Senin, 15 Agustus 2016

Bertemu Sunrise dan rembulan di Tajungan.

Hari Keenam: Kamis, 23 Juni 2016

(I)

Subuh hari Eeng membangunkanku. Semalam aku memang berpesan kepadanya. Pagi ini kami akan pergi ke Tajungan, melihat sunrise. Masyarakat di sini menyebutnya Tajungan. Bagiku Tajungan terlihat sebagai lumrahnya pantai. Letaknya berada di ujung utara pulau ini.
Jun tidur tak berdaya di atas kasur depan tivi, tempat faforitnya. Sementara Daman bersemedi di kamar depan. Berdua saja, subuh itu kami membelah perkampungan. Sekeliling masih sepi, dan suasana masih remang.

Tidak lama kami berjalan, kedua kaki ini sudah menjejakkan dirinya di atas pasir bibir pantai. Air laut berombak kecil hingga bunyinya terdengar berkecipak. dan anginnya tidak dingin, tapi segar. Hanya ada beberapa pohon di bibir pantai ini. Aku melihat sebuah pohon cemara yang tinggi. Burung gagak bertengger pada dahannya yang paling atas, berteriak beberapa kali, memecah keheningan. Sementara rembulan penuh berwarna putih berada di langit seakan ingin menyorong pohon cemara itu.

Aku dan Eeng duduk menghadap ke arah timur, menikmati keindahan langit yang ditingkahi deburan ombak yang sederhana. Ah, nuansa ini benar-benar menentramkan. Aku terdiam menanti detik-detik kemunculan sunrise. Eeng memotret-motret hewan-hewan kecil yang berjalan atau muncul dari dalam pasir.

Aku memberi isarat kepada Eeng saat mentari benar-benar akan muncul. Kami berdua saling diam, dan hanya menatap ke depan dalam keheningan. Hanya ada suara ombak, angin, kecipak air, dan teriakan gagak membelah pagi.

Seorang perempuan di depan sana mengayuh sampannya sambil berdiri, datang dari arah selatan laut. Perempuan itu memandangi kami dan kami balas dengan memandanginya. Taka da sapa, tak ada senyum, seakan perempuan dan kami sendiri telah menyatu dengan alam di pagi ini yang ditakdirkan menjadi hening. Perempuan itu melintas di depan sunrise, aku menangkap siluetnya yang berdiri di atas sampan kecilnya sambil mengayuh katel. Puitis!

Sunrise belum tuntas, saat suara tiga anak kecil;dua perempuan dan seorang laki-laki memasuki pantai di pagi hari yang hening ini. Pantai menjadi sedikit ceria. Aku menyapa mereka, wajah tiga anak pantai yang sangat ceria dan bahagia. Aku meminta mereka untuk berlari dan merekanmnya. Mereka semakin senang dan tertawa-tawa.

Aku dan Eeng beranjak. Menyusuri bibir pantai ke arah timur. Ada seekor ular air yang panjang dan diam. Eeng mengganggunya, dan ular itu berenang dengan cepat. Dan begitulah, setiap melihat ular, aku selalu begidik geli.

Kami melangkah lagi. Membiarkan wajah kami disapu angin. Dari arah utara, dua anak perempuan berada di dalam sampan, mengayuhnya sampai ke bibir pantai. Eeng meneriaki mereka akrab. Aku meminta kepada Eeng barangkali mereka bersedia meminjamkan sampannya barang sebentar saja.

Eeng mengatakan kepada mereka dalam bahasa Madura. Dan seorang anak perempuan yang lebih besar mengangguk kepadaku sambil tersenyum. Aku berbinar, dapat merasakan mengayuh sampan dengan kedua tanganku sendiri. Aku mendapatkan sedikit masalah saat tidak bisa memutar balik sampan. Eeng bersama kedua anak perempuan itu, juga tiga anak kecil yang tadi bergabung bersama kami tertawa geli. Aku mengikuti instruksi Eeng dan berhasil sampai ke bibir pantai lagi.

Pagi itu aku bahagia sekali. Kami meninggalkan Tajungan, bersama tatapan bersahabat anak-anak pulau itu… Anak-anak yang beruntung terlahir di sini. Sungguh!

Malang, 15 Agustus 2016

   

0 komentar:

Posting Komentar