Kamis, 11 Agustus 2016

Lima Belas Jam Menjadi Bajak Laut

Subuh hari, kusempatkan untuk menyiram tubuh agar segar. Aku sempat mengantri karena banyak juga para calon penumpang kapal yang ingin mandi. Sebagian penumpang berbahasa Madura dengan dialek yang berbeda dengan dialek bahasa Madura lainnya yang aku tahu, seperti Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep. Bukan pula dialek Kangean yang sudah aku tahu sebagaimana yang aku tahu dari adik kostku. Saat akan masuk kamar mandi, aku sempat melihat dua perempuan muda mengenakan cadar mengobrol dengan bahasa Arab ala-ala pesantren Bangil. Dan yang membuatku sempat menahan gelak adalah perpaduan bahasa Arab sehari-hari itu dibalut dengan dialek Madura yang kental.

Jun dan Daman masih teronggok jelek di atas lantai, di bawah kursi-kursi biru yang berjejer-jejer. Setelah berkeliling area penginapan, aku sempatkan mengisi perut dengan air dan dua buah jeruk yang dibawakan ibunya Daman. Para penjual mulai bermunculan dan masuk area penginapan. Menjajakan dagangannya. Ada roti, jagung rebus, bakpia kering, dll. Aku memilih keluar membeli nasi warung untuk bekal di kapal nanti.

Sekitar jam tujuh kurang, Jun sudah mengantri membeli tiket untuk kami bertiga. Antrian lumayan banyak, muka bete Jun terlihat jelas. Tubuhnya sudah blingsatan ke sana- ke mari. Eh, biasanya juga begitu ding, orangnya bergerak terus seperti anak-anak Sekolah PAUD dimana aku pernah bekerja dulu, wakwakwak.

Sekitar jam 07.30 Jun mendapatkan tiket. Aku lihat di tiketnya, harga lumayan terjangkau, dua puluh lima ribu  sudah dengan jasa penjualan. Jun mengajak untuk langsung masuk kapal, kapal sudah penuh, katanya.

Kami keluar dari penginapan. Ternyata benar, kapal putih tingkat tiga (atau tingkat empat dengan tempat pengemudinya) itulah yang akan membawa kami mengarungi lautan seharian. Kapal putih yang menurutku dan Daman benar-benar terkesan seperti kapalnya bajak laut. Lalu, jadilah kami bertiga sebagai bajak laut amatiran. Ya hanya dalam pikiran kami bertiga tentunya. Penumpang lainnya tentu saja tidak akan memandang kami sebagai bajak laut. Yang ada, kami malah terkesan sebagai tiga anak muda yang kucel dan persis bocah hilang. Apalagi aku yang perempuan dengan tubuh kecil dan sangat kurus.

Orang-orang berebutan masuk kapal. Aku memilih berjalan di tengah saat akan naik kapal. Di depanku ada Jun yang terlihat repot dengan tas koperku (wakwak kapok) dan di belakangku, Daman dengan tas punggunya yang besar.

Ini memang bukan pengalaman pertamaku naik kapal. Sebelumnya aku sudah sering naik kapal feri di pelabuhan Tanjung Perak apalagi sebelum ada jembatan Suramadu. Tapi kapal ini lebih besar, jarak tempuh lebih jauh, dan pastinya nuansa goyangan kapal lebih keras karena ombaknya pun lebih besar. Dan itulah tantangannya.

Di samping tantangan itu, banyak hal yang mengesankan saat mengarungi lautan dengan kapal ini. Selain suasana kapal yang baru, orang-orang dengan warna baru, bahasa Bajo yang juga baru di telingaku, ada pemandangan menyenangkan. Aku lihat ikan-ikan berukuran sedang sudah mulai terlihat di perairan laut dangkal. Dasar anak pulau, Jun tahu nyaris semua nama jenis-jenis ikan itu. Mana yang enak dan yang tidak untuk dimakan. Mana yang lebih enak digoreng dan mana yang lebih enak dibakar.

Sepanjang naik kapal menuju lantai tiga dan akhirnya memilih tempat di lantai dua saja, aku pandangi kapal yang sudah penuh sesak. Tidak hanya sesak dengan manusia, tapi segala macam barang masuk ke dalam kapal. Di lantai satu, jejeran motor terikat rapi. Berjejeran memenuhi bagian depan kapal. Di kanan kirinya segala kebutuhan makanan pokok seperti telur dan teman-temannya tertata rapat. Lantai dua juga sudah penuh dengan berbagai buah seperti melon, semangka, jeruk, dll. Juga sayur mayur. Aku lihat ada beranjang-ranjang kubis, timun, wortel, terong, berikat-ikat kacang panjang, kecambah, cabe besar dan kecil, juga berkeranjang-keranjang tomat yang sangat banyak sekali.

Mataku yang sejak tadi sibuk melihat jenis sayuran, buah, dan segala macam barang yang masuk di kapal ini, beralih memperhatikan para pengantar yang berdiri ramai di bawah, di pinggiran dermaga. Beberapa mobil lawas masuk area dermaga. Daman melirik gerombolan perempuan bercadar yang duduk di atas karpet yang tergelar begitu saja di lantai. Lama sekali kapal masih menambat di dermaga. Sejak jam 08.00 kami masuk dengan keadaan kapal yang penuh sesak, baru sekitar memasuki jam 11.00 peluit ketiga dibunyikan dan kapal mulai bergerak. Panas sekali rasanya. Hahhh gerah!

Aku mengelilingi kapal sendirian. Naik ke lantai tiga dan turun lagi ke lantai dua. Niat hati ingin mencapai bagian ujung depan kapal yang sulit sekali dijangkau karena penuh dengan boks-boks kayu, pandanganku malah terantuk pada pasangan remaja yang mesum. Waduh! Aku berbalik arah. Seorang perempuan yang duduk di atas alas plastik menawariku untuk duduk dengan bahasa yang tak kumengerti (yang ternyata bahasa Bajo itu). Aku hanya mengangguk menunjukkan keramahan sambil tersenyum dan berlalu. Angin memainkan kerudung coklatku yang senada dengan rompiku, saat aku memilih bergabung lagi dengan Jun dan Daman.

Kapal merambat ke lautan yang agak dalam, aku turun ke lantai satu. Bergabung dengan Daman yang duduk di atas besi kuning dan menatap lautan juga pulau-pulau yang masih terlihat. Pulau-pulau yang panjang dan hijau. Pasir putih pulau itu berpernak-pernik ditingkahi cahaya matahari. Ada kapal lain juga perahu-perahu kecil di sana-sini. Aku mengamati perubahan permukaan lautan. Di lautan yang dangkal, permukaannya tenang, sesekali beriak pelan. Berangsur-angsur permukaan itu rata dengan riak-riak karena gelombang yang mulai masuk. Semakin meninggalkan perairan yang dangkal dan memasuki perairan yang dalam, permukaan laut menjadi mengkilap. Mengkilap seperti kaca, atau permukaan agar-agar yang mulai memadat. Dan ikan terbang mulai bermunculan. Satu-satu, lama-lama datang bergerombolan. Terbang lalu menukik sebentar ke permukaan air. Terbang lagi, menukik, tenggelam, dan begitu terus. Sangat cantik dan mengagumkan.

Burung camar mulai tak terlihat sama sekali. Petanda kami sudah berada jauh dari pulau, dan masuk ke perut lautan. Perairan yang sangat dalam. Setidaknya jelang sore hari, ikan paus, hiu, dan lumba-lumba sudah mulai bermunculan. Goyangan kapal sudah terasa makin kencang. Dan permukaan lautan sudah penuh dengan gelombang. Sejauh mata memandang hanya lautan dan langit yang sama-sama biru. Birunya sangat pekat hingga mendekati warna abu-abu dan dongker. Tidak ada kapal lain apalagi perahu-perahu kecil sejauh kami memandang. Setelah makan nasi yang beli di warung tadi, aku mengantuk sekali. Ditambah angin yang nyaman bikin mata ngantuk, juga goyangan kapal yang ritmis seperti dibuai ibu semasa kecil. Aku naik ke lantai dua. Kulihat Jun sudah teler di balik kacamata hitamnya. Macaknya sudah persis preman sekali anak ini. Kayak tuan Takoor di film-film India. Di atas koper dan tumpukan tas kami yang kami sandarkan begitu saja di lorong lantai dua (sebenarnya tempat orang lewat karena kami kehabisan kamar) aku tidur di atasnya. Beruntung sekali punya tubuh kecil, fleksibel.

Senja aku bangun. Jun sudah berdiri menatap lautan. Itu lo lumba-lumba, katanya. Aku bangun malas-malasan. Menengok keluar. Angin semakin kencang menerpa tubuh. Kubalut tubuhku dengan pashmina, memandang lautan yang semakin dalam. Aku tahu dari warnanya yang semakin biru kelam, dan ombaknya yang semakin besar. Goyangan kapal semakin kencang. Aku mengatakan pada Jun bahwa ritme ombak ini bisa diadaptasi menjadi gerakan tari. Lalu kami ngobrol ngalor-ngidul mulai dari gerakan tari, seni, lalu begitu saja merembet tentang tema cinta, tentang kekasihku, tentang mantannya yang sangat banyak, tentang pernikahan, tentang masa depan, sampai suatu hal yang sangat absurd. Daman duduk menyandar, begitu tenang di alam mimpinya. Sebenarnya aku ingin melihat senja di deg timur, tapi aku malas muter sementara ombak sangat keras. Aku ngakak-ngakak lagi saja sama Jun sampai lelah dan merubuhkan tubuh lagi di atas koper. Di atasku seorang perempuan dan laki-laki bingung membuka-buka kandang kucingnya. Kucingnya mabuk, mereka bingung. Tadi siang sudah ada satu ayam kecil milik bapak tua yang mati. Aku tidak tega melihat raut mukanya. Lalu dia melemparkan ke laut begitu saja ayam kecil berwarna kuningnya. Ah, kasian….

Jam tujuh aku terbangun. Kusandarkan tubuhku dan masih duduk di atas koper. Sambil menatap langit dengan bulan yang menggandul, aku mengingat kembali suasana pertama saat masuk kapal ini. Orang-orang ramai menata barang-barangnya. Kardus-kardus, hewan-hewan, berkarung-karung sayuran dan buah-buahan. Banyak sekali. Barang-barang yang dibeli dari banyuwangi ini nantinya akan dijual di pulau sana. Ya, barang-barang semacam ini harus dibeli dari Banyuwangi karena di pulau sana, tanahnya tidak memungkinkan untuk ditanami sayur dan buah-buahan. Sebagai gantinya, segala macam jenis ikan tumpah ruah. Aduh, aku sudah membayangkan makan berbagai macam ikan nanti di rumah Jun.

Jun dan Daman datang membawa dua gelas mie instan. Aku sudah bilang ke mereka, aku tidak makan mie instan. Aku menatap lautan lagi. Luas tak habis-habis yang langsung disangga tepian langit. Tuhan Maha Jos, batinku seperti percakapanku dengan Daman di lantai satu tadi saat kami tak habis-habis terkagum-kagum dengan suguhan alam. Hasil kreasi Tuhan Yang Super Kece.


Sudah ada burung camar, kata Jun. Aku mengangguk. Itu artinya keberadaan pulau sudah terdeteksi. Sekitar jam setengah sembilan malam kami mulai menangkap cahaya lampu dari pulau-pulau sekitar. Mulanya nampak seperti cahaya kunang-kunang yang kecil-kecil. Hingga akhirnya, jam setengah sebelas kapal merapat di Dermaga Sapeken. Jun memberi kode, kami bersiap. “Lihatlah nanti,” kata Jun, “penjemput akan lebih banyak daripada penumpang.” Lalu kami tertawa. 

Sadulang Kecil, 19 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar