Minggu, 15 Mei 2016

TUJUH: BAPAK DAN KEMAMPUANKU MEMASAK

Saya termasuk anak perempuan yang dididik memiliki keterampilan domestik semenjak kecil. Ya memang begitulah rata-rata masyarakat Madura, mendidik anak-anaknya supaya mandiri sedari kecil. Dan itu sangat saya rasakan manfa'atnya hingga kini, apalagi saat hidup di tengah-tengah pergaulan yang heterogen. Sungguh sangat bermanfaat!

Namun satu hal yang saya merasa tidak terampil sampai setidaknya sebelum letusan Gunung Merapi tahun 2010, yaitu memasak. Dalam hal memasak, saya hanya terlatih dalam hal goreng-menggoreng, rebus-merebus, iris-mengiris (hal ini ada alasannya, lain kali saya ceritakan). Pendeknya, hanya keterampilan memasaknya asisten koki. Saya tidak pandai dalam meracik bumbu. Bahkan, untuk membedakan bolopendem bernama kunci, kencur, juga dua bumbu dapur yang bentuknya bulet kecil, lada dan tumbar, adalah hal yang teramat sulit. Haha

Namun semuanya berbalik 360 derajat saat tragedi Gunung Merapi meletus di tahun 2010. Keluarga waktu itu pindah rumah dan berdomisili di Solo. Bertepatan dengan tragedi Merapi itu, ibuk sedang di Madura (entah saya lupa untuk urusan apa), maka tinggalah bapak sendirian di rumah (yang sesungguhnya adalah warung yang terbilang kecil).

Dalam bilangan puluhan kali bapak menelpon. Meminta saya segera pulang. Saya bisa memahami kekhawatiran bapak waktu itu, apalagi berita di televisi yang hiperbolis tinggi dalam mengabarkan situasi Jogja. Pulanglah saya ke Solo dan tinggal berdua dengan bapak. Di situlah saya merasakan betapa merananya bapak tanpa ibuk di rumah, karena setiap membeli makan di warung, bapak tidak bisa tanduk sebagaimana kalau dahar di rumah. Saya sangat tahu, bapak daharnya banyak. Hati saya rasanya seakan teremas-remas.

Malam sebelum tidur, saya gelisah sekaligus menguatkan hati untuk memerangi rasa gengsi saya untuk bergabung belanja sayuran bersama gerombolan ibu-ibu. Oh, Tuhan! ini bakalan menjadi kenangan tak terlupa!

Paginya, pelan dan ragu, saya melangkah ke seberang rumah--yang memang menjadi Pasar Pagi--bingung mau membeli apa. Meski saya datang agak awal, saya meminta untuk dilayani paling akhir saja. Setelah semua ibu-ibu telah pergi dengan berbagai belanjaannya, baru saya berani lebih mendekat. Saya pastikan ibu-ibu telah benar-benar pulang semua, lalu dengan pelan saya berbisik pada ibu penjual, bertanya tentang bumbu-bumbu dapur. Kalau tumis apa, kalau sup dan mbening apa, bagaimana langkah-langkahnya, dan seterusnya. Beruntung ibu penjual sangat telaten, sareh, dan keibuan. Saya ingat, pertamakali saya membeli sayur adalah kangkung, sambelan, dan ikan pindang. Hahaha. Memasak beres. Bapak dahar dengan lahap dan tanduk! Pujian dari beliau mengharu biru. Uhuiiii

Beberapa hari kemudian, bapak pulang membawa satu kresek daging. Tapi bapak tahu saya anti daging kambing, beliau membawa satu kresek daging sapi. "Halimah," kata bapak menunjukkan kresek dengan tersenyum optimis. Saya juga tersenyum mengiyakan, tapi hati saya menjerit " TIDAKKKKKK. Saya tidak tahu caranya, bumbu-bumbunya, belum amisnya,". MATILAH SAYA!

Mengecewakan bapak tidak mungkin. Jadilah saya bereksperimen dengan bumbu-bumbu, sedang bapak mondar-mandir di belakang saya, mungkin deg-degan, sanksi, atau penasaran, dengan perasaan menunggu-nunggu. Satu jam, dua jam, dan entah berapa jam saya menghabiskan waktu memasak daging itu. Yess, berhasil!!! dan bapak makan dengan lahap. Tentu saja saya bahagia.... Saya duduk memandang bapak yang dahar dengan lahap sambil sesekali memuji putrinya ini, sedang imaji saya, menari-nari dibalut rok biru dengan sorot lighting jingga. Tersenyum!

Dari situlah, saya senang memasak....





0 komentar:

Posting Komentar