Hari Keenam: Kamis, 23 Juni 2016
(I)
Subuh hari Eeng membangunkanku. Semalam aku memang
berpesan kepadanya. Pagi ini kami akan pergi ke Tajungan, melihat sunrise. Masyarakat
di sini menyebutnya Tajungan. Bagiku Tajungan terlihat sebagai lumrahnya
pantai. Letaknya berada di ujung utara pulau ini.
Jun tidur tak berdaya
di atas kasur depan tivi, tempat faforitnya. Sementara Daman bersemedi di kamar
depan. Berdua saja, subuh itu kami membelah perkampungan. Sekeliling masih sepi,
dan suasana masih remang.
Tidak lama kami berjalan, kedua kaki ini sudah
menjejakkan dirinya di atas pasir bibir pantai. Air laut berombak kecil hingga
bunyinya terdengar berkecipak. dan anginnya tidak dingin, tapi segar. Hanya ada
beberapa pohon di bibir pantai ini. Aku melihat sebuah pohon cemara yang
tinggi. Burung gagak bertengger pada dahannya yang paling atas, berteriak
beberapa kali, memecah keheningan. Sementara rembulan penuh berwarna putih
berada di langit seakan ingin menyorong pohon cemara itu.
Aku dan Eeng duduk menghadap ke arah timur, menikmati
keindahan langit yang ditingkahi deburan ombak yang sederhana. Ah, nuansa ini
benar-benar menentramkan. Aku terdiam menanti detik-detik kemunculan sunrise.
Eeng memotret-motret hewan-hewan kecil yang berjalan atau muncul dari dalam
pasir.
Aku memberi isarat kepada Eeng saat mentari benar-benar
akan muncul. Kami berdua saling diam, dan hanya menatap ke depan dalam
keheningan. Hanya ada suara ombak, angin, kecipak air, dan teriakan gagak
membelah pagi.
Seorang perempuan
di depan sana mengayuh sampannya sambil berdiri, datang dari arah selatan laut.
Perempuan itu memandangi kami dan kami balas dengan memandanginya. Taka da sapa,
tak ada senyum, seakan perempuan dan kami sendiri telah menyatu dengan alam di
pagi ini yang ditakdirkan menjadi hening. Perempuan itu melintas di depan sunrise,
aku menangkap siluetnya yang berdiri di atas sampan kecilnya sambil
mengayuh katel. Puitis!
Sunrise belum tuntas, saat
suara tiga anak kecil;dua perempuan dan seorang laki-laki memasuki pantai di
pagi hari yang hening ini. Pantai menjadi sedikit ceria. Aku menyapa mereka, wajah
tiga anak pantai yang sangat ceria dan bahagia. Aku meminta mereka untuk
berlari dan merekanmnya. Mereka semakin senang dan tertawa-tawa.
Aku dan Eeng beranjak. Menyusuri bibir pantai ke arah
timur. Ada seekor ular air yang panjang dan diam. Eeng mengganggunya, dan ular
itu berenang dengan cepat. Dan begitulah, setiap melihat ular, aku selalu
begidik geli.
Kami melangkah lagi. Membiarkan wajah kami disapu angin.
Dari arah utara, dua anak perempuan berada di dalam sampan, mengayuhnya sampai
ke bibir pantai. Eeng meneriaki mereka akrab. Aku meminta kepada Eeng barangkali
mereka bersedia meminjamkan sampannya barang sebentar saja.
Eeng mengatakan kepada mereka dalam bahasa Madura. Dan
seorang anak perempuan yang lebih besar mengangguk kepadaku sambil tersenyum.
Aku berbinar, dapat merasakan mengayuh sampan dengan kedua tanganku sendiri.
Aku mendapatkan sedikit masalah saat tidak bisa memutar balik sampan. Eeng
bersama kedua anak perempuan itu, juga tiga anak kecil yang tadi bergabung
bersama kami tertawa geli. Aku mengikuti instruksi Eeng dan berhasil sampai ke
bibir pantai lagi.
Pagi itu aku bahagia sekali. Kami meninggalkan Tajungan, bersama
tatapan bersahabat anak-anak pulau itu… Anak-anak yang beruntung terlahir di
sini. Sungguh!
Malang, 15 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar