Hari Kedua: Minggu, 19 Juni 2016
(III)
Semuanya
pindah ke ruang belakang untuk mendapatkan udara yang sejuk. Karena sudah tidak
cukup, berempat gadis memilih duduk di ruangan yang dijadikan kamar, bersama
seorang bayi dan ibunya yang kulihat masih sangat muda. Aku mengobrol dengan
adik ipar Jun terkait pengalamannya hamil dan melahirkan. Aku penasaran
bagaiamana susah-senangnya hamil apalagi melahirkan di tempat yang akses
pemeriksaan kesehatan belum maksimal dibandingkan tempat-tempat lain apalagi di
kota.
Lalu
dia menceritakan semuanya, mulai dari kehamilan dan kesulitannya melahirkan
yang harus menyebrang dulu ke pulau Sapeken. Tapi karena ada sedikit masalah
dengan kandungan dan peralatan di klinik Sapeken, dia harus dirujuk ke Bali.
Menurutnya, satu hari-satu malam dia menahan sakit di atas kapal keluarga
menuju ke Bali. Menahan sakitnya kontraksi di rahimnya. Ibu muda ini juga
menceritakan keterkejutannya bahwa dia melahirkan kembar.
Dia
merasa kehamilannya begitu berat, dan sulit makan bahkan sampai 9 bulan. Hanya
es yang menurutnya bisa masuk ke mulutnya. Tapi menurut bidan dan dukun beranak
di pulaunya, bayinya hanya satu. Begitupula menurut bidan di klinik pulau
Sapeken, bahkan saat di USG di Rumah Sakit Bali. Hanya satu janin yang
terdeteksi, tapi dua bayi yang ternyata ada di dalam rahimnya saat persalinan
dengan oprasi yang harus dijalaninya.
Sungguh
hebat perempuan-perempuan yang hidup di pulau-pulau. Aku menaksir, daya
hidupnya lebih berlipat-lipat daripada perempuan yang hidup di kota. Sekarang,
perempuan ini bisa tersenyum bahagia saat memberikan susu formula ke bayinya
setelah kenangan kontraksi di atas ombak selama sehari semalam dilaluinya. Sesampainya
di sana, detak jantung janinnya sudah lemah. Aku yakin, jika bukan karena daya
hidup yang dimiliki ibunya, seorang perempuan pulau yang sungguh kuat itu,
takdir Tuhan tidak akan bersambut. Allaahu a’lam. Cieh, tulisannya kok
tiba-tiba alim gini.
Kami,
kecuali ibu Jun --yang masih ingin berlama-lama menggendong cucunya--,bejalan
menyusuri pulau ini sampai ke tepian pulau di ujung yang lain. Melewati masjid
yang besar dan pohon cemara di depan rumah warga, kami semakin ke bagian tengah
pulau. Di kanan-kiri rumah joglo hampir tak terlihat. Rumah-rumah di sini sudah
modern. Rumah gedung dengan tegel sebagai dinding rumah banyak kulihat. Rupanya
banyak saudara Jun di sini.
Di
belakang rumah salah satu keluarganya, kami menuju pohon ‘bukkol’. Pohonnya
cenderung pendek dan buahnya bulat-bulat kecil seperti kersen. Warnanya pun
cendrung sama dengan buah kersen yang hijau saat mentah, kuning bila agak
matang dan merah terasa manis. Bila kersen sangat lembut, bukkol lebih keras.
Aku mencoba yang berwarna kuning. Bagaimana, kata Jun. Kecut, jawabku. Lalu dia
menjulurkan tangannya ke atas dan memetik yang berwarna merah lalu memberikan
kepadaku. Ah, kecut juga menurutku. Aku tahu, aku tidak suka buah bukkol. Masam
sekali rasanya. Tapi di sini, buah bukkol termasuk faforit apalagi untuk
rujakan.
Sebelum
mengikuti ajakan ketiga perawan Sadulang Kecil itu untuk beranjak ke jembatan
kayu di tepi pulau, aku sempat melirik Jun dengan manis dan penuh harap, “Degan
ya.” Wajahnya datar menjawab permohonanku yang paling melas.
Semakin
ke tepi pulau, pemandangan jembatan kayu menjorok memanjang dari daratan sampai
laut terlihat indah. Warna kayunya yang coklat berpadu dengan warna pasir yang
putih, warna laut yang biru muda, serta warna langit yang biru dan putih
awannya.
Ketiga
perawan berlarian berfoto-foto selfie. Aku memilih duduk di tepian jembatan.
Eeng menunjukkan bintang laut berwarna perak dengan ukuran kecil padaku. Lalu
kulepas lagi ke dalam air di bawah jembatan. Setelah ikut berselfie juga, aku
berjalan ke ujung jembatan. Kakiku bergantungan. Di bawahku air laut yang
jernih dengan pasir putih yang ditumbuhi rumput laut dengan ikan-ikan berenang.
Eeng menunjukkan padaku hewan ‘Burambu’ yang menempel di karang-karang. Mulanya
samar anatara Burambu dengan hewan laut. Hanya saja warnanya yang mencolok,
membantu mataku menemukannya. Ada yang berwarna ping, merah, dan putih.
Eeng
kembali bergabung dengan dua perawan dan selfie lagi. Kesempatanku mengumpulkan
energi puitis, dan mulai bersatu dengan jembatan yang menyangga tubuhku, lautan
di bawahku, dan langit yang terhampar di atas dan depan pandanganku. Lalu aku
mulai bertasbih, mencoba menyapa Tuhan, Sang Maha Puitis. Aku melihat diriku
sendiri dari belakang yang mengenakan kaos merah menyatu dengan alam…
Teriakan
burung gunting yang menyemarakkan langit menyadarkanku. Aku bangkit dan menjejakkan kaki ke pasir
putih yang membentang di kiri-kanan jembatan. Sebelah kanan pantai berjejer
beberapa keramba;rumah ikan (para nelayan akan menaruh hasil tangkapannya di
keramba). Jun bersuit nyaring dari salah-satu pohon kelapa yang tinggi. Aku
berteriak girang, tapi tak sekeras teriakan burung gunting.
Sambil menunggu kelapa, kami sekelompok
perawan menyusuri pasir putih di bibir pantai, bermain-main dengan kepiting,
bintang laut dan ikan-ikan yang berlarian di antara kaki kami. Rumput laut
banyak sekali tumbuh di sini. Eeng menyebutnya, agar laut karena rumput jenis
ini biasa digunakan untuk membuat agar-agar. Warnanya putih hampir mirip warna
karang laut.
Lelah,
kami semua duduk santai di bangku kayu yang lebar di bawah pohon cemara yang
sangat rindang. Kami bercanda sampai uwwak, ibu Jun, dan sampannya menjemput
kami. Kami berlarian ke jembatan. Eeng merengek untuk membawa Burambu pulang (Burambu
adalah hewan yang hidupnya menempel di karang-karang. Kata Jun, Burambu juga
merupakan rumah ikan nemo. Warnanya ada yang putih, ping, dan merah).
Jun
gagal, dia tidak lebih pandai dari uwwak dan ibunya. Uwwak dan ibunya adalah pasangan
nelayan yang serasi dan hebat. Setelah mendapatkan banyak burambu, kami masuk
pelan-pelan ke dalam sampan yang berjarak lumayan tinggi dengan jembatan. Mesin
ditarik uwwak, dan sampan kami melaju meninggalkan Pulau saular dengan segala
pesonanya yang anggun dan seksi…
Dari
bawah jembatan yang air lautnya lebat dipenuhi rumput laut dengan bintang laut
dan biota laut lainnya yang bertebaran seperti asesoris itulah sampan kami bertolak
dari Pulau Saular menuju Pulau Sadulang Kecil. Kini Daman berani duduk di ujung
depan sampan. Kami menikmati sampan yang berjalan santai. Eeng masih dengan
riangnya menunjukkan segala jenis hewan laut yang bersembunyi dan kadang-kadang
muncul dari balik karang juga gerumbulan rumput laut.
Daman
nampak senang sekali. Dia menggantungkan kakinya ke bawah hingga menyentuh air.
Tapi karena kurangnya pengalamannya (aku tidak berani mengatakan Daman bodoh di
sini. Sungguh aku tidak berani, Man!), sampan sempat terbentur batu karang
karena kami masih di perairan dangkal dengan air yang hijau jernih.
Sementara
Daman yang belum berpengalaman itu tidak sigap dan bingung, juga sedikit
terlonjak kaget, Jun langsung cekatan maju ke depan menggantikan tempat Daman. Tapi
karena sampan sudah terkadung berbelok ke perairan yang sangat dangkal, Jun
mencegur dan mendorong sampan dari bagian kiri. Daman tidak begitu bodoh, dia
mengikuti Jun melompat ke bagian kanan. Dan berdua mereka berjalan di atas air
yang tidak sampai selutut, mengarahkan sampan ke perairan yang agak dalam.
Angin
begitu segar menyelimuti tubuh kami. Apalagi saat masuk ke bagian perut laut,
aku merasa ditimang-timang manja oleh ombaknya. Mataku mengantuk sangat saat
itu. Rasanya enak sekali kalau langsung ndelosor dan merem. Eeng
menunjukkan ikan terbang yang berlompatan. Aku tersenyum senang.
Laut
cendrung tenang sore itu. Ombaknya kecil sampai kami mendarat lagi di Pulau
Sadulang Kecil. Melewati dapur, sudah ada ikan poge panggang. Aku mendengar
bahwa Detok (nenek) yang membakarkannya. Karena pulang terlalu sore, ibu Jun terburu-buru
menyiapkan menu buka puasa. Kami yang membantupun ikut merasa dikejar-kejar
oleh waktu.
Karena kelelahan, sebelum masuk waktu isya’, aku
sudah tepar. Saat sekeluarga sedang tarawih di masjid meski dikelindani lelah,
di rumah, aku menyelami alam mimpi dengan pesona potret pulau-pulau dan
warna-warni air laut…
Sadulang Kecil: Kamis,
23 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar