Bapak
suka sekali sayur-sayuran yang berkuah, terutama sayur sup. Meski bapak saya
adalah laki-laki mandiri, kemampuan memasaknya sangat terbatas pada menu-menu
tertentu. Saya sangat maklum. Sayur sup, tentu saja menjadi andalannya. Seperti
saat pulang ke Malang yang saya tempuh dari Banyuwangi pada tanggal 8 Desember
2015 via Ketera Tawang Alun kemarin, sengaja saya kosongkan perut sedari pagi
sampai sekitar jam satu siang, karena saya yakin, bapak telah memasak menyambut
kedatangan saya. Dan tentu saja keyakinan saya benar, sayur sup menyambut
saya.Hahaha
Selama
satu bulan Desember di rumah kemarin, setiap masak tumis pun akhirnya tetap
saya beri air yang banyak, ya menyesuaikan bapak saya yang kalau makan katanya,
"Seng penting ono sayure seng berkuah." Tanpa lauk pun
sebenarnya tak masalah.
Beberapa
hari yang lalu, adik kedua, Rois, yang sedang menempuh studinya di Kampus
Pesantren Bangil dan tengah berlibur maulid, mengabari kalau sudah di rumah.
Saya tanyakan sudah makan apa belum, masak apa, siapa yang masak? Dia menjawab
singkat dan jelas via sms: Uwes, sayur sup, bapak seng masak, gak popo sayur
sup terus seng pentig gak masak endok digoreng terus disiram banyu. Ngakak
saya membacanya, terselip sedikit keharuan bercampur sedih, andaisaja saya di
rumah....
0 komentar:
Posting Komentar