Pengalaman
pertama saya naik kereta adalah tanggal 1 Januari 2009 bersama dua orang teman
Kru Jurnalistik di Pesantren. Perjalanan itu kami tunaikan demi mengikuti acara
Sastra Pesantren yang paling keren: LSdP#2 Komunitas Matapena Yogyakarta yang
waktu itu diselenggarakan di PP. Pandanaran.
Dari
pengalaman pertama naik kereta itu, ternyata merupakan petanda dari Tuhan bahwa
saya akan sering pulang-pergi Jogja-Malang (dan juga sebaliknya) dengan naik kereta.
Tentu saja, saat turun dari kereta, wajah keluarga yang pertama kali menyambut
adalah bapak tercinta.
Saat
Stasiun belum seketat sekarang, bapak akan menunggu kereta saya, pas, di
samping jalur kereta saya akan berhenti. Saat tubuh saya mulai terlihat muncul
di salah-satu pintu gerbong, bapak akan berlari, mengawal saya yang akan turun
sambil bilang ke penumpang yang lain, "Permisi-permisi, barang
berat." Saya ngekek dalam hati, karena saya tahu trik itu digunakannya
supaya penumpang lain bisa minggir sejenak dari pintu gerbong dan saya tidak
kesulitan untuk keluar. Lalu bapak akan mengambil alih barang-barang bawaan
saya sambil bilang, "Gini ini, Samean. Selalu bawa buku-buku banyak
kalau pulang. Bapak cuma kasian Samean, kan nggowone abot."
Saya cuma senyum-senyum saat berjalan di sampingnya--yang riweh dengan
barang-barang saya--, senang karena merasa total disirami kasih sayangnya.
Apalagi, setelah pengalaman dan pergaulan saya lebih luas, saya jadi tahu bahwa
tidak semua orangtua di dunia ini seperti orangtua saya, khususnya seperti bapak
kepada anak perempuannya.
Saat
bapak mengantar saya ke Stasiun pun, bapak akan masuk ke Gerbong, mencarikan
tempat duduk saya, dan akan duduk di samping saya bilamana tahu kereta masih
lama berangkatnya. Saat pluit berbunyi, atau petugas keamanan mulai bergerilya,
bapak akan bersiap-siap turun dan tak lupa menyejukkan saya dengan
nasihat-nasihatnya. Bapak tidak akan pulang, sebelum melihat kereta saya
benar-benar melaju. Terkadang, bapak sampai menunggu kereta berangkat di pintu
kaca kereta dimana saya duduk. Sampai saya pernah dipanggil-pangil mas-mas
ganteng di seberang tempat duduk. Tentu saja saya kaget, wong merasa tidak
kenal. Lalu mas-mas itu menunjuk keluar jendelanya. Ternyata bapak
mengetok-ngetok kaca jendela mas-masnya untuk menyampaikan kepada saya bahwa
bapak masih di sana. Barangkali, ingin mengatakan: Tenang, Nduk, bapak
masih di sini. Ya supaya saya merasa aman dan nyaman.
Saat
Stasiun mulai ketat atau disiplin lah ya... (selain penumpang yang membawa
tiket dilarang masuk ruang pemberangkatan), saya seolah merasakan gundah hati
bapak. Saat saya antri untuk pemeriksaan tiket, bapak--dengan masih ngotot
membawakan barang-barang saya--ikut mengantri disebelah saya. Saat saya akan
masuk, bapak dihadang oleh petugas. Lalu di depan mata kepala saya sendiri,
saya menyaksikan bapak berani beradu argumen dengan bijak dan sangat
argumentatif, dan yang paling membuat saya bangga menjadi anaknya adalah saat
bapak bilang tepat di muka petugas begini: Bapak kan sekolah tinggi, pakai
seragam lagi, dimana hati nurani, Bapak? Anak saya itu kecil, kurus lagi,
bagaimana saya dan Bapak tega membiarkannya berjalan dan masuk kereta dengan
bawaan seberat ini??
Lalu
petugas menjawab. Bapak menjawab lagi: Anak saya sebenarnya juga tidak mau
membawa sekardus apel yang berat ini. Tapi bagaimana lagi, dia tidak bisa
menolak, karena ibunya sendiri yang mempersiapkannya semenjak petang hari.
(Anak saya kan santri. Mungkin mau ngomong gitu kali ye... hehe)
Lalu,
saya mbrebes mili. Tapi dalam hati. Tentu saja, karena di depan bapak,
saya ingin menunjukkan bahwa saya anak bapak yang tegar dan kuat.
Saya
teringat lagi perdebatan bapak dengan petugas keamanan itu. Bapakku yang SD
saja tidak lulus.....
Oh,
Bapak! Mugi Gusti Allah nyiapaken tempat termulyo di sisi-Nya. Aamiin....
0 komentar:
Posting Komentar