapat dari mayoritas perempuan dan minoritas laki-laki di kelas saya, kelas B angkatan 2009 Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kala itu, kami masih duduk di semester dua. Sudah hampir menjadi tradisi di kampus saya mengadakan acara bersama setelah Ujian Akhir Semester. Mulai dari sekedar jalan-jalan atau ngamen bareng di Malioboro, rame-rame ke pantai, bareng-bareng muncak, mengadakan bakti sosial, dan seabrek kebersamaan lainnya. Tergantung kesepakatan bersama.

Ujian Akhir Semester telah usai, tentu saja teman-teman sekelas merasa senang sekali. Hampir semuanya merasa, bahwa ujian adalah monster yang menakutkan atau seperti obat pahit yang harus diminum tiap hari. Membosankan dan bikin malas, namun tetap harus kami minum. Begitu pula UAS mau tidak mau tetap harus kami lewati. Hingga sampai hari terakhir, dan lembar ujian terakhir berhasil kami kumpulkan di meja para penjaga ujian yang bermuka masam dan galak. Udara segar terasa begitu saja masuk dan memenuhi paru-paru. Kami merasa hidup kembali. Hore! kami sekelas bersorak. Tidak ingin membuang-buang waktu, ketua kelas langsung bergerak. Bersama saya--yang kebetulan waktu itu menjadi wakilnya--mulai mengantongi inisiatif dan usulan dari teman-teman. Rupanya teman-teman kelas sangat kreatif dan banyak yang memiliki usulan, akhirnya ketua kelas berembug dengan saya juga beberapa teman yang lain untuk meluangkan waktu dulu guna membahasnya. Baiklah, kami telah mengatur waktu untuk duduk bareng.

Di sinilah potongan peristiwa penting yang membentuk progresifitas hidup saya. Potongan peristiwa itu mampu mendongkrak cara pandang saya menjadi lebih dewasa, kemajuan pengelolaan emosi saya, dan cara penyikapan atas pendapat orang lain yang mungkin berbeda dengan pendapat, pandangan, dan paham saya.

Saya ingat betul sore itu tepatnya di Lt. 4 Fakultas, kami sekelas duduk lesehan bersama dengan raut muka ceria, penasaran ke mana nantinya kami akan pergi bersama dan apa yang akan kami lakukan secara bersama-sama. Kebersamaan memang selalu menyenangkan. Itu yang kami rasakan dan kami percaya. Ketua kelas saya, sebut saja Iyas membuka acara rembug bareng ini. Dia mempersilahkan siapa yang akan menyampaikan usulnya terlebih dulu. Sejumlah usulan telah digelontorkan ke tengah-tengah forum, yang pada akhirnya kesepakatan hampir mengacu pada satu usulan yaitu kita akan muncak ke salah-satu gunung di daerah Jawa Tengah. Sudah tergambar keasyikan demi keasyikan di benak saya. Ada perjalanan, ada malam, ada api unggun, ada kemah, mungkin sampai jagung bakar dan permainan-permainan alay dari teman-teman. Hmm… membayangkan saja saya merasa senang sekali. Dan tentu saja saya akan mengangkat tangan, memberi suara sepakat untuk usul ini. Bukankah tahun kemarin kami sudah turun Pantai, saatnya sekarang naik Gunung.hehe

Namun tiba-tiba ruang dengar saya mendengar kasak-kusuk di samping kanan dan bagian belakang. “Ada apa?” saya bertanya penasaran. Gerombolan teman-teman perempuan dari Pesantren Wahid Hasyim itu hanya senyum-senyum dan saling bertukar pandang tak enak. Kembali saya bertanya dan kembali mereka tersenyum menggantung yang membuat saya semakin penasaran. “Ada apa, kalau ada yang perlu disampaikan atau ditanyakan bilang saja mumpung belum ketuk palu dan forum dibubarkan,” usul saya pada mereka. “Mm… anu,” kata teman perempuan di samping kiri saya yang rata-rata adalah santri Krapyak. “Sebenarnya kami punya problem yang sama, Mah,” kata Nta (nama samaran) menyebut potongan belakang nama saya, “Yang perempuan ini kan mayoritas dari pesantren, dan tidak bisa keluar malam apalagi sampai menginap…” terangnya. Saya menyarankan kepada mereka untuk menyampaikannya langsung ke forum untuk kemaslahatan bersama. Namun mereka malah mendorong-dorong saya untuk membantu menyampaikan. Mula-mula saya menolak, agar teman-teman  yang bersangkutan saja yang langsung menyampaikan. Tapi mereka mengaku merasa tak enak, sungkan apabila forum pada akhirnya harus menyesuaikan jam acara dengan mereka yang memiliki keterbasan waktu dan peraturan pesantren.

Nta masih mendorong-dorong saya sambil memelas, “Pliss, Mah.. kamu yang bantu menyampaikan ya. Kamu kan yang lebih berani,” makclep rayuan Nta. Namun bukan karena rayuan itu, komposisi teman-teman perempuan dari Pesantren yang banyak dan rasa kewajiban untuk membantulah yang pada akhirnya membuat mulut saya terbuka juga.

Saya sampaikanlah hal itu ke forum. Saya juga menambahkan usulan dari Syifa, salah-satu teman perempuan yang merasa tak enak juga karena keterbatasan waktu yang dimilikinya. “Teman-teman perempuan ini juga memiliki usulan bagaimana kalau Bakti Sosial saja. Selain kita senang-senang sekaligus kita bisa membantu orang lain,” terang saya menjadi penyambung lidah. “Ya ya bagus,” suara dari mayoritas teman-teman baik perempuan maupun laki-laki. Saya pun tersenyum lega dan senang merasa berada di tengah-tengah forum yang dewasa. Mengabaikan kesenangan memuncak karena waktu yang tidak bisa dijangkau oleh semuanya dan mendapatkan ganti acara yang lebih manfa’at baik bagi kami dan orang lain.

Suasana forum berubah senyap tidak enak secara tiba-tiba saat Hamid --yang memiliki usulan ke puncak--berbicara dengan nada tinggi menyebut nama saya. Mukanya merah, dan saya tidak tahu mengapa. “Kalau Baksos, perlu ada ketuanya.” “Iya. Kalau memang dirasa perlu, mari selanjutnya kita pilih ketuanya, kita bentuk PJnya juga, bagaimana?” jawab saya dengan hati-hati dan halus barangkali dengan itu nada tinggi dan muka merahnya berangsur surut. Tapi ternyata tidak, dia terlihat semakin marah dan tidak dewasa dengan tiba-tiba “Ya sudah Ilyas, Halimah saja yang jadi ketuanya! Biar dia tahu bagaimana sulitnya ngurusin Baksos. Biar Halimah!.” Tentu saja saya terkejut, juga teman-teman yang lainnya. Sang ketua pun tampak tak bisa berkutik mendengar otoritas itu muncul dari sosok laki-laki bertubuh tinggi, besar, warna suara yang berat berwibawa, bernada tinggi, plus muka memerah dan tangan menggenggam marah. Forum pun semakin senyap tak enak.

“Bagaiman Halimah? Bersedia?” kata sang ketua terlihat sangat hati-hati. Saya bergeming sambil menatapnya dalam, ingin mengatakan kalau usulannya berdasarkan emosi saja. Lamat-lamat teman-teman lelaki yang lain terdengar membesar-besarkan hati saya sambil menganggukkkan wajahnya. Teman-teman perempuan begitu pula. Ada yang menepuk bahu saya, ada yang berbisik :pasti kami akan membantu, kamu tidak sendirian. Sampai bisikan aneh, “Mau saja. Biar kita buktikan kita yang perempuan juga bisa. Kamu bisa. Sekalian biar gak angkuh dan sombong itu orang.” Saya pandangi mata-mata penuh percaya kepada saya. Lalu sang ketua menganggukkan kepala mantap sambil berkata lirih sekali sampai hampir tidak terdengar, “Saya bantu.” “Baik, saya bersedia,” tiga kata yang meluncur mantap dari mulut saya disambut rona forum yang lega, berubah tak sesenyap tadi. Udara pun serasa lebih longgar.   

Hamid beserta beberapa sahabat dekatnya bangkit dari duduknya dengan marah, kasar. Saat di depan fakultas pun dia melewati saya dengan kasar dan dengan sengaja menendang sesuatu lalu berteriak memanggil salah seorang nama temannya. Teman-teman yang duduk-duduk dan berdiri di depan fakultas bersama saya merasa tak nyaman dengan sikapnya. Seseorang menepuk bahu saya, dan diam-diam sikap Hamid yang seperti itu membuat saya terpacu agar Bakti Sosial kali ini tidak hanya sekedar berhasil. Di samping itu saya juga tertantang meruntuhkan ego yang sedang menjangkiti teman saya itu dengan meminta bantuan besar kepadanya dan lebih sering menghubunginya daripada teman-teman yang lain. Walhasil proses persiapan Baksos pun berjalan lancar, saya bisa membuktikan bisa berjalan beriringan lagi dengannya, bahkan saat acara Baksos itu usai dengan sangat memuaskan, saya sangat ingat bahwa Hamidlah yang pertama kali menjabat tangan saya dan kata-katanya yang masuk ke ruang dengar saya, “Selamat, Halimah!”

Yogyakarta, 23 April 2015

4 komentar:

  1. Kadang diperlukan ketenangan dalam beriskap dan mensikapi suatu persoalan.
    Tulisan yang bagus

    BalasHapus
  2. Terimakasih atas kunjungan dan masukannya Uud...

    BalasHapus
  3. Bahasanya ringan dan mudah dipahami. Serta ada pelajaran yg dapat kita ambil.

    BalasHapus
  4. Terkadang disini butuh yang namanya seni beraspirasi... #MemaafkanItuKeren
    Simpel sekaligus lugas... good job!!!!

    BalasHapus