Hari Pertama, Sabtu 18 Juni 2016
Suara perempuan mengaji
dengan mikrovon terdengar keras sekali. Tiba-tiba nuansa Madura yang reliji
menyeruap ke dadaku, menjadikanku kangen Madura dan masa-masa kecilku. Aku
terbangun tapi mataku masih sulit kubuka. Tubuhku juga masih menolak untuk
kuajak bangkit. Aku menerka-nerka di belakang jendela kamar inilah asal suara
tadarrusan. Aku sudah bisa menebak, pasti ini suara kelompok perempuan yang
tadarrusan di siang hari bulan Ramadan. Enak sekali mendengarnya, jiwa seperti
diayun-ayun buaian Surga, dan aku terlelap lagi. Rumah pun sepi. Hanya
suara-suara orang di luar rumah yang sepertinya sudah mulai melakukan aktifitas
keseharian.
Jam delapan aku bangun.
Menuju kamar mandi dengan menenteng baju ganti. Ah, pintu kamar mandinya dari
kelambu. Kekagetanku bukan karena ini pertama kalinya melihat pintu kamar mandi
seperti ini, tapi lebih ke rasa risih jika di pertengahan aktifitas mandi
tiba-tiba kelambu terbuka. Oh tidak. Aku lari kecil kembali ke kamar. Mengambil
pasmina untuk kujadikan telesan. Mandi jadi tenang….
Selesai mandi, ibu Jun
mengingatkanku untuk sarapan. Jangan malu-malu, anggap rumah sendiri, biar
gemuk, pulangnya ibumu biar gak kaget. Aku ketawa mengiyakan. Lalu aku masuk
kamar untuk menata baju, dan ibu Jun mengetuk pintu kamar. Membawa satu botol
kiranti, menunjukkan kepadaku dan menegaskan apakah ini untuk melancarkan
darah. Aku membenarkan dan menjelaskan kalau itu untuk melancarkan darah saat
haidh sekaligus cara dan jangka minumnya. Tiba-tiba dua perempuan datang. Satu
seumuran ibu Jun, satunya lagi masih umur lima belas tahun, seumuran Eeng, adik
perempuan Jun. Ibu Jun menjelaskan penjelasanku kepada kedua perempuan itu. Aku
mengangguk-ngangguk saat perempuan seumur ibu Jun bertanya padaku. Sementara
perempuan belasan tahun itu mengambil minuman botol yang mengandung soda. Aku
tahu itu tidak bagus diminum saat haidh. Iya, aku mengira perempuan belasan
tahun itu sedang mendapati haidh pertamanya.
Lalu mereka bertiga
mengobrol dengan bahasa Madura sangat cepat. Tidak semuanya aku pahami, karena
bahasa Maduranya berbeda dengan bahasa Madura bapak-ibuku. Aku kaget saat aku
merasa paham bahwa perempuan belasan tahun itu bukan mendapatkan masa haidnya
yang pertama melainkan ingin menggugurkan janin yang baru dikandungnya. Aku
bingung. Tentu saja bukan kiranti yang cocok, tapi minuman yang mengandung soda
yang sedang dipegang perempuan belasan tahun itu yang akan membuat kandungan
gugur. Aku gamang, antara akan menjelaskan atau tidak. Tidak menjelaskan, aku
tahu. Menjelaskan, aku takut minuman mengandung soda itu benar-benar dibelinya
dan kandungannya benar-benar gugur. Aku takut turut andil dalam proses
pembunuhan jabang bayi itu. Aku memilih diam.
Kiranti akhirnya yang lebih
dipilih. Mereka pulang, dan ibu Jun menjelaskan kalau perempuan belasan tahun
itu baru menikah, dan sekarang hamil, sementara dia tidak mau hamil karena
tidak suka pada suaminya. Lagi-lagi aku hanya terdiam dengan pikiran yang
mengambang-ngambang. Ibu Jun mengatakan lagi, bahwa sebenarnya dia tahu orang
yang dapat memijat rahim untuk mematikan janin itu. “Tapi itu bahaya untuk
rahim, apalagi dia belum pernah hamil sebelumnya, bisa-bisa dia tidak punya
anak selamanya,” kata Ibu Jun. Ibu Jun juga mengatakan pandangannya yang
sebenarnya tidak setuju dengan keputusan menggugurkan kandungan itu.
***
Hari pertama di sini masih
berisi keterkujatan demi keterjutan. Saat aku dengan manisnya mencolokkan
charger laptop ke terminal, dari atas kasur di ruang tamu, Jun dengan tengilnya
bertanya, “Kamu ngecahsh?” aku mengangguk polos. “Ngechas sama apa kamu lawong
listriknya mati,” masih dengan gaya tengil. “Oh, sedang mati listrik?” aku
tetap polos, sifat asliku yang tidak diketahui Jun dan Daman. Dan dengan gaya
tengilnya yang sudah memuakkan, Jun berseloroh, “Gak ada listrik. Listrik cuma
hidup kalau malam hari.” Aku melongo saja, merasa kalah 1-0 dengannya. Tapi,
saat itu juga, aku merasa punya tiket untuk menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya.
Aku tahu, kalau masa kecilnya kurang bahagia. Tidak ada Doraemon di tiap hari
Minggu pagi, hari yang diidam-idamkan banyak anak-anak sejagad Indonesia Raya
ini. Aku tertawa ngakak di hati. Kenak kamu ya!
Aku juga kaget saat
menanyakan harga tomat dan cabe ke Ibu Jun. Satu kilo tomat di sini berharga
50.000,-. Lalu ibu Jun balik bertanya. “Terakhir ke pasar, tomat di Malang
harganya 3.000,-, Buk.” Giliran ibu Jun agak menjerit. Hihihi. Aku juga mencari
tahu harga-harga lainnya. Satu butir telur 2.500,-; minyak goreng 14.000,-; rokok
hanya beda seribu rupiah saja; harga jajanan yang biasanya di Jawa 500,- di
sini berharga sama.
Jun dan Daman bangun siang
sekali. Di ambang pintu kamar wajah tengil Jun muncul, “Heh, mau lihat aku
mandi?” “Hah?” aku kaget gila. “Katanya mau belajar berenang?” Aku langsung
meloncat. Mengikutinya dari belakang menuju belakang rumahnya, tempat
sampan-sampan semalam tertambat. Eeng juga beranjak dari tidurnya, mengekor di
belakang kami. Jun sempat jongkok di atas tembok karang memandangi air laut
yang berwarna hijau jernih dengan ikan-ikan kecil yang berwarna warni. Juga
beberapa ikan yang menurut Eeng bisa dimakan. Kami nongkrong bertiga di atas tembok
karang. Tembok karang adalah tembok pembatas antara rumah-rumah penduduk dengan
lautan. “Kalau Daman datang, langsung suruh nyusul ya,” kata Jun yang tiba-tiba
berdiri dan meloncat begitu saja ke laut. Begitu lanyah dia berenang.
Nyaris
tidak bisa dibedakan mana ikan, mana manusia ikan wakwak.
Lalu Daman menyusul. Senang
sekali melihat mereka berenang di perairan yang jernih. Dua anak kecil datang
berlarian dengan tawa cerah. Satunya langsung melompat ke laut dengan telanjang
dada, satunya masih tolah-toleh akan melepas celana selututnya dan menggantinya
dengan sempak yang dibawanya. Aku yang berjarak sekitar tujuh meter dari tempat
dia berdiri tahu ,dan nalar ketengilanku
tiba-tiba saja muncul. Pandangan anak lelaki itu berhenti menatapku dengan
tangannya yang sudah siap-siap melepas celananya seperti ingin mengatakan:
jangan hadap sini, aku mau ganti sempak!. Tapi aku malah melototinya, sambil
senyum-senyum nakal. Anak itu mematung masih menatapku seolah ingin mengatakan:
pliiiis. Aku malah ngakak-ngakak merasa berhasil. Mungkin karena bête, anak itu,
sambil tetap melihatku, memelorotkan celana pendeknya dan mengganti sempaknya.
Lalu dengan muka puas, dia melompat ke lautan sambil berteriak girang! Ah, aku
cemburu. Aku pengen.
***
Aku masih senang melihat
keriangan anak-anak itu di dalam air. Jun yang tadinya naik ke atas kapal bapaknya
yang berwarna putih itu, terjun lagi ke dalam air dan bergabung dengan
anak-anak kecil itu. Saat aku bertanya kepada anak kecil yang tadi aku goda,
siapa namanya dengan sedikit berteriak, dia hanya menatapku dan diam saja. Dua
kali aku bertanya, anak berkulit hitam itu tetap diam. Mengetahui itu, Jun
langsung membanyol ke anak itu. Jun menggerak-gerakkan tangan di depan mulut
sambil mengelurkan suara-suara layaknya orang bisu. Dan di luar prediksiku,
anak itu mengikutinya yang membuat aku dan Eeng terpingkal-pingkal tak henti-henti.
Dasar dua lelaki pantai yang edian! Aku sempat terkecoh mengira anak itu
benar-benar tunawicara.
Puas berenang, Jun naik.
Memanggilku juga Daman. Ternyata ibu Jun datang membawa 3 ekor cumi-cumi dan
beberapa ekor ikan yang nantinya aku tahu itu ikan katambek. Ya, hari itu kami
sekeluarga berbuka puasa dengan itu. Aku melirik Daman, keinginannya makan cumi
keturutan. Tinggal kepiting kerapu, dan lobster di daftar keinginannya.
***
Sore-sore saat sekeluarga
kongkow di lincak depan rumah, ada penjual keliling dengan gerobak yang biasanya
juga dipakai untuk mendorong drum air. Simbah perempuan itu menjual pepaya yang
sudah di potong-potong panjang. Anak-anak kecil lekas mengerubunginya dan
menjulurkan uang sepuluhribuan sementara anak itu mengambil tiga potong pepaya.
Simbah memberi kembalian empat ribu rupiah. Ada juga perempuan muda membawa
satu buah melon besar. Aku menerka itu dibeli oleh penjualnya dari Sapeken. Dan
penjual Sapeken membeli di Banyuwangi dalam jumlah yang banyak. Sayang aku
tidak tahu berapa harga satu buah melon di sini. Sementara jajanan-jajanan khas
ta’jil, satu cupnya menurut ibu Jun adalah enam ribu rupiah. Gila, mahal
banget, batinku.
Lalu kami berjalan menyusuri
perkampungan menuju makam emmek, makam nenek buyut Jun yang meninggal beberapa
bulan lalu. Sepanjang jalan kampung, semua orang menatap kami tak henti-henti
terutama ke arahku. Kata Eeng dan Ummi (sepupu Jun), orang kampung mengira aku
pacar Jun. Mereka juga menceritakan ada cewek yang naksir Jun dan marah karena
Jun pulang dengan membawa perempuan. Aku ngakak-ngakak. Kesempatanku menggoda
Jun habis-habisan. Aku bertanya keras-keras pada Eeng, apa panggilan sayang
khas Pulau Sadulang Kecil dengan tujuan Jun mendengar. “Abang,” terang Eeng
sambil ngikik. Lalu berganti ke Jun aku mengarahkan tanya menggoda, “Jun, mana
rumah calon mertuamu? Kalau nanti melewati kasih tahu ya, nanti aku akan
manggil kamu Abang Didi…” semua terbahak-bahak. Jun juga ngekek-ngekek sambil
mengakui kekalahannya, “Kamu pinter sekali membunuhku di rumahku sendiri.” Aku
ketawa puas. Angin pulau Sadulang Kecil menerpa mukaku. Kulihat pohon jambu dan
pohon kelampok tumbuh di sini. Oh ya, di rumahnya, bujang lapuk ini memang
dipanggil Didi. Junaidi-Didi, nggilani kan?
***
Aku dan Daman terkejut, tiba-tiba
Jun mecungul di ruang tamu padahal tarawih belum usai. “Panas, gak kuat. Aku
pulang duluan.” Tuhan dibohongi, kata Daman datar. Lalu Jun menanyakanku apa
aku sudah menelpon bapak, aku langsung bergegas ke belakang rumah. Mencari area
yang agak kedap suara, karena perkampungan Pulau Sadulang Kecil di malam hari
bulan ramadan riuh dengan suara tadarrus dari speaker masjid. Aku menelfon
dengan nomor Eeng. Kartu m3 apalagi smartku sedang dimusuhi signal. Hanya
Telkomsel saja yang mau bersahabat dengan Sadulang Kecil. Aku mengisi pulsa
nomor Eeng. Pulsa 10.000,- dijual 13.000,-
Setelah menelfon bapak, dan
meyakinkannya kalau aku baik-baik saja, kami bertiga kongkow-kongkow di atas
lincak depan rumah. Ngobrol ini-itu, pokoknya hal yang gak penting, hal-hal
yang remeh-temeh. Sampai aku mengantuk dan masuk kamar. Eeng sudah tertidur
pulas di lantai kamar. Dan Sadulang Kecil setia dihampiri angin pantai yang
kering membawa serta debu sampai ke rumah-rumah warga…
Sadulang
Kecil, Senin 20 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar