Hari Kelima: Rabu, 22 Juni 2016
(III)
"Apa ikannya nanti gak kabur keluar lagi?" tanyaku pada Daman sambil menunjuk sebuah lubang pada Bubu yang bentuknya mirip buntut ikan. "Enggaklah," jawab Daman tangkas. "Kata Uwwak, ikan itu melihatnya lurus ke depan, dia gak bisa mendongak atau melihat ke atas, jadi gak bisa kabur," begitu Daman menjelaskan sambil tangannya tetap tangkas merajut-rajut kawat besi itu.
Sisa hari ini berlalu dengan ringan. Aku
langsung tidur sesampainya dari Maksima. Kami sampai di rumah menjelang sore. Dan hampir
jam lima sore aku baru bangun. “Selamat pagi…” Jun cengengesan mengejekku di
atas lincak. Di depan rumah sedang ramai. Ternyata sedari tadi kami tinggal, si
Jeng Daman membuat bubu. Di atas lincak ada juga uwwak, abang angkat JJun, dan Mamak, dan beberapa saudara lagi.
Bubu itu alat perangkap ikan yang digunakan oleh
nelayan saat menyelam ke lautan. Bubu bisa terbuat dari bambu ataupun kawat.
Nah, keluarga Jun ini sedang membuat dari kawat dalam ukuran besar dalam jumlah banyak. Ini memang
diproyeksikan untuk menangkap ikan-ikan besar selepas hari raya nanti.
Di belakang rumah Eeng sedang membakar ikan.
Aku lihat ada ikan kerapu yang sudah tergolek pasrah di atas alat pemanggang.
Sementara di dapur, ibu sedang membuat sayur poppok, alias sayur bayam dicampur
kemangi dengan tumbukan beras. Aku jadi ingat Nayla, adik kost yang berasal
dari Kangean jikalau membuat sayur bening.
Setelah tarawih, kami rujakan di depan tivi.
Ada bukkol juga kedondong. Yang ini kedondong sebagaimana di Jawa. Bukan
kedondong batu yang rasanya masam dan jamak digunakan di sini sebagai campuran semacam
sambal dan dimakan dengan ikan.
Saat ini tanggal 16 Ramadan. Bersama Jun dan
seorang bajingan lagi, aku menghabiskan malam dengan mengobrol di atas lincak.
Sambil sesekali menancapkan pandangan pada rembulan yang tengah bulat penuh
berwarna kuning. Aku merasa, di pulau ini aku melihat rembulan itu berukuran
lebih besar dari biasanya.
Malang, 15 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar