Sabtu, 13 Agustus 2016

BERSAMPAN KE PULAU SAULAR

Hari Kedua, 19 Juni 2016
(II)

Menunggu dua monster bangun, aku memilih beranjak ke belakang rumah. Menikmati sapuan angin pantai yang masih segar dengan memandangi air laut yang berkeretap karena cahaya mentari, juga jejeran sampan yang bergoyang-goyang terapung di atas air. Eeng dan Eva keluar dari pintu belakang sambil ketawa-ketawa, lalu menyusul duduk di dekatku. Kesempatanku bertanya pada dua gadis yang beranjak perawan ini tentang ini itu. Tentang ukuran-ukuran sampan, nama-nama ikan, mitos laut setangis; karena ombaknya yang besar, banyak orang yang menangis saat melewati laut ini. Menurut Jun, kami telah melewati laut setangis ini saat perjalan dari dermaga Sapeken malam itu. Tapi untung, aku gak menangis hehe, juga batu pengantin; batu yang tiba-tiba akan menyembul dari dasar laut dan menyembul begitu saja ke permukaan yang membuat para nelayan terkejut saat perahunya menabrak batu, dan tak jarang ada yang mati. Juga Keramba, tempat penyimpanan ikan setelah nelayan mendapatkannya.

Eva mengajakku menaiki sampan yang ukurannya super duper kecil dan sempit. Sampan-sampan yang dari kemarin berkesan bagiku karena imut-imut sekali. Kelebarannya kira-kira setengah meter dengan panjang tiga sampai empat meter. Saat aku tanya apa kalian bisa mengendarai sampan, mereka berdua tertawa dan mengatakan tentu saja bisa. Sambil menambahkan, di sini para perempuan pun pandai menyampan. Aku menolak ragu, takut ombak, kataku. Ombak berada di tengah sana, Mbak, kita di area sini saja, kata mereka. Nanti kalau jatuh karena sampan oleng gimana? Tanyaku lagi mencari alasan. Ya enak, tinggal renang, kata Eva santai dan senang. Lalu Eeng nyeletuk begitu saja mengatakan kalau mbak Halimah gak bisa berenang. Mereka berdua lalu ngikik kecil. Aku juga ikut ngikik. Eeng lalu menjelaskan bahwa sampan-sampan kecil itu ada ‘katernya’ yang berfungsi menjaga keseimbangan, jadi sampan gak akan terbalik. Lalu aku memperhatikan betul ‘kater’ yang semacam kayu melengkung, ada di satu sisi tiap sampan-sampan kecil itu.

Si dua bajingan telah bangun, kami sekeluarga bersiap menuju Pulau Saular menjenguk keponakan kembar Jun yang baru berumur beberapa bulan. Ibu Jun menyusul ke belakang sambil mengatakan kok Daman gak mau ikut. Lalu beliau menyampaikan cara agar Daman ikut. Aku ketawa ngakak saat bertanya pada Daman katanya gak mau ikut dan dia menjawab, “Iya, katanya mau menginap semua.” Aku ketawa mengakui kecerdikan ibu Jun sekaligus ketololan Daman.

Dengan menggunakan sampan Mamak (begitu Jun memanggil kakeknya yang keturunan Sulawesi), kami bertujuh  menuju Pulau Saular. Pulau yang terlihat hijau dan panjang bila dilihat dari Pulau Sadulang Kecil. Aku, Eeng,  Eva, dan Atun (juga masih kerabat Jun)duduk di perut sampan, Uwwak (Jun memanggil ayahnya) dan ibu Jun di ujung belakang, dan dua bajingan di ujung depan. Uwwak menarik mesin, dan sampan melaju anggun di tengah lautan dangkal yang berwarna hijau muda keputihan karena pasir putihnya. Mula-mula cuaca terasa panas, tapi saat memasuki kedalaman air bekisar dua-tiga meter, udara menjadi sejuk. Air laut tampak berubah-rubah warna. Saat dasarnya pasir putih, air laut berwarna hijau muda. Saat pasir putih atau bebatuan ditumbuhi rumput laut, air laut berwarna hijau tua, dan saat mulai masuk kedalaman di tengah-tengah, air laut menjadi biru.

Aku dan Eeng memainkan air dengan tangan. Sambil menunjuk-nunjuk hewan-hewan laut yang cantik-cantik dan lucu-lucu, macam-macam rumput laut, karang-karang laut, juga bebatuan warna-warni yang memberi efek indah pada warna laut. Ada merah, biru tua, hijau, jingga, ungu, dan bermacam warna lainnya. Sungguh, lautan membuatku terkagum-kagum, tak henti-henti. Oh, Gusti, kemana saja aku selama ini? 

Beberapa jenis ikan menari-nari di bawah sana. Bermain-main di balik terumbu karang. Berkejar-kejaran begitu riang. Terlihat sangat jelas karena air laut nan jernih. Anginnya yang segar aku rasai betul, seakan ingin menyimpan rapih moment ini. Iya, aku adalah tipikal orang pengejar momen. Karena bagiku, inilah caraku berbahagia. Berbahagia mendekat kepada Tuhan dengan cara mengenali dan berdekat-dekatan dengan makhluk-makhlukNya, terutama ciptaannya yang mengandung unsur pesona yang berwarna. Air menyiprat ke mukaku dan Eeng, tapi kami malah tertawa bahagia….

Tidak sampai satu jam, mulai dekat dengan Pulau Saular. Sampan mulai masuk ke perairan dangkal lagi. Dan kami mulai melihat pasir putih sebagai dasar perairan. Rumput laut lebih banyak di sini. Warna airnya hijau muda sangat jernih. Aku teringat perairan laut di film Kahoona Pyaar Hai. Tapi sungguh, menurutku lebih indah yang ini. Perairan laut di tepi Pulau Saular. Pulau hijau yang dikelilingi pasir putih yang bersih juga lambaian pohon-pohon kelapanya yang tinggi.

Satu persatu kami keluar dari sampan. Berjalan sebentar di dalam air yang dalamnya hanya di atasnya matakaki, lalu masuk pulau. Di samping kanan dan kiri pohon-pohon dan berbagai tumbuhan liar berwarna hijau segar. Daratan pulau ini adalah pasir putih. Rumah adik laki-laki Jun yang sudah menikah dan memiliki bayi kembar ini ternyata berada tidak jauh dari tepi pulau. Rumah joglo yang sederhana dan unik. 

Kami menaiki tangga dan masuk ke dalam rumah. Rumah joglo yang terbuat dari kayu ini terdiri dari lima bagian. Bagian depan seperti teras, ruang utama, lorong yang menghubungkan antara ruang utama dan kamar yang sekaligus sebagai dapur, dan di belakang sendiri tempat bersantai lebih lebar dari ukuran teras. Ruangan belakang yang langsung menghadap pohon-pohon hijau rimbun, lalu lautan.

Waktu itu rumah lumayan ramai. Ibu Jun tampak girang sekali bertemu dengan cucunya. Sementara Jun digojlok tak habis-habis karena disalip adiknya, sementara dirinya masih saja setia membujang. Bujang lapuk. Di tulisan ini aku tidak ingin membocorkan Jun yang mokel;berhenti puasa, dan diikuti Daman. Mengucurkan air ke gelas dari galon dan meminumnya di hadapan orang puasa. Subhanallah! Lalu, aku juga ikut minum. Melet. Oh, kalau aku kan sedang dapat bonus.


Sadulang Kecil: Kamis, 23 Juni 2016


0 komentar:

Posting Komentar