Senin, 16 Mei 2016

DELAPAN: BAPAK DAN SAYUR SUP


Bapak suka sekali sayur-sayuran yang berkuah, terutama sayur sup. Meski bapak saya adalah laki-laki mandiri, kemampuan memasaknya sangat terbatas pada menu-menu tertentu. Saya sangat maklum. Sayur sup, tentu saja menjadi andalannya. Seperti saat pulang ke Malang yang saya tempuh dari Banyuwangi pada tanggal 8 Desember 2015 via Ketera Tawang Alun kemarin, sengaja saya kosongkan perut sedari pagi sampai sekitar jam satu siang, karena saya yakin, bapak telah memasak menyambut kedatangan saya. Dan tentu saja keyakinan saya benar, sayur sup menyambut saya.Hahaha
Selama satu bulan Desember di rumah kemarin, setiap masak tumis pun akhirnya tetap saya beri air yang banyak, ya menyesuaikan bapak saya yang kalau makan katanya, "Seng penting ono sayure seng berkuah." Tanpa lauk pun sebenarnya tak masalah.

Beberapa hari yang lalu, adik kedua, Rois, yang sedang menempuh studinya di Kampus Pesantren Bangil dan tengah berlibur maulid, mengabari kalau sudah di rumah. Saya tanyakan sudah makan apa belum, masak apa, siapa yang masak? Dia menjawab singkat dan jelas via sms: Uwes, sayur sup, bapak seng masak, gak popo sayur sup terus seng pentig gak masak endok digoreng terus disiram banyu. Ngakak saya membacanya, terselip sedikit keharuan bercampur sedih, andaisaja saya di rumah....


0 komentar:

Posting Komentar