Sabtu, 13 Agustus 2016

SEEKOR KEPITING MENERTAWAKANKU

Hari Kedua: Minggu, 19 Juni 2016
(I)

Ibu Jun membangunkan, apa aku akan ikut makan di waktu sahur? Aku menolak halus antara sadar dan tidak. Pagi-pagi sekali saat semua masih tidur kecuali ibu Jun yang sudah mandi keramas dan menata dagangannya di depan rumah, aku mandi. Masih mengenakan telesan kerudung hitam yang kemarin aku pakai. Badan segar sekali karena kemarin sore tidak mandi. Ibu Jun menyuruhku makan. Masih ada cumi-cumi rebus, ikan ketambek goreng, dan rajungan alias salah satu jenis kepiting berukuran sedang. Jun dan Daman masih seperti biasa, teller di alam mimpi masing-masing. Sementara bapak Jun sudah tidak kelihatan sedari tadi pagi, pergi ke laut dengan aktifitas sehari-harinya. Entah memancing atau mengecek sampan dan memperbaiki kapal barunya.

Sekitar jam 09.00 pagi aku pergi ke dapur. Mengambil sedikit nasi, ikan ketambak goreng juga memasukkan seekor rajungan rebus ke dalam piring. Aku memilih sarapan di kamar saja sambil menonton video di laptop. Ikan ketambaknya masih sangat gurih di mulut, tapi saat mencubit rajungan aku menemukan masalah. Kulit rajungan keras sekali. Dulu, sewaktu kecil, aku pernah makan rajungan berukuran lebih besar dari rajungan ini, tapi itu sudah dalam posisi terbelah, jadi aku tinggal mengambil dagingnya yang putih segar dengan mudah. Tapi, rajungan ini masih utuh, keras sekali. Aku bingung untuk memakannya. Dengan kecewa, akhirnya akau makan nasi dan ikan ketambaknya dan mengambil krupuk di dapur. Dan rajungan yang sepertinya enak sekali itu, terpaksa kugeletakkan di tempatnya semula, sebuah piring putih. Bye-bye rajungan… kamu selamat dari mulut rakusku pagi ini. Ya, Tuhan bodoh sekali aku hahaha.

Ibu Jun yang karakternya hampir mirip ibuku heboh, mengapa aku tidak makan. Nasinya banyak, rajungannya utuh, kamu makan dengan apa? Jun tidak lepas menjadi objek pelampiasan kekhawatirannya karena aku tidak makan. Lalu, Jun bangun (hahaha kapok) dari pertapaannya di kasur ruang tamu depan tivi. Dengan menggeser tubuhnya menghadap kamarku yang terbuka dimana aku dan Eeng sedang mengobrol, Jun bertanya dengan wajah jeleknya khas orang bangun tidur. Oh ya, aku sempat melirik rambutnya yang acak-acakan dan dia mulai membuka mulut: “Halimah, kamu gak makan ya?” Aku langsung beranjak dari kasur, dari ambang pintu kamar aku menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sejurus kemudian dia tertawa ngakak-ngakak dan langsung laporan pada ibunya. Seisi rumah tertawa. Ibu Jun sempat meledekku lucu. Aku sudah mati pagi itu.


Tak lama, setelah Eva (sepupu Jun yang umurnya di bawah Eeng) datang, ibu Jun membawakan molen hangat untukku sambil mengatakan:”Kalau kamu gak makan banyak kapan gemuknya. Nih langsung dimakan mumpung masih hangat.” Aku ketawa ngakak-ngakak sambil mencomot satu molen dari mangkok yang dibawanya. Sementara Eeng dan Eva yang sedang berpuasa berteriak, ngiler. Aku tambah ngakak sambil sengaja menggigit molen dengan gaya yang kuenak-enakkan. Mereka berdua tambah berteriak.

Sadulang Kecil: Kamis, 23 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar