Hari Kelima: Rabu, 22 Juni 2016
(II)
"Maksima adalah sebuah asset milik Soeharto. Konon, di tempat inilah para peneliti dari Luar Negeri melakukan penelitiannya. Juga melakukan pembudidayaan mutiara kerang. Sekarang, tempat ini cendrung menjadi objek wisata. Meski sesekali, para bule itu datang dan tinggal di sini sampai pekerjaanya selesai. Entah apa. Tidak ada yang tahu."
Kami cepat-cepat membeli pesanan ibu. Ibu-ibu
yang tadi berpisah dengan kami, sementara mamak sepertinya menunggu di tepian
dermaga saja. Rencananya, dari sini kami akan pergi ke Maksima berempat saja,
tanpa Mamak. Wah, Jun dong bakal mengemudi, aku kok agak sangsi ya.
Setelah muter-muter pertokoan yang berada di
lorong-lorong perkampungan penduduk, Eeng mengingatkanku untuk masuk warung
makan. Tapi sayang, warung makan yang kata mereka paling rekomended se pulau
Sapeken ini tutup. Aku membaca plangnya ada menu rawon tertulis.
Akhirnya aku membeli nasi bungkus saja di
warung, seberang jalan dimana kami menambatkan sampan. Harga satu bungkus nasi
ayam dua belas ribu rupiah. Wah, mahal sekali. Sempat kutanyakan juga harga
sekilo jeruk dan apel 25.000k yang aku tahu di Malang hanya berharga 8.000k.
Harga salak juga mahal sekali yaitu 20.000k. Ya, maklum, kepulauan.
Aku lega, saat mengetahui ternyata Mamak akan
ikut mengantar kami. Eeng berbisik di telingaku, sepertinya kakeknya itu ragu
kami akan selamat sampai tujuan bilamana sampan berada di bawah kemudi Jun.
Kami, bersama Eva ngakak-ngakak. Jun memandang curiga ke arah kami.
Ternyata, Maksima, yang kerap disebut-sebut
Eeng dan berhasil membuatku penasaran terletak di sebuah pulau (aku lupa
namanya) yang tidak jauh dari pulau Sapeken ini.
Jun menarik jangkar dari dalam air. Kami akan
menuju ke Maksima, dan meninggalkan ibu-ibu tadi leluasa berbelanja lebih lama.
Sebelum nanti kami jemput sepulang dari Maksima.
Sampan kami melarungi lautan dengan ombak
yang sedang. Di bawah langit yang cerah dengan warna biru laut sejauh mata
memandang, Eeng mengatakan dengan ceria bahwa ombak seperti inilah yang dia
suka. Saat ombak besar kadang datang, Eeng tertawa-tawa sampai buih laut yang
berwarna putih menanggalkan tepian sampan. Aku menoleh ke arah Eva, wajahnya datar
di bawah payung biru kami yang kami gunakan saat mentari mulai datang
menyengat.
Mataku menangkap jembatan kayu yang panjang
menjorok ke lautan yang biru dangkal. Di situlah Mamak menambatkan sampan kami.
Jun melompat dan menalikan tampar sampan ke batu putih yang menyangga jembatan
kayu ini. Kami melompat dari sampan bergantian.
Kami berempat, tanpa Mamak, berjalan masuk ke
dalam pulau. Batang-batang pohon dan reranting yang tumbuh di bibir pulau masuk
ke dalam air. Di pintu masuk pulau ini, ada semacam belek yang kata Eeng
merupakan sumber air tawar. Wah, aku takjub. Air tawar bagi orang pulau bak
harta karun. Aku lihat dua perempuan dewasa mandi keramas dengan telesan
sarung. Keduanya berambut panjang.
Sepanjang jalan sebelum mencapai bukit, aku
memperhatikan rumah-rumah di pulau ini, rata-rata merupakan rumah panggung yang
alami. Aku terkesan pada rumah joglo kayu yang memiliki dua jendela dengan
kelambu berwarna putih. Sebagai latar belakang rumah adalah berbagai pohon dan
tanaman hijau. Pohon kelapa tumbuh tinggi. Memang, tidak seperti di Sadulang
Kecil yang terkesan gersang, pulau ini terasa lebih sejuk. Mungkin karena
tanahnya coklat dan gembur, tanpa pasir putih. Berkali-kali aku memperhatikan
tumbuhan yang rata-rata dapat dipakai untuk sayuran. Pulau yang kaya, batinku.
Kami mulai lelah berjalan. Seumur-umur
berteman dengan Jun, aku baru melihat di sinilah Jun kerap mengomel dan
mengeluh karena ternyata jauh sekali. Eeng yang merupakan tempat yang paling
pas untuk pelampiasannya, mulai mengalah kalau semisal mau kembali saja ke
sampan dan biar di antar Mamak dengan
sampan langsung ke tempat tujuan, Maksima. Jun menolak, kami semua
tertawa.
Beberapa kali kami berhenti duduk. Aku senang
memperhatikan bunga-bunga di tiap halaman rumah penduduk yang luas. Sampai tak
terasa kami sudah hampir naik bukit. Wah…kami semakin ceria saat kami sudah
berada di atas bukit pulau ini. Aku tercenung melihat ke bawah sana. Sebuah
bangunan kayu di atas kayu yang berdiri di atas lautan dengan latar kanvasnya
adalah langit biru yang ditumpahi warna putih awan di sana-sini.
Sedikit berlarian kami turun ke bawah bukit.
Bukit yang penuh rumput dan tanaman-tanaman hijau dengan beberapa bunga
berwarna merah, kuning, putih, dan ungu. Kami bercanda-canda saling mengejek
sambil tetap terkagum-kagum pada pesona keindahan bangunan di bawah sana.
Di bibir bukit kami menemukan tangga semen
yang membawa kami sampai pada jembatan kayu yang sangat panjang. Di kiri kanan
banyak pohon-pohon lebat tumbuh. Jun mengatakn di sini banyak ular, monyet, dan
buaya. Gilak! Aku begidik dan cepat-cepat menjauh membuntuti Eeng dan Eva yang
berjalan di depan.
Ada sekitar empat bangunan di atas papan kayu
yang berdiri kokoh di atas lautan ini. Warna lautan hijau jernih dan penuh
dengan warna-warni ikan yang berenang ke sana- ke mari. “Bangunan yang ini ni,
Mbak yang banyak ularnya,” kata Eeng saat kami akan memasuki bangunan paling
ujung di atas papan kayu ini. Aku terkejut dan langsung mundur berbalik arah.
Aku ingin menikmati surga kecil ini dengan
santai. Akhirnya aku memilih duduk bersila di depan bangunan kedua dan makan
nasi bungkus yang aku beli tadi. Nasi ayam yang sungguh tak enak sama-sekali.
Ah, tak ada rasa bumbu rempahnya sama sekali. Jun duduk di sebelahku. Aku
sempat melirik bekas kulit ular menempel di jendela kawat bangunan ini.
Begidik, sambil mewaspadai sekitar jika tiba-tiba ada ular merambat.
Belum puas sebenarnya aku di sini, sebentar
sekali. Tapi karena mengingat Mamak yang menunggu, kami harus cepat angkat
kaki. Setelah perpisahan dengan tempat indah dengan selfie sepuasnya, kami
berlarian naik bukit, lalu turun, dan berjalan panjang lagi. Lelah, tapi
senang.
Mamak, menunggu di bawah pohon sambil
mengobrol dengan penduduk. Masih berat rasanya aku mengangkat kaki dari pulau
ini. Ah, apa takdir akan membawaku ke sini lagi?
Malang, 15 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar