Kamis-Jum’at, 16-17 Juni 2016
Keluarlah
dari rumahmu dan merantau jauh, agar kau tahu apa artinya rindu…
Agar kau tahu apa artinya pulang…
Agar kau tahu apa artinya pulang…
Kamis,
06062016 aku bertolak dari stasiun Kotalama Malang ke stasiun Banyuwangi Baru
via kereta Tawangalun. Dengan diantar bapak di bawah derai hujan kota Malang yang
deras, pukul 15.45 tepat, kereta berangkat dan mendarat pukul 23.30. Nuansa
stasiun Banyuwangi Baru ini tidak jauh berbeda
dengan stasiun Kalibaru, stasiun Banyuwangi pertama dimana aku pernah mendarat.
Sepi dan lengang. Aku sempat masuk kamar mandi untuk buang air kecil. Wah,
kamar mandi yang bagus bahkan terkesan elit dan mewah. Dan terutama sangat
bersih juga wangi. Bahkan ada pot dengan daun segar yang tumbuh di dalamnya. Satu-satunya
kamar mandi stasiun yang nyaman yang pernah aku masuki. Aku terkesan.
Dua
teman lelaki yang akan bersamaku selama mbolang dalam masa ke depan ini sudah
menunggu sejak lama, Jun dan Daman. Setelah memberi kabar via watshapp, kulihat
Jun yang cungkring muncul. Seperti biasa, tampilannya awut-awutan dan kucel, tapi
ceria, khas anak songong. Aku berjalan di sampingnya yang membawakan koperku
meninggalkan gerbang stasiun yang dijaga seorang pemuda berseragam. Dari jauh,
di bawah gapura stasiun tepatnya di pinggiran jalan besar, kulihat Daman duduk
nongkrong menunggu dengan tas ransel yang menggelembung. Rambutnya yang lurus panjang
dibungkus kain batik coklat. Daman memiliki kulit lebih putih daripada kami
berdua. Sekaligus paling muda, namun dengan wajah paling tua. *Pasang muka
manis sama Daman.hihi
Karena
telah larut, mobil angkutan umum (mikrolet kalau di Malang kami menyebutnya)
sebenarnya sudah tidak beroperasi. Tapi menurut Daman, akan ada satu mikrolet
lagi yang sudah dikontak oleh para tukang ojek di bawah gapura tadi. Tidak lama
kami menunggu, mikrolet yang dimaksud datang. Kalau tidak salah, mikrolet di
sini berwarna orange. Dengan hanya tiga penumpang yaitu kami, mikrolet itu
mengantarkan kami menuju pelabuhan Tanjungwangi Ketapang. Jarak antara stasiun
dan dermaga ini ternyata tidak jauh, kira-kira hanya 200 meter. Tapi sopir
mikrolet menolak uang sepuluhribu dari tangan Jun. Tiga puluh ribu, katanya.
Jun mencoba mengatakan bahwa itu bukan harga biasanya. Aku sendiri maklum, hal
demikian sering terjadi dimana-mana, khususnya penumpang yang terlihat asing
alias bukan masyarakat lokal setempat. Tapi, karena tidak ingin berdebat
panjang, akhirnya Jun mengulurkan juga uang tiga puluh ribu dengan mengatakan;
semoga barokah, Pak. Daman diam, sementara aku yang menangkap raut muka Jun,
ngekek kecil. Lalu, kami bertiga berbalik badan. Melangkah ke depan, gapura
dermaga menyambut kami malam itu. Dan di belakang kami, kami tak tahu apa yang
ada di pikiran supir mikrolet yang semoga rahmat Allah selalu berpihak padanya.
Aamiin…
***
Semalaman
kami menginap di ruang penginapan. Ruangan agak pengap karena banyak calon
penumpang kapal yang tidur berjejer-jejer seperti pindang. Karena takut
kehabisan tiket, menurut Jun, orang-orang ini rela bermalam di sini. Dan itupun
yang akan kami lakukan malam ini. Aku menangkap kapal putih yang tertambat di
bibir dermaga. Barangkali itu kapal yang akan kami jajah besok pagi. Yang akan
mengantarkan kami ke sebuah pulau asing. Sebuah nuansa kehidupan yang sama
sekali asing bagi pengalaman kami. Tapi tentu tidak bagi Jun, karena di
sanalah, di pulau yang hanya di kelilingi lautan dia lahir dan tumbuh besar.
Bersama anak pulau atau anak pantai lainnya.
Setelah
mengobrol ngalur-ngidul bersama dua cecunguk ini, aku memilih tidur
duduk di jejeran kursi biru paling pojok. Menutup tubuh dengan kerudung pasmina
hijau lumutku. Jun dan Daman menghamparkan sarung di bawah kursi-kursi biru dan tidur begitu saja. Aku
sempat memotret mereka dan mengirimkannya ke salah seorang teman. Di bawah
picture itu, aku beri tulisan: Calon Bajak Laut.
Sadulang Kecil, 19 Juni 2016
0 komentar:
Posting Komentar