Sabtu, 13 Agustus 2016

LAUTAN LUMPUR DAN PERASAAN YANG ANEH

Hari Ketiga: Senin, 20 Juni 2016. 

Pagi ini aku melihat air laut masuk ke darat sampai depan rumah. Jadilah depan rumah menyuguhkan pemandangan kolam lumpur yang sedikit kental. Meski begitu, dua anak kecil berumuran empat tahun telanjang berendam lumpur. Sesekali terdengar tawa riang mereka di antara senda guraunya.

Menjelang siang, kami membelah Degan alias kelapa muda. Toggen, orang sini menyebutnya. Daman membelah satu degan untuk dirinya sendiri. Sementara Jun yang sudah mulai sholih (Jun hari ini berpuasa sungguh) membelah satu deggan untukku. Karena sangsi dengan kesholihannya, aku minum degan itu di depannya, tapi sungguh, dia sudah sholih saudara! Di dapur, aku melihat ikan ketambeh dan ikan kante-et yang akan dimasak nanti sore. Dapur di rumah Jun seperti dapur-dapur di India. Kompor ditaruh begitu saja di lantai, yang membuat proses memasak, leluasa dikerjakan dengan bersila atau duduk santai di atas lantai.

Setelah masuk waktu asar, Jun mengajakku ke hutan mangrove atau hutan bakau yang terletak di ujung timur pulau ini. Daman menolak ikut. Karena tidak mau mengganggu tidur sorenya, kami bertiga (dengan Eeng) berangkat menuju timur dengan telanjang kaki.

Kami membelah perkampungan dengan membawa sebuah kaleng di tangan Eeng. Ummi sempat bertanya dari pagar rumahnya hendak kemana kami pergi. Mencari pacceng (kerang), teriak Eeng pula.

Mengikuti Jun dan Eeng, dengan berat sekali aku terpaksa menginjakkan kakiku ke hamparan lumpur kental di bagian timur belakang rumah-rumah penduduk. Hamparan lumpur yang menjadi pintu masuk menuju hutan mangrove. Saat kakiku menginjak lumpur yang blenyek seperti tai manusia itu, ada yang aneh menurut perasaanku. Sampil sedikit pengen mewek, pelan-pelan aku mengangkatnya lalu dengan perasaan berat, kembali aku terpaksa menjejakkannya. 

Sampai sekitar sepuluh meter hamparan lumpur ini mulai bercampur dengan air, yang lama-lama terganti dengan daratan berpasir putih dengan air laut setinggi mata kaki.
Entah berapa kilometer kami berjalan sambil melihat ikan-ikan seperti ikan teri berlarian di antara kaki kami. Perasaanku sudah jauh lebih nyaman. Jun dan Eeng sudah mulai membungkuk-bungkuk mengambili kerang dan memasukkan ke dalam kaleng. Ada lubang-lubang kecil di daratan berair yang kami injak. Sambil membongkar lubang kecil itu dengan kayu, Eeng menerangkan kalau itu adalah lubang ular. Aku begidik dan membuntuti Jun cepat-cepat sambil terus memotret.

Semakin ke timur, kami semakin dekat dengan hutan mangrove. Di bawah pohon-pohon mangrove itulah Jun memilihi kerang yang tertimbun di bawah tanah. Eeng bagian membawa kaleng dengan kerang yang sudah mulai banyak. Luas sekal tempat ini. beberapa pulau terlihat dekat dari bibir hutan mangrove ini. Pulau Sadulang Besar seakan dekat sekali, tapi menurut Eeng sebenarnya itu sangat jauh.

Pulangnya, kami lewat bagian dalam hutan. Kesannya seperti rawa-rawa yang dipenuhi hewan buas seperti buaya dan berbagai ular. Seperti dalam film Anaconda. Lebat dan agak seram. Namun, rupanya, hutan mangrove ini adalah tempat faforit bermainnya anak-anak Sadulang Kecil. Eeng sedari tadi menerangkan kepadaku bagian-bagian dari pohon, daun, dan buah mangrove yang dijadikannya untuk main masak-masakan atau pasar-pasaran. 

Eeng juga terkejut saat Jun menceritakan, di tempat inilah dulu dia gemar bermain perang-perangan. Bersembunyi di antara satu pohon ke pohon lainnya. Lalu Jun mengambil buah mangrove yang bulat dengan tangkainya yang panjang. Saat jun memukulkan tangkai itu ke sebuah batang, maka buah mangrove yang bulat itu akan terlempar jauh dan mengenai siapa saja di depan sana. Aku dan Eeng terbahak. Eeng menirukan tapi tidak berhasil. Akhirnya dia terbahak lagi.

Keluar hutan, kami melewati tempat luas tadi. Juga lumpur yang membuatku memiliki perasaan aneh saat melewatinya. “Eeng, itu apa?” tanyaku pada Eeng sambil menunjuk bangunan tembok yang berdiri di atas hamparan lumpur ini. Jawaban Eeng membuat hatiku semakin aneh berdiri di atas lumpur ini, “Oh itu, tempat orang beol, Mbak!” Mendadak langit biru yang terhampar di atas kami menjadi suram.

Cepat-cepat aku mengambil sandal sesampainya di rumah. Lalu lari ke laut di belakang rumah dan membersihkan kaki sepuas-puasnya. Melihat Jun duduk menghadap barat di atas tembok karang, aku dan Eeng bergabung. Di sana, di ujung barat laut yang terhampar di depan kami, semburat senja berwarna merah. Aku lupa dengan hamparan lumpur itu. Keindahan di depanku itu begitu menyihir. Matahari merambat pelan ke bawah laut. Bentuknya bulat seperti kuning telor, tapi warnanya merah menyala. Belum tuntas matahari itu tenggelam, sebuah kapal dengan layar kain melintas pelan. Terlihat seperti seekor semut yang merambat sangat pelan. Pelan sekali…

Setelah tarawih, aku bersama Eeng dan Eva pergi ke selatan pulau. Kami membeli bakso di sebelah selatan Masjid. Di sini, bakso terbuat dari ikan. Dengan rendah hati, ibu penjual berkata kepadaku barangkali di Jawa baksonya tidak seperti ini. Aku tersenyum ingin menunjukkan keramahan pada si ibu. Beberapa pembeli di makan di tempat. Di atas lincak kayu yang sederhana. Tidak seperti di Jawa, bakso di sini hanya berisi pentol dan bihun, dengan kuah yang sangat minim. 

Ibu melayani pembelian mulai dari harga seribu rupiah saja. Aku membeli lima ribu rupiah. Mendapatkan tiga pentol ikan cakalan alias tongkol, dan beberapa pentol ikan lae-lae berukuran lebih kecil. Aku berbisik pada Eeng untuk mengatakan kepada ibunya tidak diberi bihun tapi kuahnya tolong lebih banyak. Di atas lincak, aku melihat perempuan berumur lima belas tahun yang tempo hari ingin menggugurkan kandungannya, Yang sebelahnya itu suaminya, Mbak, bisik Eeng. Entah mengapa aku merasa kasihan…

Sadulang Kecil kami tutup dengan semangkuk kecil bakso dan candaan-candaan ringan di atas lincak depan rumah. Aku lupa, di sebelah mana bulan malam itu?
                                                                                   


Sadulang Kecil: Kamis, 23 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar