Kapal sudah ramai, hiruk pikuk. Semua penumpang sudah terlihat sibuk dengan barangnya masing-masing. Dari lantai dua, aku melihat dermaga sudah sangat ramai. Banyak sekali orang di luar sana yang mendongak ke kapal. Sejenak, aku merasa berada di kapal Titanic dengan orang-orang Eropa yang hiruk-pikuk. Tiba-tiba seorang lelaki kurus dengan kulit hitam dan bajunya yang kucel berteriak kepada temannya dengan bahasa Bajo, buyarlah lamunanku. Sambil turun dari lantai dua, aku masih menikmati suasana hiruk-pikuk itu. Orang-orang yang melompat ke dalam kapal dan orang-orang yang keluar dari dalam kapal. Bahasa Bajo mendominasi pendengaranku, sedikit sekali aku mendengar bahasa Madura dilontarkan. Ada juga bahasa yang kedengarannya agak manja. Bahasa Mandar kata Jun. “Kayak bahasa korea ya manjanya,” lalu dia ngakak. Aku tersenyum saja.
Melihat khas postur tubuh dan warna
kulit orang Indonesia berkerumun di luar kapal, akhirnya imajinasi kapal
Titanic dan orang Eropa terhapus dari imajiku berganti menggelar novel Laskar
Pelangi. Apalagi saat bau amis ikan mulai tercium kuat. Aku merasa mengulangi
dan merasakan sendiri apa yang pernah diceritakan oleh Andrea Hirata.
Setelah dusel-duselan dengan penumpang
lainnya, kami bertiga akhirnya berhasil keluar dari kapal. Bahasa Bajo semakin
mengepung ruang dengarku. Bau amis juga semakin kuat. Daman menunjukkan ikan
besar yang tergolek lemah berkalang tanah di daratan. Barangkali ikan terdampar
dan tidak bisa kembali lagi ke lautan lalu menemukan akhir hayatnya di Dermaga
Sapeken. Mungkin itu salah-satu cara mati yang terhormat bagi ikan daripada
harus tertangkap jaring nelayan dan berakhir di pasar lalu tergoreng gurih di
penggorengan di dapur-dapur.
Sudah banyak sampan-sampan yang merapat
dibibir dermaga. Sampan-sampan para penjemput. Aku sudah penasaran sampan
bapaknya Jun yang akan kami tumpangi sampai ke pulau Sadulang Kecil. Seperti
biasa, nalar bocah ilang kami menyergap. Tanpa bersepakat, begitu saja kami
melemparkan tubuh di pinggiran jalan. Menaruh tas dan duduk-duduk melepas lelah
sambil memperhatikan segala hiruk-pikuk Dermaga Sapeken. Jun segera
menghilang. Pasti membeli rokok batinku.
Signal m3 masih terdeteksi di pulau
ini. Tapi smartku sudah lama keok. Daman melirikku, lalu melirik ke seorang
perempuan yang kutaksir masih berumur 14 tahun. “Ketemu lagi, ini mungkin yang
dibilang kalau jodoh gak kemana,” kata si cecunguk ini. Sejak di penginapan
Tanjungwangi Daman memang sudah terikat pesona perempuan bau kencur ini. “Kalau
kamu ketemu sekali lagi, minimal kamu harus tahu namanya,” tantangku. Dia
manggut-manggut membenarkan.
Lalu empat mata kami memperhatikan para
pendorong gerobak yang silih berganti. Gerobak pengangkut barang yang dibawa
dari Banyuwangi. Lincah, tangkas, cepat, karakter yang aku tangkap dari
orang-orang pulau ini. Keluarga, sanak kerabat, sampai orang-orang yang selo
masih memadati Dermaga Sapeken ini. “Aku membayangkan suasana ini seperti
suasana di Kapal Titanic jama-jaman Eropa dulu,” celetuk Daman sambil menyedot
rokoknya. Becak melintas di depan kami, penuh memuat barang-barang dari kapal.
“Iya, tapi sayangnya yang baru saja lewat depan kita itu becak khas Indonesia
banget yang dikayuh sama bapak-bapak kurus berkulit hitam dengan daya hidup
yang membara, bukan kereta Eropa yang biasanya kita lihat di film-film itu,”
kataku datar sambil terus memperhatikan hiruk pikuk Dermaga Sapeken. Lalu kami
sama-sama memandangi kapal yang masih dikerumuni banyak orang. Kapal putih
dengan nyala cahaya putihnya itu nampak begitu gagah dan megah bersandar di
pulau ini.
“Hahaha. Yang di atas, itu orang-orang
yang tadi di luar. Para penumpang sudah turun semua,” Jun muncul tiba-tiba. Aku
berusaha mahfum. Betapa apapun dari luar sana akan menjadi yang mengandung
kepenasaran bagi orang-orang yang hidup di sebuah pulau kecil yang dikitari
oleh lautan.
***
Sampan pakleknya Jun ternyata sudah
penuh dengan barang. Jun tidak jadi mengajak kami naik dengan sampan kecil yang
sudah penuh dengan barang itu. Akhirnya kami kembali melewati tempat tadi,
masuk ke lorong-lorong perkampungan. Aku merebahkan tubuh di depan toko yang
sudah tutup. Lelah sekali rasanya. Entah berapa menit aku tertidur, Jun
membangunkan, mengajakku pindah ke pos ronda yang tadi penuh dengan
bapak-bapak. Daman langsung merebahkan tubuhnya dengan kaki menggantung. Aku
merambat naik ke pos ronda yang terbuat dari kayu ini, dan langsung merem lagi.
Jun menggoyang-goyang pos ronda sampai
aku terbangun. Lalu memukul-mukul tubuh Daman sambil mengatakan sampan bapaknya
sudah datang. Lama sekali Daman bangun, dan aku melihat adegan itu dengan
tatapan kosong. Setengah sadar setengah tidak.
Sadulang Kecil, 19 juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar