Sabtu, 14 Mei 2016

EMPAT: DITUNTUN BAPAK


Pulang yang keempat dari sekarang (dihitung mundur) kalau tidak salah, batin saya terhentak kaget saat bapak meraih telapak tangan saya, saat saya dan bapak mau menyeberang jalan di depan Stasiun Kota Baru. Sepanjang dituntun bapak dan menyeberang jalan, saya pandangi bapak yang sibuk menghalau jalan, sembari membatin: Bapak mungkin lupa bahwa putrinya telah dewasa, bahwa putrinya yang jarang tinggal di rumah, telah tumbuh mandiri dan dekat dengan kerasnya kehidupan karena telah ditempa kerasnya kehidupan itu sendiri, apalagi keras dan jahatnya kota metropolitan.


Kemarin, saat menyeberang di jalan sekitar Pasar Comboran, saya sudah tak terhentak sekeras awal kali bapak meraih tangan saya untuk menyeberang di waktu dewasa. Saya sengajakan pasrah seperti anak kecil yang dituntun orangtuanya yang ingin melindungi dan karena kekhawatiran, sebagaimana saya sengajakan diam sambil terus mendengar saat ibuk ngomel cerewet meski di usia saya yang telah dewasa. Saya menyukai keduanya. Karena, di hadapan bapak dan ibuk, saya ingin terus terlihat sebagai kanak-kanak, yang terus akan dikhawatirkan dan diingatkan. Terus dan terus... *Mripat wes mbrabak abang.

0 komentar:

Posting Komentar