Hari Kesembilan: Minggu, 26 Juni 2016
Aku bangun malas-malasan di saur pertama. Uwwak, sudah di
belakang, bersila di depan makanan. Jun berjalan di depanku, dan Eeng di
belakangku. Mereka berdua menyusul uwwak sambil makan setengah tidur. Sementara
aku berbelok ke dapur, karena malas sekali makan nasi, aku berusaha minum dua
gelas air. Lalu tidur lagi. Blek!
***
Hari ini adalah hari pertama aku akan tadarrus di kampung
ini. Ibu senang sekali mendengar aku akan tadarrus. Kata ibu, masyarakat di
sini akan merasa sangat tersanjung dan senang sekali jika ada tamu yang
mengikuti aktifitas kampung terutama di bidang keagamaan. Aku sangat maklum. Sebelas-duabelaslah
sama di Madura, kampung mbah ummikku. Tamu dari luar, alias orang asing akan
sangat terlihat unik untuk diperhatikan dan dibahas.
Perjalan tadarrus perdana terbilang lancar. Kata Atun,
saudara Jun yang juga adalah guru dan ustadzah di kampung ini, sampai ada
seorang ibu-ibu menengok di depan Musholla untuk memastikan siapa yang sedang
mengaji. Hihihi. Pada Daman aku mengaku, bahwa ngajiku tadi bukan lillaahita’aala,
tapi untuk citra sosial dan menyenangkan ibu. Daman ngakak, menyatakan
alasan yang sama dengan keikutsertaannya tadarrus di malam hari. Kita sama-sama
munafiq ya? Katanya sambil terkekeh. Dan aku melempar senyum paling munafiq.
Lingling dan Amrullah bermain ke Musholla saat aku
tadarrus. Aku menggendong mereka ke dalam untuk hiburan di sela-sela tadarrus.Selepas
tadarrus, aku dan Eeng membantu membuat kue Kacang Sembunyi di rumah Eva sampai
siang hari. Lingling masih saja mengikutiku dengan langkahnya yang kecil-kecil
(ah jadi kangen lingling). Aku menggendongnya gemas. Lingling duduk dan
menempel di pahaku sampai aku rampung membuat kue. Malamnya, ibunya Eva memberi
satu mangkok penuh kue itu. Enak sekali.
Sesungguhnya aku memang pecinta kacang atau makanan
apapun yang diolah dari kacang. Makanya aku merasa sedikit sedih, saat tahu
bahwa sedikit saja ada yang busuk atau rusak pada kulit kacang, maka kacang itu
tidak baik dikonsumsi karena mengandung racun. Siapa coba mau milihin dan
mengamati tiap area kacang yang akan kita makan?hem….
***
Sebenarnya, sore hari ini datang seperti biasa. Namun
tidak bagiku. Aku merasa ada yang lain dengan sore ini. Aku berlari ke depan
rumah, lalu menengok langit. Untuk lebih jelas, aku berlari ke belakang rumah
lewat pintu belakang. Di tempat biasa, di atas tembok karang aku berdiri. Aku
perhatikan langit yang penuh dengan awan berwarna putih berbentuk sisik ikan.
Saking penuhnya awan menutupi langit, warna biru langit nyaris tak terlihat.
Awan putih berbentuk sirip ikan itu penuh memayungi langit di atas sepanjang pulau,
juga rata menggantung di atas langit sepanjang luasnya lautan sampai hampir ke
pulau Saular.
Pemandangan langit yang berwarna putih bersih nan berseri
itu bercermin di atas lautan yang hari ini sangat tenang. Sebagaimana pula awan
di langit, nyaris tak bergerak tanpa angin.
Sejauh mataku memandang, semuanya
berwarna putih. Lautan benar-benar menjelma cermin raksasa yang sangat jernih
dan hanya memantulkan wajah langit yang putih penuh.
Sungguh pemandangan ini mengesankanku, meski menutup
warna senja, meski menyisakan perasaan aneh di ruang batinku. Meski aku sungguh
tak bisa menjelaskan dengan bulat kepadamu. Aku hanya merasa menjadi
satu-satunya manusia yang tengah berdiri di atas tembok karang dan diselimuti
satu warna: putih!
Malamnya, aku ingin tidur lebih cepat. Entah jam berapa,
di sela tidurku aku mendengar suara angin keras sekali. Suara perempuan
berteriak, disusul suara air jatuh ke atap rumah, ke tanah. Aku sempat
menikmati bau hujan pertama yang jatuh ke tanah pulau ini. Wangi, dan aku
kembali lelap dengan senyum…
Malang, 26 Agustus 2016
0 komentar:
Posting Komentar