Saya
termasuk anak perempuan yang dididik memiliki keterampilan domestik semenjak
kecil. Ya memang begitulah rata-rata masyarakat Madura, mendidik anak-anaknya
supaya mandiri sedari kecil. Dan itu sangat saya rasakan manfa'atnya hingga
kini, apalagi saat hidup di tengah-tengah pergaulan yang heterogen. Sungguh
sangat bermanfaat!
Namun
satu hal yang saya merasa tidak terampil sampai setidaknya sebelum letusan
Gunung Merapi tahun 2010, yaitu memasak. Dalam hal memasak, saya hanya terlatih
dalam hal goreng-menggoreng, rebus-merebus, iris-mengiris (hal ini ada
alasannya, lain kali saya ceritakan). Pendeknya, hanya keterampilan memasaknya
asisten koki. Saya tidak pandai dalam meracik bumbu. Bahkan, untuk membedakan bolopendem
bernama kunci, kencur, juga dua bumbu dapur yang bentuknya bulet kecil, lada
dan tumbar, adalah hal yang teramat sulit. Haha
Namun
semuanya berbalik 360 derajat saat tragedi Gunung Merapi meletus di tahun 2010.
Keluarga waktu itu pindah rumah dan berdomisili di Solo. Bertepatan dengan
tragedi Merapi itu, ibuk sedang di Madura (entah saya lupa untuk urusan apa),
maka tinggalah bapak sendirian di rumah (yang sesungguhnya adalah warung yang
terbilang kecil).
Dalam
bilangan puluhan kali bapak menelpon. Meminta saya segera pulang. Saya bisa
memahami kekhawatiran bapak waktu itu, apalagi berita di televisi yang
hiperbolis tinggi dalam mengabarkan situasi Jogja. Pulanglah saya ke Solo dan
tinggal berdua dengan bapak. Di situlah saya merasakan betapa merananya bapak
tanpa ibuk di rumah, karena setiap membeli makan di warung, bapak tidak bisa
tanduk sebagaimana kalau dahar di rumah. Saya sangat tahu, bapak daharnya
banyak. Hati saya rasanya seakan teremas-remas.
Malam
sebelum tidur, saya gelisah sekaligus menguatkan hati untuk memerangi rasa
gengsi saya untuk bergabung belanja sayuran bersama gerombolan ibu-ibu. Oh,
Tuhan! ini bakalan menjadi kenangan tak terlupa!
Paginya,
pelan dan ragu, saya melangkah ke seberang rumah--yang memang menjadi Pasar
Pagi--bingung mau membeli apa. Meski saya datang agak awal, saya meminta untuk
dilayani paling akhir saja. Setelah semua ibu-ibu telah pergi dengan berbagai
belanjaannya, baru saya berani lebih mendekat. Saya pastikan ibu-ibu telah
benar-benar pulang semua, lalu dengan pelan saya berbisik pada ibu penjual,
bertanya tentang bumbu-bumbu dapur. Kalau tumis apa, kalau sup dan mbening
apa, bagaimana langkah-langkahnya, dan seterusnya. Beruntung ibu penjual sangat
telaten, sareh, dan keibuan. Saya ingat, pertamakali saya membeli
sayur adalah kangkung, sambelan, dan ikan pindang. Hahaha. Memasak
beres. Bapak dahar dengan lahap dan tanduk! Pujian dari beliau
mengharu biru. Uhuiiii
Beberapa
hari kemudian, bapak pulang membawa satu kresek daging. Tapi bapak tahu saya
anti daging kambing, beliau membawa satu kresek daging sapi.
"Halimah," kata bapak menunjukkan kresek dengan tersenyum optimis.
Saya juga tersenyum mengiyakan, tapi hati saya menjerit " TIDAKKKKKK. Saya
tidak tahu caranya, bumbu-bumbunya, belum amisnya,". MATILAH SAYA!
Mengecewakan
bapak tidak mungkin. Jadilah saya bereksperimen dengan bumbu-bumbu, sedang
bapak mondar-mandir di belakang saya, mungkin deg-degan, sanksi, atau penasaran,
dengan perasaan menunggu-nunggu. Satu jam, dua jam, dan entah berapa jam saya
menghabiskan waktu memasak daging itu. Yess, berhasil!!! dan bapak makan dengan
lahap. Tentu saja saya bahagia.... Saya duduk memandang bapak yang dahar
dengan lahap sambil sesekali memuji putrinya ini, sedang imaji saya,
menari-nari dibalut rok biru dengan sorot lighting jingga. Tersenyum!
Dari
situlah, saya senang memasak....
0 komentar:
Posting Komentar