Selasa, 02 Agustus 2016

BERTEMAN DENGAN SILUMAN





“Pokoknya, sebelum menikah, aku mau ke rumahmu,” nadzarku pada Jun yang kuutarakan dengan dalam. Seperti janji batin pada diri sendiri.

Jun, teman lelakiku ini datang dari Pulau nan jauh di sana. Sebuah pulau kecil di tengah lautan yang maha luas. Yang terasing dari hiruk pikuk sebagaimana kehidupan di pulau Jawa pada umumnya, khususnya di kota. Jun tumbuh dan tertempa oleh pasir, lautan, sampan, badai, ombak, jaring, pancing, sekaligus banyak hal mistis di kelilingnya.

“Emmek” Jun menyebut nenek buyutnya yang sakti mandraguna. Dari sekian cerita menarik, menantang, dan menegangkan dari kehidupan Jun yang anak pulau, sosok emmek adalah satu bagian yang paling unik dan menarik bagiku. Bagaimana aku membayangkan teriakan emmek yang menurut cerita Jun bisa terdengar mulai ujung utara sampai ujung selatan pulau. Emmek mengobati perempuan yang tanpa lubang. Juga berbagai cara kunonya nan mistis dalam menyembuhkan orang-orang dari berbagai guna-guna dan santet. Pendeknya, emmek adalah harta karun yang dimiliki Pulau Sadulang Kecil, nama pulau dimana Jun lahir dan tumbuh.

Belum lagi ceceran cerita tentang panorama kehidupan rumah di atas laut, kehidupan orang-orang pulau sendiri telah membuatku terkewer-kewer ingin menjajal langsung hidup di sana. Ah, entah berapa juta jenis ikan dan binatang laut lainnya yang sudah melewati tenggorokan Jun dan dilumat habis oleh asam dalam lambungnya.

“Beneran, kamu gak mau ikut?” WA Jun.

Aku udah mematrikan ‘tidak ikut’ dengan tegas karena keadaanku yang sedang tidak memungkinkan. Penyakit Gerd mampu membuatku, perempuan petualang gila betah mengurung diri di rumah saja. Meski sebelumnya, hatiku maju-mundur, apalagi Jun tipe seonggok manusia yang pandai memprofokasi dengan lembut, halus, samar, sampai kamu tidak akan merasa kalau sedang termakan buai rayuannya. Kecuali aku tentunya. Karena aku dan dia sudah saling terbuka sama lain, khususnya masalah asmara kami masing-masing. Dan hal itulah yang paling aneh. Dari sekian miliaran manusia, dan dari sekian juta teman dekat, mengapa Jun? ah entahlah. Memikirkan hal itu adalah aneh sebagaimana sosok Jun itu sendiri.

Begitulah Jun. Sebagai teman yang sering sekali bertukar cerita dan pandangan, aku merasa sangat dekat, namun terkadang merasa sangat jauh yaitu saat aku tidak bisa menjangkau cara dan model berfikirnya. Temanku yang satu ini satu di antara dua temanku yang paling kuno dalam dunia batin. Tapi karena itulah aku begitu sangat dekat dengannya. Membicarakan hal yang tidak akan pernah relevan di dunia keilmiahan.

***

Setelah aku keukeuh terhadap segala bujuk rayu dan tipu muslihatnya untuk turut serta menjadi bajak laut dan benar-benar menjejakkan kaki di negerinya yang antah barantah itu, di dunia dan kehidupan yang sering diceritakannya dan di telingaku terdengar seperti dongeng yang indah-memukau-dan menakjubkan-itu, dia tetap gigih melakukan  tipu muslihat yang paling lembut dan samar.

Tanggal 11 Juni, Jun mengirim gambar di BBM. Sebuah gambar sekoci di atas laut tenang, dipayungi langit jingga yang memantulkan warnanya ke permukaan laut. Gambar penuh pesona di dalam salah-satu scene film Life Of Pie. Pesan yang singkat, namun membuat keputusanku yang penuh nalar logis dan pertimbangan runtuh seketika. Satu di antara puluhan rayuannya yang puitis, “Kamu pernah membayangkan jika yang ada di dalam perahu itu adalah kamu boy?”

Seperti pertanyaan, namun nyatanya berupa energi magis yang menyeret-nyeretku ke sebuah ruang batin yang aku sendiri belum pernah masuk ke dalamnya. Beberapa hari aku memikirkan itu. Tidur tak tenang. Dan akhirnya, keputusan lain kuambil. Seperti di susupi siluman entah darimana, aku bangkit dan memiliki energi untuk mempersiapkan perjalananku ke pulau asing. Dari hal-hal yang sifatnya materil, persiapan batin, hingga sebuah drama kepada keluarga. Waktu itu, sambil mengingat sebuah judul cerpennya Mas Puthut, aku berdoa di dalam hati: Ya, Allah… semoga drama ini tak berkisah terlalu jauh…  


Malang, Juli 2016

0 komentar:

Posting Komentar