Hari Kedua, 19 Juni 2016
(II)
Menunggu
dua monster bangun, aku memilih beranjak ke belakang rumah. Menikmati sapuan
angin pantai yang masih segar dengan memandangi air laut yang berkeretap karena
cahaya mentari, juga jejeran sampan yang bergoyang-goyang terapung di atas air.
Eeng dan Eva keluar dari pintu belakang sambil ketawa-ketawa, lalu menyusul
duduk di dekatku. Kesempatanku bertanya pada dua gadis yang beranjak perawan
ini tentang ini itu. Tentang ukuran-ukuran sampan, nama-nama ikan, mitos laut
setangis; karena ombaknya yang besar, banyak orang yang menangis saat melewati
laut ini. Menurut Jun, kami telah melewati laut setangis ini saat perjalan dari
dermaga Sapeken malam itu. Tapi untung, aku gak menangis hehe, juga batu
pengantin; batu yang tiba-tiba akan menyembul dari dasar laut dan menyembul
begitu saja ke permukaan yang membuat para nelayan terkejut saat perahunya
menabrak batu, dan tak jarang ada yang mati. Juga Keramba, tempat penyimpanan
ikan setelah nelayan mendapatkannya.
Eva
mengajakku menaiki sampan yang ukurannya super duper kecil dan sempit.
Sampan-sampan yang dari kemarin berkesan bagiku karena imut-imut sekali.
Kelebarannya kira-kira setengah meter dengan panjang tiga sampai empat meter.
Saat aku tanya apa kalian bisa mengendarai sampan, mereka berdua tertawa dan mengatakan
tentu saja bisa. Sambil menambahkan, di sini para perempuan pun pandai
menyampan. Aku menolak ragu, takut ombak, kataku. Ombak berada di tengah sana,
Mbak, kita di area sini saja, kata mereka. Nanti kalau jatuh karena sampan
oleng gimana? Tanyaku lagi mencari alasan. Ya enak, tinggal renang, kata Eva
santai dan senang. Lalu Eeng nyeletuk begitu saja mengatakan kalau mbak Halimah
gak bisa berenang. Mereka berdua lalu ngikik kecil. Aku juga ikut ngikik. Eeng
lalu menjelaskan bahwa sampan-sampan kecil itu ada ‘katernya’ yang berfungsi
menjaga keseimbangan, jadi sampan gak akan terbalik. Lalu aku memperhatikan
betul ‘kater’ yang semacam kayu melengkung, ada di satu sisi tiap sampan-sampan
kecil itu.
Si
dua bajingan telah bangun, kami sekeluarga bersiap menuju Pulau Saular
menjenguk keponakan kembar Jun yang baru berumur beberapa bulan. Ibu Jun
menyusul ke belakang sambil mengatakan kok Daman gak mau ikut. Lalu beliau
menyampaikan cara agar Daman ikut. Aku ketawa ngakak saat bertanya pada Daman
katanya gak mau ikut dan dia menjawab, “Iya, katanya mau menginap semua.” Aku
ketawa mengakui kecerdikan ibu Jun sekaligus ketololan Daman.
Dengan
menggunakan sampan Mamak (begitu Jun memanggil kakeknya yang keturunan
Sulawesi), kami bertujuh menuju Pulau
Saular. Pulau yang terlihat hijau dan panjang bila dilihat dari Pulau Sadulang
Kecil. Aku, Eeng, Eva, dan Atun (juga
masih kerabat Jun)duduk di perut sampan, Uwwak (Jun memanggil ayahnya) dan ibu
Jun di ujung belakang, dan dua bajingan di ujung depan. Uwwak menarik mesin,
dan sampan melaju anggun di tengah lautan dangkal yang berwarna hijau muda
keputihan karena pasir putihnya. Mula-mula cuaca terasa panas, tapi saat
memasuki kedalaman air bekisar dua-tiga meter, udara menjadi sejuk. Air laut
tampak berubah-rubah warna. Saat dasarnya pasir putih, air laut berwarna hijau
muda. Saat pasir putih atau bebatuan ditumbuhi rumput laut, air laut berwarna
hijau tua, dan saat mulai masuk kedalaman di tengah-tengah, air laut menjadi
biru.
Aku
dan Eeng memainkan air dengan tangan. Sambil menunjuk-nunjuk hewan-hewan laut yang
cantik-cantik dan lucu-lucu, macam-macam rumput laut, karang-karang laut, juga
bebatuan warna-warni yang memberi efek indah pada warna laut. Ada merah, biru
tua, hijau, jingga, ungu, dan bermacam warna lainnya. Sungguh, lautan membuatku
terkagum-kagum, tak henti-henti. Oh, Gusti, kemana saja aku selama ini?
Beberapa
jenis ikan menari-nari di bawah sana. Bermain-main di balik terumbu karang.
Berkejar-kejaran begitu riang. Terlihat sangat jelas karena air laut nan
jernih. Anginnya yang segar aku rasai betul, seakan ingin menyimpan rapih
moment ini. Iya, aku adalah tipikal orang pengejar momen. Karena bagiku, inilah
caraku berbahagia. Berbahagia mendekat kepada Tuhan dengan cara mengenali dan
berdekat-dekatan dengan makhluk-makhlukNya, terutama ciptaannya yang mengandung
unsur pesona yang berwarna. Air menyiprat ke mukaku dan Eeng, tapi kami malah
tertawa bahagia….
Tidak
sampai satu jam, mulai dekat dengan Pulau Saular. Sampan mulai masuk ke
perairan dangkal lagi. Dan kami mulai melihat pasir putih sebagai dasar
perairan. Rumput laut lebih banyak di sini. Warna airnya hijau muda sangat
jernih. Aku teringat perairan laut di film Kahoona Pyaar Hai. Tapi
sungguh, menurutku lebih indah yang ini. Perairan laut di tepi Pulau Saular.
Pulau hijau yang dikelilingi pasir putih yang bersih juga lambaian pohon-pohon
kelapanya yang tinggi.
Satu
persatu kami keluar dari sampan. Berjalan sebentar di dalam air yang dalamnya
hanya di atasnya matakaki, lalu masuk pulau. Di samping kanan dan kiri
pohon-pohon dan berbagai tumbuhan liar berwarna hijau segar. Daratan pulau ini
adalah pasir putih. Rumah adik laki-laki Jun yang sudah menikah dan memiliki
bayi kembar ini ternyata berada tidak jauh dari tepi pulau. Rumah joglo yang sederhana
dan unik.
Kami menaiki tangga dan masuk ke dalam rumah. Rumah joglo yang
terbuat dari kayu ini terdiri dari lima bagian. Bagian depan seperti teras,
ruang utama, lorong yang menghubungkan antara ruang utama dan kamar yang
sekaligus sebagai dapur, dan di belakang sendiri tempat bersantai lebih lebar
dari ukuran teras. Ruangan belakang yang langsung menghadap pohon-pohon hijau
rimbun, lalu lautan.
Waktu
itu rumah lumayan ramai. Ibu Jun tampak girang sekali bertemu dengan cucunya.
Sementara Jun digojlok tak habis-habis karena disalip adiknya, sementara
dirinya masih saja setia membujang. Bujang lapuk. Di tulisan ini aku tidak
ingin membocorkan Jun yang mokel;berhenti puasa, dan diikuti Daman. Mengucurkan
air ke gelas dari galon dan meminumnya di hadapan orang puasa. Subhanallah! Lalu,
aku juga ikut minum. Melet. Oh, kalau aku kan sedang dapat bonus.
Sadulang Kecil: Kamis,
23 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar