Sabtu, 14 Mei 2016

ENAM: BAPAK & CERITA-CERITA DI STASIUN


Pengalaman pertama saya naik kereta adalah tanggal 1 Januari 2009 bersama dua orang teman Kru Jurnalistik di Pesantren. Perjalanan itu kami tunaikan demi mengikuti acara Sastra Pesantren yang paling keren: LSdP#2 Komunitas Matapena Yogyakarta yang waktu itu diselenggarakan di PP. Pandanaran.
Dari pengalaman pertama naik kereta itu, ternyata merupakan petanda dari Tuhan bahwa saya akan sering pulang-pergi Jogja-Malang (dan juga sebaliknya) dengan naik kereta. Tentu saja, saat turun dari kereta, wajah keluarga yang pertama kali menyambut adalah bapak tercinta.

Saat Stasiun belum seketat sekarang, bapak akan menunggu kereta saya, pas, di samping jalur kereta saya akan berhenti. Saat tubuh saya mulai terlihat muncul di salah-satu pintu gerbong, bapak akan berlari, mengawal saya yang akan turun sambil bilang ke penumpang yang lain, "Permisi-permisi, barang berat." Saya ngekek dalam hati, karena saya tahu trik itu digunakannya supaya penumpang lain bisa minggir sejenak dari pintu gerbong dan saya tidak kesulitan untuk keluar. Lalu bapak akan mengambil alih barang-barang bawaan saya sambil bilang, "Gini ini, Samean. Selalu bawa buku-buku banyak kalau pulang. Bapak cuma kasian Samean, kan nggowone abot." Saya cuma senyum-senyum saat berjalan di sampingnya--yang riweh dengan barang-barang saya--, senang karena merasa total disirami kasih sayangnya. Apalagi, setelah pengalaman dan pergaulan saya lebih luas, saya jadi tahu bahwa tidak semua orangtua di dunia ini seperti orangtua saya, khususnya seperti bapak kepada anak perempuannya.

Saat bapak mengantar saya ke Stasiun pun, bapak akan masuk ke Gerbong, mencarikan tempat duduk saya, dan akan duduk di samping saya bilamana tahu kereta masih lama berangkatnya. Saat pluit berbunyi, atau petugas keamanan mulai bergerilya, bapak akan bersiap-siap turun dan tak lupa menyejukkan saya dengan nasihat-nasihatnya. Bapak tidak akan pulang, sebelum melihat kereta saya benar-benar melaju. Terkadang, bapak sampai menunggu kereta berangkat di pintu kaca kereta dimana saya duduk. Sampai saya pernah dipanggil-pangil mas-mas ganteng di seberang tempat duduk. Tentu saja saya kaget, wong merasa tidak kenal. Lalu mas-mas itu menunjuk keluar jendelanya. Ternyata bapak mengetok-ngetok kaca jendela mas-masnya untuk menyampaikan kepada saya bahwa bapak masih di sana. Barangkali, ingin mengatakan: Tenang, Nduk, bapak masih di sini. Ya supaya saya merasa aman dan nyaman.

Saat Stasiun mulai ketat atau disiplin lah ya... (selain penumpang yang membawa tiket dilarang masuk ruang pemberangkatan), saya seolah merasakan gundah hati bapak. Saat saya antri untuk pemeriksaan tiket, bapak--dengan masih ngotot membawakan barang-barang saya--ikut mengantri disebelah saya. Saat saya akan masuk, bapak dihadang oleh petugas. Lalu di depan mata kepala saya sendiri, saya menyaksikan bapak berani beradu argumen dengan bijak dan sangat argumentatif, dan yang paling membuat saya bangga menjadi anaknya adalah saat bapak bilang tepat di muka petugas begini: Bapak kan sekolah tinggi, pakai seragam lagi, dimana hati nurani, Bapak? Anak saya itu kecil, kurus lagi, bagaimana saya dan Bapak tega membiarkannya berjalan dan masuk kereta dengan bawaan seberat ini??
Lalu petugas menjawab. Bapak menjawab lagi: Anak saya sebenarnya juga tidak mau membawa sekardus apel yang berat ini. Tapi bagaimana lagi, dia tidak bisa menolak, karena ibunya sendiri yang mempersiapkannya semenjak petang hari. (Anak saya kan santri. Mungkin mau ngomong gitu kali ye... hehe)

Lalu, saya mbrebes mili. Tapi dalam hati. Tentu saja, karena di depan bapak, saya ingin menunjukkan bahwa saya anak bapak yang tegar dan kuat.
Saya teringat lagi perdebatan bapak dengan petugas keamanan itu. Bapakku yang SD saja tidak lulus.....

Oh, Bapak! Mugi Gusti Allah nyiapaken tempat termulyo di sisi-Nya. Aamiin....







0 komentar:

Posting Komentar