Sabtu,
18 Juni 2016. Sapeken-Sadulang Kecil
Sekitar jam setengah satu
dini hari sampan keluarga Jun Datang. Aku dan Daman bangun, bangkit dari pos
ronda mengikuti langkah Jun masuk lorong perkampungan. Di belakang rumah-rumah penduduk
yang berjejer, aku melihat bapak Jun dan sampannya menepi. Daman meloncat ke
dalam sampan. Sementara aku masih meraba-raba jalan menurun yang terdiri dari
batu-batu karang besar. Batu-batu karang yang seakan menjadi penyangga rumah-rumah
penduduk. Karena masih ada sedikit sisa kesholihahan (wkwkwk), aku hanya
gondelan jaket lengan Jun saat membantuku masuk ke sampan. Ini pertama kali aku
naik sampan kecil, dan aku merasa grogi dan sedikit panik di dalam hati.
Apalagi saat kakiku sudah sampai menjamah lantai sampan yang terbuat dari kayu,
sampan bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Aku takut sampannya terbalik.
Maklum, pengetahuanku tentang teori sampan, laut, dan angin masih nol.
Kebalikan dari hampir seluruh masyarakat di sini.
Dini hari Dermaga Sapeken itu masih berwarna biru pekat,
suasana biru buram. Aku dengar suara air berkecipak setelah menabrak karang di
pinggiran pulau juga sisi-sisi sampan yang kami naiki. Air laut berkeratap
tersiram cahaya rembulan. Nuansa puitis langsung menyergapku dengan
tiba-tiba. Kedalaman air di bawah sampan
kami kira-kira satu sampai satu setengah meter. Jun mengisntruksi agar aku
duduk agak ke depan agar tidak terlalu dekat dengan mesin. Sampan berwarna biru
ini memiliki kelebaran sekitar satu meter di bagian perut. Daman duduk di ujung
belakang, Jun berdiri tepat di belakang aku duduk. Di belakang mesin bapak Jun
berdiri bersiap menariknya. Sampan bergoyang santai.
Bapak Jun mulai menarik
mesinnya dan suara mesin lekas terdengar bergemuruh. Sampan mulai berjalan dan
aku menikmati. Berasa dibonceng pakai motor saja. Sampan menuju ke arah timur,
dan aku sempat menoleh ke langit di sebelah kiriku. Rembulan satu-satunya
makhluk yang bercahaya terang ditengah lautan luas berwarna biru pekat ini.
Sementara langit yang berwarna biru buram seolah menjadi cungkup lautan.
Sampan biru ini mulai
bergoyang karena ombak yang mulai hadir. Jun mengistruksikan lagi agar alas
yang aku pakai separuhnya ditutupkan ke tubuhku, karena di depan nanti, saat
kami sudah berada di tengah-tengah lautan dengan ombak yang ganas, air laut
akan menyiprat dan masuk ke dalam sampan. Aku melakukan sesuai instruksi. Dan benar,
goyangan sampan menjadi keras. Tapi aku masih santai. Agak lama, goyangan ombak
semakin keras. Di depan, aku melihat
ombak air laut seperti lebih tinggi dari sampan kami. Wah, bagaimana kalau
ombak di depan itu melahap sampan ini dan kami turut serta tenggelam
bersamanya? Aku deg-deg ser. Apalagi suara angin dan air di tengah lautan ini
terdengar asing. Lamat-lamat terdengar seperti orang mengeluh, bergantian
seakan suara tarhim sebelum subuh.
Daya hidup namanya, saat
kita berani menghadapi kesulitan atau ketakutan apapun yang ada di depan kita.
Aku perhatikan betul ritme ombak di depan yang sepertinya lebih tinggi dari
sampan ini. Justru saat kami mulai memasuki area dengan ombak yang keras, Jun
berjalan ke depan lalu duduk santai di ujung sampan. Edian! Batinku. Lagi, aku
membayangkan gimana jadinya kalau sampan ini tenggelam separuh karena ombak
yang sangat besar apalagi beban di depan sampan semakin berat dan Jun termakan
ombak. Tapi segera kutepis semua itu. Segera kuedarkan pandanganku ke semua
arah. Biru. Hanya biru yang terlihat dengan rembulan menggantung dan beberapa
bintang mulai berpendar-pendar.
Air laut mulai menyiprat ke
tubuhku. Mulutku terasa asin. Goyangan ombak semakin jeli kuperhatikan.
Ritmenya kulihat sebagai ritme gerakan penari yang sedang berada di titik
klimaks. Aku menikmatinya, menghayatinya, mengkhusyuinya. Momen yang belum
tentu aku mengulanginya lagi dalam hidup yang cuma sekali ini.Jun menoleh ke arahku sambil tersenyum licik
seperti biasanya. Aku mafhum, senyuman licik itu seolah mengatakan begini:
Gimana, Boy! Seru kan. Keren kan para nelayan dengan kehidupannya di tengah
ganasnya lautan seperti ini. Aku balas senyuman liciknya dengan senyuman
siluman khas milikku seolah ingin mengatakan begini: Iya, Boy! Hebat kamu dan
para kelurgamu, Boy! Orang-orang yang menjalani hidup dengan keren. Seperti
nenek moyang kita, Boy!
Lalu aku jadi membayangkan
para nenek moyang yang seorang pelaut, gemar mengarung luas samudera, menempuh
ombak tiada takut,menerjang badai sudah biasa! Eh kok…
Tidak lama aku berhasil
menyatukan ritme jantung dan seluruh konsentrasiku dengan ritme gelombang yang
sungguh besar ini. Berhasil, aku justru merasa senang. Mulai merasakan bahwa
ombak itu sedang menyambutku, mengajak bermain-main dengan tamunya yang baru.
Juga, aku merasa Tuhan sedang tersenyum dan mulai mengatakan padaku: Nduk, kamu
baru memulai mengenal kehidupan. Hahaha aku terbahak dalam hati. Bagaimanapun,
aku dan Tuhan adalah saling menyayangi. Tentu saja ombak besar, langit yang
gagah dengan rembulan yang menggantung, juga beberapa bintang yang bertebaran
itu aku masukkan sebagai memori berkesan dalam jiwaku.
***
Sekitar sejam lebih berlalu,
kami memasuki area laut tenang dengan hutan bakau barangkali. Aku tidak
bersuara untuk bertanya pada Jun apa itu, suasana terlalu puitis, dan aku tidak
ingin merusaknya dengan sekadar mengeluarkan suara. Sedari tadi, kami
mengarungi lautan tanpa saling bersuara. Kecuali, sesaat setelah melewati ombak
besar tadi dan mesin macet. Aku sempat risau dan bertanya pada Jun apa bahan
bakarnya habis. Jun tertawa mengejek sambil mengatakan, “Tenang,
baling-balingnya terjerat sampah. Hanya itu.” Huh, aku menyesal bertanya. Tentu
saja Jun menangkap nada khawatirku, dan lagi dia akan mengejekku sebagai perempuan
yang manja. Aku sudah membuktikan aku bukan perempuan yang manja dengan berani
menempuh perjalan gila ini bersama dua lelaki yang gila akut.
Tenang. Itu memang yang kami
rasakan saat melewati hutan bakau di atas perairan laut. Kami hanya sama-sama
menoleh ke kanan sampan, dimana tanaman bakau tumbuh lebat. Aku terkesan
memandanginya, suatu hal yang sebelumnya hanya bisa kupandangi di atas lembaran
majalah wisata atau dari balik layar televisi.
Rumah-rumah penduduk sudah
terlihat dari jauh. Bau amis sudah mulai tercium kembali. Banyak sampan dengan
segala ukuran terlihat mengapung-ngapung di pinggiran. “Dapat banyak, Obek?”
teriak Jun dengan bahasa Madura pada seorang lelaki di atas sampannya yang
sedang sibuk entah apa. Suasana masih
buram untuk bisa jelas melihat aktifitasnya. “Bisa pulang lagi sampai ke rumah
saja sudah Alhamdulillah, Cong,” jawab lelaki itu dengan bahas Madura pula.
Sepertinya lelaki itu baru saja datang dari melaut.
Aku lihat seorang perempuan
di atas tembok karang di belakang rumah warga dimana sampan-sampan ini
tertambat mengatakan suatu hal kepada kami dengan suara nyaring, khas orang
pantai. Dan sampan kami menambat. Aku diminta untuk naik terlebih dahulu.
Perempuan itu menyuruhku naik lewat tangga kayu dan memegangi tanganku seperti
khawatir. Dan aku tahu, ternyata beliau adalah ibunya Jun. Aku beruluk salam.
Perempuan yang bugar, cantik, dan terlihat
masih sangat muda melihat umur Jun yang sudah kayak umur bangkai. Daman
naik, dan tubuhnya agak oleng. Mungkin nervous atau lelah. Mungkin juga mabuk
laut, tapi aku tidak menanyakannya.
Ibu Jun mengajakku
mengikutinya untuk langsung ke rumah. Seperti ibuku, ibu Jun suka bicara dan
suaranya keras. Jadi aku tidak kaget. Selain Jun sudah bercerita (mungkin untuk
antisipasi), ibuku sendiri adalah tipikal perempuan Madura yang hampir mirip
ibunya Jun. Ini malah membuatku nyaman. Terkadang aku malah bingung, untuk
berkomunikasi dengan ibunya teman yang cenderung pendiam.
Rumah Jun adalah
perkampungan nelayan. Perkampungan yang terdiri dari rumah-rumah yang rapat,
tanpa pepohonan di pinggir-pinggir rumah. Dengan pasir putih mendominasi tanah
coklat sebagai daratannya. Berbeda
dengan bayanganku. Dalam bayanganku, sampan akan menepi di sebuah pulau dengan
pasir, lalu jejeran pohon-pohon kelapa akan terlihat melambai-lambai, rumah
satu dengan rumah yang lainnya berjauhan karena pepohonan yang mengitari setiap
rumah.
Di ruang tamu, mataku
menangkap beragam warna jajanan rentengan, berbagai jenis shampoo,
minuman-minuman ringan, telur, dan banyak lagi. Aku langsung menerka bahwa ibu
Jun memiliki usaha kecil-kecilan di rumahnya. Setelah sedikit berbasa-basi, aku
langsung mengambrukkan diri di kasur, di kamar yang ditunjukkan oleh Jun. Jun
menyuruhku untuk makan dulu, “Ibuku sudah masak banyak dan juga manggang ikan.”
Wah, aku langsung ingin melonjak rasanya mendengar ikan bakar disebut-sebut,
tapi apa daya, tubuhku sudah menempel di atas kasur yang rasanya memiliki daya
magnet yang tinggi.
Aku menolak. Kubilang juga
kalau aku tidak lapar karena berapa kali makan di atas kapal tadi.Tapi saat
ibunya Jun masuk ke kamar dan memintaku makan, perasaan wong Jowoku muncul. Gak
enak rasanya kalau menolak. Aku makan dengan porsi sangat kecil agar perutku
tidak kaget. Waktu itu, waktunya orang bangun sahur. Di ruang tamu terdengar
beberapa tetangga datang, entah karena menyambut Jun atau membeli jajanan yang
dijual ibu Jun. Suara keramain khas anak-anak kampung membangunkan warga saat
sahur juga terdengar meriah di telinga. Ah, nuansa kampung yang lagi-lagi hanya
bisa kunikmati di balik layar televisi akhirnya aku rasakan nyata…
Dari kamar depan aku
mendengar Jun mengguncang-guncang tubuh seorang perempuan di kamar tengah
sambil berteriak saur. Lalu suara seorang perempuan berteriak-teriak manja
meningkahi candaan abangnya. Aku menaksir itu adalah adik perempuan Jun yang
beberapa kali pernah diceritakannya. Pintu kamar terketok. Jun memintaku pindah
ke kamar tengah saja bersama Eeng supaya tidak sendirian. Aku langsung pindah
dan melemparkan tubuh ke atas kasur dan tak melihat ada Eeng, adiknya yang
dimaksud Jun.
Lalu, aku berangkat tidur
dengan bayangan pulau-pulau, pasir, lautan, dan sampan-sampan kecil yang
berwarna biru. Selamat Datang di Sadulang Kecil, Halimah! God Bless You,
Sayang…
Sadulang
Kecil, 20 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar