Hari Keempat: Selasa, 21 Juni 2016.
Sejak pukul 06.30 seberang rumah Jun sudah ramai. Drum-drum kecil
tempat air yang berwarna biru sudah berjejeran rapi. Ibu-ibu sudah ramai
mengantri, bergantian mengisi air dari tandon super besar berwarna orange.
Tandon yang diiisi air dari Pulau Kangean. Satu-satunya pulau penghasil sumber
air tawar di sekitar pulau-pulau kecil yang berserakan. Jikalau tandon habis,
pemilik usaha air tandon di Sadulang Kecil ini akan berlayar, menempuh ombak
untuk mengangkut air dari Pulau Kangean.
Satu drum air di sini harganya 1.250 k. Aku mandi dengan menghemat.
Sementara Daman sempat memikirkan nasib rambut panjangnya yang selama ini
dirawatnya dengan sepenuh hati. Daman memilih menahan hasrat berenang di laut
lepas yang airnya begitu jernih dengan pesona melebihi pesona ibu muda yang baru menikah,
demi menjaga kesehatan rambutnya.
Sampai detik aku menulis ini, Daman hanya
berenang sekali saja saat hari pertama. Karena air laut yang mengandung garam,
tidak bagus untuk rambut. Bahkan, suatu malam, dia rela menghabiskan satu drum
air hanya untuk memandikan rambut panjangnya yang lurus indah nan lembut itu
dibanding menyiram tubuhnya yang lengket keringat bercampur debu.
Melihat air sedang pasang dan berwarna hijau segar, aku bersama
Eeng dan Eva melompat ke laut. Berenang ke sana ke mari dengan gaya renangku
yang terbatas. Sensasi pertama kali berenang di air yang asin rasanya berbeda
dengan berenang di kolam yang penuh kaporit. Air terasa lebih segar dan lepas
karena luas, namun hidungku sempat tersedak air asinnya.
Rasanya perih dan
tidak nyaman di tenggorokan. Karena aku terbiasa berenang di pertengahan air
sambil membuka mata (karena belum bisa gaya katak dengan kepala di atas air)
mataku terasa perih. Kandungan garam di lautan ini lebih kuat daripada lautan
di pantai-pantai yang pernah kusinggahi selama ini.
Di sela-sela membantu uwwak membenahi mesin kapal, Jun memotret
kami dari atas tembok karang. Setelah puas ketawa-ketiwi di dalam air, kami
bertiga naik sampan super kecil nan imut. Sampan paling puitis dengan warnanya
yang putih bersih. Yang banyak mengapung di pinggiran laut ini. Sampan putih
yang kami naiki kami bawa berputar-putar di seputaran pinggir laut. Eeng
sebagai pemegang kendali ‘belle’, istilah di sini untuk menyebut kayu yang
berfungsi untuk dikayuh. Eeng mengayuhnya dengan terampil. Sambil lalu
menerangkan tekhnik mengayuh, bagaimana kalau ingin mengarahkan sampan ke
depan, ke kiri, ke kanan, dan memberhentikan sampan. Merasa mengerti, aku
mencoba sendiri mengayuh sampan dengan belle yang terbuat dari kayu itu.
Ternyata, mengayuh belle di dalam air tidak seringan seperti yang terlihat.
Wajar, jikalau otot para nelayan begitu kuat.
Setelah puas berputaran dengan sampan, Eva langsung terjun ke dalam
air lagi. Aku tidak berani degan kedalaman. Kupinta terlebih dulu pada Eeng
untuk menepikan sampan. Lalu dengan gaya yang biasa, aku melompat pula dari
sampan ke dalam air. Belum puas sebenarnya di dalam air, tapi karena merasakan
siang semakin panas, kami naik dan mandi dengan drum di rumah gedek sebelah
utara rumah. Rumah gedek yang biasa digunakan untuk membakar ikan dan menyimpan
beberapa barang.
Setelah berganti baju, kami bertiga mencuci baju di atas lincak
depan rumah dengan tiga ember bundar. Aku terkekeh sambil nyeletuk ke Jun yang
duduk di lincak sebelah timur bahwa aku merasa sedang dolanan. Bermain cuci
bacu sebagaimana masa kecil. Memang beginilah cara masyarakat sini mencuci.
Daman dengan agak menghiba, minta diizinkan untuk nitip baju kotornya. Dengan
bercanda, aku jawab satu lembarnya lima ribu rupiah. Tapi karena kasihan, aku
mengiyakan.
Diam-diam Daman memiliki hati yang baik. Bertolak belakang dengan
wajahnya yang total beraut bajingan. Ternyata, di belakang, dia membelahkan degan
untukku. Menaruh airnya di dalam gelas dan mengerokkan kelapanya. Setelah
mencuci, aku minum degan itu, segar dan mengenyangkan.
Ibu muda penjual jajanan lewat depan rumah, mendorong grobak
jualannya saat kami tengah bersiap menjemur pakaian. Aku berteriak kepada Daman
sekiranya mau membeli ote-ote (bakwan di Jogja, dan weci di Malang). Aku
membeli tiga ote-ote yang hargaya seribuan, onde-onde juga seribuan, dan satu
tusuk sate ayam yang harganya lumayan mahal, dua ribu lima ratus. Kata Jun,
ayam dan telur adalah makanan spesial, istimewa, dan elit bagi masyarakat sini.
Setelah beres menjemur pakaian, aku menemani Daman makan di
belakang dengan menu burambu yang dipepes bakar, dan ikan ketambek yang kemarin
sore dimasak spesial. Menu ikan yang paling aku suka selama ini. Aku melihat
cara ibu memasaknya. Pertama, daging ikan di keluarkan dengan hati-hati agar
kulit ikannya tidak terkelupas. Daging ikan yang sudah dikelurkan itu ditumbuk
halus dengan bumbu dapur seperti bawang, ketumbar, garam, dan kunyit. Lalu
dicampur dengan telur sampai menyatu. Setelah itu, olahan itu dimasukkan lagi
ke dalam tubuh ikan yang masih utuh tadi. Lalu digoreng atau dibakar. Yummi deh
pokoknya.
Menjelang senja, aku, Eeng dan Daman menyusuri perkampungan bagian
utara. Kami pergi ke Tonjengan untuk mengisi waktu luang (yang sejatinya
menemani Daman mencari tempat yang aman untuk merokok). Tonjengan itu adalah
tepian laut alias pantai yang sebelah kanannya adalah hutan mangrove yang
kemarin telah kami jajaki. Tempat penduduk mencari kerang dan sejenisnya, juga
udang atau lobster. Di sini kami menikmati suguhan alam yang indah. Setelah
hamparan pantai, di sebelah utara sana terhampar Sadulang Besar dan separuh
bagian Pulau Pagerungan. Air laut sore ini berombak pelan lengkap dengan ikan-ikan
kecil, juga kepiting yang berjalan menyamping.
Pulangnya, kami melewati bagian barat pulau yang nantinya akan
tembus di belakang rumah Jun. sepanjang menyusuri belakang rumah penduduk,
sepanjang itu pula tubuh kami disorot warna senja yang jingga. Aku melihat
keluarga penduduk yang duduk bersantai di atas rumah-rumahan yang langsung
menghadap ke pantai. Menikmati senja sambil bercanda riang dengan anak-anaknya,
sementara suami atau ayahnya hampir selesai sibuk dengan kapalnya yang menambat
di tepi. Sungguh kehidupan khas orang pantai yang damai. Aku pun merasa damai,
barangkali kedamaian penduduk telah membias pula pada jiwaku yang telah lama
sibuk dengan ketidakjelasan, khas orang kota.
Sepanjang tepi pantai, aku merasa dekat dengan kekasih, senja. Di
pertengahan, kami memilih memutus jalan. Kami masuk lagi perkampungan dan
menyapa keramain penduduk yang tengah bersantai menunggu bedug maghrib di
lincak depan rumahnya masing-masing. Keramaian yang tetap terkesan damai dan
ceria. Anak kecil melompat-lompat dan bermain ceria.
Ibu Jun menyongsong kedatangan kami di depan rumah. Sementara kami
langsung menuju belakang rumah lewat samping. Menuju senja yang terlihat jelas
dari atas tembok karang yang langsung menghadap laut. Setelah menjepret Daman
membelakangi senja, aku duduk khusyuk. Kupandangi senja dengan diam. Mataku memayari
mentari yang sudah bulat telur, bergantian memayar langit yang semburat indah.
Jingga, merah, biru. Juga laut yang selalu tenang jelang bedug maghrib datang…
Malam hari, sebelum aku meringkuk di atas kasur dengan mimpi-mimpi,
kami bertiga seperti biasa, mengobrol dan cekakak-cekikik di atas lincak depan
rumah. Sampai malam. Sampai kusadari suara perkampungan sudah sepi, tapi
tadarrus dari speaker masjid masih menggema, Melesat ke awang-awang di bawah
langit Pulau Sadulang Kecil yang dikelilingi lautan…
“Besok, kita akan ke Maksima,” aku mengingat kata Jun siang tadi.
Lalu aku terlelap, dipeluk Sadulang Kecil.
Sadulang
Kecil: Jum’at 24 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar