Sabtu, 13 Agustus 2016

Sensasi Pertama Berenang di Pulau

Hari Keempat: Selasa, 21 Juni 2016. 

Sejak pukul 06.30 seberang rumah Jun sudah ramai. Drum-drum kecil tempat air yang berwarna biru sudah berjejeran rapi. Ibu-ibu sudah ramai mengantri, bergantian mengisi air dari tandon super besar berwarna orange. Tandon yang diiisi air dari Pulau Kangean. Satu-satunya pulau penghasil sumber air tawar di sekitar pulau-pulau kecil yang berserakan. Jikalau tandon habis, pemilik usaha air tandon di Sadulang Kecil ini akan berlayar, menempuh ombak untuk mengangkut air dari Pulau Kangean.

Satu drum air di sini harganya 1.250 k. Aku mandi dengan menghemat. Sementara Daman sempat memikirkan nasib rambut panjangnya yang selama ini dirawatnya dengan sepenuh hati. Daman memilih menahan hasrat berenang di laut lepas yang airnya begitu jernih dengan pesona  melebihi pesona ibu muda yang baru menikah, demi menjaga kesehatan rambutnya. 

Sampai detik aku menulis ini, Daman hanya berenang sekali saja saat hari pertama. Karena air laut yang mengandung garam, tidak bagus untuk rambut. Bahkan, suatu malam, dia rela menghabiskan satu drum air hanya untuk memandikan rambut panjangnya yang lurus indah nan lembut itu dibanding menyiram tubuhnya yang lengket keringat bercampur debu.

Melihat air sedang pasang dan berwarna hijau segar, aku bersama Eeng dan Eva melompat ke laut. Berenang ke sana ke mari dengan gaya renangku yang terbatas. Sensasi pertama kali berenang di air yang asin rasanya berbeda dengan berenang di kolam yang penuh kaporit. Air terasa lebih segar dan lepas karena luas, namun hidungku sempat tersedak air asinnya. 

Rasanya perih dan tidak nyaman di tenggorokan. Karena aku terbiasa berenang di pertengahan air sambil membuka mata (karena belum bisa gaya katak dengan kepala di atas air) mataku terasa perih. Kandungan garam di lautan ini lebih kuat daripada lautan di pantai-pantai yang pernah kusinggahi selama ini.

Di sela-sela membantu uwwak membenahi mesin kapal, Jun memotret kami dari atas tembok karang. Setelah puas ketawa-ketiwi di dalam air, kami bertiga naik sampan super kecil nan imut. Sampan paling puitis dengan warnanya yang putih bersih. Yang banyak mengapung di pinggiran laut ini. Sampan putih yang kami naiki kami bawa berputar-putar di seputaran pinggir laut. Eeng sebagai pemegang kendali ‘belle’, istilah di sini untuk menyebut kayu yang berfungsi untuk dikayuh. Eeng mengayuhnya dengan terampil. Sambil lalu menerangkan tekhnik mengayuh, bagaimana kalau ingin mengarahkan sampan ke depan, ke kiri, ke kanan, dan memberhentikan sampan. Merasa mengerti, aku mencoba sendiri mengayuh sampan dengan belle yang terbuat dari kayu itu. Ternyata, mengayuh belle di dalam air tidak seringan seperti yang terlihat. Wajar, jikalau otot para nelayan begitu kuat.

Setelah puas berputaran dengan sampan, Eva langsung terjun ke dalam air lagi. Aku tidak berani degan kedalaman. Kupinta terlebih dulu pada Eeng untuk menepikan sampan. Lalu dengan gaya yang biasa, aku melompat pula dari sampan ke dalam air. Belum puas sebenarnya di dalam air, tapi karena merasakan siang semakin panas, kami naik dan mandi dengan drum di rumah gedek sebelah utara rumah. Rumah gedek yang biasa digunakan untuk membakar ikan dan menyimpan beberapa barang.

Setelah berganti baju, kami bertiga mencuci baju di atas lincak depan rumah dengan tiga ember bundar. Aku terkekeh sambil nyeletuk ke Jun yang duduk di lincak sebelah timur bahwa aku merasa sedang dolanan. Bermain cuci bacu sebagaimana masa kecil. Memang beginilah cara masyarakat sini mencuci. Daman dengan agak menghiba, minta diizinkan untuk nitip baju kotornya. Dengan bercanda, aku jawab satu lembarnya lima ribu rupiah. Tapi karena kasihan, aku mengiyakan.

Diam-diam Daman memiliki hati yang baik. Bertolak belakang dengan wajahnya yang total beraut bajingan. Ternyata, di belakang, dia membelahkan degan untukku. Menaruh airnya di dalam gelas dan mengerokkan kelapanya. Setelah mencuci, aku minum degan itu, segar dan mengenyangkan.

Ibu muda penjual jajanan lewat depan rumah, mendorong grobak jualannya saat kami tengah bersiap menjemur pakaian. Aku berteriak kepada Daman sekiranya mau membeli ote-ote (bakwan di Jogja, dan weci di Malang). Aku membeli tiga ote-ote yang hargaya seribuan, onde-onde juga seribuan, dan satu tusuk sate ayam yang harganya lumayan mahal, dua ribu lima ratus. Kata Jun, ayam dan telur adalah makanan spesial, istimewa, dan elit bagi masyarakat sini.

Setelah beres menjemur pakaian, aku menemani Daman makan di belakang dengan menu burambu yang dipepes bakar, dan ikan ketambek yang kemarin sore dimasak spesial. Menu ikan yang paling aku suka selama ini. Aku melihat cara ibu memasaknya. Pertama, daging ikan di keluarkan dengan hati-hati agar kulit ikannya tidak terkelupas. Daging ikan yang sudah dikelurkan itu ditumbuk halus dengan bumbu dapur seperti bawang, ketumbar, garam, dan kunyit. Lalu dicampur dengan telur sampai menyatu. Setelah itu, olahan itu dimasukkan lagi ke dalam tubuh ikan yang masih utuh tadi. Lalu digoreng atau dibakar. Yummi deh pokoknya.

Menjelang senja, aku, Eeng dan Daman menyusuri perkampungan bagian utara. Kami pergi ke Tonjengan untuk mengisi waktu luang (yang sejatinya menemani Daman mencari tempat yang aman untuk merokok). Tonjengan itu adalah tepian laut alias pantai yang sebelah kanannya adalah hutan mangrove yang kemarin telah kami jajaki. Tempat penduduk mencari kerang dan sejenisnya, juga udang atau lobster. Di sini kami menikmati suguhan alam yang indah. Setelah hamparan pantai, di sebelah utara sana terhampar Sadulang Besar dan separuh bagian Pulau Pagerungan. Air laut sore ini berombak pelan lengkap dengan ikan-ikan kecil, juga kepiting yang berjalan menyamping.

Pulangnya, kami melewati bagian barat pulau yang nantinya akan tembus di belakang rumah Jun. sepanjang menyusuri belakang rumah penduduk, sepanjang itu pula tubuh kami disorot warna senja yang jingga. Aku melihat keluarga penduduk yang duduk bersantai di atas rumah-rumahan yang langsung menghadap ke pantai. Menikmati senja sambil bercanda riang dengan anak-anaknya, sementara suami atau ayahnya hampir selesai sibuk dengan kapalnya yang menambat di tepi. Sungguh kehidupan khas orang pantai yang damai. Aku pun merasa damai, barangkali kedamaian penduduk telah membias pula pada jiwaku yang telah lama sibuk dengan ketidakjelasan, khas orang kota.

Sepanjang tepi pantai, aku merasa dekat dengan kekasih, senja. Di pertengahan, kami memilih memutus jalan. Kami masuk lagi perkampungan dan menyapa keramain penduduk yang tengah bersantai menunggu bedug maghrib di lincak depan rumahnya masing-masing. Keramaian yang tetap terkesan damai dan ceria. Anak kecil melompat-lompat dan bermain ceria.

Ibu Jun menyongsong kedatangan kami di depan rumah. Sementara kami langsung menuju belakang rumah lewat samping. Menuju senja yang terlihat jelas dari atas tembok karang yang langsung menghadap laut. Setelah menjepret Daman membelakangi senja, aku duduk khusyuk. Kupandangi senja dengan diam. Mataku memayari mentari yang sudah bulat telur, bergantian memayar langit yang semburat indah. Jingga, merah, biru. Juga laut yang selalu tenang jelang bedug maghrib datang…

Malam hari, sebelum aku meringkuk di atas kasur dengan mimpi-mimpi, kami bertiga seperti biasa, mengobrol dan cekakak-cekikik di atas lincak depan rumah. Sampai malam. Sampai kusadari suara perkampungan sudah sepi, tapi tadarrus dari speaker masjid masih menggema, Melesat ke awang-awang di bawah langit Pulau Sadulang Kecil yang dikelilingi lautan…

“Besok, kita akan ke Maksima,” aku mengingat kata Jun siang tadi. Lalu aku terlelap, dipeluk Sadulang Kecil.
                                                                                    
Sadulang Kecil: Jum’at 24 Juni 2016    

   

0 komentar:

Posting Komentar