Hari Kedua: Minggu, 19 Juni 2016
(I)
Ibu
Jun membangunkan, apa aku akan ikut makan di waktu sahur? Aku menolak halus
antara sadar dan tidak. Pagi-pagi sekali saat semua masih tidur kecuali ibu Jun
yang sudah mandi keramas dan menata dagangannya di depan rumah, aku mandi.
Masih mengenakan telesan kerudung hitam yang kemarin aku pakai. Badan segar
sekali karena kemarin sore tidak mandi. Ibu Jun menyuruhku makan. Masih ada cumi-cumi
rebus, ikan ketambek goreng, dan rajungan alias salah satu jenis kepiting
berukuran sedang. Jun dan Daman masih seperti biasa, teller di alam mimpi
masing-masing. Sementara bapak Jun sudah tidak kelihatan sedari tadi pagi,
pergi ke laut dengan aktifitas sehari-harinya. Entah memancing atau mengecek
sampan dan memperbaiki kapal barunya.
Sekitar
jam 09.00 pagi aku pergi ke dapur. Mengambil sedikit nasi, ikan ketambak goreng
juga memasukkan seekor rajungan rebus ke dalam piring. Aku memilih sarapan di
kamar saja sambil menonton video di laptop. Ikan ketambaknya masih sangat gurih
di mulut, tapi saat mencubit rajungan aku menemukan masalah. Kulit rajungan
keras sekali. Dulu, sewaktu kecil, aku pernah makan rajungan berukuran lebih
besar dari rajungan ini, tapi itu sudah dalam posisi terbelah, jadi aku tinggal
mengambil dagingnya yang putih segar dengan mudah. Tapi, rajungan ini masih
utuh, keras sekali. Aku bingung untuk memakannya. Dengan kecewa, akhirnya akau
makan nasi dan ikan ketambaknya dan mengambil krupuk di dapur. Dan rajungan
yang sepertinya enak sekali itu, terpaksa kugeletakkan di tempatnya semula,
sebuah piring putih. Bye-bye rajungan… kamu selamat dari mulut rakusku pagi
ini. Ya, Tuhan bodoh sekali aku hahaha.
Ibu
Jun yang karakternya hampir mirip ibuku heboh, mengapa aku tidak makan. Nasinya
banyak, rajungannya utuh, kamu makan dengan apa? Jun tidak lepas menjadi objek
pelampiasan kekhawatirannya karena aku tidak makan. Lalu, Jun bangun (hahaha
kapok) dari pertapaannya di kasur ruang tamu depan tivi. Dengan menggeser
tubuhnya menghadap kamarku yang terbuka dimana aku dan Eeng sedang mengobrol,
Jun bertanya dengan wajah jeleknya khas orang bangun tidur. Oh ya, aku sempat
melirik rambutnya yang acak-acakan dan dia mulai membuka mulut: “Halimah, kamu
gak makan ya?” Aku langsung beranjak dari kasur, dari ambang pintu kamar aku
menjelaskan yang sebenarnya terjadi. Sejurus kemudian dia tertawa ngakak-ngakak
dan langsung laporan pada ibunya. Seisi rumah tertawa. Ibu Jun sempat meledekku
lucu. Aku sudah mati pagi itu.
Tak
lama, setelah Eva (sepupu Jun yang umurnya di bawah Eeng) datang, ibu Jun
membawakan molen hangat untukku sambil mengatakan:”Kalau kamu gak makan banyak
kapan gemuknya. Nih langsung dimakan mumpung masih hangat.” Aku ketawa
ngakak-ngakak sambil mencomot satu molen dari mangkok yang dibawanya. Sementara
Eeng dan Eva yang sedang berpuasa berteriak, ngiler. Aku tambah ngakak sambil
sengaja menggigit molen dengan gaya yang kuenak-enakkan. Mereka berdua tambah
berteriak.
Sadulang Kecil: Kamis,
23 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar