Jumat, 26 Agustus 2016

HUHU

Hari Kesepuluh: Senin, 27 Juni 2016

Ternyata awan yang kulihat penuh menggantung di atas pulau sampai beberapa meter laut kemarin sore adalah petanda malamnya akan turun hujan. Di antara setengah sadarnya tidurku, aku dengar hujan deras sekali. Bahkan sampai mendekati waktu sahur, aku masih mendengarnya.

Pagi ini aku sudah bisa sahur dengan nasi meski sedikit. Lalu makan kolak labu sambil nonton talkshow yang rutin ditonton Jun sambil ngakak-ngakak seru di atas kasur. Lumayan lucu, aku ikutan ngakak. Lumayan untuk peregangan rahang di pagi hari.

Pagi, Eeng sudah beranjak menyemprot parfum ke tubuhnya. Aku yang masih malas-malasan terkejut. Mau berangkat tadarrus lebih awal, katanya. “Mbak Atun pergi ke Sapekken.” Sip, kataku, sambil berjanji akan lekas menyusul setelah mandi. Aku jadi ingat kalau pagi ini ibu juga akan pergi kulakan ke Sapeken. Memang, samar-samar tadi pagi aku dengar ibu berusaha membangunkan Daman yang berpesan akan ikut ke Sapeken. Setidaknya bisa membantu membawa barang-barang ibu dari pasar, katanya. Tadi sesuai prediksiku, Daman tidak mungkin bisa dibangunkan hahaha.

Sebelum mandi aku sempat melongok ke belakang rumah. Ibu sudah cantik, menunggu taxi. Awal-awalnya aku kaget, bagaimana taxi bisa beroperasi di pulau yang berada di tengah-tengah lautan ini? setelah mendengar obrolan penduduk, ternyata taxi atau naksi adalah transportasi sampan untuk umum. Ongkos naksi ke Sapeken 15.000 rupiah, tanpa barang. Dengan barang nambah 5.000 rupiah.

Aku menyusul Eeng ke Musholla. Sampainya di sana, aku nyengir karena hanya kutemukan Eeng dan Eva saja mengelilingi Alqur’an yang supergede.

Apalagi ya hari ini? Oh ya, aku ingat. Kami membantu ibu menata dan menghitung barang dagangan  sepulangnya dari Sapeken. Daman pusing dengan tulisan tengkulak pada daftar harga belanjan. Sambil mengelug dia mengatakan menyesal tidak jadi ikut tadi karena tidak bangun-bangun dari pertapaannya.

Lalu ada dua perempuan menjajakan pakaian pada ibu. Eeng dibelikan satu rok. Dua perempuan penjual itu mengenakan bahasa Bajo, pakaiannya seperti ukhti-ukhti. Jangan tanya harga ya? Menurutku harganya sangat mahaaaaal dengan kualitas yang biasa saja.

Itu aja yang aku ingat untuk hari ini, lembar catatanku kosong. huhu

Malang, 26 Agustus 2016


0 komentar:

Posting Komentar