Sabtu, 14 Mei 2016

LIMA: DIGENDONG BAPAK


Semenjak menyadari adanya diri saya di sebuah Panggung Sandiwara bernama "kehidupan" ini, saya ingat pertama kali digendong bapak adalah sewaktu kelas 2 atau 3 SD. Ceritanya, ibuk sudah tidur duluan di Kamar dan saya masih bertahan di depan TV karena menonton film Indiahe (hehehe). Tiba-tiba saya merasa naik pesawat atau mungkin odong-odong di Mall Gadjah Mada (maklum, saya anak keluarga miskin dan punya adik banyak, naik odong-odong saja akhirnya menjadi impian yang sangat besar bagi masa kanak saya dulu. Kekekek.). Senang... sekali rasanya. Lalu saya merasa pesawatnya oleng. Lah dalah! Ternyata bapak sedang merebahkan saya di atas kasur (tentu saja saya tetap pura-pura merem hehe). Memindahkan saya dari kedua tangannya ke tempat tidur. Hem,,, rupanya saya ketiduran di sofa dan digendong bapak. Nah, dari malam itulah akhirnya saya sering pura-pura ketiduran di sofa karena kepingin digendong bapak. hihihi

Jikalau saya sakit pun, dari rumah (rumah saya memang tengah kota, tapi masuk gang dan turuuuuun ke bawah hihihi. Kalau dari bawah, harus naiiiiikkkk banget, menjejaki berpuluhan tangga hihihi. Penasaran? Silahkan mampir) ke Jalan Raya, bapak menggendong saya sampai naik becak atau mikrolet untuk pergi ke Puskesmas. Saat saya mondok, beberapa kali saya sakit agak parah dan tidak bisa berjalan. Ya bapaklah dengan keringat dan nafas satu dua menggendong saya turun menuju rumah dan naik menuju Puskesmas. Hello.... waktu itu saya sangat ingat, karena saya merasa maluuuuu banget. Waktu itu saya sudah akil baligh, dan jaman nyantri, saya punya perasaan malu yang naudzubillah, bahkan ke orangtua sendiri. Apalagi, menyadari diri digendong bapak!!! akkkkk maluuuuuu.... sekaligus terharu la....

Baru setelah mengenal Jogja, saya mulai pandai memetakan letak perasaan malu ini. Bermanja-manja sama bapak-ibuk akhirnya menjadi bumbu mengekspresikan rasa kasih-sayang.
Nah, cerita sebenarnya di sini: Semalam, saya ingat pose tidur saya menyilang, tidak pakai selimut, dan laptop tergeletak di samping. Paginya, saya temukan saya tidur membujur, memakai selimut, dan laptop agak jauh. Aduh, mosok ya saya yang sudah hampir seperempat abad ini digendong bapak lagi? gak malu sih... tapi sungkan... opo bedone yo??? Kekekek.

Panjang umur lan barokah nggeh, Pak...

0 komentar:

Posting Komentar