“Pokoknya, sebelum menikah, aku mau ke rumahmu,” nadzarku
pada Jun yang kuutarakan dengan dalam. Seperti janji batin pada diri sendiri.
Jun, teman lelakiku ini datang dari Pulau nan jauh di
sana. Sebuah pulau kecil di tengah lautan yang maha luas. Yang terasing dari
hiruk pikuk sebagaimana kehidupan di pulau Jawa pada umumnya, khususnya di
kota. Jun tumbuh dan tertempa oleh pasir, lautan, sampan, badai, ombak, jaring,
pancing, sekaligus banyak hal mistis di kelilingnya.
“Emmek” Jun menyebut nenek buyutnya yang sakti
mandraguna. Dari sekian cerita menarik, menantang, dan menegangkan dari
kehidupan Jun yang anak pulau, sosok emmek adalah satu bagian yang paling unik
dan menarik bagiku. Bagaimana aku membayangkan teriakan emmek yang menurut cerita
Jun bisa terdengar mulai ujung utara sampai ujung selatan pulau. Emmek
mengobati perempuan yang tanpa lubang. Juga berbagai cara kunonya nan mistis dalam
menyembuhkan orang-orang dari berbagai guna-guna dan santet. Pendeknya, emmek
adalah harta karun yang dimiliki Pulau Sadulang Kecil, nama pulau dimana Jun
lahir dan tumbuh.
Belum lagi ceceran cerita tentang panorama kehidupan
rumah di atas laut, kehidupan orang-orang pulau sendiri telah membuatku
terkewer-kewer ingin menjajal langsung hidup di sana. Ah, entah berapa juta
jenis ikan dan binatang laut lainnya yang sudah melewati tenggorokan Jun dan
dilumat habis oleh asam dalam lambungnya.
“Beneran, kamu gak mau ikut?” WA Jun.
Aku udah mematrikan ‘tidak ikut’ dengan tegas karena
keadaanku yang sedang tidak memungkinkan. Penyakit Gerd mampu membuatku,
perempuan petualang gila betah mengurung diri di rumah saja. Meski sebelumnya,
hatiku maju-mundur, apalagi Jun tipe seonggok manusia yang pandai memprofokasi
dengan lembut, halus, samar, sampai kamu tidak akan merasa kalau sedang
termakan buai rayuannya. Kecuali aku tentunya. Karena aku dan dia sudah saling
terbuka sama lain, khususnya masalah asmara kami masing-masing. Dan hal itulah
yang paling aneh. Dari sekian miliaran manusia, dan dari sekian juta teman
dekat, mengapa Jun? ah entahlah. Memikirkan hal itu adalah aneh sebagaimana
sosok Jun itu sendiri.
Begitulah Jun. Sebagai teman yang sering sekali bertukar
cerita dan pandangan, aku merasa sangat dekat, namun terkadang merasa sangat
jauh yaitu saat aku tidak bisa menjangkau cara dan model berfikirnya. Temanku
yang satu ini satu di antara dua temanku yang paling kuno dalam dunia batin.
Tapi karena itulah aku begitu sangat dekat dengannya. Membicarakan hal yang
tidak akan pernah relevan di dunia keilmiahan.
***
Setelah aku keukeuh terhadap segala bujuk rayu dan
tipu muslihatnya untuk turut serta menjadi bajak laut dan benar-benar
menjejakkan kaki di negerinya yang antah barantah itu, di dunia dan kehidupan
yang sering diceritakannya dan di telingaku terdengar seperti dongeng yang indah-memukau-dan
menakjubkan-itu, dia tetap gigih melakukan
tipu muslihat yang paling lembut dan samar.
Tanggal 11 Juni, Jun mengirim gambar di BBM. Sebuah
gambar sekoci di atas laut tenang, dipayungi langit jingga yang memantulkan
warnanya ke permukaan laut. Gambar penuh pesona di dalam salah-satu scene film
Life Of Pie. Pesan yang singkat, namun membuat keputusanku yang penuh nalar
logis dan pertimbangan runtuh seketika. Satu di antara puluhan rayuannya yang
puitis, “Kamu pernah membayangkan jika yang ada di dalam perahu itu adalah kamu
boy?”
Seperti pertanyaan, namun nyatanya berupa energi magis
yang menyeret-nyeretku ke sebuah ruang batin yang aku sendiri belum pernah
masuk ke dalamnya. Beberapa hari aku memikirkan itu. Tidur tak tenang. Dan
akhirnya, keputusan lain kuambil. Seperti di susupi siluman entah darimana, aku
bangkit dan memiliki energi untuk mempersiapkan perjalananku ke pulau asing.
Dari hal-hal yang sifatnya materil, persiapan batin, hingga sebuah drama kepada
keluarga. Waktu itu, sambil mengingat sebuah judul cerpennya Mas Puthut, aku
berdoa di dalam hati: Ya, Allah… semoga drama ini tak berkisah terlalu jauh…
Malang, Juli 2016
0 komentar:
Posting Komentar