Senin, 15 Agustus 2016

Laut dan Langit Saling Bertatapan

Hari Kelima: Rabu, 22 Juni 2016

(I)
“Hari ini aku akan pergi ke Maksima. Salah-satu asset kekayaan Soeharto yang disembunyikan di pulau terpencil.”

Pagi itu kami berangkat dengan menggunakan sampan Mamak. Untuk kali ini, aku sudah merasa lanyah masuk ke dalam sampan tanpa takut-takut. Bagian depan sampan penuh dengan tabung gas yang kosong. Aku, Jun, Eeng, Eva, dan Mamak memang berangkat dengan seorang ibu yang hendak kulakan ke Sapeken. Dia bersama dengan anak kecil sekitar umur empat tahun. Ada lagi seorang anak lelaki berumuran dua belas tahun ikut sampan ini. Pagi ini cerah, secerah senyum kami.

Mamak menarik mesin. Lekaslah mesin menderu. Sampan berjalan di atas air yang dangkal berwarna hijau muda. Di belakang kami adalah Sadulang Kecil yang merupakan daratan pasir putih dengan rumah-rumah di atasnya. Juga tembok karang sebagai pembatas antara rumah-rumah penduduk dengan lautan.

Rumah-rumah penduduk masih terlihat saat sampan kami melewati deretan pohon bakau yang lebat. Pohon bakau yang nyaris seluruh tubuhnya terendam air laut.  Pohon bakau yang malam itu kami saksikan dengan membisu dalam pengalaman pertama menaiki sampan. Dalam malam pertama akan bersua dan menginjakkan kaki di pulau Sadulang Kecil. Oh… saat menulis ini aku masih mengingat betul malam itu. Malam saat kami melewati hutan bakau lalu melihat seorang perempuan berdiri di atas tembok karang menyambut kami. Menunggu sampan kami menepi. Aku kangen padamu, Bu… Perempuan Pulau yang Cantik!

Sampan melewati hutan bakau di pagi itu, lalu memasuki lautan yang permukaannya bagaikan agar-agar yang masih cair. Aku melihat perahu putih dan di atasnya seorang lelaki mengenakan celana pendek sedang memancing santai. Perahu putih itu lebih besar dari sampan kami, dengan layar kain yang juga berwarna putih. Mengambang tenang di atas laut biru yang juga tenang. Di atasnya, langit biru dengan awan di sana-sini seakan tak bergerak. Cerah. Aku jadi mulai paham, bahwa nasib langit dan laut berada di tangan angin. Setelah Tuhan tentu saja. Kita bisa melihat keadaan laut dengan melihat langit. Ya, ya. Aku paham.

Sampan kami ini menuju ke arah barat, sehingga badan kami terasa hangat di sorot mentari dari timur. Saat itu warna lautan kulihat menjadi berwarna hijau.

Air laut mulai menyiprat kecil ke dalam saat mulai memasuki kawasan agak dalam dengan gelombang kecil-kecil. Lautan yang tadi kulihat berwarna hijau muda, menjadi hijau tua dan lama-lama menjadi biru. Aku melihat kapal-kapal berwarna putih di beberapa titik berserakan di atas laut.

Sejurus, warna biru semakin menjadi pekat. Aku menoleh ke kiri, mengagumi tepian laut yang seolah menempel dengan kaki langit.Kaki langit yang rata dengan awan bergerombol. Putih lembut bagaikan woll. Dari sini, pulau Sapeken sudah dapat tertangkap mata.

Mulailah kami memasuki titik laut Setangis, tentu saja ombak sangat besar membuat sampan kami naik turun diayun ombak. Kami tertawa-tawa, tidak menangis.

Semakin mendekati Sapeken yang merupakan centra perdagangan di antara pulau-pulau kecil di sekitarnya, aku mulai melihat kapal-kapal seukuran kapal uwwaknya Jun mengambang-ngambang berserakan. Beberapa tenggelam separuh, kapal rusak.

Kami sudah mulai masuk lautan dangkal. Pelan, lautan terlihat berwarna hijau kembali. Batu-batu dan ikan-ikan kembali terlihat jelas. Aku memperhatikan rumah-rumah penduduk berdempetan rapi dengan warna senada: putih bersih. Dihiasi kapal-kapal dan perahu-perahu putih yang mengambang pasrah di atas air.

Eeng menunjuk keramba, kulihat sebagai hal anggun berdiri di atas air. Sementara sampan kami sudah mendekati jembatan beton yang panjang, tempat kapal yang membawa kami dari Banyuwangi malam itu menambat. Banyak sekali orang-orang di sana. Beberapa anak kecil berlarian.

Lebih sebentar dari perjalanan kami malam itu menuju Sadulang Kecil. Sepertinya hanya satu jam kami menempuh perjalanan ini. Uwwak mematikan mesin, Jun segera mengambil kayu panjang (apa ya namanya lupa) yang berfungsi sebagai kemudi setelah mesin dimatikan. Sampan kami menambat di sebuah pasar yang ramai… Sapeken.

Malang, 15 Agustus 2016



0 komentar:

Posting Komentar