Kamis, 11 Agustus 2016

Garnasih di Sarang Penyamun

Kamis-Jum’at, 16-17 Juni 2016

Keluarlah dari rumahmu dan merantau jauh, agar kau tahu apa artinya rindu…
Agar kau tahu apa artinya pulang…

Kamis, 06062016 aku bertolak dari stasiun Kotalama Malang ke stasiun Banyuwangi Baru via kereta Tawangalun. Dengan diantar bapak di bawah derai hujan kota Malang yang deras, pukul 15.45 tepat, kereta berangkat dan mendarat pukul 23.30. Nuansa stasiun  Banyuwangi Baru ini tidak jauh berbeda dengan stasiun Kalibaru, stasiun Banyuwangi pertama dimana aku pernah mendarat. Sepi dan lengang. Aku sempat masuk kamar mandi untuk buang air kecil. Wah, kamar mandi yang bagus bahkan terkesan elit dan mewah. Dan terutama sangat bersih juga wangi. Bahkan ada pot dengan daun segar yang tumbuh di dalamnya. Satu-satunya kamar mandi stasiun yang nyaman yang pernah aku masuki. Aku terkesan.

Dua teman lelaki yang akan bersamaku selama mbolang dalam masa ke depan ini sudah menunggu sejak lama, Jun dan Daman. Setelah memberi kabar via watshapp, kulihat Jun yang cungkring muncul. Seperti biasa, tampilannya awut-awutan dan kucel, tapi ceria, khas anak songong. Aku berjalan di sampingnya yang membawakan koperku meninggalkan gerbang stasiun yang dijaga seorang pemuda berseragam. Dari jauh, di bawah gapura stasiun tepatnya di pinggiran jalan besar, kulihat Daman duduk nongkrong menunggu dengan tas ransel yang menggelembung. Rambutnya yang lurus panjang dibungkus kain batik coklat. Daman memiliki kulit lebih putih daripada kami berdua. Sekaligus paling muda, namun dengan wajah paling tua. *Pasang muka manis sama Daman.hihi

Karena telah larut, mobil angkutan umum (mikrolet kalau di Malang kami menyebutnya) sebenarnya sudah tidak beroperasi. Tapi menurut Daman, akan ada satu mikrolet lagi yang sudah dikontak oleh para tukang ojek di bawah gapura tadi. Tidak lama kami menunggu, mikrolet yang dimaksud datang. Kalau tidak salah, mikrolet di sini berwarna orange. Dengan hanya tiga penumpang yaitu kami, mikrolet itu mengantarkan kami menuju pelabuhan Tanjungwangi Ketapang. Jarak antara stasiun dan dermaga ini ternyata tidak jauh, kira-kira hanya 200 meter. Tapi sopir mikrolet menolak uang sepuluhribu dari tangan Jun. Tiga puluh ribu, katanya. Jun mencoba mengatakan bahwa itu bukan harga biasanya. Aku sendiri maklum, hal demikian sering terjadi dimana-mana, khususnya penumpang yang terlihat asing alias bukan masyarakat lokal setempat. Tapi, karena tidak ingin berdebat panjang, akhirnya Jun mengulurkan juga uang tiga puluh ribu dengan mengatakan; semoga barokah, Pak. Daman diam, sementara aku yang menangkap raut muka Jun, ngekek kecil. Lalu, kami bertiga berbalik badan. Melangkah ke depan, gapura dermaga menyambut kami malam itu. Dan di belakang kami, kami tak tahu apa yang ada di pikiran supir mikrolet yang semoga rahmat Allah selalu berpihak padanya. Aamiin…

***
Semalaman kami menginap di ruang penginapan. Ruangan agak pengap karena banyak calon penumpang kapal yang tidur berjejer-jejer seperti pindang. Karena takut kehabisan tiket, menurut Jun, orang-orang ini rela bermalam di sini. Dan itupun yang akan kami lakukan malam ini. Aku menangkap kapal putih yang tertambat di bibir dermaga. Barangkali itu kapal yang akan kami jajah besok pagi. Yang akan mengantarkan kami ke sebuah pulau asing. Sebuah nuansa kehidupan yang sama sekali asing bagi pengalaman kami. Tapi tentu tidak bagi Jun, karena di sanalah, di pulau yang hanya di kelilingi lautan dia lahir dan tumbuh besar. Bersama anak pulau atau anak pantai lainnya.


Setelah mengobrol ngalur-ngidul bersama dua cecunguk ini, aku memilih tidur duduk di jejeran kursi biru paling pojok. Menutup tubuh dengan kerudung pasmina hijau lumutku. Jun dan Daman menghamparkan sarung di bawah  kursi-kursi biru dan tidur begitu saja. Aku sempat memotret mereka dan mengirimkannya ke salah seorang teman. Di bawah picture itu, aku beri tulisan: Calon Bajak Laut.

Sadulang Kecil, 19 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar