Kamis, 11 Agustus 2016

Dari Kapal Titanic Sampai Novel Laskar Pelangi


Kapal sudah ramai, hiruk pikuk. Semua penumpang sudah terlihat sibuk dengan barangnya masing-masing. Dari lantai dua, aku melihat dermaga sudah sangat ramai. Banyak sekali orang di luar sana yang mendongak ke kapal. Sejenak, aku merasa berada di kapal Titanic dengan orang-orang Eropa yang hiruk-pikuk. Tiba-tiba seorang lelaki kurus dengan kulit hitam dan bajunya yang kucel berteriak kepada temannya dengan bahasa Bajo, buyarlah lamunanku. Sambil turun dari lantai dua, aku masih menikmati suasana hiruk-pikuk itu. Orang-orang yang melompat ke dalam kapal dan orang-orang yang keluar dari dalam kapal. Bahasa Bajo mendominasi pendengaranku, sedikit sekali aku mendengar bahasa Madura dilontarkan. Ada juga bahasa yang kedengarannya agak manja. Bahasa Mandar kata Jun. “Kayak bahasa korea ya manjanya,” lalu dia ngakak. Aku tersenyum saja.

Melihat khas postur tubuh dan warna kulit orang Indonesia berkerumun di luar kapal, akhirnya imajinasi kapal Titanic dan orang Eropa terhapus dari imajiku berganti menggelar novel Laskar Pelangi. Apalagi saat bau amis ikan mulai tercium kuat. Aku merasa mengulangi dan merasakan sendiri apa yang pernah diceritakan oleh Andrea Hirata.    

Setelah dusel-duselan dengan penumpang lainnya, kami bertiga akhirnya berhasil keluar dari kapal. Bahasa Bajo semakin mengepung ruang dengarku. Bau amis juga semakin kuat. Daman menunjukkan ikan besar yang tergolek lemah berkalang tanah di daratan. Barangkali ikan terdampar dan tidak bisa kembali lagi ke lautan lalu menemukan akhir hayatnya di Dermaga Sapeken. Mungkin itu salah-satu cara mati yang terhormat bagi ikan daripada harus tertangkap jaring nelayan dan berakhir di pasar lalu tergoreng gurih di penggorengan di dapur-dapur.

Sudah banyak sampan-sampan yang merapat dibibir dermaga. Sampan-sampan para penjemput. Aku sudah penasaran sampan bapaknya Jun yang akan kami tumpangi sampai ke pulau Sadulang Kecil. Seperti biasa, nalar bocah ilang kami menyergap. Tanpa bersepakat, begitu saja kami melemparkan tubuh di pinggiran jalan. Menaruh tas dan duduk-duduk melepas lelah sambil memperhatikan segala hiruk-pikuk  Dermaga Sapeken. Jun segera menghilang. Pasti membeli rokok batinku.

Signal m3 masih terdeteksi di pulau ini. Tapi smartku sudah lama keok. Daman melirikku, lalu melirik ke seorang perempuan yang kutaksir masih berumur 14 tahun. “Ketemu lagi, ini mungkin yang dibilang kalau jodoh gak kemana,” kata si cecunguk ini. Sejak di penginapan Tanjungwangi Daman memang sudah terikat pesona perempuan bau kencur ini. “Kalau kamu ketemu sekali lagi, minimal kamu harus tahu namanya,” tantangku. Dia manggut-manggut membenarkan.

Lalu empat mata kami memperhatikan para pendorong gerobak yang silih berganti. Gerobak pengangkut barang yang dibawa dari Banyuwangi. Lincah, tangkas, cepat, karakter yang aku tangkap dari orang-orang pulau ini. Keluarga, sanak kerabat, sampai orang-orang yang selo masih memadati Dermaga Sapeken ini. “Aku membayangkan suasana ini seperti suasana di Kapal Titanic jama-jaman Eropa dulu,” celetuk Daman sambil menyedot rokoknya. Becak melintas di depan kami, penuh memuat barang-barang dari kapal. “Iya, tapi sayangnya yang baru saja lewat depan kita itu becak khas Indonesia banget yang dikayuh sama bapak-bapak kurus berkulit hitam dengan daya hidup yang membara, bukan kereta Eropa yang biasanya kita lihat di film-film itu,” kataku datar sambil terus memperhatikan hiruk pikuk Dermaga Sapeken. Lalu kami sama-sama memandangi kapal yang masih dikerumuni banyak orang. Kapal putih dengan nyala cahaya putihnya itu nampak begitu gagah dan megah bersandar di pulau ini.

“Hahaha. Yang di atas, itu orang-orang yang tadi di luar. Para penumpang sudah turun semua,” Jun muncul tiba-tiba. Aku berusaha mahfum. Betapa apapun dari luar sana akan menjadi yang mengandung kepenasaran bagi orang-orang yang hidup di sebuah pulau kecil yang dikitari oleh lautan.

***

Sampan pakleknya Jun ternyata sudah penuh dengan barang. Jun tidak jadi mengajak kami naik dengan sampan kecil yang sudah penuh dengan barang itu. Akhirnya kami kembali melewati tempat tadi, masuk ke lorong-lorong perkampungan. Aku merebahkan tubuh di depan toko yang sudah tutup. Lelah sekali rasanya. Entah berapa menit aku tertidur, Jun membangunkan, mengajakku pindah ke pos ronda yang tadi penuh dengan bapak-bapak. Daman langsung merebahkan tubuhnya dengan kaki menggantung. Aku merambat naik ke pos ronda yang terbuat dari kayu ini, dan langsung merem lagi.

Jun menggoyang-goyang pos ronda sampai aku terbangun. Lalu memukul-mukul tubuh Daman sambil mengatakan sampan bapaknya sudah datang. Lama sekali Daman bangun, dan aku melihat adegan itu dengan tatapan kosong. Setengah sadar setengah tidak.


Sadulang Kecil, 19 juni 2016    

      



0 komentar:

Posting Komentar