Sabtu, 13 Agustus 2016

Perempuan Pulau;Detik-Detik Melahirkan Bersama Ombak

Hari Kedua: Minggu, 19 Juni 2016

(III)

Semuanya pindah ke ruang belakang untuk mendapatkan udara yang sejuk. Karena sudah tidak cukup, berempat gadis memilih duduk di ruangan yang dijadikan kamar, bersama seorang bayi dan ibunya yang kulihat masih sangat muda. Aku mengobrol dengan adik ipar Jun terkait pengalamannya hamil dan melahirkan. Aku penasaran bagaiamana susah-senangnya hamil apalagi melahirkan di tempat yang akses pemeriksaan kesehatan belum maksimal dibandingkan tempat-tempat lain apalagi di kota.

Lalu dia menceritakan semuanya, mulai dari kehamilan dan kesulitannya melahirkan yang harus menyebrang dulu ke pulau Sapeken. Tapi karena ada sedikit masalah dengan kandungan dan peralatan di klinik Sapeken, dia harus dirujuk ke Bali. Menurutnya, satu hari-satu malam dia menahan sakit di atas kapal keluarga menuju ke Bali. Menahan sakitnya kontraksi di rahimnya. Ibu muda ini juga menceritakan keterkejutannya bahwa dia melahirkan kembar.
Dia merasa kehamilannya begitu berat, dan sulit makan bahkan sampai 9 bulan. Hanya es yang menurutnya bisa masuk ke mulutnya. Tapi menurut bidan dan dukun beranak di pulaunya, bayinya hanya satu. Begitupula menurut bidan di klinik pulau Sapeken, bahkan saat di USG di Rumah Sakit Bali. Hanya satu janin yang terdeteksi, tapi dua bayi yang ternyata ada di dalam rahimnya saat persalinan dengan oprasi yang harus dijalaninya.

Sungguh hebat perempuan-perempuan yang hidup di pulau-pulau. Aku menaksir, daya hidupnya lebih berlipat-lipat daripada perempuan yang hidup di kota. Sekarang, perempuan ini bisa tersenyum bahagia saat memberikan susu formula ke bayinya setelah kenangan kontraksi di atas ombak selama sehari semalam dilaluinya. Sesampainya di sana, detak jantung janinnya sudah lemah. Aku yakin, jika bukan karena daya hidup yang dimiliki ibunya, seorang perempuan pulau yang sungguh kuat itu, takdir Tuhan tidak akan bersambut. Allaahu a’lam. Cieh, tulisannya kok tiba-tiba alim gini.

Kami, kecuali ibu Jun --yang masih ingin berlama-lama menggendong cucunya--,bejalan menyusuri pulau ini sampai ke tepian pulau di ujung yang lain. Melewati masjid yang besar dan pohon cemara di depan rumah warga, kami semakin ke bagian tengah pulau. Di kanan-kiri rumah joglo hampir tak terlihat. Rumah-rumah di sini sudah modern. Rumah gedung dengan tegel sebagai dinding rumah banyak kulihat. Rupanya banyak saudara Jun di sini.

Di belakang rumah salah satu keluarganya, kami menuju pohon ‘bukkol’. Pohonnya cenderung pendek dan buahnya bulat-bulat kecil seperti kersen. Warnanya pun cendrung sama dengan buah kersen yang hijau saat mentah, kuning bila agak matang dan merah terasa manis. Bila kersen sangat lembut, bukkol lebih keras. Aku mencoba yang berwarna kuning. Bagaimana, kata Jun. Kecut, jawabku. Lalu dia menjulurkan tangannya ke atas dan memetik yang berwarna merah lalu memberikan kepadaku. Ah, kecut juga menurutku. Aku tahu, aku tidak suka buah bukkol. Masam sekali rasanya. Tapi di sini, buah bukkol termasuk faforit apalagi untuk rujakan.

Sebelum mengikuti ajakan ketiga perawan Sadulang Kecil itu untuk beranjak ke jembatan kayu di tepi pulau, aku sempat melirik Jun dengan manis dan penuh harap, “Degan ya.” Wajahnya datar menjawab permohonanku yang paling melas.

Semakin ke tepi pulau, pemandangan jembatan kayu menjorok memanjang dari daratan sampai laut terlihat indah. Warna kayunya yang coklat berpadu dengan warna pasir yang putih, warna laut yang biru muda, serta warna langit yang biru dan putih awannya.

Ketiga perawan berlarian berfoto-foto selfie. Aku memilih duduk di tepian jembatan. Eeng menunjukkan bintang laut berwarna perak dengan ukuran kecil padaku. Lalu kulepas lagi ke dalam air di bawah jembatan. Setelah ikut berselfie juga, aku berjalan ke ujung jembatan. Kakiku bergantungan. Di bawahku air laut yang jernih dengan pasir putih yang ditumbuhi rumput laut dengan ikan-ikan berenang. Eeng menunjukkan padaku hewan ‘Burambu’ yang menempel di karang-karang. Mulanya samar anatara Burambu dengan hewan laut. Hanya saja warnanya yang mencolok, membantu mataku menemukannya. Ada yang berwarna ping, merah, dan putih.

Eeng kembali bergabung dengan dua perawan dan selfie lagi. Kesempatanku mengumpulkan energi puitis, dan mulai bersatu dengan jembatan yang menyangga tubuhku, lautan di bawahku, dan langit yang terhampar di atas dan depan pandanganku. Lalu aku mulai bertasbih, mencoba menyapa Tuhan, Sang Maha Puitis. Aku melihat diriku sendiri dari belakang yang mengenakan kaos merah menyatu dengan alam…    

Teriakan burung gunting yang menyemarakkan langit menyadarkanku.  Aku bangkit dan menjejakkan kaki ke pasir putih yang membentang di kiri-kanan jembatan. Sebelah kanan pantai berjejer beberapa keramba;rumah ikan (para nelayan akan menaruh hasil tangkapannya di keramba). Jun bersuit nyaring dari salah-satu pohon kelapa yang tinggi. Aku berteriak girang, tapi tak sekeras teriakan burung gunting.

 Sambil menunggu kelapa, kami sekelompok perawan menyusuri pasir putih di bibir pantai, bermain-main dengan kepiting, bintang laut dan ikan-ikan yang berlarian di antara kaki kami. Rumput laut banyak sekali tumbuh di sini. Eeng menyebutnya, agar laut karena rumput jenis ini biasa digunakan untuk membuat agar-agar. Warnanya putih hampir mirip warna karang laut.

Lelah, kami semua duduk santai di bangku kayu yang lebar di bawah pohon cemara yang sangat rindang. Kami bercanda sampai uwwak, ibu Jun, dan sampannya menjemput kami. Kami berlarian ke jembatan. Eeng merengek untuk membawa Burambu pulang (Burambu adalah hewan yang hidupnya menempel di karang-karang. Kata Jun, Burambu juga merupakan rumah ikan nemo. Warnanya ada yang putih, ping, dan merah).

Jun gagal, dia tidak lebih pandai dari uwwak dan ibunya. Uwwak dan ibunya adalah pasangan nelayan yang serasi dan hebat. Setelah mendapatkan banyak burambu, kami masuk pelan-pelan ke dalam sampan yang berjarak lumayan tinggi dengan jembatan. Mesin ditarik uwwak, dan sampan kami melaju meninggalkan Pulau saular dengan segala pesonanya yang anggun dan seksi…

Dari bawah jembatan yang air lautnya lebat dipenuhi rumput laut dengan bintang laut dan biota laut lainnya yang bertebaran seperti asesoris itulah sampan kami bertolak dari Pulau Saular menuju Pulau Sadulang Kecil. Kini Daman berani duduk di ujung depan sampan. Kami menikmati sampan yang berjalan santai. Eeng masih dengan riangnya menunjukkan segala jenis hewan laut yang bersembunyi dan kadang-kadang muncul dari balik karang juga gerumbulan rumput laut.

Daman nampak senang sekali. Dia menggantungkan kakinya ke bawah hingga menyentuh air. Tapi karena kurangnya pengalamannya (aku tidak berani mengatakan Daman bodoh di sini. Sungguh aku tidak berani, Man!), sampan sempat terbentur batu karang karena kami masih di perairan dangkal dengan air yang hijau jernih.

Sementara Daman yang belum berpengalaman itu tidak sigap dan bingung, juga sedikit terlonjak kaget, Jun langsung cekatan maju ke depan menggantikan tempat Daman. Tapi karena sampan sudah terkadung berbelok ke perairan yang sangat dangkal, Jun mencegur dan mendorong sampan dari bagian kiri. Daman tidak begitu bodoh, dia mengikuti Jun melompat ke bagian kanan. Dan berdua mereka berjalan di atas air yang tidak sampai selutut, mengarahkan sampan ke perairan yang agak dalam.

Angin begitu segar menyelimuti tubuh kami. Apalagi saat masuk ke bagian perut laut, aku merasa ditimang-timang manja oleh ombaknya. Mataku mengantuk sangat saat itu. Rasanya enak sekali kalau langsung ndelosor dan merem. Eeng menunjukkan ikan terbang yang berlompatan. Aku tersenyum senang.

Laut cendrung tenang sore itu. Ombaknya kecil sampai kami mendarat lagi di Pulau Sadulang Kecil. Melewati dapur, sudah ada ikan poge panggang. Aku mendengar bahwa Detok (nenek) yang membakarkannya. Karena pulang terlalu sore, ibu Jun terburu-buru menyiapkan menu buka puasa. Kami yang membantupun ikut merasa dikejar-kejar oleh waktu.

Karena kelelahan, sebelum masuk waktu isya’, aku sudah tepar. Saat sekeluarga sedang tarawih di masjid meski dikelindani lelah, di rumah, aku menyelami alam mimpi dengan pesona potret pulau-pulau dan warna-warni air laut…  

Sadulang Kecil: Kamis, 23 Juni 2016



0 komentar:

Posting Komentar