Minggu, 15 Mei 2016

PENGALAM AN NGAJI FILSAFAT DI MASJID JENDRAL SUDIRMAN YOGYAKARTA

Jujur, yang membuat saya berat meninggalkan Jogja di antaranya adalah Ngaji Filsafat di MJS. Pacarpun jadi nomor kesekian. (Hehehe, ampun Kangmas). Mungkin, Ngaji Filsafat di MJS adalah ruang belajar filsafat paling anomali di dunia dan akhirat. Mungkin lo ya.... Loh, kenapa? 

Nah, kamu-kamu yang sudah pernah ngaji, apalagi yang sudah rutin karena terlanjur kepincut seperti Uud Mas'ud misalnya, pasti sudah tahu jawabannya. Senyum-senyum sendiri saat baca tulisan ini. Nah, kamu yang belum pernah, coba deh, malam Kamis besok, tepatnya ba’da isya’, datang aja ke Masjid Sudirman Kolombo Yogyakarta. Datang aja. Gak perlu bawa buku, gak perlu bawa pulpen. Gak harus pakai baju rapi. Sarungan boleh. Gak sarungan juga boleh, asalkan pakai bawahan yang lain lo ya.... jangan tega-tegalah membuat temannya sawanen...

Yang perempuan juga gak harus pakai rok dan gak harus pakai kerudung. Gak harus bedakan dulu atau pakai minyak wangi (nanti dikira Ayu Ting Ting) dari kost. Gak harus sok anggun atau sok manis. Kamu bisa biasa aja. Bebas. Bebas mau berangkat sendiri, ngajak teman, atau datang gerombolan (asal gak bakar ban ya). Boleh pakai mobil, boleh motoran cenglu (tapi kalau kena polisi jangan sebut-sebut MJS ya, karena polisi Sleman sudah tahu dengan haqqul yakin kalau para Takmir MJS itu soleh-soleh, apalagi soal peraturan. Lawong mereka itu dilahirkan hakikatnya untuk jadi Takmir kok. Yang kata Pak Faiz mereka itu Takmir yang kebetulan jadi mahasiswa), juga boleh jalan kaki. Pokoknya bebas, asalkan sampai di MJS dengan selamat. Aamiin....

Tahun 2013 tepatnya saya mulai kenal dengan ruang belajar anomali ini. Saat itu saya diajak teman lelaki, Khazin Muhdhor (sekarang sudah menjadi kiai sufi di Jember). Saya kaget saat dibawa masuk kelas dan duduk di bangku seperti kembali ke masa sekolah aja. Loh, katanya ngaji di Masjid, kok ini di kelas. Kok penampilannya pada awut-awutan kayak mayoritas teman-teman saya di Warung Kopi? Eh, ada Uud Mas'ud senyum-senyum di sebrang bangku sana. Yang pada akhi mengaji saya omel-omelin karena gak kabar-kabar ada ruang belajar seanomali ini. Ruang belajar untuk saya mengasah ketrampilan menyinyiri dunia. Ya seperti biasa, Uud Uud Mas'ud membalas dengan senyumnya (yang kata santri WH: senyumnya mas itu manis. klepek-kelepek).

Begitulah, saya berusaha rutin mengaji: duduk mendengarkan, berfikir sedikit, dan ketawa banyak-banyak. Tapi saat menjelang tidur, semuanya terbalik: Sedikit tersenyum, dan berfikir banyak-banyak. Eits! jangan seserius itu bayanginnya. Biasa saja. Sebiasa Pak Fachruddin Faiz menyampaikan suatu hal yang sangat luas dan sangat dalam. Hingga kenak tdek ke bagian yang paling nurani.
Awal-awal, Khazin Muhdhor dengan senang hati menebengi saya di jok belakang motor bututnya. Sama bututnya dengan penampilan perempuan yang diboncengnya hahaha. Setelah dia menikah (cepat menikah, mungkin karena sering mbonceng saya hahaha), ganti teman setia Uud Mas’ud mengantar-jemput, yang sebenarnya, rumahnya lebih dekat dengan MJS daripada harus rela-rela muter menjemput saya wkwkwk. Terimaksih Uud... kamu teman yang baik sekali... aku doakan kamu jadi filosof yang baik, bijaksana, beruntung, dan tidak jomblo yah.... aamiin... :). 

Menyadari saya selalu menjadi satu-satunya perempuan, saya mulai mencoba menebarkan virus ke teman-teman cewek. Dan dapatlah! Usanna tayuman namanya. Penyair dari Teater Eska. Perempuan paling puitis dan paling ngemong yang pernah saya temui. Sungguh biadabnya saya, saya bersedia saat dia mengajak saya mbonceng di jok belakang sepeda ontelnya. Kalau kamu tahu, Kawan, jalan menuju MJS dari kost saya itu menanjak. Mbak Us.... semoga ilmu yang kau dapatkan berlipat-lipat ya.... Usanna Tayuman, yang nama aslinya Uswatun Hasanah ini ternyata lebih militan dari saya yang terkadang malas-malasan untuk berangkat. Dia rajin mengingatkan saya juga setia membonceng saya. Sampai dia menikah..... 

Lalu saya tenggelam dengan hidup. Juga semacam kesibukan tak terdefinisikan. Tapi saat jenuh, segera saya berobat dengan datang ke MJS lagi. Mulailah saya ngontel dari kost ke MJS. huh hah huh hah. Gembos di tengah jalan mah, jangan tanya. Pernah banget dan bikin tubuh sekaligus baju gobyos-gobyos. 

Tapi apa yang saya dapatkan selama mengaji sungguh tidak sebanding dibandingkan dengan perjuangan yang cuma apalah-apalah itu. Bagaimana penyampaian Pak Faiz yang ringan dan sederhana, analogi-analogi yang sangat keseharian dan dekat dengan kita mampu membuat pikir dan nurani, mata akal dan mata batin saya menekur. Mengeja pelan-pelan. Menghayati dalam-dalam. Hingga.... saya merasa tahu apa yang semestinya saya lakukan. Bagaimana semestinya saya berjalan di atas kehidupan. sungguh bekal laku hidup....

Untukmu, Pak, Faatihah....

Dan sekarang, di tempat yang jauh dari Jogja, saya rindu mengaji filsafat di MJS....


Malang, 15 Mei 2016



1 komentar:

  1. assalamualaikum boleh saya minta kontak jenengan untuk saya wawancara dalam melengkapi penelitian skripsi saya mengenai kajian di mjs, terimakasih

    BalasHapus