Hari Ketiga: Senin, 20 Juni 2016.
Pagi ini aku melihat air laut masuk ke darat sampai
depan rumah. Jadilah depan rumah menyuguhkan pemandangan kolam lumpur yang
sedikit kental. Meski begitu, dua anak kecil berumuran empat tahun telanjang
berendam lumpur. Sesekali terdengar tawa riang mereka di antara senda guraunya.
Menjelang siang, kami membelah Degan alias kelapa muda.
Toggen, orang sini menyebutnya. Daman membelah satu degan untuk dirinya
sendiri. Sementara Jun yang sudah mulai sholih (Jun hari ini berpuasa sungguh)
membelah satu deggan untukku. Karena sangsi dengan kesholihannya, aku minum
degan itu di depannya, tapi sungguh, dia sudah sholih saudara! Di dapur, aku
melihat ikan ketambeh dan ikan kante-et yang akan dimasak nanti sore. Dapur di
rumah Jun seperti dapur-dapur di India. Kompor ditaruh begitu saja di lantai,
yang membuat proses memasak, leluasa dikerjakan dengan bersila atau duduk
santai di atas lantai.
Setelah masuk waktu asar, Jun mengajakku ke hutan
mangrove atau hutan bakau yang terletak di ujung timur pulau ini. Daman menolak
ikut. Karena tidak mau mengganggu tidur sorenya, kami bertiga (dengan Eeng)
berangkat menuju timur dengan telanjang kaki.
Kami membelah perkampungan dengan membawa sebuah
kaleng di tangan Eeng. Ummi sempat bertanya dari pagar rumahnya hendak kemana
kami pergi. Mencari pacceng (kerang), teriak Eeng pula.
Mengikuti Jun dan Eeng, dengan berat sekali aku
terpaksa menginjakkan kakiku ke hamparan lumpur kental di bagian timur belakang
rumah-rumah penduduk. Hamparan lumpur yang menjadi pintu masuk menuju hutan mangrove. Saat
kakiku menginjak lumpur yang blenyek seperti tai manusia itu, ada yang
aneh menurut perasaanku. Sampil sedikit pengen mewek, pelan-pelan aku
mengangkatnya lalu dengan perasaan berat, kembali aku terpaksa menjejakkannya.
Sampai sekitar sepuluh meter hamparan lumpur ini mulai bercampur dengan air,
yang lama-lama terganti dengan daratan berpasir putih dengan air laut setinggi
mata kaki.
Entah berapa kilometer kami berjalan sambil melihat
ikan-ikan seperti ikan teri berlarian di antara kaki kami. Perasaanku sudah
jauh lebih nyaman. Jun dan Eeng sudah mulai membungkuk-bungkuk mengambili
kerang dan memasukkan ke dalam kaleng. Ada lubang-lubang kecil di daratan
berair yang kami injak. Sambil membongkar lubang kecil itu dengan kayu, Eeng
menerangkan kalau itu adalah lubang ular. Aku begidik dan membuntuti Jun
cepat-cepat sambil terus memotret.
Semakin ke timur, kami semakin dekat dengan hutan
mangrove. Di bawah pohon-pohon mangrove itulah Jun memilihi kerang yang
tertimbun di bawah tanah. Eeng bagian membawa kaleng dengan kerang yang sudah
mulai banyak. Luas sekal tempat ini. beberapa pulau terlihat dekat dari bibir
hutan mangrove ini. Pulau Sadulang Besar seakan dekat sekali, tapi menurut Eeng
sebenarnya itu sangat jauh.
Pulangnya, kami lewat bagian dalam hutan. Kesannya
seperti rawa-rawa yang dipenuhi hewan buas seperti buaya dan berbagai ular.
Seperti dalam film Anaconda. Lebat dan agak seram. Namun, rupanya, hutan
mangrove ini adalah tempat faforit bermainnya anak-anak Sadulang Kecil. Eeng
sedari tadi menerangkan kepadaku bagian-bagian dari pohon, daun, dan buah
mangrove yang dijadikannya untuk main masak-masakan atau pasar-pasaran.
Eeng
juga terkejut saat Jun menceritakan, di tempat inilah dulu dia gemar bermain
perang-perangan. Bersembunyi di antara satu pohon ke pohon lainnya. Lalu Jun mengambil
buah mangrove yang bulat dengan tangkainya yang panjang. Saat jun memukulkan
tangkai itu ke sebuah batang, maka buah mangrove yang bulat itu akan terlempar
jauh dan mengenai siapa saja di depan sana. Aku dan Eeng terbahak. Eeng
menirukan tapi tidak berhasil. Akhirnya dia terbahak lagi.
Keluar hutan, kami melewati tempat luas tadi. Juga
lumpur yang membuatku memiliki perasaan aneh saat melewatinya. “Eeng, itu apa?”
tanyaku pada Eeng sambil menunjuk bangunan tembok yang berdiri di atas hamparan
lumpur ini. Jawaban Eeng membuat hatiku semakin aneh berdiri di atas lumpur
ini, “Oh itu, tempat orang beol, Mbak!” Mendadak langit biru yang terhampar di
atas kami menjadi suram.
Cepat-cepat aku mengambil sandal sesampainya di rumah.
Lalu lari ke laut di belakang rumah dan membersihkan kaki sepuas-puasnya.
Melihat Jun duduk menghadap barat di atas tembok karang, aku dan Eeng
bergabung. Di sana, di ujung barat laut yang terhampar di depan kami, semburat
senja berwarna merah. Aku lupa dengan hamparan lumpur itu. Keindahan di depanku
itu begitu menyihir. Matahari merambat pelan ke bawah laut. Bentuknya bulat
seperti kuning telor, tapi warnanya merah menyala. Belum tuntas matahari itu
tenggelam, sebuah kapal dengan layar kain melintas pelan. Terlihat seperti
seekor semut yang merambat sangat pelan. Pelan sekali…
Setelah tarawih, aku bersama Eeng dan Eva pergi ke
selatan pulau. Kami membeli bakso di sebelah selatan Masjid. Di sini, bakso
terbuat dari ikan. Dengan rendah hati, ibu penjual berkata kepadaku barangkali
di Jawa baksonya tidak seperti ini. Aku tersenyum ingin menunjukkan keramahan
pada si ibu. Beberapa pembeli di makan di tempat. Di atas lincak kayu yang
sederhana. Tidak seperti di Jawa, bakso di sini hanya berisi pentol dan bihun,
dengan kuah yang sangat minim.
Ibu melayani pembelian mulai dari harga seribu
rupiah saja. Aku membeli lima ribu rupiah. Mendapatkan tiga pentol ikan cakalan
alias tongkol, dan beberapa pentol ikan lae-lae berukuran lebih kecil. Aku
berbisik pada Eeng untuk mengatakan kepada ibunya tidak diberi bihun tapi
kuahnya tolong lebih banyak. Di atas lincak, aku melihat perempuan berumur lima
belas tahun yang tempo hari ingin menggugurkan kandungannya, Yang sebelahnya
itu suaminya, Mbak, bisik Eeng. Entah mengapa aku merasa kasihan…
Sadulang Kecil kami tutup dengan semangkuk kecil bakso
dan candaan-candaan ringan di atas lincak depan rumah. Aku lupa, di sebelah
mana bulan malam itu?
Sadulang Kecil: Kamis, 23 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar