Senin, 16 Maret 2015

VIRUS SHORCUT & KAREN AMSTRONG

“Saya tersengat oleh cara mereka mengklaim monopoli kebenaran dan menghukumi orang lain yang tidak mendukung teologi mereka. 47

…Tapi mungkin ritus itu bisa bicara kepadanya pada tingkat yang lebih tinggi.351
Sally menulis diarinya sejak berusia delapan tahun , dan saya serung terkagum-kagum pada jilid-jilid tebal—satu jilid untuk setahun—yang berjejer di raknya.

…Dia tampil sebagai sosok yang lebih manusia ketimbang Yesus maupun Budha.502

“Teologi adalah –atau mestilah—sejenis puisi yang jika dibaca tergesa-gesa atau dihadapi dalam keriuhan akan luput dari makna. 514 

             
Virus shortcut menyerang netbook saya. Mulanya, berbagai cara saya coba sendiri karena tidak ingin merepotkan orang lain. Diantaranya adalah dengan mencari solusi dengan googling, lalu mengikuti petunjuknya step by step, gagal. Googling lagi, dan kembali melakukan petunujuk-petunjuknya, dan gagal lagi. Hahaha. Dan pada akhirnya, saya memencet keypad HP untuk meminta bantuan teman. Ujung-ujungnya minta bantuan teman alias merepotkan orang lain lagi. Hahaha. Beruntung, saya tidak memiliki semua kemampuan dan mampu menyelesaikan urusan di dunia ini sendiri karena watak keras kepala saya yang jika masih bisa jangan sampai meminta bantuan orang lain bisa membuat saya asosiopat. Hahahaha, berspekulasi!

Yuhuu.. pertolongan pun tiba. Semua saya ceritakan secara kronologis dan teratur. Teman berusaha menyelesaikan virus shortcut, namun sehari berjeda, sms masuk darinya. Isinya bahwa dia telah kalah dengan virus awesome itu. Okelah, netbook saya (ups, maksudnya netbook pinjaman) mesti diinstal ulang lagi. Huhu sedih sebenarnya.

Sambil menunggu netbook untuk melanjutkan menerjemah, saya habiskan waktu dengan tenggelam pada Autoboigrafi Spiritual Karen Amstrong yang diterjemah oleh Yuliani Lupito. Buku bekisar 600an halaman itu, lumayan mengaduk-ngaduk isi batin dan pikiran saya. Halaman-halaman awal, seolah saya membaca sebagian kehidupan saya sendiri saat di Pesantren. Meski tidak seekstrim yang dialami oleh Karen saat di asrama biarawatinya. Dan Alhamdulillah ya.hehe Begitupula dengan pergulatan batinnya, yang diantara seakan pinang dibelah dua dengan pergulatan batin saya. Sama, namun berbeda.

Begitulah, saya tenggelam dengan mengalir. Terjemahan yang bagus oleh Yuiani, sehingga enak dibaca. Sesuatu hal yang berat jadi tidak semakin berat. Dan tentu saja, setelah membaca Karen, saya kembali akan menegakkan hidup saya. Dimulai dari menegakkan hari-hari, waktu-waktu, jam-jam, menit-menit, bahkan detik-detik. Biarlah hidup saya mengalir, namun mengalir yang teratur.

Biarlah Tuhan melakukan apa yang menjadi tugasnya, dan saya melakukan apa yang menjadi tugas saya. Uye….!!!

16 Maret 2015

0 komentar:

Posting Komentar