Jumat, 12 Agustus 2016

KIRANTI DAN KEJUTAN PAGI HARI

Hari Pertama,  Sabtu 18 Juni 2016

Suara perempuan mengaji dengan mikrovon terdengar keras sekali. Tiba-tiba nuansa Madura yang reliji menyeruap ke dadaku, menjadikanku kangen Madura dan masa-masa kecilku. Aku terbangun tapi mataku masih sulit kubuka. Tubuhku juga masih menolak untuk kuajak bangkit. Aku menerka-nerka di belakang jendela kamar inilah asal suara tadarrusan. Aku sudah bisa menebak, pasti ini suara kelompok perempuan yang tadarrusan di siang hari bulan Ramadan. Enak sekali mendengarnya, jiwa seperti diayun-ayun buaian Surga, dan aku terlelap lagi. Rumah pun sepi. Hanya suara-suara orang di luar rumah yang sepertinya sudah mulai melakukan aktifitas keseharian.

Jam delapan aku bangun. Menuju kamar mandi dengan menenteng baju ganti. Ah, pintu kamar mandinya dari kelambu. Kekagetanku bukan karena ini pertama kalinya melihat pintu kamar mandi seperti ini, tapi lebih ke rasa risih jika di pertengahan aktifitas mandi tiba-tiba kelambu terbuka. Oh tidak. Aku lari kecil kembali ke kamar. Mengambil pasmina untuk kujadikan telesan. Mandi jadi tenang….

Selesai mandi, ibu Jun mengingatkanku untuk sarapan. Jangan malu-malu, anggap rumah sendiri, biar gemuk, pulangnya ibumu biar gak kaget. Aku ketawa mengiyakan. Lalu aku masuk kamar untuk menata baju, dan ibu Jun mengetuk pintu kamar. Membawa satu botol kiranti, menunjukkan kepadaku dan menegaskan apakah ini untuk melancarkan darah. Aku membenarkan dan menjelaskan kalau itu untuk melancarkan darah saat haidh sekaligus cara dan jangka minumnya. Tiba-tiba dua perempuan datang. Satu seumuran ibu Jun, satunya lagi masih umur lima belas tahun, seumuran Eeng, adik perempuan Jun. Ibu Jun menjelaskan penjelasanku kepada kedua perempuan itu. Aku mengangguk-ngangguk saat perempuan seumur ibu Jun bertanya padaku. Sementara perempuan belasan tahun itu mengambil minuman botol yang mengandung soda. Aku tahu itu tidak bagus diminum saat haidh. Iya, aku mengira perempuan belasan tahun itu sedang mendapati haidh pertamanya.

Lalu mereka bertiga mengobrol dengan bahasa Madura sangat cepat. Tidak semuanya aku pahami, karena bahasa Maduranya berbeda dengan bahasa Madura bapak-ibuku. Aku kaget saat aku merasa paham bahwa perempuan belasan tahun itu bukan mendapatkan masa haidnya yang pertama melainkan ingin menggugurkan janin yang baru dikandungnya. Aku bingung. Tentu saja bukan kiranti yang cocok, tapi minuman yang mengandung soda yang sedang dipegang perempuan belasan tahun itu yang akan membuat kandungan gugur. Aku gamang, antara akan menjelaskan atau tidak. Tidak menjelaskan, aku tahu. Menjelaskan, aku takut minuman mengandung soda itu benar-benar dibelinya dan kandungannya benar-benar gugur. Aku takut turut andil dalam proses pembunuhan jabang bayi itu. Aku memilih diam.

Kiranti akhirnya yang lebih dipilih. Mereka pulang, dan ibu Jun menjelaskan kalau perempuan belasan tahun itu baru menikah, dan sekarang hamil, sementara dia tidak mau hamil karena tidak suka pada suaminya. Lagi-lagi aku hanya terdiam dengan pikiran yang mengambang-ngambang. Ibu Jun mengatakan lagi, bahwa sebenarnya dia tahu orang yang dapat memijat rahim untuk mematikan janin itu. “Tapi itu bahaya untuk rahim, apalagi dia belum pernah hamil sebelumnya, bisa-bisa dia tidak punya anak selamanya,” kata Ibu Jun. Ibu Jun juga mengatakan pandangannya yang sebenarnya tidak setuju dengan keputusan menggugurkan kandungan itu.

***

Hari pertama di sini masih berisi keterkujatan demi keterjutan. Saat aku dengan manisnya mencolokkan charger laptop ke terminal, dari atas kasur di ruang tamu, Jun dengan tengilnya bertanya, “Kamu ngecahsh?” aku mengangguk polos. “Ngechas sama apa kamu lawong listriknya mati,” masih dengan gaya tengil. “Oh, sedang mati listrik?” aku tetap polos, sifat asliku yang tidak diketahui Jun dan Daman. Dan dengan gaya tengilnya yang sudah memuakkan, Jun berseloroh, “Gak ada listrik. Listrik cuma hidup kalau malam hari.” Aku melongo saja, merasa kalah 1-0 dengannya. Tapi, saat itu juga, aku merasa punya tiket untuk menjatuhkannya sejatuh-jatuhnya. Aku tahu, kalau masa kecilnya kurang bahagia. Tidak ada Doraemon di tiap hari Minggu pagi, hari yang diidam-idamkan banyak anak-anak sejagad Indonesia Raya ini. Aku tertawa ngakak di hati. Kenak kamu ya!

Aku juga kaget saat menanyakan harga tomat dan cabe ke Ibu Jun. Satu kilo tomat di sini berharga 50.000,-. Lalu ibu Jun balik bertanya. “Terakhir ke pasar, tomat di Malang harganya 3.000,-, Buk.” Giliran ibu Jun agak menjerit. Hihihi. Aku juga mencari tahu harga-harga lainnya. Satu butir telur 2.500,-; minyak goreng 14.000,-; rokok hanya beda seribu rupiah saja; harga jajanan yang biasanya di Jawa 500,- di sini berharga sama.

Jun dan Daman bangun siang sekali. Di ambang pintu kamar wajah tengil Jun muncul, “Heh, mau lihat aku mandi?” “Hah?” aku kaget gila. “Katanya mau belajar berenang?” Aku langsung meloncat. Mengikutinya dari belakang menuju belakang rumahnya, tempat sampan-sampan semalam tertambat. Eeng juga beranjak dari tidurnya, mengekor di belakang kami. Jun sempat jongkok di atas tembok karang memandangi air laut yang berwarna hijau jernih dengan ikan-ikan kecil yang berwarna warni. Juga beberapa ikan yang menurut Eeng bisa dimakan. Kami nongkrong bertiga di atas tembok karang. Tembok karang adalah tembok pembatas antara rumah-rumah penduduk dengan lautan. “Kalau Daman datang, langsung suruh nyusul ya,” kata Jun yang tiba-tiba berdiri dan meloncat begitu saja ke laut. Begitu lanyah dia berenang. 
Nyaris tidak bisa dibedakan mana ikan, mana manusia ikan wakwak.

Lalu Daman menyusul. Senang sekali melihat mereka berenang di perairan yang jernih. Dua anak kecil datang berlarian dengan tawa cerah. Satunya langsung melompat ke laut dengan telanjang dada, satunya masih tolah-toleh akan melepas celana selututnya dan menggantinya dengan sempak yang dibawanya. Aku yang berjarak sekitar tujuh meter dari tempat dia berdiri  tahu ,dan nalar ketengilanku tiba-tiba saja muncul. Pandangan anak lelaki itu berhenti menatapku dengan tangannya yang sudah siap-siap melepas celananya seperti ingin mengatakan: jangan hadap sini, aku mau ganti sempak!. Tapi aku malah melototinya, sambil senyum-senyum nakal. Anak itu mematung masih menatapku seolah ingin mengatakan: pliiiis. Aku malah ngakak-ngakak merasa berhasil. Mungkin karena bête, anak itu, sambil tetap melihatku, memelorotkan celana pendeknya dan mengganti sempaknya. Lalu dengan muka puas, dia melompat ke lautan sambil berteriak girang! Ah, aku cemburu. Aku pengen.

***

Aku masih senang melihat keriangan anak-anak itu di dalam air. Jun yang tadinya naik ke atas kapal bapaknya yang berwarna putih itu, terjun lagi ke dalam air dan bergabung dengan anak-anak kecil itu. Saat aku bertanya kepada anak kecil yang tadi aku goda, siapa namanya dengan sedikit berteriak, dia hanya menatapku dan diam saja. Dua kali aku bertanya, anak berkulit hitam itu tetap diam. Mengetahui itu, Jun langsung membanyol ke anak itu. Jun menggerak-gerakkan tangan di depan mulut sambil mengelurkan suara-suara layaknya orang bisu. Dan di luar prediksiku, anak itu mengikutinya yang membuat aku dan Eeng terpingkal-pingkal tak henti-henti. Dasar dua lelaki pantai yang edian! Aku sempat terkecoh mengira anak itu benar-benar tunawicara.

Puas berenang, Jun naik. Memanggilku juga Daman. Ternyata ibu Jun datang membawa 3 ekor cumi-cumi dan beberapa ekor ikan yang nantinya aku tahu itu ikan katambek. Ya, hari itu kami sekeluarga berbuka puasa dengan itu. Aku melirik Daman, keinginannya makan cumi keturutan. Tinggal kepiting kerapu, dan lobster di daftar keinginannya.

***

Sore-sore saat sekeluarga kongkow di lincak depan rumah, ada penjual keliling dengan gerobak yang biasanya juga dipakai untuk mendorong drum air. Simbah perempuan itu menjual pepaya yang sudah di potong-potong panjang. Anak-anak kecil lekas mengerubunginya dan menjulurkan uang sepuluhribuan sementara anak itu mengambil tiga potong pepaya. Simbah memberi kembalian empat ribu rupiah. Ada juga perempuan muda membawa satu buah melon besar. Aku menerka itu dibeli oleh penjualnya dari Sapeken. Dan penjual Sapeken membeli di Banyuwangi dalam jumlah yang banyak. Sayang aku tidak tahu berapa harga satu buah melon di sini. Sementara jajanan-jajanan khas ta’jil, satu cupnya menurut ibu Jun adalah enam ribu rupiah. Gila, mahal banget, batinku.

Lalu kami berjalan menyusuri perkampungan menuju makam emmek, makam nenek buyut Jun yang meninggal beberapa bulan lalu. Sepanjang jalan kampung, semua orang menatap kami tak henti-henti terutama ke arahku. Kata Eeng dan Ummi (sepupu Jun), orang kampung mengira aku pacar Jun. Mereka juga menceritakan ada cewek yang naksir Jun dan marah karena Jun pulang dengan membawa perempuan. Aku ngakak-ngakak. Kesempatanku menggoda Jun habis-habisan. Aku bertanya keras-keras pada Eeng, apa panggilan sayang khas Pulau Sadulang Kecil dengan tujuan Jun mendengar. “Abang,” terang Eeng sambil ngikik. Lalu berganti ke Jun aku mengarahkan tanya menggoda, “Jun, mana rumah calon mertuamu? Kalau nanti melewati kasih tahu ya, nanti aku akan manggil kamu Abang Didi…” semua terbahak-bahak. Jun juga ngekek-ngekek sambil mengakui kekalahannya, “Kamu pinter sekali membunuhku di rumahku sendiri.” Aku ketawa puas. Angin pulau Sadulang Kecil menerpa mukaku. Kulihat pohon jambu dan pohon kelampok tumbuh di sini. Oh ya, di rumahnya, bujang lapuk ini memang dipanggil Didi. Junaidi-Didi, nggilani kan?

***

Aku dan Daman terkejut, tiba-tiba Jun mecungul di ruang tamu padahal tarawih belum usai. “Panas, gak kuat. Aku pulang duluan.” Tuhan dibohongi, kata Daman datar. Lalu Jun menanyakanku apa aku sudah menelpon bapak, aku langsung bergegas ke belakang rumah. Mencari area yang agak kedap suara, karena perkampungan Pulau Sadulang Kecil di malam hari bulan ramadan riuh dengan suara tadarrus dari speaker masjid. Aku menelfon dengan nomor Eeng. Kartu m3 apalagi smartku sedang dimusuhi signal. Hanya Telkomsel saja yang mau bersahabat dengan Sadulang Kecil. Aku mengisi pulsa nomor Eeng. Pulsa 10.000,- dijual 13.000,-

Setelah menelfon bapak, dan meyakinkannya kalau aku baik-baik saja, kami bertiga kongkow-kongkow di atas lincak depan rumah. Ngobrol ini-itu, pokoknya hal yang gak penting, hal-hal yang remeh-temeh. Sampai aku mengantuk dan masuk kamar. Eeng sudah tertidur pulas di lantai kamar. Dan Sadulang Kecil setia dihampiri angin pantai yang kering membawa serta debu sampai ke rumah-rumah warga…

                                                                                    Sadulang Kecil, Senin 20 Juni 2016



0 komentar:

Posting Komentar