Kamis, 11 Agustus 2016

MENJADI NENEK MOYANG

Sabtu, 18 Juni 2016. Sapeken-Sadulang Kecil

Sekitar jam setengah satu dini hari sampan keluarga Jun Datang. Aku dan Daman bangun, bangkit dari pos ronda mengikuti langkah Jun masuk lorong perkampungan. Di belakang rumah-rumah penduduk yang berjejer, aku melihat bapak Jun dan sampannya menepi. Daman meloncat ke dalam sampan. Sementara aku masih meraba-raba jalan menurun yang terdiri dari batu-batu karang besar. Batu-batu karang yang seakan menjadi penyangga rumah-rumah penduduk. Karena masih ada sedikit sisa kesholihahan (wkwkwk), aku hanya gondelan jaket lengan Jun saat membantuku masuk ke sampan. Ini pertama kali aku naik sampan kecil, dan aku merasa grogi dan sedikit panik di dalam hati. Apalagi saat kakiku sudah sampai menjamah lantai sampan yang terbuat dari kayu, sampan bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Aku takut sampannya terbalik. Maklum, pengetahuanku tentang teori sampan, laut, dan angin masih nol. Kebalikan dari hampir seluruh masyarakat di sini.

Dini hari  Dermaga Sapeken itu masih berwarna biru pekat, suasana biru buram. Aku dengar suara air berkecipak setelah menabrak karang di pinggiran pulau juga sisi-sisi sampan yang kami naiki. Air laut berkeratap tersiram cahaya rembulan. Nuansa puitis langsung menyergapku dengan tiba-tiba.  Kedalaman air di bawah sampan kami kira-kira satu sampai satu setengah meter. Jun mengisntruksi agar aku duduk agak ke depan agar tidak terlalu dekat dengan mesin. Sampan berwarna biru ini memiliki kelebaran sekitar satu meter di bagian perut. Daman duduk di ujung belakang, Jun berdiri tepat di belakang aku duduk. Di belakang mesin bapak Jun berdiri bersiap menariknya. Sampan bergoyang santai.

Bapak Jun mulai menarik mesinnya dan suara mesin lekas terdengar bergemuruh. Sampan mulai berjalan dan aku menikmati. Berasa dibonceng pakai motor saja. Sampan menuju ke arah timur, dan aku sempat menoleh ke langit di sebelah kiriku. Rembulan satu-satunya makhluk yang bercahaya terang ditengah lautan luas berwarna biru pekat ini. Sementara langit yang berwarna biru buram seolah menjadi cungkup lautan.

Sampan biru ini mulai bergoyang karena ombak yang mulai hadir. Jun mengistruksikan lagi agar alas yang aku pakai separuhnya ditutupkan ke tubuhku, karena di depan nanti, saat kami sudah berada di tengah-tengah lautan dengan ombak yang ganas, air laut akan menyiprat dan masuk ke dalam sampan. Aku melakukan sesuai instruksi. Dan benar, goyangan sampan menjadi keras. Tapi aku masih santai. Agak lama, goyangan ombak  semakin keras. Di depan, aku melihat ombak air laut seperti lebih tinggi dari sampan kami. Wah, bagaimana kalau ombak di depan itu melahap sampan ini dan kami turut serta tenggelam bersamanya? Aku deg-deg ser. Apalagi suara angin dan air di tengah lautan ini terdengar asing. Lamat-lamat terdengar seperti orang mengeluh, bergantian seakan suara tarhim sebelum subuh.

Daya hidup namanya, saat kita berani menghadapi kesulitan atau ketakutan apapun yang ada di depan kita. Aku perhatikan betul ritme ombak di depan yang sepertinya lebih tinggi dari sampan ini. Justru saat kami mulai memasuki area dengan ombak yang keras, Jun berjalan ke depan lalu duduk santai di ujung sampan. Edian! Batinku. Lagi, aku membayangkan gimana jadinya kalau sampan ini tenggelam separuh karena ombak yang sangat besar apalagi beban di depan sampan semakin berat dan Jun termakan ombak. Tapi segera kutepis semua itu. Segera kuedarkan pandanganku ke semua arah. Biru. Hanya biru yang terlihat dengan rembulan menggantung dan beberapa bintang mulai berpendar-pendar.

Air laut mulai menyiprat ke tubuhku. Mulutku terasa asin. Goyangan ombak semakin jeli kuperhatikan. Ritmenya kulihat sebagai ritme gerakan penari yang sedang berada di titik klimaks. Aku menikmatinya, menghayatinya, mengkhusyuinya. Momen yang belum tentu aku mengulanginya lagi dalam hidup yang cuma sekali ini.Jun menoleh ke arahku sambil tersenyum licik seperti biasanya. Aku mafhum, senyuman licik itu seolah mengatakan begini: Gimana, Boy! Seru kan. Keren kan para nelayan dengan kehidupannya di tengah ganasnya lautan seperti ini. Aku balas senyuman liciknya dengan senyuman siluman khas milikku seolah ingin mengatakan begini: Iya, Boy! Hebat kamu dan para kelurgamu, Boy! Orang-orang yang menjalani hidup dengan keren. Seperti nenek moyang kita, Boy!

Lalu aku jadi membayangkan para nenek moyang yang seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera, menempuh ombak tiada takut,menerjang badai sudah biasa! Eh kok…

Tidak lama aku berhasil menyatukan ritme jantung dan seluruh konsentrasiku dengan ritme gelombang yang sungguh besar ini. Berhasil, aku justru merasa senang. Mulai merasakan bahwa ombak itu sedang menyambutku, mengajak bermain-main dengan tamunya yang baru. Juga, aku merasa Tuhan sedang tersenyum dan mulai mengatakan padaku: Nduk, kamu baru memulai mengenal kehidupan. Hahaha aku terbahak dalam hati. Bagaimanapun, aku dan Tuhan adalah saling menyayangi. Tentu saja ombak besar, langit yang gagah dengan rembulan yang menggantung, juga beberapa bintang yang bertebaran itu aku masukkan sebagai memori berkesan dalam jiwaku.

***

Sekitar sejam lebih berlalu, kami memasuki area laut tenang dengan hutan bakau barangkali. Aku tidak bersuara untuk bertanya pada Jun apa itu, suasana terlalu puitis, dan aku tidak ingin merusaknya dengan sekadar mengeluarkan suara. Sedari tadi, kami mengarungi lautan tanpa saling bersuara. Kecuali, sesaat setelah melewati ombak besar tadi dan mesin macet. Aku sempat risau dan bertanya pada Jun apa bahan bakarnya habis. Jun tertawa mengejek sambil mengatakan, “Tenang, baling-balingnya terjerat sampah. Hanya itu.” Huh, aku menyesal bertanya. Tentu saja Jun menangkap nada khawatirku, dan lagi dia akan mengejekku sebagai perempuan yang manja. Aku sudah membuktikan aku bukan perempuan yang manja dengan berani menempuh perjalan gila ini bersama dua lelaki yang gila akut.

Tenang. Itu memang yang kami rasakan saat melewati hutan bakau di atas perairan laut. Kami hanya sama-sama menoleh ke kanan sampan, dimana tanaman bakau tumbuh lebat. Aku terkesan memandanginya, suatu hal yang sebelumnya hanya bisa kupandangi di atas lembaran majalah wisata atau dari balik layar televisi.

Rumah-rumah penduduk sudah terlihat dari jauh. Bau amis sudah mulai tercium kembali. Banyak sampan dengan segala ukuran terlihat mengapung-ngapung di pinggiran. “Dapat banyak, Obek?” teriak Jun dengan bahasa Madura pada seorang lelaki di atas sampannya yang sedang sibuk entah apa.  Suasana masih buram untuk bisa jelas melihat aktifitasnya. “Bisa pulang lagi sampai ke rumah saja sudah Alhamdulillah, Cong,” jawab lelaki itu dengan bahas Madura pula. Sepertinya lelaki itu baru saja datang dari melaut.

Aku lihat seorang perempuan di atas tembok karang di belakang rumah warga dimana sampan-sampan ini tertambat mengatakan suatu hal kepada kami dengan suara nyaring, khas orang pantai. Dan sampan kami menambat. Aku diminta untuk naik terlebih dahulu. Perempuan itu menyuruhku naik lewat tangga kayu dan memegangi tanganku seperti khawatir. Dan aku tahu, ternyata beliau adalah ibunya Jun. Aku beruluk salam. Perempuan yang bugar, cantik, dan terlihat  masih sangat muda melihat umur Jun yang sudah kayak umur bangkai. Daman naik, dan tubuhnya agak oleng. Mungkin nervous atau lelah. Mungkin juga mabuk laut, tapi aku tidak menanyakannya.

Ibu Jun mengajakku mengikutinya untuk langsung ke rumah. Seperti ibuku, ibu Jun suka bicara dan suaranya keras. Jadi aku tidak kaget. Selain Jun sudah bercerita (mungkin untuk antisipasi), ibuku sendiri adalah tipikal perempuan Madura yang hampir mirip ibunya Jun. Ini malah membuatku nyaman. Terkadang aku malah bingung, untuk berkomunikasi dengan ibunya teman yang cenderung pendiam.

Rumah Jun adalah perkampungan nelayan. Perkampungan yang terdiri dari rumah-rumah yang rapat, tanpa pepohonan di pinggir-pinggir rumah. Dengan pasir putih mendominasi tanah coklat  sebagai daratannya. Berbeda dengan bayanganku. Dalam bayanganku, sampan akan menepi di sebuah pulau dengan pasir, lalu jejeran pohon-pohon kelapa akan terlihat melambai-lambai, rumah satu dengan rumah yang lainnya berjauhan karena pepohonan yang mengitari setiap rumah.     

Di ruang tamu, mataku menangkap beragam warna jajanan rentengan, berbagai jenis shampoo, minuman-minuman ringan, telur, dan banyak lagi. Aku langsung menerka bahwa ibu Jun memiliki usaha kecil-kecilan di rumahnya. Setelah sedikit berbasa-basi, aku langsung mengambrukkan diri di kasur, di kamar yang ditunjukkan oleh Jun. Jun menyuruhku untuk makan dulu, “Ibuku sudah masak banyak dan juga manggang ikan.” Wah, aku langsung ingin melonjak rasanya mendengar ikan bakar disebut-sebut, tapi apa daya, tubuhku sudah menempel di atas kasur yang rasanya memiliki daya magnet yang tinggi.

Aku menolak. Kubilang juga kalau aku tidak lapar karena berapa kali makan di atas kapal tadi.Tapi saat ibunya Jun masuk ke kamar dan memintaku makan, perasaan wong Jowoku muncul. Gak enak rasanya kalau menolak. Aku makan dengan porsi sangat kecil agar perutku tidak kaget. Waktu itu, waktunya orang bangun sahur. Di ruang tamu terdengar beberapa tetangga datang, entah karena menyambut Jun atau membeli jajanan yang dijual ibu Jun. Suara keramain khas anak-anak kampung membangunkan warga saat sahur juga terdengar meriah di telinga. Ah, nuansa kampung yang lagi-lagi hanya bisa kunikmati di balik layar televisi akhirnya aku rasakan nyata…

Dari kamar depan aku mendengar Jun mengguncang-guncang tubuh seorang perempuan di kamar tengah sambil berteriak saur. Lalu suara seorang perempuan berteriak-teriak manja meningkahi candaan abangnya. Aku menaksir itu adalah adik perempuan Jun yang beberapa kali pernah diceritakannya. Pintu kamar terketok. Jun memintaku pindah ke kamar tengah saja bersama Eeng supaya tidak sendirian. Aku langsung pindah dan melemparkan tubuh ke atas kasur dan tak melihat ada Eeng, adiknya yang dimaksud Jun.

Lalu, aku berangkat tidur dengan bayangan pulau-pulau, pasir, lautan, dan sampan-sampan kecil yang berwarna biru. Selamat Datang di Sadulang Kecil, Halimah! God Bless You, Sayang…



Sadulang Kecil, 20 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar